Sabtu, Januari 18, 2014

FEAR NO EVIL



Yea, though I walk through the valley of the shadow of death
I will fear no evil; For You are with me.

Hans menggegam erat rosario pemberian bunda, dikecupnya penuh khidmat lalu kembali bersembunyi di balik kemeja, dekat pada jantung yang berdegup tak teratur. Angin menampar wajah ragu itu, seolah berupa menyadarkan diri dari rencana mentah dan niat rapuhnya.

I will fear no evil; For You are with me…
I will fear no evil; For You are with me…
I will fear no evil; For You are with me…

Kaki gemetar itu menjadi semakin kukuh, hantaman angin kini tak menggoyahkan kuda-kuda keteguhan hati. Kedua lengannya merentang, melebar, menyerahkan tubuh pada hukum gravitasi, pasrah menemui gembala hidupnya.




-Koelit Ketjil-
*menikmati semilir angin dari puncak menara Base Transceiver Station*

TERKUNCI

 (picture edited n taken from: http://commons.wikimedia.org)


“Tunggu dulu! Boleh Aku bertanya sebentar saja, apa alasan Mas ini menodong Aku?” dada ini semakin kencang degupnya, bukan karena takut, sebentar lagi aku pasti mengetahuinya.

“Heyyy, apa urusanmu pake tanya-tanya segala! Kakehan cangkem, kowe!!!” belati itu sudah pasti tajam, dari kilaunya dan ujungnya meruncing, semakin didekatkan menuju tubuhku, semakin kencang degup ini. Sekali lagi bukan karena takut.

“Aku perlu tau, Mas!” tanganku melebar, sekedar menunjukkan bahwa aku tidak berniat untuk melindungi tas kecil incaran penodong ini.

Lantas kowe arep opo? Hahh!!  Mau kupake minum kek! Maen judi kek! Kuarepku tho!!!” tangannya menjulur ke arah tali tasku, sementara belati itu kuyakini siap terayun kapan saja.

Andrenalinku meletup, getar tubuh yang selalu kurasakan setiap kali menghadapi situasi yang mengancam keselamatan, sekali lagi bukan karena ketakutan.

Segera kutangkap tangan kiri yang mendekat itu, kucengkram kuat dengan kedua tanganku telapak tangannya, jemari gemeretak kupaksa menghadap ke atas, kuhentakan seketika ke arah bawah, masih kucengkram. Dapat kuterka otot pada pangkal lengannya kejang, sendi-sendi mulai dari pergelangan tangan, sikut dan pangkal lengan berderak. Masih dalam hitungan detik, aku hanya membutuhkan sedikit gerak saja, setengah langkah maju menyamping ke arah punggung si penodong, tangan kanan yang masih tidak melepaskan cengkraman kuarahkan menuju pinggangnya sementara tangan kiriku sigap menelusup pada sudut sikut, merangsek ke atas menembus belikat lalu mencengkram sama kuat pada bahu kiri.

Aku sudah memprediksi lintasan tangan kanan berbelati si penodong, aman posisiku berada di balik punggungnya, ditambahkan lagi bentuk siksaan ketika tangan kiri terpitingnya itu semakin membentuk sudut yang aneh, terlipat merapat di balik punggung, semakin dia mencoba melawan, tinggal kunaikkan saja tangan kirinya ini. Tak perlu banyak tenaga kukeluarkan hanya memanfaatkan gerakan lawan, cukup kuhentakan maju kaki kananku tubuhnya sudah limbung, pasrah oleh hukum gravitasi. Kujejak dengan lutut kanan yang menekuk menekan kuat pada tangan kanannya, belati tajam itu melenting sedari tubuhnya berdebam pada aspal basah gang gelap ini.

Wajah penodong itu setengah tenggelam pada genangan air.

“Kau pikir aku akan begitu saja merelakan uangku untuk kau gunakan menenggak minuman keras, lantas kau mabuk dan birahi semakin tak terkendali sampai akhirnya kau culik cewek-cewek yang melintas sendirian, hahhh!!!” rasa jengkel memuncak ketika teringat si penodong dengan tengiknya menjawab pertanyaanku dengan bentakan.

“Kalau saja tadi kau bilang untuk kasih makan anakmu, sudah pasti kuberikan. Sekalipun kau menipuku! Sekalipun kau menipuku!!!” tubuh terkunci itu semakin kubenamkan pada aspal, pada genangan air hujan sisa sore tadi.   






-Koelit Ketjil-
*Pukul tiga kosong-kosong Ibu Kota Jawa Tengah semakin sepi. Satu lagi bentuk pengalihan perhatian dan kepenatan, meletup di dini hari ini bertepatan dengan dilaksanakannya Operasi Badai Gurun Pasir, Perang Teluk mulai berkecamuk, 23 tahun yang lalu*

Senin, Januari 13, 2014

BUKU PEMBUNUH


Sob, pernahkah kau berpikir seperti ini?
Apa jadinya jika buku-buku yang Ayah baca justru pemicu ancaman kematian putra kesayangannya? Deretan buku yang tersusun rapi di rak buku itu, yaa! Hadiah kecil yang selalu disambut dengan lonjakan kecil dan teriakan histeris diterima Ryan setiap kali Ayah pulang daridinas luar kota. Maklum Kabupaten tempat Ryan tumbuh dan berkembang bukanlah kota yang pesat dalam perkembangan ekonomi, toko buku  yang ada hanya menjual buku-buku paket sekolah, perlengkapan sekolah dan seragam.

Apakah ini semua salah Ayah yang selalu membacakan cerita dalam setiap malam penghantar tidur Kami di kamar berukuran secukupnya ini Kami harus berbagi ruang gerak dan alam imaginasi? Ryan selalu memilih sisi terdekat Ayah, kemenangan bagi si bungsu, tak apa, justru beradadi sisi terdekat tembok membuat khayalku semakin liar. Semua yang Ayah ceritakan begitu jelas muncul dalam bayang imajiku, persis seperti tengah menonton layartancap. Tanganku tak kuasa tertahan untuk terus bergerak, walhasil goresanku memenuhi tembok buram pemisah ruang tidur dengan ruang tengah yang berfungsi sebagai ruang tamu, ruang makan, ruang belajar bahkan terkadang Bunda menyiangi sayuran pun itu ruang yang sama.

Tepatnya dua lembar kayu tripleks, bukan tembok, bukan. Awalnya Aku hanya menggambarkan kecil saja, itu pun pada bagian terbawah dari penyekat ruangan ini bahkan Aku harus menutup dengan buntalan kain yang berisi pakaian-pakaian Kami, lemari kayu Kami terlalu kecil untuk menampung pakaian Kami. Ayah lebih memilih membuat rak buku yang cukup. Hingga pada suatu pagi ketika Ayah membangunkan Kami untuk sekolah, tentunya Ayah tidak akan pernah marah menemukan Aku mencoret penyekat ruangan itu karena memang sudah buram jadi tidak sah jika Aku dianggap membuat kotor dinding kayu lapis itu.

Ayah paham semua yang kucoretkan di dinding buram itu adalah semua karakter dan tempat dari semua yang Ayah ceritakan setiap malam. Aku baru mengetahui hal itu ketika suatu sore Ayah pulang membawa satu kotak pensil berwarna, Aku tak pernah meminta itu karena sadar betul, bagi Kami pensil berwarna adalah barang mahal, tapi tidak untuk buku, Ayah rela menyisihkan beberapa rupiah untuk membeli buku. Bahkan sebatang pensil pun Kami harus berbagi, Ryan mendapatkan bagian belakang berpenghapus karet merah di ujungnya, walhasil Aku harus bekeras agar tidak salah menulis,dari sinilah mungkin ketelitian dan perhatianku terhadap segala hal detail mulai terasah.

“Gambarmu itu tidak ceria kalau hanya satu warna, Nak…” senyum Ayah sama persis ketika Aku berhasil menyabet rangking dua setiap kali pembagian raport. Sementara Ayah paham betul dengan kondisi Ryan, lagi pula baru dua tahun ini Ryan masuk sekolah, Aku kelas empat.

Ahh, Ryan! Yaa, Ryan… Kenapa Aku jadi demikian narsis menceritakan perihal masa kecilku? sejak awal Aku harusnya menceritakan Ryan kepadamu, Sob. Hmmm, Aku rasa dengan keyakinan serampanganku ini, ehhmm… Ryan adalah dirimu, Sob. Yaa!

Duhai, kekuatan memori, dari mana seharusnya Aku memulai?

Buku, yaa, buku. Buku-buku itulah pengancam kematian Ryan! Jika saja Aku diberi celah untuk menuntut para pengarang buku-buku itu sudah pasti akan Aku lakukan, tapi jika hal itu kulakukan maka Ayah Kami pun dapat terlibat dalam persekongkolan percobaan pembunuhan berencana terhadap Ryan. Tak perlu kau mendebat tuduhanku, cukuplah kau mengernyitkan dahi dan menaikan satu alis tebalmu itu, Sob, gaya khasmu setiap kali tak mampu mendebat setiap kicauanku yang hanya sepatah dua patah kata, bukan begitu, Sob?

Aku tahu kau pasti tengah tersenyum membaca baris tadi, beruntung Aku tidak di sampingmu, beruntung pinggangku tidak menjadi sasaran penganiayaan cubitan gemasmu. Ahh.. naaahh..nahhh! Kau tersenyum lagi, Sob! Ohh, tidak! Aku salah, dirimu pasti terkikik sambil sesekali melihat kondisi sekitar, khawatir disangka orang gila, senyum-senyum dan tertawa sendiri. ahh, kali ini Aku bersyukur jarak menjadi jurang pemisah. Amansudah pinggang ini dari lebam-lebam jejas penganiayaanmu, bisa saja kujadikan bukti visum untuk menjeratmu.

Perihal Ryan, tidak pernah kuceritakan selama ini, bergaul dengan dirimu sama persis layaknya Aku menghabiskan waktu bersama Ryan. Mulai dari berebut buku yang sama, membacanya dengan posisi berbaring, tangan kiri menopang dagu, kedua kaki mulai dari lutut hingga ujung jemari ditegakkan, digoyang-goyang bahkan jika usil Kami mulai merasuki, kaki kananku beradu dengan kaki kiri Ryan. Sama persis bukan!  Hanya saja pembedanya, Ryan kencing berdiri dimana pun dia inginkan, sementara dirimu tentu saja tidak akan melakukan hal itu. Hey, tak usah kau senyum-senyum sendiri, nanti perawat lihat loh!

Pembeda Kami yang paling mencolok adalah; Ryan begitu lincah dalam setiap gerakan ketika menunjukkan ekspresi hatinya, sementara Aku terkesan pendiam, lewat goresan tangan kutuangkan ekspresi hati ini. Ryan dengan spontan menirukan setiap suara, gerak bahkan kerap membuat segala pernak-pernik terkait segala cerita Ayah. Bisa kaubayangkan ketika Ayah mendongengkan legenda Tangkuban Perahu, tiba-tiba Ryan meloncat dari posisi tidurnya lantas menendang ember plastik berisi pakaian kotor Kami. Seolah terasuki roh Sangkuriang menendang perahu yang berubah menjadi gunung, Kami tertawa terbahak-bahak tapi kemudian seketika itu juga Kami terdiam seribu bahasa mana kala Ryan mencari Dayang Sumbi untuk diperiksakan adakah pitak di kepalanya. Dayang Sumbi Kami telah lebih dahulu pulang menuju kahayangan.

Saat itulah kelihaian Ayah diuji, mengarang dongeng dadakan untuk menghibur Kami.  

Kami yang selalu disajikan dongeng-dongeng nusantara sudah sedemikian hebatnya tergambar dalam benak kecil Kami. Sudah hampir penuh dinding kayu lapis itu menjadi kanvas ekspresi jiwaku, sudah bertumpuk segala mainan bambu, pelepah daun pisang berwujud kuda, pedang, senapan, mahkota dari rangkaian daun jamblang hasil kreativitas Ryan.



Pada suatu malam Ayah menceritakan dongeng yang berbeda, bukan dari tanah leluhur Kami. Kisah tentang seorang Pangeran Kecil dari planet yang tidak kuketahui namanya saat itu, Pangeran Kecil yang tersesat di padang pasir yang membuat sibuk seorang pilot karena terus merengek meminta untuk digambarkan domba. Sementara Ryan tengah terbang dengan tangan kecilnya yang merentang, berkeliling di kamar sempit ini, mengikatkan sarung pada lehernya dan mengambil pedang pelepah pisang, persis seperti sosok Pangeran Kecil bersyal itu. Aku sibuk dengan coretan di dinding.



Esok hari barulah Aku diajak berbicara serius dengan Ayah, semuanya perihal coretan-coretanku di dinding,jika selama ini sebisaku Aku berusaha menggambar gunung, kuda, laut, burung sesuai dengan apa yang telah kulihat di dunia nyata. Pagi itu Ayah membuka buku Pangeran Kecil, baru kuketahui di dalam buku itu terdapat beberapa gambar, tiba pada sebuah gambar, Aku terkejut.



Bagaimana mungkin Aku yang malam itu mendengarkan Ayah mendongeng, pada saat bersamaan Aku hanya menggambarkan sebuah kotak dengan tiga lubang. Begitu sama persis dengan gambar Sang Pangeran Kecil yang merengek-rengek meminta digambarkan seekor domba! Entah mengapa perasaan yang sama juga kurasakan ketika Sang Pangeran Kecil protes setiap kali digambarkan domba dalam wujud yang dirimu lihat, begitu juga Aku lihat dalam dunia nyata, berbulu keriting, berkaki empat dan tanduk kecil. Domba itu terlalu kuruslah, terlampau gemuk, seperti domba sakitlah, rengekan anak kecil.




Aku lebih memilih sebuah kotak dengan tiga lubang disitu, agar Aku bisa melihat sang domba beristirahat, cukup ruang untuk berlarian, tumpukan rumput segar tersedia pada pojokan, persis seperti keinginan Sang Little Prince, Sob!
Aih, sudah jam berapa ini? Sana, minum dulu Glivecmu itu, Sob! Pasti kusambung lagi nanti, Sob.



KOELIT KETJIL
-Semarang, Tiga belas hari telah berlalu dari awal tahun ini. Esok Sang Rasul merayakan ulang tahunnya yang ke 1443-

Jumat, Januari 03, 2014

TREASURED YOUR FREEDOM


“Stop complaining, said the farmer
Who told you a calf to be
Why don`t you have wings to fly with,
like a swallow so proud and free”


Tamparan lirik ‘Donna-donna’ lagu favorit bagi Soe Hok Gie ini, terasa seolah didendang langsung oleh Gie, tepat di gendang telingaku. Pesannya begitu dahsyat membuat kesadaranku terkapar sejenak namun tertatih kubangkitkan kembali. Kugenggam erat sodoran tangan imaginer Gie, menarikku yang terpuruk dalam duka-dendam kebodohan diri. Sosok mungilnya dalam terpa cahaya bulan, meneduhkan amarah yang membakar habis kesabaranku, dia tak banyak berbicara, bahkan tak sekecap kata pun terlontar dari mulutnya.

Tangannya menunjuk ke berbagai penjuru arah mata angin, pada titik pertama diarahkan telunjuknya ke arah baliho super besar dengan gambar perempuan berwajah ayu senyum palsu. Titik berikutnya, telunjuk itu berhenti pada sebuah kampus yang bising dengan lalu lalang kendaraan, tak ubahnya terminal. Kali ini telunjuknya beredar pada segelintir mahasiswa, mereka membakar ban di tengah jalan, berteriak-teriak tak jelas, membikin macet di siang terik tak bersahabat. Sebuah mobil mewah tak luput dari telunjuk Gie, pengendara berpenampilan perlente itu kukenali; rekan kerja.

 “Aku masih belum paham, Gie! Katakan!” sosok mungil itu memudar, menjadi partikel halus terhempas asap hitam knalpot bus kota.

“Gie, betapa sebuah kesialan bagiku berjalan pada bekas tapak kakimu, mencontoh gerakanmu untuk kembali ke kampus. Berharap menjadi pencerah bagi generasi penerus bangsa yang kian membangsat ini!”

Kukutuki diri ini, selepas halusinasi bodoh itu tiba-tiba menerjang lewat provokasi soundtrack lagu dari film tentangmu itu.Gie, buku catatan demonstrasimu kumasukan dalam ranselku. Di hadapanku segelintir mahasiswa tengah meraung-raung kerasukan hantu-terasi, demons-terasi. 

 

Semula membaca catatanmu menjadi titik damaiku, mana kala puncak rasa muak atas realita ini tak mampu kudaki. Seluruh gunung yang pernah kau jelajahi telah kusentuh puncaknya tapi gunung peradaban manusia ini, terlampau terjal Gie! Kampus, tempatku mengabdi begitu angkuh berdiri, sebelah kaki gunung ini, di arah timur berbatasan dengan Ibu Kota Negara, sementara di ujung kulon, kakinya tenggelam dalam dasar Selat Sunda, berharap bersentuhan dengan Krakatau.



“Pak, kok, melamun, sih?!” seorang mahasiswa membuyarkan sekaligus menyelamatkanku dari larutan imaginasi dan realitas, bersatu dalam satu wadah kehidupan tapi tak bercampur sempurna, seperti minyak dan air dalam gelas. 

“Ohh…yaa…ehhh…tidak!” Aku masih membuka folder daftar nama yang kukenal dalam otakku, siapa nama anak muda ini?!

“Maaf, Pak. Saya, mau bertanya tentang nilai mata kuliah semester ini. Nilainya sudah keluar, Pak?” mahasiswa berpenampilan gaul ini masih belum kukenali dengan baik.

“Memangnya, kamu ambil mata kuliah apa dengan saya?” sejauh daya ingatku yang lemah ini, masih bisa kuhafal betul seluruh nama mahasiswa yang berproses belajar bersamaku.

Lagipula, aku hanya diberi dua mata kuliah saja, sama seperti semester-semester sebelumnya. Para senior mendominasi berbagai kelas yang ditawarkan di setiap semester, menjadi Pembina sekaligus pengeksploitasi para junior, lengkap dengan embel-embel; pengabdian. Sialnya, di hadapan para komandan, kadet-kadet ini selalu bersikap sempurna, hormat, seraya tegas mengatakan; ‘Yess, Sir! As a soldier, we must always ready to say, Yess, Sir!’   

“Kenapa kamu harus bertanya tentang nilaimu?” sebuah pertanyaan kulontarkan setelah dia bersikukuh mengambil Mata Kuliah Sebab Musabab Kejahatan yang kuampu.

“Ya, itu `kan hak saya untuk mengetahui nilai saya, Pak!” tutur bahasa yang coba dibuat intelek itu membuatku hampir mual.

“Selama kamu rajin masuk kuliah, tak perlu hadir di setiap tatap muka, lalu mengerjakan tugas dan berdiskusi di kelas atau bahkan mendebat saya dengan teori yang relevan, seharusnya tak perlu lagi kamu pertanyakan nilai itu.“ Aku hafal betul wajah-wajah yang kunikmati setiap detik proses belajar bersama satu semester ini tapi tidak untuk pemuda ini. Formasi kursi pun kubuat lingkaran besar, demikian caraku menatap wajah masa depan dan menggali dalamnya pikiran para mahasiswaku.

“Saya selalu masuk, kok! Tugas juga saya kerjakan tapi memang kalau di kelas, saya gak banyak bicara, saya tipe orang pendiam, Pak!” Ahh, ujung kalimat pengidentifikasian diri itu sangat bertolak belakang dengan mulutnya yang begitu ringan membuat pembelaan.

Baiklah, kubuka tas ranselku, kukeluarkan daftar hadir selama satu semester.

“Siapa namu tadi?” Dia menyebutkan dengan tegas namanya, terutama gelar kebangsawanan yang diberi penekanan saat penyebutan.

Mudah saja kutemukan nama dengan dua huruf di muka namanya itu. Kuperhatikan goresan tangan penanda kehadirannya, mataku juga mengincar beberapa nama tepat di atas namanya, tipe goresan dan warna pena itu selalu sama.

“Ya, disini kamu hadir di setiap tatap muka, bagus! Ehhm, Oke! Saya sudah tahu nama kamu, apa kamu tahu nama saya?” tatap mataku menjadi teroris bagi mangsa teror yang kutebarkan di depanku ini.

“Ehh…Anu…… Ahh, Bapak ini bercanda saja! Masak, saya gak tau nama bapak!” tangannya gemetar menggerayangi saku celana jeans gombrongnya, mencari pertolongan lewat Blackberry seharga jutaan rupiahnya yang semula sempat dia genggam.

“Gak perlu kamu sms kawanmu, sekedar menanyakan nama saya. Kamu selalu hadir di setiap tatap muka, bukan?” Aku menunggu, dia mengeluarkan jawaban terka, aku mengangguk setuju-mengiyakan, tapi tunggu dulu.
Kusodorkan selembar kertas kosong.

“Kamu, mau nilai apa? Tulis di kertas ini lalu kemudian tandatangani.” Senyumku kusuntikan sebagai placebo pengobatan depresi dalam dirinya, kukendorkan intensitas terorku.

“Wuaahh, terimakasih banyak, Pak! Serius nih, saya boleh tulis apa yang saya mau?! Asyyiikk, Bapak memang dosen favorit deh! Sama seperti dosen-dosen yang lain, bisa menentukan nilai sesuai keinginan mahasiswa. Ini baru ‘dosen gue banget’, dah! Besok, saya cari Bapak lagi, sekedar untuk memberikan ucapan terimakasih, Pak!” tipe pendiam macam apakah kau ini? Sedang bibirmu mampu mengucapkan deretan kalimat dengan lancarnya, hanya sepersekian detik!
Ahhh, rupanya bukan sekedar isapan jempol belaka, rumor tentang nilai yang diobral itu, bukan lagi menjadi ‘rahasia umu’ melainkan menjadi ‘pengetahuan umum’. Kupendam gelora yang menyundul-nyundul dada ringkih ini.

“Aku tengah berpuasa…Aku tengah berpuasa, ini hari!” berulang-ulang kuingatkan diri ini.

Senyum pemuda gaul ini terlihat begitu puas dan lega sekali. Kusalutkan keberaniannya menulis huruf ‘A’ pada lembar putih itu.

“Baik, urusan sudah selesai! Saya, acc permintaanmu ini.” Kugoreskan beberapa kalimat pada lembar yang sama.

“Sekarang, kamu bawa kertas ini ke Dosen Pembina Mata Kuliah Sebab Musabab Kejahatan, untuk dimintakan persetujuan dari beliau, lalu kamu ke bagian akademik agar nilaimu dimasukkan pada KHS kamu semester ini. Terimakasih telah berproses belajar bersama saya selama semester ini. Sukses!" kujabat erat tangannya, semula hendak dia cium punggung tanganku sebagai bentuk hormat layaknya mahasiswa lain terhadap para dosen. Aku menolak kebiasaan itu, cukup jabat tangan saja karena kita setara.

Ekspresi wajahnya begitu sumringah, sebongkah surga telah didapatkan dengan mengibuli dosennya. Itu beberapa detik sebelum dia melihat kembali kertas itu. Mari kuberitahu apa yang tertulis pada lembar putih, simulasi ruang persidangan kejujuran atas mentalitas mahasiswa karbitan itu. Baris pertama tertulis huruf ‘A’ kapital dengan ukuran font besar, bold pula. Di bawahnya tertulis nama mahasiswa itu, lengkap dengan dua huruf di awal nama, tanda penegas garis keturunannya, juga tertera goresan tandatangannya.

Masih penasaran? Kali ini, tulisan tanganku sendiri, masih pada lembar yang sama, sebagai tanda persetujuan keinginannnya. Tegas kububuhkan tanda tanganku lengkap dengan namaku, tanpa gelar akademik. Di bagian terbawah kertas itu, kutambahkan ‘Nb: baca baik-baik nama saya, jadi, bukan yang nama yang asal kamu sebut tadi. Berikut ini, saya beri contoh tanda tangan kamu yang biasa diwakilkan oleh kawan kamu di lembar absensi. Saya sarankan agar kamu mengulang di semester depan!’  aku tak mau peduli lagi dengan ekspresi wajah mahasiswa palsu yang bahkan tak tahu nama dosennya sendiri. 

Yaaa, Gie! Aku tidak akan mengeluh kali ini, telah kukepakan sayap kecilku, menjadi serupa burung walet yang terbang bebas, tak lagi menjadi sapi ternak kampus ini. Sekalipun aku tahu, nilai itu akan tetap berwujud ‘A’ pada lembar Kartu Hasil Studi mahasiswa itu dan mahasiswa lainnya yang telah mabuk dibuai candu, suguhan oknum marketing edukasi.

Maafkan, ketidakberdayaan hamba, Sultanku, namamu telah dicoreng oleh anak-keturunan yang lahir dari rahimmu sendiri.

Duhai, Sultan kami yang termasyur dalam lembar sejarah peradaban bertahta tinta emas. Gelar agungmu tercipta dari air kemurnian yang kau suling mensucikan tanah leluhur, jangan khawatir, masih ada percikan mata air tak terkontaminasi polusi racun kapitalisme, disini masih ada askar-askar setiamu, walau segelintir!
Indonesia masih ada harapan, Gie! Segelintir generasi muda ini adalah The happy selected few, sebagaimana telah kau ramalkan.

Aku melepas seluruh kancing kemeja kerjaku, sosok wajah Che dengan sorot mata elangnya meledakan semangat pemberontakan. Bergabung bersama segelintir mahasiswa, merdeka kuteriakan;
“GANYANG!…. GANYANG!!..... MAKELAR NILAI!!!!..... BONGKAR!!!... BONGKAR!!!..... PARA PLAGIATOR!!!!”




-Koelit Ketjil-
Dimulai dari perbatasan antara Ramadhan ke sembilan belas menuju Ramadhan ke dua puluh, sekiranya seribu empat ratus tiga puluh dua tahun paska Rasulullah hijrah

24 Agustus 2011 pukul 16:57

JIKA RUH TELANJANG MAKA JIWA HARUS BERBUSANA

19 April 2013 pukul 3:00

(sebuah refleksi selepas membaca Novel BUSANA JIWA, karya PuskaTanjung)

-full version-




Tantangan
Sore itu Kota Serang cukup panas, sedianya Saya berencana menikmati secangkir kupi hitam di sebuah Mall tapi kemudian Saya sendiri yang menggagalkan rencana itu karena sudah terbayang betapa menderitanya Saya jika hanya duduk sendiri nyruput kupi karena bagi Saya ‘kupi tanpa kawan yang didapat hanya pahit, kawan!’ Titik kordinat lokasi melenceng,berubah  menuju Rumah Dunia, sudah pasti menemukan kawan untuk melawan sore yang masih juga panas, maka terlihatlah gerombolan manusia tengah mabuk-masyuk belajar ilmu sastra di sini, di rumah yang dibangun dari kata-kata; Rumah Dunia.

Singkat cerita, Saya langsung ditantang oleh Kang Gol A Gong, Sang Arsitek rumah berbahan material bangunan berupa huruf,kata, kalimat, paragraph, tanda baca ini, seorang pendekar berlengan satu, seorang empu dengan puluhan kitab yang lahir dari kelima jemarinya, seorang legenda! Sebagai salah seorang ‘murid degil’ rasanya sulit bagi Saya untuk menolak tantangan Beliau, hampir seperti kesulitan siswa-siswi menolak Ujian Nasional yang sudah menghadang di depan gerbang sekolah.

“Nah, Puska, kenalkan ini Koelit Ketjil, dia juga sama alumni kelas menulis. Koelit, ini Puska Tanjung, alumni kelas menulis angkatan ke enam. Kamu kan pernah cerita, dulu pernah punya pengalaman kerja di NGO yang mengadvokasi waria, gay, PSK dan anak jalanan, ya? Ini Puska sudah bikin buku dan berencana untuk dibedah, ya sudah kamu aja ya?!” inilah gaya Sang Suhu, asal tembak sekenanya aja!

Lalu kemudian Puska Tanjung, manusia berkacamata dengan tudung melindungi kepala, berpenampilan santai, yang baru Saya kenal beberapa menit yang lalu, bercerita penuh semangat dan sentimentil sekali sambil berderai air mata, Saya sempat merinding, bagaimana bisa ada orang yang baru dikenal beberapa menit sudah menunjukkan perasaan terdalamnya? Bukan tampilan awal terbaik, terjaim, terkeren yang Dia coba sajikan pada orang yang baru dikenal.

Lewat cerita Puska seolah Saya sedang berhadapan dengan Mami Vinolia, seorang waria senior, seorang guru, ibu jalanan bagi Saya, bermukim di Jogjakarta. Sosok Mami Vinolia bagi Saya yang pernah terdampar di jalanan Kota Jogja, Beliau merupakan sosok Ibu, kelembutan hati, sikapnya yang ngemong, tutur sapa yang halus dan kesabaran luar biasa serta samudera pengalaman hidup membuat Saya terkesan untuk banyak menimba ilmu dari sosok waria ini. Berawal dari waria jalanan, kemudian menjadi relawan di NGO yang sama tempat saya sempat bekerja, lalu naik tingkat menjadi Kordinator Divisi Pendampingan Waria, pernah juga menjadi Kordinator Divisi Pendampingan Anak Jalanan (saat inilah Saya menjadi murid beliau), hingga akhirnya menjad iseorang Direktur LSM Kebaya, tentu saja sepenuh hidup Mami Vinolia didedikasikan dalam jalur pergerakan advokasi waria.   

Belum cukup saya mendengarkan cerita dari Puska, tiba-tiba Kang Gol A Gong memanggil Kami untuk bergabung dalam lingkaran obrolan antara Guru dan Murid-murid Kelas Menulis. Gaya spontanitas, asal tembak ala Gol A Gong kembali diletupkan, dalam lingkaran itu sekenanya Gol A Gong meminta Jack Alawi selaku penanggung jawab acara HARI BUKU SEDUNIA yang digelar oleh Rumah Dunia untuk memasukan bedah buku BUSANA JIWA dengan pembedah, Saya; Si Koelit Ketjil! Padahal run down acara sudah padat. Pelaksanaan acara untuk minggu depan.

Minggu depan?! Gila!!!  
Gol A Gong memang sudah kelewat waras!


ANATOMI DAN DESAIN BUSANA JIWA
Saya timang-timang buku yang cukup tebalini, paling tidak ada 340 halaman harus lumat dalam jangka waktu seminggu ,dibaca saja belum tentu kelar! Gokil! Pandangan mata Saya justru tertuju kepada tulisan di bawah judul buku ini ‘Ruh itu tidak laki-laki, tidak perempuan. Jika ada yang membedakan di antara keduanya,yaitu anatomi.’ [PUSKA TANJUNG], font huruf pada judul tidak terlalu ‘eyecatching’ beruntung tertolong oleh deretan kalimat kuat itu. Dua puluh tujuh bab terbingkai dalam kertas  paperback  berukuran 14 x 21 cm, besardalam penampakan namun ringan dijinjing jadi tak perlulah dipikul untuk membawanya. Rupanya ini buku telah tercetak kedua kalinya, belum lama ini tepatnya bulan Februari lalu, diterbitkan oleh Penerbit 3M Media Karya yang beralamat kantor di sebuah kos-kosan, bisa jadi tempat bersemayam kawan Sayabernama Juned ‘Lanang Sejagat’ yang mengeluarkan buku ini dari back pack miliknya di awal pertemuan tadi,  hadeuhh opo tumon!

Sepertinya Muhammad Thorik, Sang Perancang sampul buku ini, lewat desainnya, selain merepresentasikan kisah sedih dalam novel ini, juga mewakili wajah melankolis Sang Penulis yang mengaku memiliki hobi menulis ketika hatinya tengah galau tapi Puska Tanjung pasti tak ingin dikategorikan ‘alay’ karenanya dia menuliskan identifikasi dirinya sebagai hati yang resah, mungkin disebabkan statusnya yang sudah tidak remaja lagi,sejatinya apalah beda; resah - galau? Hanya alay yang menderita diskriminasi dan stigma itu, diskriminasi juga diderita para perokok aktif, peminum kupi, demikian juga kawan-kawan yang memilih orientasi homo seksual seperti yang diceritakan dalam novel ini, mungkin daftar ini akan terus semakin panjang….

PERSAMAANPERSEPSI
Sewaktu di kelas, tertanggal 28 Maret2013, saat memberikan kuliah Hukum dan Hak Asasi Manusia, secara sengaja Saya memasukan materi HOMO SEKSUALITAS DALAM PERSPEKTIF HAM, sekalipun materi ini tidak tercantum dalam SAP (Satuan Acara Perkuliahan) milik Dosen Pembina Matakuliah tersebut tapi Saya merasa bahwa Saya adalah pemilik sah kelas tersebut, sekalipun hanya berstatus Asisten Dosen. Di awal perkuliahan dalam salah satu slide power point, Saya tampilkan, sebuah pertanyaan;

Apayang muncul dalam pikiran Anda ketika mendengar istilah
‘HOMOSEKSUAL’ ?

Berbagai respon muncul dari mahasiswa-mahasiswi, ada yang mengatakan; jijik, geli, aneh, serem, pendosa, sakit, criminal, penyimpangan psikologis, penyimpangan seksual, dan respon-respon negative lainnya. Tentu saja Saya merasa kecewa dengan respon-respon judgemental dandiskriminatif tersebut karena dihadapan Saya adalah sekumpulan calon yuris, calon sarjana hukum yang kelak saat kembali ke dunia nyata dalam alam kerja mereka, entah di instansi Kepolisian, Kejaksaan, Kehakiman, Lembaga Pemasyarakatan atau Law Firm saat melayani klien, saksi, tersangka, terdakwa, terpidana, mereka semua itu harus menjunjung tinggi prinsip EQUALITY BEFORE THELAW, kesetaraan di muka hukum! Tak peduli kau kaya-miskin, ganteng-jelek, tua-muda, hitam-putih, HETERO SEKSUAL-HOMO SEKSUAL!

Entah apa yang akan muncul dalam benak audiens saat acara bedah Novel BUSANA JIWA karya Puska Tanjung, pada Hari Minggu, 21 April 2013, pukul 13.00 di Rumah Dunia. Kita tunggu saja!


MENJADI
Tokoh utama dalam Novel ini bernama Boyke, oleh Sang Penulis digambarkan toogood to be true ; Seorang Desainer fashion sukses, tampan, usia pertengahan tiga puluhan Pemimpin utama, Pemegang saham tunggal rumah mode dan salon kecantikan, mapan, Solidaritas tinggi,menganggap karyawannya sebagai sahabat, tidak pernah bersikap seperti seorang bos. ingin menjadi pelindung bahkan saudara, memiliki kelembutan hati dan sifat feminine, Boyke ingin total menjadi wanita.

Saya tidak ingin terbawa pada arus pikiran main stream yang kemudian akan menambahkan ‘tapi sayangnya’ sebelum kalimat ‘Boyke ingin total menjadi wanita’.

Sang Penulis menggunakan alur cerita maju-mundur-maju (present time – pasttime – present time)  dalam novelini, namun ada kejanggalan yang saya rasakan ketika membaca awal Bab 2.
Di awal kalimat kita dibawa oleh Sang Penulis dalam alur waktu dimana Sang Tokoh pulang dari kantor kemudian masuk kamarnya untuk melakukan ‘pesta gila’ ala Boyke. Dia mengenakan gaun pesanan pelanggannya yang semula dia tolak untuk diambil hari itu, mengunakan make up sempurna, beraksi di depan cermin, berimajinasi menjadi putri tapi kemudian tiba-tiba muncul Sang Mama membuka pintu dengan ekspresi marah, sedih dan takut dan lebih anehnya lagi,Sang Penulis memposisikan diri Boyke dalam usia kanak-kanak!

Lewat Bab ini kita mulai diajak olehSang Penulis awal mula ketertarikan dalam diri Boyke terhadap hal-hal yang berbau ‘all aboutwomen’ dihadirkan oleh Puska Tanjung ketika Boyke masih berusia kanak-kanak. Betapa Boyke selalu tertarik dengan baju-baju dan boneka milik Poppy, kakak perempuannya, Boyke selalu iri mengapa baju-baju Poppy begitu menarik, sehingga mendorong Boyke untuk mencobanya, Boyke kerap menyelinap di malam hari untuk mengenakan baju-baju milik Poppy bahkan dengan pakaian penuh denga bunga-bunga, Boyke nekad berlarian bak kupu-kupu di halaman rumahnya, tengah malam! Sampai-sampai membuat gempar masyarakat yang kerap melihat penampakan hantu putri kecil, akhirnya ketahuan lalu Boyke kecil dihukum oleh Ayahnya.

Dalam perspektif gerakan perlindungan anak terdapat setidaknya empat prinsip, diantaranya;non-dsikriminasi dan kepentingan terbaik untuk anak (the best interest for the children), kadangkala dalam kontruksi social dan budaya di masyarakat Indonesia pada umumnya segala sesuatu untuk anak bersumber dari orang tua, tak jarang anak-anak dipaksa untuk mendengar dan mengikuti ‘INI SEMUA DEMI KEBAIKAN KAMU, NAK!’

Puska Tanjung cukup lihai dalam berperan menjadi anak-anak, kita bisa lihat dalam hal penggambaran karakter keluguan psikologis kanak-kanak Boyke begitu kuat ketika Sang Mama marah kepada Boyke…

Boyke kecil ternganga, kaget dan heran. Mengapa mamanya demikianmarah? Ia hanya sedang bermain dengan boneka milik Phopy, kakak perempuannya. Dan mengenakan baju Phopy dan juga topinya. Tidak ada yang salah? [Busana Jiwa,halaman 14]

Beranjak pada masa remaja Boyke telah menikmati sensasi cinta sesama jenis dengan Randy, pemain basket disekolahnya, tampan, atletis. Disukai oleh hampir semua gadis-gadis di sekolah. Awalnya Boyke ragu untuk menyukai Randy tapi ternyata Randy mendekati lalu membisikkan “Jangan khawatir Baby, kita nyaris sama, Man.”  

Beberapa pakar psikologi, misalnya American Psychological Association berpendapat bahwa homoseksualitas tidak dapat dirubah (immutable), orientasi seksual merupakan bawaan lahir, namun banyak factor yang menyebabkan seseorang kemudian mantap dengan orientasi seksualnya, diantara sebagaimana dijelaskan oleh Seorang psikolog klinis Lita Gading, bahwa proses orientasi seksual dipengaruhi banyak faktor. Gen porsinya sangat kecil, katanya. Lingkungan internal dan eksternal lebih dominan, termasuk pola asuh, trauma, pencarian figur ayah atau ibu saatkecil hingga remaja, dan perhatian orangtua pada fase pertumbuhan dari anakhingga remaja. Kemampuan dan perhatian orangtua dalam memberikan arahan dan bimbingan fungsional perbedaan jenis kelamin juga menjadi faktor lain yang memengaruhi. Lita juga berpendapat pada saat usia remaja adalah fase laten karena perkembangan fungsi organ reproduksi, ketertarikan terhadap orang lain, tapi jika tidak ada bimbingan yang tepat bisa berakibal fatal [Kompas.com,2010]

Dorothy Law Nolte pernah mengatakan; Ifchildren lives with hostility, They learns to fight  (jika anak dibesarkan dengan permusuhan, mereka belajar berkelahi). If children lives with shame, They learns to feel guilty (jika anak dibesarkan dengan penghinaan, mereka belajar menyesali diri). If children lives withfairness, They learns justice (jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, mereka belajar keadilan). Ifchildren lives with acceptance and friendship, They learns to find love in theworld (jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, mereka belajar menemukan cinta dalam kehidupan). Petikan pemikiran Dorothy Law Nolte mengenai pola penanganan dan efeknya terhadap anak tersebut telah menjadi rujukan lembaga-lembaga perlindungan anak di seluruh dunia dan menjadi panduan bagi orang tua  dalam pola asuh anak.

Konflik batin yang diderita oleh Boyke sejak masa kanak-kanak justru membuat dirinya menjadi tertekan. Orang tuanya justru tidak mampu menjawab, menangani ketidak tahuan, keluguan dan kepolosan pemahaman Boyke saat itu. Orang tua terkadang hanya menerapkan ilmu ‘pokoknya’ kepada sang anak, “pokoknya kamu beda dengan anakperempuan!” “pokoknya kamu gak boleh main boneka!”, “pokoknya kamu harus maen sepak bola!”, “pokoknya kamu harus jadi tentara”.


BOYKE ADALAH WARGANEGARA
Dalam pola relasi antara Warga Negara dan Negara (pemerintah) maka HAM (hak Asasi Manusia) dalam hal ini tidak bisa dilepaskan. Orang-orang dengan orientasi berbeda dari umumnya atau dalam hal ini orientasi heteroseksual menjadi dominan jika dibandingkan dengan orang yang memiliki orientasi homoseksual dan transgender kemudian merasa termarjinalkan dalam masyarakat terkadang sering mendapatkan perlakuan diskrimatif, judgemental, bahkan menjadi korban berbagai kekerasaan (fisik-psikis-seksual).

Diskriminasi berawal dari carapandang!
Masihbanyak masyarakat memandang seorang waria, gay, lesbian dengan pandangan jijik,geli, aneh, serem, pendosa, sakit, criminal, penyimpangan psikologis, penyimpangan seksual, dan respon-respon negative lainnya. Padahal menurut American Psychological Association  dalam DSM IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder / buku acuan diagnosti ksecara statistikal untuk menentukan gangguan kejiwaan) homoseksualitas sudah tidak termasuk dalam penyakit kejaiwaan manapun, bahkan World Health Organization (WHO) telah memutuskan bahwa homoseksualitas tidak tergolong suatupenyakit atau gangguan jiwa (1990).

Terkadang hasrat menghukum masyarakat bisa jauh melebihi dari orang yang melebihi kompetensinya, seperti dalam ruang persidangan kadang terjadi kisruh misalnya keluarga korban pasti meminta pelaku agar dihukum seberat-bertanya bahkan kalau perlu hukuman mati, begitu dalam hal fenomena homoseksual, sekalipun ada keterangan dari pihak yang lebih memiliki kompetensi menentukan apakah kelainan kejiwaan atau penyakit tapi masyarakat memiliki persepsi tersendiri, hal ini kemungkinan dikarenakan tidak berada dalam lingkup/irisan yang sama, entah tidak ada keluarga atau tetangga yang‘aneh’ seperti itu atau tidak memiliki empathy.

Undang-undang Dasar sebagai Konstitusikita memberikan jaminan yang sama bagi warga negaranya, tidak mengenal usia, jenis kelamin, orientasi seksual. Mari kita lihta UUD NRI 1945 Bab X mengenai Hak Asasi Manusia, pasal 28  (1) Setiaporang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat,dan harta benda yang dibawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi. (2) Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia dan berhak memperoleh suaka politik dari negara lain. 

Segala bentuk perlakuan tidak adil yang kerap terjadi pada waria tentunya melanggar jaminan UUD NRI Pasal 28 I (1) Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, danhak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surutadalah HAK ASASI MANUSIA YANG TIDAKDAPAT DIKURANGI DALAM KEADAAN APA PUN atau lebih dikenal dengan NON DEROGABLE RIGHTS.

Hak untuk diakui sebagai pribadi di muka hukum inilah yang kemudian mendorong Boyke meminta pengakuan status dirinya hingga ke muka hukum.




          
-KOELIT KETJIL-

Disampaikan pada Launching dan Bedah Novel  BUSANA JIWA, karya Puska Tanjung
Rumah Dunia, Serang 21 April 2013