Sabtu, Maret 28, 2009

Endonesa (haruskah) Menangis Lagi?




ketika air mata belum lagi mengering
bahkan lelehannya masih mengental
dirubungi lalat
hampir berkarat

kini bencana harus kami tanggung lagi

tidak kami tidak akan seka tetes ini
biar menjadi bukti
biar jadi prasasti penderitaan
cukup sampai disini derita

kami harus berenang
kami harus kumpulkan puing kami
kami harus kubur kerabat kami
kami tak sempat lagi menangis


(Masih di daerah Banten, 28 Maret 2009)

Jumat, Maret 27, 2009

ENDONESA HARUSNYA MENANGIS!!!!

Endonesa Raya Gemah Ripah, Loh Jenawi, Subur Makmur, Negeri hamparan Intan Manikam, Jamrud Khatulistiwa, Baldatun Warobun Goffur ini harusnya menangis ketika melihat puluhan anak Sekolah Dasar di Kota Malang yang meraung-raung menangis mempertahankan bangku-kursi tempat mereka belajar yang disita paksa oleh pembuat kursi yang mengaku belum dibayar oleh Negara….

Saya jadi teringat pada murid-murid Sekolah Dasar yang pernah sempat saya (justru) belajar dari mereka di Kota saya, jauh memang dari Kota Malang, tapi mereka anak SD! Tidak layak bangku sekolah mereka direbut paksa begitu saja ketika sedang mereka duduki saat sedang menimba ilmu, begitu besarnya keinginan mereka sampai-sampai mereka beradu kekuatan tarik-menarik mempertahankan bangku mereka. MEREKA HANYA ANAK SD KAWAN!!!!…tapi pengrajin pembuat bangku itu juga tidak bisa hidup jika pesanan bangku darinya tidak dibayar Negara, bisa jadi (mungkin) untuk membayar uang bangku, uang buku dan tetek bengek lainnya bagi anaknya yang (mungkin juga) ber-sekolah di SD itu…. Ahh Endonesa-ku….

Maaf saya tidak sanggup lagi untuk melanjutkan tulisan ini...tidak sanggup lagi!!!!!!!!!


(pada awalnya saya sungguh-sungguh tidak sanggup untuk melanjutkan tulisan ini, sampai tiga hari saya biarkan (tidak dilanjutkan) setelah melihat berita tersebut, tapi kemudian saya merasa perlu ‘menghidupkan’ kembali dua tokoh besar ini)

Haruskah kita tanyakan bagaimana perasaan Ki Hajar Dewantara yang pernah berkata;
”...pengetahuan, kepandaian, janganlah dianggap sebagai maksud dan tujuan, tetapi merupakan alat, perkakas, lain tidak. Bunga yang kelak menjadi buah, itulah yang harus diutamakan. Buahnya pendidikan yaitu matangnya jiwa yang dapat memujudkan hidup dan penghidupan yang tertib dan suci, serta bermanfaat bagi yang lain…”

Bagaimana bisa kita lihat bunga itu merekah dan menikmati matangnya manfaat buah itu jika benihnya saja dicabut paksa agar tidak dapat tumbuh?

Atau perlu kita hadirkan kembali Kartini?! Haruskah dia mengulang kembali perkataannya;
“…Kami merasa celaka karena kenyataan yang kejam mengancam akan menghancurkan cita-cita kami: pikiran kami yang dingin dan tenang memerintahkan kami melemparkan, mengubur mimpi dan angan-angan karena masyarakat Bumiputera tidak memerlukan indah dan nikmat hidup ini mesti dibaliknya banyak kepedihan dan kegelapan. Bukankah kegelapan ini justru akan membuat cahaya itu tampak lebih terang? Maksud Tuhan terhadap kita baik......” (13 Agustus1900)

Benarkah maksud Tuhan baik terhadap anak-anak SD itu?

-Kaloran Hj Zaenab,

Minggu, Maret 22, 2009

CONTRENG? BAHASA MANA TUH ?!

Suatu malam saya ber-sms ria dengan salah seorang kawan tentang kegamangan hatiku ketika melihat kalender, ada momen long week end tanggal 26 Maret ini (anggap saja hari jum`at adalah hari kejepit nasional) apakah saya memanfaatkannya untuk liburan ke Jogja atau tidak. Eh, dibalas oleh kawanku itu: “Vote Jogja!”

Ahha!! Mak bedunduk / ujug-ujug/ tiba-tiba otak usilku kembali tersentil.. till!

Endonesa (sengaja kutulis demikian untuk mengikuti lidah kebanyakan penduduk ini menyebut nama negaranya sendiri), akan menghadapi momen bersejarah bagi dunia politik dan penentu kesejahteraan rakyat Endonesa (katanya loh!), yaitu PEMILU dengan jargon utamanya; CONTRENG! Lalu dengan memanfaatkan fasilitas 300 sms gratis dari salah satu provider layanan selluler yang namanya sama dengan ukuran baju terbesar itu maka saya mengirimkan `sejenis` polling sms kepada hampir 40 nomor kawan-kawan yang ada di phone book. Isinya seperti ini:

“Polling seputar PEMILU:

  1. Akrabkah anda dg istilah CONTRENG?
  2. Mengingat istilah CONTRENG tdk terdapat dlm Kamus Umum Bahasa Indonesia - J.S. Badudu. Menurut anda, berasal dr bhsa manakah istilah CONTRENG?

Terimakasih atas perhatiannya”

Komponen Responden: hampir 40% berasal dari kalangan terpelajar/akademik (kawan-kawan kuliah dulu dan rekan kerja sesama dosen). 20% dari kalangan seni/teater. 20% kalangan penggila kopi joss Lek Man jogja. 20% sisanya kenalan dari kalangan antah berantah. Balasan sms yang masuk dari responden (untuk sementara) sebanyak 15 sms dengan beraneka ragam respon yang cukup menarik (itu sebabnya saya merasakan perlu untuk menulis ini). Saya belum dapat membuat kesimpulan persentase dari keseluruhan polling karena belum mendapat 50% balasan, jadi hanya beberapa saja yang saya sertakan disini.

Beberapa sms balasan yang menarik dari nomor:

1. 081846xxxx : 1.Tidak, lebih akrab ‘centang’ atau ‘thick’. 2. dari bahasa Betawi

2. 08180789xxxx : contreng berasal dari bahasa jowo yg artinya minuman

3. 0812632xxxxx : 1.TIDAK 2.TIDAK TAHU. Yang saya tahu kata “CONTENG”

4. 08193172xxxx : sblm pemilu tdk familier, 2. mgkn dlm kms bs walikan jw, ky pabu sacilad..

5. 0813281xxxx : Ktku g ada, adanya coret, KPU pake contreng br ini...pdhal terkesan catro

6. 0813284xxxx : Teuing Euy!

7. 0859200xxxx : Mudh2an kt ”contreng” yg tlh trpblikasi lwt momen pemilu, suatu saat bs dmasukan dlm kms bhs Indonesia

8. 081568xxxx : Gaul bunk istilahnya...

9. 08933xxxxx : Itu kata baru gabungn conteng dgn coreng adeknya bobo....

Ini hanya beberapa sample saja yang saya anggap menarik untuk didiskusikan bersama (selain saya juga masih menunggu balasan sms lainnya). Mari kita siapkan teh, kopi, susu coklat dan penganan kecil agar diskusi kali ini lebih meriah. Balasan sms yang saya tampilkan dapat terlihat beberapa diantaranya mengindikasikan dari latar belakang kesukuan tertentu, ini yang kemudian juga (diharapkan) dapat menjadi representasi respon rakyat Endonesa ketika mendengar istilah ”CONTRENG” mengingat PEMILU yang diselenggarakan serempak pada seluruh wilayah Endonesa maka rakyat Endonesa-lah (dengan latar belakang beraneka ragam kesukuan yang luar biasa) yang akan memeriahkan PEMILU tersebut.

Menanggapi sms dari kawan pada nomor urut (1) diatas, saya membalas lagi (karena Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) - J.S Badudu masih saya pegang) maka berdasarkan itulah balasan sms saya, kurang lebih begini isinya:

”Centang (jw): memberi tanda dgn tulisan atau coretan (sebagai peringatan).... ’

Tapi ini salah satu definisi dari kata ”Centang” dalam KUBI ini, perhatikan sms lanjutan saya ini:

”tapi bahayanya, istilah ”Centang” tadi b`asal dr bahasa Jawa, sementara istilah ”Centang” dlm KUBI yang sama tp b`asal dari bhs Jakarta m`andung arti menempeleng, memukul. Nah loh!”

Akan bahaya bukan? jika orang Jakarta mengartikan istilah ini apa adanya berdasar yang mereka pahami dalam kehidupan sehari-hari, ketika dibilik suara maka pemilih dari Jakarta akan memukul foto para CALEG!!

Menanggapi balasan berikutnya (nomor 3 diatas), saya masih berpedoman dari KUBI yang saya pegang, memberikan definisi dari ”CONTENG” sebagaimana usul kawanku itu. ”Conteng/ conteng/, coreng: conteng-conteng, coreng-moreng, penuh garis-garis tak keruan. Nah jika pakai definisi ini kira-kira kertas suara sah tidak?” Tak lama kemudian kawanku satu ini membalas lagi, seperti ini:

”Vide KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA, Edisi ketiga, Tim Penyusun Pusat Pembinaan & Pengembangan Bahasa Depdikbud, Penerbit Balai Pustaka, hal. 195, CONTENG = CORET = CORENG”

Memang dasar kawanku pengacara asal Medan satu ini, menjawab lengkap dengan bukti!! Bahkan halaman buku itu dia sertakan, busyeet dah! Baiklah kujawab lagi (masih pake KUBI):

”KUBI, J.S Badudu hal. 289. Coret/coreng: (1). Menggaris; (2) Menghapus dng garis panjang dan tebal (tulisan); (3) Memecat, meniadakan, tidak memasukkan dengan sengaja seseorang. Coreng/coreng/, garis, corek; coreng-moreng, banyak garis tak keruan memberi kesan kotor.”

Hehehe.. aku masih ketawa kalau baca lagi sms dia, bukan menertawakan isi smsnya itu tapi begitu besarnya niat dia membalas smsku sampai-sampai kami `perang kamus` ahh, tak berubah juga kawan satu itu sejak kuliah dulu sampai sekarang memegang motto hidup (sebenarnya sama juga dg aku): yang penting ngeyel (ngotot) duluan, hahaha.

Respon kawan-kawan yang lain saya rasa lebih kepada kurang-pedulian atau mengindikasikan kebingungan terhadap PEMILU, seperti misalnya menyamakan dengan minuman, bahasa walikan (bahasa rahasia dengan dasar penggunaan aksara Hanacaraka yang biasa dipake preman-preman Jogja agar tidak dimengerti Polisi), bahasa gaul, dianggap catro (mungkin setara dengan tidak gaul ya?), masa bodoh (bhs sunda teuing euy!).

Istilah Contreng (mungkin) diharapkan menjadi salah satu faktor penentu suksesnya PEMILU, dengan pemilihan istilah yang mudah diingat dan mudah dipraktekkan dibilik suara nantinya. Sementara dari pendapat beberapa orang tua yang pernah (berkali-kali) memilih pada PEMILU sebelumnya lebih mantap (marem) dengan metode COBLOS. Meskipun istilah ini juga bisa jadi tidak dikenal dalam kelompok masyarakat tertentu, namun karena kita memiliki bahasa persatuan yaitu bahasa Endonesa maka sewajarnya hal ini dipergunakan, meskipun (lagi) istilah COBLOS tidak ditemukan dalam KUBI namun karena COBLOS dianggap sebagai representasi kebulatan tekad rakyat maka dengan mantapnya dan gegap gempitanya pemilih akan men-COBLOS! Akan tetapi meskipun telah di-soSIALisasi-kan dan dipraktekkan selama berpuluh tahun di Republik Endonesa Raya ini masih saja yang banyak terjadi kesalahan dan adanya kecurangan, apalagi sekedar CONTRENG dengan spidol (selain gak mantap, celah kecurangan sangat lebar terbuka, melihat begitu mudahnya menambahkan sebuah atau seribu garis lagi menggunakan spidol).

Sejatinya PEMILU adalah memilih para pemimpin Republik ini, hanya saja rakyat jadi dibuat binggung dengan manuver-manuver politik para politikus. Saling hujat, menjelekan kinerja satu-sama-lainnya (saya suka dengan istilah satu-sama-lainnya ini, bukankah ini jelas-jelas mengindikasikan kesamaan kualitas?). Kalau men-jelek-jelek-an satu-sama-lainnya maka yang satu jelek, sudah tentu yang lainnya juga jelek. Kenapa tidak mem-bagus-bagus-kan satu-sama-lainnya ya? Tapi kalau itu terjadi namanya bukan oposisi bung, melainkan koalisi.

Ada lagi catatan menarik saya ketika melihat fenomena ’ke-heboh-an’ ketika media yang memuat berita pemimpin republik ini dikatakan sakit karena gangguan lambung. Polemik cepat berkembang dengan dugaan-dugaan: hubungan nyeri lambung dengan nuansa sangat politis sekali, sehingga selang beberapa saat kemudian pasien dokter kepresidenan ini mendesak untuk membuat press conference yang diliput oleh salah satu media televisi, pernyataan si pasien bahwa beliau juga manusia jadi wajar saja sakit/nyeri lambung tapi obat yang diberikan dokter kepresidenan kepada si pasien itu tidak cukup ampuh menurutnya, karena biasanya pasien meminum ”ProM**”, sedetik setelah pasien itu menyebutkan salah satu merk obat nyeri lambung itu tiba-tiba tampilan pada layar televisi berubah menjadi iklan obat nyeri lambung yang dibintangi oleh ’Mantan Jenderal Pencopet Legendaris’ yang juga akan jadi saingan si pasien nantinya. Dalam commercial break itu menampilkan jurus andalan: gerakan menjentikkan jari sebagai representasi efektifitas kerja obat nyeri lambung itu. MENARIIIKKK!!! Dahsyatttt..... itu komentar spontan yang keluar dari mulut saya. Begitu cepatnya pergerakan hubungan antara: POLITIK-MEDIA MASSA-KAPITALISME, seperti jurus andalan iklan tersebut, ’ccttiiikkk’ (*tiruan bunyi suara menjentikkan jari*)

Secepat tiruan suara itu juga saya membalasi sms dari kawan-kawan. Beberapa kawan yang masih tertarik berbalas sms (jadi inget berbalas pantun jaman dulu) dimana saling gayung bersambut sms (cieee..juadddull banget ‘gayung bersambut!’) akhirnya memberikan harapan agar kedepan pelaksanaan PEMILU jadi lebih baik. Misalnya membalas sms dari kawan (nomor 7 diatas), sederhana saja kuketik: “AMMMIIEENNN“ Bahkan ada yang dengan gegap gempitanya mengusulkan agar anggota KPU diberikan penataran untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Wuahhh, untuk yang satu ini komentarku jadi terasa berat banget, pasti akan sulit untuk itu, karena selama kita saja masih menyanyikan lagu kebangsaan kita jadi seperti ini:

”Endonesa tanah airku......(dst)... Endonesa kebangsaanku...(dst..dst..dst)”

Melafalkan Indonesia aja susah (Endonesa lagi..Endonesa lagi!). Susah memang hidup di republik ini.

Itulah susahnya hidup di Endonesa Raya ini, mau ikut pesta bingung mau CONTRENG yang mana? sama susahnya misalnya dengan nasib orang yang disebut-sebut sebagai GOLPUT. Gambaran kemantapan hati yang gegap gempita saat pesta demokrasi Endonesa tersebut tentunya tidak akan ditemukan pada orang yang disebut-sebut sebagai GOLPUT. Ini lagi sebabnya kenapa kubilang susah; mau jadi Golongan Putih aja eeh tau-tau sudah difatwa haram, artinya sederajat dengan babi, anjing, bangkai de el el (trus gimana tuh politisi yang menganjurkan agar GOLPUT ya? Padahal misalnya tokoh itu tuh tujuh per delapan Wali... Haram kuadrat kalee). GOLPUT gak boleh! apalagi menetapkan hati masuk kedalam GOLONGAN HITAM....!!! tapi besok saya akan masuk ke bilik suara, entah di dalam sana mau ngapain, RAHASIA doong!

Susah...susah...hhheehhhhh.......

*menghela napas panjang*

-Kaloran Hj Zaenab, 21 Maret 2009-

Senin, Maret 16, 2009

Bahkan ”Z” jarang sekali kugunakan

Tiga puluh menit dua puluh tiga detik!

Tarianku terhenti diantara huruf alfabetik

Terpaku oleh kata, terpasung pada semantik

Bunga ide kembali kuncup kala realita bertahta

Binasa sudah gelora semangat tandas tanpa sisa


Kupunguti mereka yang terserak dari kulit kepalaku

Serupa ketombe! Ada ”M”, ada juga ”P”, ”G”, ”R”, ”W”, ”S”, ”Z”

Akan kuapakan konsonan ini!

Bahkan ”Z” jarang sekali kugunakan


Kemudian muncul ”jelaga”, ”prasasti”,”nirmala”, .......

Lantas mengapa harus kucari padanan kata?

Berpikir keras untuk mencari rima

Sialan! Untuk apa??


Tiba-tiba saja hadir Wiji Thukul, berteriak;

“apa yang berharga dari puisiku // kalau ibu dijiret utang?” *


Masih kupandangi mereka yang terserak

Akan kuapakan mereka?

Bisakah kumpulan alfabetik tak berbentuk ini kutukar beras?

Atau berubah wujud menjadi nikotin dan kafein?

Kupunguti mereka yang terserak

Kusebar kala angin bergemuruh

Melayang bebas serupa gerombolan virus

Virus alfabetik!

- Desa Kaloran Hajah Zaenab, 15 Maret 2009-


* setelah kucari-cari bukunya, secara lengkap kuhadirkan puisi Wiji Thukul;

Apa yang berharga dari puisiku

Apa yang berharga dari puisiku

Kalau adikku tak berangkat sekolah

Karena belum membayar SPP

Apa yang berharga dari puisiku

Kalau becak bapakku tiba-tiba rusak

Jika nasi harus dibeli dengan uang

Jika kami harus makan

Dan jika yang dimakan tidak ada?

Apa yang berharga dari puisiku

Kalau bapak bertengkar dengan ibu

Ibu menyalahkan bapak

Padahal becak-becak terus terdesak oleh bis kota

Kalau bis kota lebih murah siapa yang salah?

Apa yang berharga dari puisiku

Kalau ibu dijiret utang?

Apa yang berharga dari puisiku

Kalau tetangga dijiret utang?

Apa yang berharga dari puisiku

Kalau kami terdesak mendirikan rumah

Ditanah-tanah pinggir selokan

Sementara harga tanah semakin mahal

Kami tak mampu membeli

Salah siapa kami tak mampu beli tanah?

Apa yang berharga dari puisiku

Kalau orang sakit mati dirumah

Karena rumah sakit yang mahal?

Apa yang berharga dari puisiku

Yang kutulis makan waktu berbulan-buan

Apa yang bisa kuberikan dalam kemiskinan

Yang menjiret kami?

Apa yang telah kuberikan

Kalau penonton baca puisi memberi keplokan

Apa yang telah kuberikan

Apa yang telah kuberikan?


Semarang, 6 Maret 86



Kali ini kugunakan ”Z”

Zzzz..............zzz...

Zzzzzzzzz......... zzz...

zzz... zzz... zzz...

Zzzzzzzzz......... zzz...

Zzzzzzzzz......... zzz...

............zzzzzz.................


Wake up! Sun shining bright!!!


Hhhoooaammmm…nyemm…nyemmm….

“Ah! Celanaku basah!!!”

Senyum mengembang, mengambil shampoo

Hhhoooaammmm…nyemm…nyemmm….

………………

- Desa Kaloran Hajah Zaenab, 15 Maret 2009-

Jumat, Maret 13, 2009

Alam gambarkan wajahmu
Rautmu tenang dalam tipis bayang awan
Selepas senja, warna ini auramu
Selepas senja, harapku akan kenangan

Sampai detik ini kalut pikir tetap bergejolak
Entah atas apa getarnya melata lambat
Menjadi ragu,
Membatu khawatir

Pesan alam tak jernih
Kala kalut bungkam akal
Terikat pada tonggak
Gelisah

Sukma yakinkan diri
Cepat kepakan sayap itu

Ikarus Terbang dengan Sayapnya Sendiri




“Kamu dimana sekarang Rus?” 

Dari layar kecil telepon genggam via video call kulihat wajahnya sendu seperti memendam sesuatu. Wajahnya kusut, matanya memerah berkaca-kaca, air mata yang mengalir keluar dari sudut matanya langsung mengering, jelas terlihat tiupan angin begitu kencang menampar wajahnya. Rambut panjang ikalnya beterbangan bebas, sesekali menutupi penuh wajahnya ketika menunduk. Aku masih menerka-nerka dimana kawanku sekarang ini? Rangka-rangka baja berwarna merah kulihat beberapa kali menjadi back ground sebagai petunjuk keberadaannya, tapi kutepis rasa curigaku karena memang kawanku yang satu ini paling aneh diantara kawan-kawanku yang lainnya, pernah dia menelpon tengah malam dengan ekspresi wajah seperti menahan rasa sakit demikian hebat, rupanya dia hanya ingin memberitahuku bahwa dia tengah berada di dalam toilet sedang buang air besar!

“Raka sahabatku, tolong nanti kamu kasih tahu secara langsung rekaman pembicaraan kita ini pada Astuti, ingat langsung kepada Astuti! Aku percaya kamu bisa menyampaikan ini!” wajahnya menoleh kearah kiri, tangannya sesekali menyibak rambut yang berhamburan menutupi sketsa tulang rahang tegasnya, sekilas karakter wajahnya sangat cocok dengan kriteria Natural Born Criminal sebagaimana teori Lombosso, kemudian dia menunduk lama. ”Rus, apa sih maksud kamu telpon aku subuh-subuh gini?” aku masih harus mengumpulkan sisa-sisa jiwa, ruh dan atmaku yang masih melayang-layang di batas dunia mimpi dan kenyataan. Lima belas menit lalu kudengar adzan subuh. Semburat warna merah langit pada latar belakang Ikarus menegaskan bahwa hari ini matahari belum sepenuhnya muncul di ufuk timur.

Ada delapan belas kali panggilan masuk yang tidak sempat kujawab, nomor yang sama dengan penelpon yang sedang kulayani pertama kali setelah bangun tidurku yang hanya sekitar empat jam saja dari nyenyak tidurku. Awalnya si penelpon memprotes aku karena setelah ke sembilan belas kali usahanya menelpon baru berbuah hasil, itu pun aku belum sepenuhnya sadar. ”Sebentar Rus aku mau nyalain dispenser dulu ya! Kamu mau kubuatkan kopi juga?” senyumku menggoda pada kawanku yang juga penikmat kopi hitam, hanya dibalasnya dengan menunjukkan termos kecil terbuat dari stainless steel tempatnya menyimpan kopi. Kepulan asap yang membawa harumnya aroma kopi arabika yang teracik kental dengan sedikit gula pasir pabrikan Madukismo. Aku siap berbincang denganmu wahai Ikarus!

”Kenapa aku harus merekam pembicaraan ini Rus?” seruput kopi panas bisa kuterka dapat memprovokasi dirinya untuk melakukan hal yang sama, mencecapi air hitam caffein kental dan kepulan tembakau beracun nikotin, dua jenis `narkotika` yang masih diterima masyarakat. Termos berbentuk lonjong seperti botol tak berleher itu dibuka, kopi hitam yang terjaga panasnya dalam suhu ruang termos masih juga terlihat mengeluarkan uap aroma, Ikarus mengangkat tutup termos yang digunakan sebagai cangkir, memberi simbol toast! Senyumnya sedikit merekah setelah membiarkan cairan kopi mengalir dalam tenggorokannya. Tangannya memijiti sebatang rokok kretek bermerk deretan tiga angka, sebuah prosesi ritual khas bagi penikmat tembakau racikan rahasia fatsal sembilan.

”Hey tumben `kali kau ini menelepon lambat seperti ini! Biasanya kau hanya menelepon dengan durasi beberapa detik saja, itupun dengan perintah tegas. Rupanya banyak pulsa kau hari ini! Pake video call segala lagi! Ckk…cckk…ckk” entah jin apa yang merasuki tubuhnya yang sudah tidak lagi mengenal adanya dogma agama dalam hidupnya, tidak seperti biasanya kutemukan raut wajah sendu itu. Ikarus adalah tokoh sentral dalam setiap diskusi atau sekedar obrolan ringan diantara kawan-kawan, kelakar konyolnya yang khas diantara pisau bedah analisis sosialnya mendominasi dalam setiap mimbar diskusi malam kami. “Raka kawanku! Pernahkah kau memikirkan jika seluruh anggota Srimulat, Benyamin S, Charlie Chaplin, Mr. Bean atau Komeng tiba-tiba menuntut semua penonton yang pernah tertawa akibat kelakar mereka dengan tuntutan agar membuat mereka tertawa ketika mereka sedang sedih?” tatapan mata kawan akrabku tiba-tiba menajam dan bibirnya bergetar menghembuskan asap nikotin.

Aku paham maksud pembicaraannya, “Wahai Ikarus putra nusantara dari belahan timur laut, berapa tahun kita berkawan? Pernahkah satu detikku menyia-nyiakan dirimu tertelan dalam kesedihan? Adakah noktah rahasia diantara kita? Untuk apa kamu bangunkan Chaplin dan Benyamin dari alam damai mereka hanya untuk menuntut keceriaan di hadapanku?” lagi-lagi kepalanya menunduk berat patuh pada hukum gravitasi. Tak kulihat lewat layar kecil telepon genggamku, kepalanya tenggelam beberapa detik kemudian muncul dengan derai air mata yang tersapu hembusan angin keras yang menerbangkan rambut panjangnya. Ada apa dengan kawanku ini?

”Bukankah kau sendiri yang sering berkoar-koar dalam berbagai mimbar malam kita bahwa kita bukan lagi dalam ikatan persahabatan tapi lebih dari itu, kau juga yang sering mengutip kata-kata para filosof yang hidup dalam otakmu itu. Aku ingat betul kau pernah mengutip Nietzche sang Zarathustra bahwa ”kerinduan kita akan seorang sahabat adalah penghianat kita” kau pasti ingat itu kawan. Untuk apa kau menghianati dirimu sendiri! Ayolah kawan, bicaralah!!” kedua telapak tangannya menutupi seluruh wajahnya, kurasakan ada sesuatu yang bergelora dalam batinnya tapi entah apa? Kedekatanku bertahun-tahun dengannya bukan berarti membuat aku mampu membaca perasaannya karena aku bukan paranormal. Aku hanya mampu merasakannya, baru kusadari ketika Ikarus pernah bercerita tentang ikatan batin persahabatan dengan mengutip kalimat Henry Ward Beecher `In friendship your heart is like a bell struck every time your friend is in trouble.`

Satu persatu permasalahan pribadinya yang sebagian besar kupahami keluar dari mulutnya tapi ada beberapa hal pembicaraannya yang aku tidak paham sama sekali, aku sedikit paham dengan keteguhan idealismenya dalam menilai hal-hal bersifat fundamental bagi dirinya tapi kali ini terlampau berat kurasakan apa yang ada dalam pikirannya, pengakuannya yang mengejutkanku. Berarti memang benar apa kata kawanku, tidak kuragukan lagi Ikarus mengalami gangguan psikotik. Ya aku ingat saat itu kami menghadiri diskusi rutin kawan-kawan Fakultas Psikologi, selesai diskusi kawanku Tiwi mengajakku ngobrol serius tanpa sepengetahuan Ikarus.

“Bang, kawanmu itu terlalu tinggi pemikirannya sehingga terkesan halusinatif dengan pemaparan ide-ide yang terkadang tidak sesuai dengan fakta dan realita. Mungkin terlalu dini untuk mendeteksi adanya gangguan kejiwaan dalam diri kawanmu itu tapi aku juga cukup lama kenal Bang Ikarus, semua ciri-ciri perilakunya yang terkesan aneh sudah masuk kedalam kategori terkena gangguan psikotis!” mendengar penjelasan itu emosiku cukup terpancing, akulah yang lebih mengenal Ikarus, “tidak mungkin! Kamu jangan bicara sembarangan ya?” kurasakan nada bicaraku cukup tinggi, wajah Tiwi yang sendu menjadi menunduk, cepat-cepat aku meminta maaf.

“Bang Raka, sang penderita sendiri pasti tidak menyadari akan hal ini bahkan akan dengan keras menyangkalnya, tapi kita juga sering lihat dia begitu bingung dan sering mengalami disorientasi, sering juga di kos kutemukan dia lebih memilih menyendiri padahal saat itu kawan-kawan kosnya sedang bernyanyi dan bermain gitar, dia sering mengalami anhedonia, tidak dapat merasakan kesenangan. Aku yakin abang lebih sering menemukan keanehan dalam dirinya” tatap mata Tiwi dari balik kacamatanya kurasakan sebagai tatapan analisis terhadap keadaan psikologisku. “Oke jika memang Ikarus mengalami gangguan psikotis, kira-kira dia masuk kedalam kategori manakah?” kali ini aku yang menjadi penilai dari apa yang ada dalam pikiran Tiwi, menunggu penjelasannya, berharap tidak menyebutkan istilah skizoprenia, meskipun aku tidak paham akan arti dan gejalanya. “Begini saja bang, aku akan coba mendekati Ikarus dengan caraku sendiri, bukan untuk menjadikannya kelinci percobaanku tapi untuk mengetahui what inside his mind dan menjawab kecurigaan kita.” Aku menyatakan kesepakatanku, semoga aku tidak ragu akan kemampuan mahasiswi semester akhir yang juga aktif menjadi relawan konselor bagi perempuan korban perkosaan.

Mimbar malam kami tidak lagi akan dipenuhi dengan keceriaan dan kritik sosial tajam Ikarus yang biasa mendominasi dalam diskusi-diskusi panjang kami, meskipun terkadang kami sulit untuk mengikuti jalan pikirannya yang meletup-letup, loncat kesana kemari membicarakan topik yang membuat kening kami berkerenyit. Dari pembicaraan video call itulah terakhir kali kulihat wajah kawanku tersenyum tapi kali ini tidak, dalam sebuah murde bag, kantung mayat berwarna kuning besar menutup wajahnya. Baru kuketahui secara pasti lokasi keberadaannya ketika dia berdiri memegang telepon genggamnya, dia memutar telepon genggamnya merekam keadaan sekitar dari ketinggian sekitar seratus meter dari permukaan tanah, tepatnya diatas menara penguat sinyal. Astuti masih menangis, menyembunyikan wajahnya di bahuku. Tak pernah menyangka kekasihnya mati dalam usia mudanya bahkan dengan cara terkonyol, bunuh diri melompat dari menara penguat sinyal salah satu provider jaringan selluler, tragisnya lagi Ikarus pengguna layanan itu. Aku harus berusaha keras untuk menenangkan hati Astuti yang masih dirundung duka dan penyesalan dosa atas kesalahan yang dibuatnya sehingga Ikarus menghabiskan hidup. Berkali-kali aku harus mengguncang-guncangkan tubuhnya agar sadar dan tidak larut dalam perasaan menyalahkan dirinya sendiri, kematian Ikarus memang menyedihkan tapi menyalahkan diri seolah menjadi penyebab kematiannya adalah hal lain.

Tanda tangan terakhir telah kububuhkan dalam Berita Acara Pemeriksaan yang disodorkan salah seorang petugas, penjelasan yang keluar dari mulutnya mengenai penyelidikan lebih lanjut tidak lagi terdengar olehku. Aku masih bingung, entah bagaimana caranya menyampaikan kepada pihak keluarganya yang akan datang dari Nusa Tenggara Timur esok lusa, sialnya aku menjadi orang terakhir yang mengetahui keberadaannya. Belum lagi sudah kubayangkan akan mendapat cecaran pertanyaan dari kawan-kawan bahkan untuk menjelaskan kehadapan Astuti saja aku belum sanggup, dia berhak lebih tahu dibanding siapapun. Kupeluk tubuhnya erat sebagai tanda dukungan mental begitu dia memasuki ruangan untuk dimintai keterangan oleh petugas. Kubisikan kata-kata yang biasa diucapkan Ikarus jika menghadapi kekasihnya yang tengah bersedih. ”Tenang saja, seberat apapun permasalahmu, aku akan berada disampingmu.”

Ikarus haruskah aku menjadi pengkhianatmu sekali ini? Sebuah wasiat pahit dan berat telah kau titipkan padaku Ikarus, aku tak sanggup memberikan rekaman ini! Aku masih menimang-nimang telepon genggamku, sudah dua minggu setelah kejadian itu tapi aku masih belum berani memutar ulang rekaman terakhir kami. Sore hari Tiwi datang, membawa kertas-kertas hasil pendekatan terakhirnya dengan Ikarus. Penjelasan Tiwi seolah terdengar begitu jauh meski dia hanya duduk dihadapanku, lembar-lembar yang kutatapipun tidak juga kutemui titik pahamnya: Wechler Adult Intelligence Scale, Minnesota Multiphasic Personality Inventory, Bender-Gestalt Test, Rorschach Test, entah apa ini semua. Aku masih melihat bibir Tiwi bergerak-gerak tapi tidak terdengar sedikitpun kata yang keluar dari situ, kepalaku berdenyut menghasilkan pening luar biasa. ”Wi, sepertinya aku memerlukan kopi hitam panas! Bersediakah kamu menemani aku?”

Masih lekat dalam ingatanku senyum terakhir Ikarus yang begitu lepas. Wajahnya kembali terlihat dengan ekspresi penuh kemantapan hati atas keputusan yang telah diambil, aku hanya bisa berteriak berkali-kali agar Ikarus mengurungkan niatnya tapi tiba-tiba citra dalam layar telepon genggamku bergerak cepat. Sempat kulihat beberapa detik wajah kawanku itu masih menghadap kearah kamera kecil pada telepon genggamnya, mengucapkan salam terakhir kemudian dia melepas telepon genggamnya, dari telepon genggam yang melayang dibelakangnya kulihat Ikarus meluncur deras merentangkan tangannya, Alis volat propriis, dia terbang dengan sayapnya sendiri, patuh terhadap hukum gravitasi, kemudian telepon genggam itu hancur berderai menghantam keras bebatuan gunung hanya sepersekian detik setelah tubuh Ikarus. 


-Kaloran Pena, 8 Maret 2009-