Tampilkan postingan dengan label Dunia ide. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia ide. Tampilkan semua postingan

Kamis, Februari 04, 2010

REPORTASE JALANAN


REPORTASE JALANAN


Pemuda di hadapan kami ini berperawakan standar saja, tidak terlalu tinggi, berkulit hitam legam, bisa jadi diperparah oleh paparan matahari dan tak tersentuh air sama sekali, bisa kuterka hanya terpaut beberapa tahun saja atau bahakan berselang bulan dengan usiaku. Potongan rambutnya botak dengan beberapa aksesoris pitak tersebar di kepalanya, mirip sekali trend potongan rambut yang biasa dikerjakan oleh Oknum anggota Kepolisian dan TNI dalam memberikan pelayanan potongan rambut gratis untuk tahanan mereka tapi tentu saja karena mereka tak pernah dilatih oleh instruktur dari penata rambut professional sekelas Rudi Hardi Suwarno, jadi yaa… setiap tahanan hanya bisa pasrah saja. Hey, siapa tahu model rambut seperti ini bisa menjadi trend rambut tahun 2010 atau tahun-tahun berikutnya? kita tak pernah bisa menebak alur maju-mundur trend masa kini bukan?



Kenapa saya tidak langsung mengambil kesimpulan mengenai pemuda di hadapan kami yang tengah menikmati sajian teh panas, kopi, susu jahe, pisang baker, ceker bakar, tahu mendoan dan sego kucing ala angkringan Jogja ini di sebuah sudut alun-alun Kota S. pengunjung dan penikmat kuliner lesehan di sebelahku meberikan kode kepada teman dekatnya dengan symbol membuat garis menyilang dengan telunjuknya tepat di dahinya, sebuah tanda yang kemudian diakui oleh umum bahwa orang yang dituju jelas-jelas orang gila, teman yg diberi kode itu cekikikan setelah melihat telunjuk itu.



Mari kita buktikan kawan-kawan!



Pemuda di hadapan kami (selanjutnya kusingkat menjadi PDHK) ini, sejak mendatangi kami yang duduk lesehan beralaskan tikar memang sudah mulai melakukan MONOLOG (sebuah seni pertunjukan teater seorang diri, seniman Butet Kerta Redjasa, ahli di bidang ini). PDHK berkicau tidak jelas awalnya, ini karena perhatianku separuh masih terhipnotis oleh Pencakar Langit karya NH Dini, namun lama kelamaan, kuperhatikan pertunjukkan Monolognya menjadi sangat menarik terlebih PDHK ini menyertakan seekor tikus kecil... yaaa, SEEKOR TIKUS KECIL!! Sebagai lawan mainnya. Seolah ramalan itu menjadi kenyataan malam ini: Parturient montes, nascetur ridiculus mus - Mountains will be in labour, and an absurd mouse will be born.


Mari kita perhatikan beberapa adegan PDHK yang sempat terekam dalam memori biologisku ini: ...................



Setting Panggung: Pinggir jalan, penonton berada di atas trotoar

Lighting: Lampu Penerangan Jalan Raya (LPJR)

Properties: Tiga mobil terparkir di sebelah barat, lima motor berjejer di timur, gerobak angkringan, di ujungtimur

Pemeran tambahan: tiga orang pelayan angkringan, seorang tukang parkir dan empat anak pengamen jalanan

Tata suara: suara kendaraan lalu lalang

Penata Musik: empat anak pengamen jalan


*PDHK muncul dari sebelah barat panggung, mengelapi mobil avanza hitam, mulai monolog dengan suara tidak jelas*



PDHK: ”Siapa...siapa diantara kita-kita ini yang paling kaya? Siapa yang paling kaya di dunia ini? Siapa?!”

*PDHK berbicara serius dengan tikus kecil yang di letakan di telunjuk kanannya, sesekali mengelus dan seperti mencium tikus kecil itu*



PDHK: *mengambil posisi jongkok lalu menaruh tikus kecil di aspal*

“aku ingin menjadi orang paling kaya sedunia semiskin-miskinnya… yaa! Aku ingin kaya semiskin-miskinnya!!”

*mendekatkan wajahnya kearah tikus kecil dengan mimik muka meyakinkan lawan bicaranya*



PDHK: ”Kamu tau teman kecil... aku ini orang kaya! Tapi aku tak pernah sombong kawan.. hey kau dengar tidak?!”

*mengangkat tikus kecil dalam genggamannya dan mendekatkan kearah wajahnya*



PDHK: ”Hey.. meski bentukku begini rupa, aku orang kaya loh! Sungguh! Aku orang paling sedunia semiskin-miskinnya.. yaaa.. orang paling kaya semiskin-miskinnya di dunia ini… Kau percaya bukan kawan?

*menganggukan kepala tikus kecil itu dengan jari telunjuk kirinya lalu menaruhnya lagi ke aspal, tikus itu tidak pergi sama sekali*



PDHK: *berdiri, merentangkan tangannya, menarik nafas dalam-dalam lalu tersenyum manis kearah tikus kecil*

”Hahhh... apa kawan?? Darimana aku bisa kaya katamu?

*badannya hanya sedikit membungkuk kearah tikus kecil*



PDHK: ”hahahaa.. baiklah! Akan aku ceritakan.. hhummm... aku menjadi kaya karena aku selalu menang judi...selalu! tak pernah aku kalah sekalipun! Kamu ingin tahu bagaimana aku bisa menang kawan?”

*kali ini posisi badannya jongkok mendekati tikus kecil*



PDHK: ”karena aku pandai berhitung kawan..dan kamu tahu siapa lawan-lawan judiku? Mereka semua orang bodoh! Yaaa..bodoh dalam berhitung, tak kenal sama sekali yang namanya M . A .T . E . MAAA . T . I . K . A!!

*tiba-tiba berdiri dan tertawa keras*


PDHK: ”hahahahaaa…hhahaa.hhaaa… aduhh.. sampai geli aku setiap kali aku selesai bermain judi dengan orang-orang bodoh BUTA MATEMATIKA itu! Hahahha..hahaa...”



PDHK: *mendekati telinga tikus kecil dengan posisi tidur*

”bagaimana mungkin mereka bisa menang judi kalau mereka tak kenal matematika... tak pandai berhitung! Sementara kamu tahu sendiri setiap permainan judi kartu kita harus pandai berhitung, itu syarat mutlak! Selebihnya yaaa... gertak dan strategi..kekekekekkkk..bodoh betul mereka itu!”

*menari-nari kecil dengan puas*



PDHK: ”Hahhh!! Apa??

*mengangkat tikus kecil dalam gengamannya*

“Hey teman kecil meskipun kita baru bertemu dan kita sudah berteman baik! Eh..looo...loohh.. masak kamu meragukan kemampuan berhitungku! Baik! Silakan kamu bertanya?”

*mukanya serius melihat kearah tikus kecil lalu tertawa singkat*



PDHK: ” bahh!! Kalo Cuma sekedar tiga kali tujuh itu sih mudah! Yaa dua puluh satu lah.... empat kali tujuh mah dua puluh delapan...

nah kalo lima kali tujuh, jelas tiga puluh lima! Ato begini saja kuberitahu kau bahwa delapan kali tujuh itu sama dengan lima puluh enam..

ato kuberi tahu yang lebih sulit lagi lima belas jika dikalikan dengan lima puluh maka sama dengan TUJUH RATUS LIMA PULUH!!

Bagaimana kamu masih meragukan aku?

*seolah menunggu jawaban tikus kecil dengan posisi satu tangannya berkcak pinggang*



(aku sampai harus memastikan hasil perkalian itu dengan mengambil handphoneku dan mengatur mode menjadi kalkulator...ternyata tepat!)


*empat anak pengamen jalanan masuk panggung ; satu anak memainkan gitar kecil (kencrung),satu memegang botol yakult berisi pasir, dua lagi menyanyi sambil bertepuk tangan sementara PDHK tetap melakukan monolognya. Hadirnya pengamen ini seolah membuat suara PDHK menjadi fade out*


Pemusik: “ masuk hidup di jalanan sejak aku dilahirkan… tembok putih jadi saksi..kami hidup di jalanan… penuh dengan kekerasan… penuh dengan pemerasan yang merajalela dijalanan…yang meraja lela di jalanannn….”

*seorang pemusik mengulurkan bungkus plastic agak besar bekas permen*


(kebetulan aku masih hafal lagu yang biasa kudengar ketika bercengkrama dengan kawan-kawan jalanan di Jogja itu tapi ketika aku request lagu GARUKAN dan DARAH JUANG para pemusik saling bertatapan, mengangkat dagu mereka sebagai tanda minta konfirmasi lalu menjawab tidak hafal..sedikit kecewa memang tapi tak apalah, toh, aku juga tengah menjadi penikmat seni monolog PDHK saat ini)



PDHK: *menatap sinis kearah para pemusik karena salah satu dari mereka menggoda tikus kecilnya*

Apa liat-liat hahh ?!! biar tikus begini dia kawan aku... dia mau berbicara dengan aku! Kalian apa pernah mau ngobrol dengan aku hahhh!!”


*tukang parkir datang melerai mereka*


T Parkir: ”Heyy!!heyyy!!.. jangan ribut disni! Ayo pada pergi! Ganggu yang lagi makan saja! Pergi sana!!”

*mengusir para pemusik dan PDHK lalu tersenyum-senyum kaku kearah pengunjung, mungkin sebagai tanda pemakluman*



(dalam hati aku justru mengutuki tukang parkir itu karena telah mengganggu pementasan monolog PDHK, kulihat PDHK misuh-misuh kearah tukang parkir sambil beranjak pergi. Sialan!)



PDHK: *sambil ngeloyor pergi meninggalkan panggung jalanan*

Hey tukang parkir sombong! Aku lebih baik mengurus lima ratus tikus daripada ngurus kamu! Gak berguna! Hayooo siapa yang mau mengurus tikus? Hanya aku tau! Kalo perlu aku kan mengurus tikus yang ada di seluruh dunia! Percuma kalian jadi orang kaya tapi Cuma mentingin perut sendiri!

*setelah menendang motor kawazaki ninja, PDHK pergi sambil tetap melakukan monolog berjalan... fade out..*



Wooowww!!!! Betapa aku telah disuguhkan satu pertunjukkan monolog terbaik yang pernah aku lihat! Seniman Butet Kertaredjasa saja kalah kuat kehadiran dan keaktorannya ketimbang Pemuda di hadapan kami (PDHK) tadi itu! Teriakan terakhirnya itu membungkam kesombongan kita; Non Gradus Anus Rodentum! Bahkan kita tak lebih baik dari pantat tikusnya! Melihat pertunjukkan monolog live dari PDHK itu aku jadi teringat ketika masih di Jogja dengan nuansa budaya dan seni yang begitu kental, pernah juga sempat berproses dengan seniman Perancis dan belajar dari dia tentang teater jalanan yang sering dia lakukan selama di Perancis, negaranya itu. Teater jalanan atau teater forum memang tidak asing untuk kalangan seniman Eropa yang sering dipertunjukkan ditempat-tempat umum seperti jalanan, alun-alun kota, metro (kereta bawah tanah) dengan skenario seadanya sesuai dengan kondisi lapangan. Di Jogja yang aku tahu hanya Teater Garasi dan Teater Gardanala yang pernah coba menerapkan metode teater jalanan atau teater forum ini.



Bahkan Joned Suryatmoko dari Teater Gardanala pernah mementaskan sebuah pertunjukkan dengan Judul ”Jalur 17” yang dipentaskan betul-betul diatas sebuah bus angkutan umum Jalur 17 di Kota Jogja, yaa meskipun setting, properties, musik (pengamen bus) bahkan penonton sudah mereka setting tapi yang baru saja kutonton ini adalah pertunjukkan monolog agung langsung tanpa setting sedikitpun oleh sutradara yang berwujud manusia...kali ini SANG SUTRADARA tak dapat kita lihat... entah berada di bagian mana dari panggung ini... panggung kehidupan yang sedang kita perankan bersama ini!



Malam ini dari sudut alun-alun Kota S, tepat di seberang sebuah kompleks pendidikan dari Yayasan Mardi Yuana (dahulu ketika masih SMP, aku dan kawan-kawan dekatku pernah mengunakan cat semprot mencoret huruf D pada plang kompleks sekolah itu sehingga terbaca menjadi ”TK, SD, SMP, SMA MAR*I YUANA”). Malam ini yang kurasakan menjadi begitu sentimentil namun menghentak keras, realistik tapi terbaca absurd, seolah aku berada pada batas antara nyata dan imaji!




Betapa tidak kawan-kawan.... sebelum PDHK itu hadir, aku tengah membaca Pencakar Langit karya penulis favoritku; NH. Dini, gaya penulisannya yang begitu detail seolah membawa kita pada venue yang tengah digambarkan oleh NH Dini dan menculik kita lalu menelantarkan tepat berada di tengah-tengah Kota Manhattan. Merasakan kebisuan dini harinya di sela-sela ratusan gedung-gedung pencakar langit, bergentayangan pada Jalan ketujuh (7th Street) dari satu tong sampah plastic ke tong sampah berikutnya terus menyusuri jalan menggigil kedinginan sampai pada jalan ketiga (3rd Street) hanya untuk mengais-ngais sisa-sisa makanan berebut dengan tikus-tikus agar perutku tidak mendendangkan konser keroncongan dan merasakan kebahagiaan yang teramat sangat ketika menemukan pakaian tebal dengan robek di bagian ketiak karena tubuh menggigil ini sangat membutuhkan kehangatan tanpa pembakaran kalori dalam tubuh sama sekali. Betapa aku tertohok oleh adagium: Non est vivere sed valere vita est bahwa kehidupan tak sekedar hidup belaka melainkan dalam keadaan [lebih] baik


Lalu lewat tulisan NH Dini ini seakan aku turut merasakan tamparan angin pagi hari pada wajahku dari tempat tertinggi ujung gedung World Trade Centre (WTC) yang terkenal itu. Aku pun tiba-tiba merasakan tubuhku begitu lemah tapi harus terus bergelayutan pada huruf-huruf perangkai kata nama gedung lambang supremasi ekonomi Amerika ini, di dalam gedung ini isi kepala manusianya sama, yaitu; Pecvniate obedivnt omnia - All things obey money. Money makes the world go round. Kemudian tiba-tiba kesadaranku terhenyak dan niatku bunuh diri dengan terjun dari gedung WTC ini menjadi gagal total karena seorang keponakanku tiba-tiba hadir dipuncak gedung itu setelah melihat aksi nekadku lewat televisi, dan lebih gilanya lagi keponakanku itu bahkan ikut-ikutan nekad akan terjun jika Polisi, Petugas Pemadam Kebakaran dan Pendeta melarang dirinya mendekat kearahku, pamannya yang depresi berat tanpa pekerjaan sementara beban hidup dan peluang semakin mencekik.



Bahkan lewat penggambaran detail oleh NH Dini, aku seolah betul-betul menjadi seorang anak miskin yang mempunyai seorang ibu tengah sakit-sakitan hingga untuk membuang air besar saja harus berlari kearah gedung tidak terpakai tanpa harus repot menyiram kotoran. Sampai-sampai aku seolah tak kuasa menahan diri ketika hendak di bawa kedalam ambulan lalu puluhan orang memakiku hanya karena aku tidak jadi bunuh diri. Kalian tahu kawan-kawan, betapa mereka murka hingga aku persis betul-betul merasakan sakitnya terjatuh dari brankar (ranjang dorong biasa ada dalam ambulan) hanya karena aku telah dijadikan OBJEK TARUHAN mereka, tepat ketika aku berjuang antara harus bunuh diri atau harus terus menjalani hidup, mereka menjadikanku serupa bahan perjudian hidup-matiku.



Sampai-sampai aku harus menangis ketika keponakanku yang turut nekad hendak akan terjun bersama, didalam ambulan bertanya dengan polosnya; ”Mengapa mereka menyebut kita anjing Portoriko, Paman Jack?” (Pencakar Langit, NH Dini, halaman 21). Perempuan penulis dahsyat kelahiran Kota Semarang, 29 Februari 1936 ini memang pantas menduduki jajaran penulis dahsyat yang pernah dimiliki jagad Sastra Indonesia. Membaca Pencakar Langit berulang berapakalipun emosiku tetap sama, sambil sesekali kulayangkan kutukan bagi kawan-kawanku yang tidak mengembalikan novel-novel NH Dini koleksiku terbaikku, entah kemana ”La Barka” ku, ditangan siapa aku lupa ”Pada Sebuah Kapal” itu, kusesali meminjamkan ”Namaku Hiroko”, ”Pertemuan Dua Hati” pemberian seorang kawan ’dicuri’ kawan yang lain, ”Padang Ilalang di Belakang Rumah Kami” juga dibabat entah oleh siapa. Seolah Publius Syrus berbisik langsung di telingaku; “Occasio aegre offertur, facile amittitur, bahwa keberuntungan datang dengan penawaran manisnya begitu sulit tapi kehilangan itu seperti menjetikkan jemari! Ctiiikk!!




Entahlah apa kesimpulan pembelajaran malam ini yang bisa kutangkap karena aku masih tergagap-gagap dengan kesamaan benang merah yang telah NH Dini tuliskan dan pementasan monolog karya SANG SUTRADARA hidup yang baru saja dipertunjukkan di depan hidungku. Betapa persinggungan kesamaan itu begitu nyata; ada manusia yang sama-sama harus berbagi makanan dengan tikus, bahwa hidup mereka menjadi taruhan pada meja perjudian, bahwa ada si kaya dan si miskin, bahwa saat itu juga aku mendapatkan kabar dari seseorang yang memberi kabar bahwa ’keponakanku’ sudah berangsur pulih dari sakitnya sementara NH Dini menghadirkan seorang keponakan yang memulihkan kesadaran seorang Paman Jack agar tetap menjalankan hidupnya.



Biar proses pembelajaran yang kudapatkan malam ini menjadi kesimpulan yang perlu kucerna lagi karena aku harus bisa membedakan mana diantara keduanya; apakah melodi sentimentil ataukah kerasnya hentakan hidup yang tengah kudengarkan lewat hatiku? Ataukah pementasan monolog inilah yang justru absurd ketimbang realitas hidup yang telah direportasekan NH Dini lewat sebuah jalan di Amerika sana, sementara aku di pinggirjalan ini hanya menjadi penikmat teh panas dan belajar sendiri saja dari Kampus Alam termegah ini...

Seneca pernah berujar; Non scholae sed vitae discimus - We do not learn for school, but for life……dan bagiku the greatest university is universe!


-Mitrakasih-



Koelit Ketjil

-Reportase Tengah Malam dari sebuah sudut alun-alun Kota S-

* 3 Februari [22.30(an)] – 4 Februari [02.20]. masih di Tahun 2010 *


sengaja aku tidak ambil gambar saat PDHK ber-monolog karena bisa jadi nyala blitz akan membuat dia marah

Senin, Oktober 19, 2009

Terpisah diantara dua Carrefour (baca: terjajah oleh bentuk kolonialisme baru Perancis)

Malam ini (Minggu, 18 Oktober 2009 pukul 20.30an) Aku janjian ketemu dengan Kika Syafii (KS). Waktu dan tempat telah kami sepakati, maka meluncurlah kami ke titik pertemuan. Aku sudah di Tangerang, begitu juga KS. Aku sudah di depan Carrefour, begitu juga KS. KS bilang sudah di halaman parkir, begitu juga Aku. KS kasih deskripsi tentang kendaraan yang dia gunakan; mobil pick up Panther warna hitam, kudekati mobil pick up Panther hitam.. mobil bergerak lambat. Lewat komunikasi handphone kukatakan, “aku sudah lihat mobilmu, jangan bergerak! coba berhenti” handphone kumatikan, aku bergerak menuju mobil pick up Panther hitam itu tapi mobil hitam itu terus melaju cepat! Aku terdiam bengong setelah teriak-teriak melambaikan handphone yang sengaja kuangkat agar terlihat tanganku dengan nyala layar handphoneku tapi mobil pick up Panther hitam itu terus melaju semakin cepat. Ku SMS, KS (sialan) itu sambil menggerutu dalam hatiku; “kukejar koq malah bablas trus!” tak lama handphone berdering, “itu bukan mobilku!” Oaaalaaaahhhhhhhhhh…. Biyung…biyung.. tobat..tobat.. makan soto campur babat!!!!! ternyata Aku di Cikokol sementara KS di Pamulang meskipun kami sama-sama di depan Carrefour...Juancukk!!!!


Hehehehe…. Aku tertawa sejadi-jadinya bahkan ade sepupuku yang menunggu di kedai roti bolong Dunkin Donut (DD) tertawa puas melihat abangnya terlihat keringetan masuk DD (situ pikir ngejar mobil di halaman parkir kagak capek apa!) Begitulah dahsyatnya gaya penjajahan Perancis terbaru ini. Carrefour ada dimana-dimana... bayangkan jika Aku dan KS janjian bertemu di Alfamart (yang juga ‘milik’ Carrefour setelah berhasil meng-akuisisi Alfamart) bisa di setiap tikungan jalan tuh...hahaahahaa..


Mari kita lihat cuplikan data menarik yang kami copy dari artikelnya http://antinekolib.blogspot.com dan (kemudian) kami posting (kembali) dalam blog forum diskusi kami pada http://babadbanten.blogspot.com/2009/08/carrefour-sudah-monopoli.html


“……Dengan mengakuisisi Alfa, berarti Carrefour sudah memiliki 58 gerai, sebuah kekuatan besar dalam industri ritel Indonesia. Bila digabungkan dari segi pendapatan, Carrefour sebesar Rp 7,2 triliun dan Alfa sebesar Rp 2 triliun, itu sudah menjadi Rp 9,2 triliun. Sedangkan jumlah gerai hypermarket Giant adalah setengah dari jumlah outlet Carrefour dan Hypermart.


Paska akuisisi Alfa oleh Carrefour, kesenjangan omzet Carrefour melampaui sangat jauh dari pesaingnya, yakni Ramayana yang hanya memiliki omzet Rp 4,8 triliun pada tahun yang sama.”…….

Endonesa-ku tak sadar sedang dijajah oleh kolonialisme model baru-nya Perancis... mati sudah kejayaan warung-warung kecil milik entrepreneurs sejati Endonesa jika rakyatnya bangga melenggang keluar-masuk Alfamart walau hanya sekedar membeli sebungkus kecil kwaci matahari ketimbang membeli di warung reyotnya milik Mbok Surti!


Forum diskusi kami (babad banten) tengah mengkaji secara akademis mengenai Pembangunan Carrefour yang berdiri megah tepat di jantung Kota Serang. Entah bagaimana historisnya bagunan Carrefour itu dapat berdiri tegak tepat dipersimpangan jalan protokol kota tercinta kami ini? Entah siapa yang memberikan ijin pembangunannya? Mengingat Kota Serang barulah seumur jagung (setelah mendapatkan persetujuan pemekaran sebagai Kota baru sehingga terlepas dari Kabupaten Serang, induknya ini), begitu cepatnya kinerja Anggota Dewan dan Pemerintah Kota Serang yang baru ini dalam membuat regulasi pendirian bangunan Carrefour padahal masih banyak sekali yang harus dipikirkan terlebih dahulu (sekedar gambaran saja, jarak antara Gedung Pemerintahan Kota Serang dan Carrefour hanya berseberangan saja diantara persimpangan jalan protokol!!), bahkan tata adminstrasai dan sumber daya aparatur kota saja masih amburadul, banyak pegawai yang mengeluh belum mendapatkan honorarium dan gaji mereka setelah dimutasi ‘paksa’ dari instansi Kabupaten Serang kepada instansi Kota Serang.


Seyogyanya produk hukum daerah yang telah terbit harus terlebih dahulu masuk dalam Program Legislasi Daerah (Prolegda), jika melihat dari usia Pemerintahan Kota yang seumur jagung berdasarkan UU Nomor 32 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kota Serang maka Menteri Dalam Negeri Mardiyanto meresmikan kota pemekaran, yaitu Kota Serang, Provinsi Banten, pada tanggal 2 Novenber 2007 bersamaan dengan Kabupaten Pesawaran, Propinsi Lampung maka sungguhlah luar biasa para pemimpin pemerintahan yang baru ini karena sudah berhasil mendirikan pusat perbelanjaan setaraf Carrefour dalam waktu singkat.


Seyogyanya (lagi) setiap produk hukum yang akan terbit haruslah terlebih dahulu mempertimbangkan aspek filosofis, sosiologis, hukum dan juga perlu mempertimbangkan prioritas produk hukum mana yang terlebih dahulu penting untuk dipikirkan, pemerintah juga harus mempertimbangkan bagaimana efeknya terhadap pasar-pasar dan toko/warung tradisional. Tempo interaktif memotret fenomena ini “………..Kondisi itu terjadi setelah Pemerintah Kota Serang mengeluarkan Peraturan Walikota Nomor 157 tahun 2007 yang tidak membatasi jumlah dan jarak ritel modern di pusat kota………” maka dapat dibayangkan betapa banyaknya warga Kota Serang bangga keluar-masuk Alfamart dan sejenisnya meski tubuhnya hanya dililit handuk hanya untuk membeli sabun mandinya yang habis, mereka hanya melangkah kedepan rumah padahal di sebelah kanan-kiri ada warung Ibu Hajah Jup dan warung-warung kecil lainnya yang tersisihkan sejak munculnya alfamart dan sejenisnya yang tumbuh subur di hampir setiap 30 meter!!!


Saya dan beberapa kawan (Heru W, Diqbal S dkk) tengah merintis forum diskusi BABAD BANTEN (www.babadbanten.blogspot.com) yang coba menggali kembali kearifan lokal kampung halaman kami tercinta ini (baca;Banten). Sekedar cerita anekdot miris yang biasa saya lontarkan ketika kami berdiskusi berlama-lama hingga menghabiskan beberapa liter kopi dan entah berapa bungkus rokok yang menjadi pasokan energi mulut kami yang (alhamdulillah) tak pernah berbusa. Begini ceritanya, jika saya tiba-tiba diculik lalu mata saya ditutup rapat dan dibius pula, kemudian saya dibawa entah kemana namun setelah saya tersadar dari pengaruh bius itu maka saya dapat menerka bahwa saya telah berada di Bali, meskipun saya tak mengetahui rute yang saya lalui, penutup matapun belum saya buka dan tidak ada seorangpun yang memberitahukan kepada saya, karena saat itu saya sudah merasakan atmosfernya Bali, saya sudah mampu membuat kesimpulan saya tengah berada di Bali walau hanya dipandu oleh hidung saya terlebih saya diyakinkan oleh telinga saya yang mendengar alunan musik khas Bali.


Mari kita lihat perbandingannya, jika anda berangkat dari Bali menggunakan pesawat maka anda akan mendarat di bandara Soekarno-Hatta, dari Bandara anda menggunakan taxi melewati daerah Pintu Air lalu Cikokol, hingga daerah Blaraja terus melaju melewati gerbang kota dan sampai pada alun-alun Kota Serang, anda telah memastikan diri anda tidak tertidur sedetikpun sejak dari bandara hingga alun-alun kota tapi anda (bisa saja) akan berkata “Saya berada dimana sekarang?” Perlu diingat bahwa Bandar udara Internasional Soekarno-Hatta berada dalam wilayah Tangerang, which is bagian dari Propinsi Banten tapi adakah nuansa Banten-nya? Atau anda masih merasakan berada di Bali (perhatikan ornament gerbangnya, dll). Kampung halaman kami telah kehilangan warna aslinya tapi di sisi lain kampung halaman kami tidak terkena imbas perkembangan pembangunan yang optimal dari Ibu Kota Negara, mengingat dekatnya jarak Jakarta-Banten, orang Jawa bilang “mung sak plentingan tok!” Hanya sekali tarik ketapel maka batu yang dilontarkan dari Banten dapat mengenai pucuk Monas! (jika yang main ketapel Samson mungkin..hehehehe).


Kisah sedih di hari Minggu (kayak judul lagu yak!) yang saya alami baru saja ini, hingga saya tidak jadi bertemu kawan KS, mungkin saja campuran cerita ironis-dagelan-keidiotan saya-miss communication kami-atau kebingungan kami dalam rimba neo-kolonialisme Perancis!


Maaf saya telah menghabiskan waktu anda karena telah membaca tulisan ‘gado-gado’ (mungkin tak berguna) ini tapi mari kita pertimbangkan kembali “mana lebih baik;


  1. membeli kwaci matahari seharga Rp. 500,- dapat bonus kantong plastic dan senyum kompak-ramah pelayan Alfamart, atau
  2. membeli kwaci matahari seharga Rp. 550,- yang gak ada kembalian Rp. 50 karena anda membayar dengan Rp. 600,- di warung Bang Udin?


The choice is in your hands. Mitra kasih..eh Terimakasih!



- Koelit Ketjil, 18-19 Oktober 2009-

also posted in; http://babadbanten.blogspot.com/2009/10/terpisah-diantara-dua-carrefour-baca.html

Kamis, Oktober 01, 2009

Kembali ke Titik Nol ”De Groot Postweg”



(Catatan Perjalanan dan Perenungan dari Prasasti 0 KM Jalan Pos Anyer-Panarukan yang dibuat oleh Herman Willem Daendels )






Demi Kejayaan Keraton Surosowan, Leluhur kami bersabda;
Gawe Kuta baluwarti bata kalawan kawis*

Demi Kemerdekaan, Pejuang kami berteriak;
Pertahankan Banten dengan iman dan semangat juang

Demi apa entahlah? Kami, generasi muda
(seharusnya) melanjutkan kejayaan dan perjuangan
Tapi kami tak tahu harus memulai dari mana...

(Koelit ketjil, 12 Agustus 2009)




Rencana telah disepakati, titik dan waktu pertemuan telah ditentukan. Dimulai dari Pos I Jakarta, dua kawan bergerak menuju Kota Serang mengendarai sepeda motor, Saya di Kota Serang sebagai Pos II siap menanti, setelah kawan-kawan Jakarta singgah sejenak melepas lelah, perjalanan kami selanjutnya menuju Cilegon yang kami tunjuk sebagai titik tunggu (Pos III) tepat di simpang jalan keluar tol Jakarta-Merak. Tiga kawan lama telah menanti, meski terjadi sedikit kesalahan kordinasi dan perubahan waktu sesuai rencana, kesepakatan kecil dibuat kembali tanpa kawan kami si ’juru kunci’ atau ’yang punya Anyer’ maka kami pun bersiap menuju lokasi tujuan; Mercusuar Cikoneng Anyer.

Rencana yang kami rancang bukanlah agenda ekspedisi besar, sekedar mengulang kembali betapa berwarnanya memori persahabatan kami semasa sekolah dulu. Penentuan lokasi Anyer bukanlah lokasi alakadarnya atau sekedar menikmati suasana pantai untuk melepas kepenatan kami setelah beraktifitas masing-masing tapi Pantai Anyer merupakan titik ’bersejarah’ bagi kami. Proses perkembangan masa remaja dan rekatnya persahabatan kami banyak terjadi di pantai Anyer, salah satunya Mercusuar Anyer menjadi saksi proses tersebut.




(dokumentasi pribadi/WAPPEN/2009)

Menara Suar Cikoneng DSI 2260 (istilah dari Departemen Perhubungan) atau Mercusuar Anyer menjadi salah satu ’tonggak sejarah’ dalam persahabatan kami, setidaknya ada dua momen tak terlupakan bagi kami. Pertama, berkat Mercusuar Anyer inilah pertama kalinya Guru Matematika kami yang dikenal sebagai ’Guru Killer’ bernama Pak Edi tertawa terbahak-bahak setelah mendapat jawaban polos dari salah satu kawan kami yang berasal dari Anyer terkait dengan tinggi Mercusuar Anyer.

Betapa terkejutnya kami melihat fenomena langka ini, dalam kelas yang selalu dicekam suasana seram dengan gaya mengajar Guru yang terbiasa dengan didikan semi-militer ini (konon beliau pernah menjadi pengajar di STPDN), jika kami telat masuk kelas maka hukuman berupa push up, squash jump atau bending adalah hal biasa terjadi, belum lagi jika ada gerakan murid yang dia anggap aneh (misalnya; menggoyang-goyangkan kaki dibawah meja) maka detik itu juga eksekusi hukuman dilaksanakan (aneh bukan?). Kawan kami yang membuat Guru Killer itu sampai tertawa terbahak-bahak menjadi bingung dan kikuk dengan fenomena ini, begitu juga kawan-kawan satu kelas tak tahu harus bereaksi seperti apa? Harus ikut tertawakah atau cukup diam atau menyuruh agar diam guru yang tertawa itu?

Catatan kedua adalah ketika kami menjadi saksi pergantian tahun 1996-1997, tidak ada fenomena yang begitu menarik saat itu memang, hanya malam tahun baru seperti biasanya tepat dibawah menara putih menjulang tinggi di tepi Pantai Anyer yang berkarang yang terbentuk dari sisa lahar yang membeku bukti kedahsyatan Gunung Krakatau yang meletus pada tahun 1883. Konon katanya efeknya dapat terasa hingga Australia bahkan Eropa sempat diselimuti awan (debu) hitam yang terbawa angin.


(dokumentasi pribadi/WAPPEN/2009)

Saat masa sekolah dulu tidak pernah terbesit sedikitpun dalam benak saya dan kawan-kawan untuk mengetahui cerita apa di balik Mercusuar itu? atau bagaimana sejarah kejayaan Kesultanan Banten dahulu kala? Tragisnya sampai dengan detik ini saya masih juga belum mengenal dan memahami bagaimana sejarah kejayaan dan apa yang menjadi ciri khas Banten dalam perkembangannya sebagai kampung kelahiran saya ini? bisa jadi karena saya kurang mengenal jati diri Banten akibat sifat apatis saya selama hidup di Banten? atau boleh jadi karena saya tidak mendapatkan pengetahuan ini sejak di bangku sekolah? atau bisa juga karena orang tua saya yang tidak menceritakan seperti apakah sejatinya Banten itu sendiri? sehingga menciptakan kondisi ahistoris (tidak mengenal sejarah) tapi keyakinan saya, orang tua saya pun tidak mendapatkan cerita tersebut dari nenenda begitu juga leluhur saya sebelumnya.

Lalu yang kemudian menjadi pertanyaan dalam batin saya, apakah leluhur saya juga apatis terhadap sejarah dan perkembangan Banten hingga menjadi enggan untuk menceritakan kepada keturunannya? Sebagai manusia yang diberkahi rasa penasaran, saya sering berdiskusi dengan beberapa kawan dengan tema ‘seberapa kita mengenal kampung halaman kita?’ hasil dari diskusi panjang yang menghabiskan puluhan batang rokok, beberapa bungkus kacang garing dan bergelas-gelas kopi panas tersebut sampai pada kesimpulan ternyata kami tidak mengenal lebih dalam mengenai Banten bahkan mungkin yang kami ketahui hanya pada permukaannya saja, bisa jadi hanya serupa lapisan debu pada permukaan meja yang belum dibersihkan sejak pagi tadi. Apakah leluhur kami (saya dan kawan-kawan diskusi) juga apatis?

Tamparan kesadaran bagi saya pribadi kemudian adalah; “apakah kami dibentuk sebagai generasi apatis terhadap sejarah kampung halaman kami?” Saya masih ingat ajaran dari orang tua yang konon juga diajarkan dari nenenda bahwa jika kehilangan benda yang sedang kita cari maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah DIAM terlebih dulu lalu kemudian BERGERAK menuju pada tempat pertama kali yang diingat lalu MENCARI secara perlahan, teliti dan sabar artinya hikmah yang saya dapatkan adalah jika saya kehilangan gambaran sosok Banten maka pertama kali yang harus saya lakukan adalah merenung (diam) -bukan diamnya pikiran- tetapi kemudian menuju titik awal kesadaran maka berarti saya harus menuju titik nol dari sejarah peradaban Banten dalam hal ini sebagai contoh saya membuat rencana berkunjung menuju Banten Girang, Keraton Tirtayasa, Keraton Surosowan dan situs-situs bersejarah lainnya sebagai titik awal proses pencarian jawaban kegelisahan saya. Salah satunya adalah TITIK NOL KILO METER ANYER-PANARUKAN.

Historia docet! Begitu pepatah lama mengingatkan kita bahwa sejarah itu memberikan pelajaran. Begitu juga Pramoedya Ananta Toer lewat tokoh Minke dalam salah satu karya tetraloginya dalam novel Jejak Langkah; "Tak mungkin orang dapat mencintai negeri dan bangsanya, kalau orang tak mengenal kertas-kertas tentangnya. Kalau dia tak mengenal sejarahnya. Apalagi kalau tak pernah berbuat sesuatu kebajikan untuknya,” Kesimpulan singkat yang dapat saya ambil dari dua wejangan itu saja, bahwa saya bukanlah generasi pembelajar, maka gambaran generasi pecinta negeri sangatlah jauh dari harapan.
Pucuk di cita, ulam pun tiba! Beberapa hari setelah diskusi-diskusi malam bersama kawan-kawan (kami tengah merintis sebuah embrio Komunitas/Forum Kajian yang kami beri nama Babad Banten) ternyata dilain kesempatan beberapa kawan lama semasa sekolah menghubungi saya dan mengusulkan reuni kecil khusus kawan-kawan akrab saja, lokasi yang dituju sudah dapat diterka; PANTAI ANYER. Titik spesifik: MERCU SUAR ANYER.













(dokumentasi pribadi/WAPPEN/2009, perjalanan (menuju-sampai) MercusuarAnyer)

Rombongan motor kami sampai pada lokasi, saya tidak tahu secara pasti jarak dari Kota Serang menuju Mercusuar ini, namun jika diperkirakan sekitar satu setengah jam saja waktu tempuhnya dengan gaya berkendaraan touring santai (kecepatan tidak lebih dari 70 km/jam), setelah membayar tiket parkir per motor sebesar Rp. 5.000,- kami langsung menuju kaki menara suar tersebut namun sayang saat itu pintu menara terkunci. Beberapa foto kami abadikan lewat jepretan kamera digital, bisa kami gunakan sebagai bukti sejarah pertemuan-persahabatan ini untuk anak keturunan kami kelak. Dekat kaki mercusuar itu teronggok sebuah benda menarik, unik, eksentrik berupa sebuah motor honda 70 (honda pitung) dengan sejenis ’gerbong’ berupa rumah sementara (caravan) beratapkan daun sirap yang ditarik motor tua itu, namun ada kekaguman yang muncul dalam benak kami ketika kami melihat tepat di bagian depan motor itu terdapat plang bertuliskan; ”LUKIS JALAN KAKI TAHAP II JAKARTA-ANYER-PANARUKAN ROUTE JALAN DEANDELS; 1300 KM SEDEKAH UNTUK SEJARAH KI JOKO WASIS. MENGISI & MENGHIASI 100 TH KEBANGKITAN NASIONAL. MOHON DUKUNGAN DAN DOA RESTU”.




(dokumentasi pribadi/WAPPEN/2009, pada kendaraan yang digunakan Ki Joko Wasis)


Tulisan yang sama juga dapat dilihat pada bagian atas ’caravan’ sementara hampir seluruh bagiannya terdapat karya-karya lukisan dan potongan berita dari beberapa media cetak yang meliput gerakan luar biasa yang dilakukan Seniman Ki Joko Wasis ini. Subhanallah... luar biasa! Setiap orang memang mempunyai cara tersendiri untuk ambil bagian. Tidak hanya penyair saja, gerakan ini berarti menolak tegas klaim yang dilontarkan oleh Chairil Anwar ”yang bukan penyair tidak ikut ambil bagian”.


(dokumentasi pribadi/WAPPEN/2009, pada kendaraan yang digunakan Ki Joko Wasis)

Konon lokasi berdirinya menara suar ini sengaja dipilih pemerintah Hindia-Belanda saat itu salah satunya adalah sebagai penanda bahwa dari titik itulah mega proyek pembuatan jalan Anyer-Panarukan yang diprakarsai oleh HW Daendels. Banyak informasi sejarah terkait pembangunan jalan ini, tidak sedikit juga yang membuat bingung bagi siapa saja yang coba mencari tahu sejarah dibalik proyek jalan ini, namun sejauh usaha saya (yang kurang telaten ini) yang penasaran untuk mengetahui perihal menara suara hanya sedikit orang yang mengetahui sejarah menara suar ini.

Sebagaimana sempat saya singgung sedikit mengenai lokasi berdirinya menara suar, tak jauh dari titik berdirinya terdapat sejenis prasasti/tugu kecil terbuat dari semen yang bertuliskan ”0. KM ANYER-PANARUKAN 1806” saya ambil beberapa foto disini. Saya perhatikan sejenak ternyata prasasti kecil ini tepat berada dalam lingkaran berlantaikan batu bata, ketika saya tanyakan kepada kawan saya, menurut dia sebenaranya disinilah letak menara suar pertamakali yang pernah ada, hal ini juga diperkuat dengan informasi dari salah seorang penjaga menara suar hanya saja dari keduanya saya tidak mendapatkan informasi yang lengkap.

Sepulang dari Anyer, rasa penasaran saya semakin memuncak lalu kemudian saya berusaha mencari informasi mengenai menara suar ini lewat bantuan piranti pencari Google, maka saya mendapatkan beberapa artikel mengenai hal ini. Salah satunya yang saya dapatkan dari website Harian Radar Banten http://www.radarbanten.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=1910, dari artikel ini saya ketahui bahwa mercusuar ini merupakan hadiah dari Raja Belanda ZM Willem III, pada 1885. Hadiah ini diberikan untuk mengganti mercusuar lama yang hancur akibat terjangan letusan Gunung Krakatau pada 1883. Mercusuar yang hingga kini masih berfungsi dengan baik itu dibangun L I Enthoven & Co, sebuah perusahaan konstruksi Belanda.



(dokumentasi pribadi/WAPPEN/2009, pada pintu mercusuar)

Saya bisa menerka informasi ini didapatkan dari prasasti berbahasa Belanda yang menempel pada dinding menara ini tepat diatas pintu masuk, tertulis; ”ONDER DE REGEERING VAN Z.M WILLEM III KONING DER NEDERLANDEN... dst... DE RAMP VAN KRAKATAU VERNIELD. 1885” meskipun saya tidak paham bahasa Belanda namun jika saya perhatikan tulisan pada prasasti itu terdapat kata Z.M WILLEM III merupakan Raja Belanda saat itu dan pada kalimat terakhir disebut-sebut Gunung Krakatau yang telah menghancurkan mercusuar yang semula pada Tahun 1883 kemudian digantikan dengan mercusuar yang saat ini masih berdiri kokoh sejak Tahun 1885.

Upaya pencarian singkat saya lewat internet tidak memuaskan rasa penasaran saya, dari beberapa artikel yang didapati mengenai info mercusuar nampak terlihat informasi copy paste saja. Isinya seputar perancang mercusuar yang tidak diketahui dan berbentuk persegi 12 ini. Mercusuar ini setinggi 75,5 meter terdiri atas 18 lantai. Dinding mercusuar terdiri atas lempengan baja dengan ketebalan 2,5 – 3 cm, juga sedikit informasi insiden yang menjadi bukti sejarah perihal lubang pada lantai 2 dan 12 yang terkena peluru meriam saat penjajahan Jepang

Setelah membaca artikel ini kemudian saya lihat kembali dokumentasi foto ternyata benar adanya bahwa sisa pondasi batu bata berbentuk lingkaran berdiameter sekitar 4-5meter ini dengan sejenis prasasti kecil ditengahnya merupakan penanda titik nol proyek pembangunan jalan Anyer-Panarukan yang fenomenal itu. Baru saya sadari dari titik inilah sejarah peradaban dan perkembangan Banten dan Indonesia bermula, betapa tidak, meskipun pembangunan jalan ini pada awalnya untuk kepentingan penjajah namun dalam perkembangannya banyak keuntungan yang dapat dimanfaatkan demi pembangunan Indonesia.


(dokumentasi pribadi/WAPPEN/2009, pada tugu ”Titik Nol” dapat terlihat lingkaran sisa pondasi mercusuar lama)

Saya berimaginasi seolah-olah saya menjadi Indiana Jones atau Lara Croft yang berpetualang dalam situs-situs peninggalan peradaban luhur dan berhasil mengungkap misteri dari lembaran-lembaran naskah manuskrip dan catatan-catatan sejarah, hanya saja dengan keterbatasan diri maka ‘petualangan’ itu hanya dapat dilakukan dengan cara melompat dari satu buku ke buku lainnya hasil terbitan percetakan modern dan penjelajahan situs-situs maya (website internet atau blog) serta mendengarkan paparan kejayaan Banten masa silam lewat diskusi dengan beberapa kawan diskusi dan rekan kerja, namun keinginan pribadi saya ini ternyata juga di-amin-i oleh beberapa kawan untuk melakukan gerakan budaya-ilmiah dengan terjun langsung pada simpul-simpul sejarah itu secara langsung. Selain dari Titik Nol Daendels ini saya bersama seorang kawan juga pernah datang langsung pada sisa puing-puing Keraton Surosowan Banten, InsyaAllah dalam kesempatan lainnya akan saya ceritakan.

Banyak pelajaran yang saya dapatkan dari satu titik ini saja, karenanya dalam kesempatan ini saya ingin mencoba menceritakan kembali secara ringkas hasil temuan saya yang sembrono ini, namun karena kelemahan saya dalam penggalian sejarah semoga dapat dimaklumi dan semoga menjadi berkah kesempatan berdiskusi bagi siapapun yang membaca tulisan ini. Selain (sangat) sedikit informasi mengenai mercusuar diatas, dari titik nol yang sama dapat kita ketahui sejarah dibalik itu.

Mengutip pemikiran Hegel bahwa ide dianggap sebagai sebab utama timbulnya proses sejarah dan kondisi materiil (sosial, ekonomi, teknologi dan militer) masyarakat dianggap berasal dari dan disebabkan oleh ide besar, bahwa ide tak hanya menimbulkan peristiwa tapi juga mencerminkannya. Kiranya ada korelasi (benang merah) pendapat tersebut dengan fenomena bersejarah pembangunan jalan Anyer-Panarukan yang diperkirakan berjarak 1.000 km. Tujuan awal pembangunan jalan ini sudah dapat dipastikan demi keuntungan pemerintahan kolonial saat itu, terutama jika kita cermati dengan melihat kembali pada sejarah kehadiran Herman Willem Daendels di Banten ini sebagai perwakilan dari pemerintahan kolonial.


(logo diambil dari http://kompas.com Ekspedisi/Napak Tilas Kompas yang mengambil tema ”200 Tahun Anjer-Panaroekan: Jalan (untuk) Perubahan”)


Menurut sejarawan Joko Marihandono yang dikutip dalam Kompas, 15 Agustus 2008, (lebih lengkap silakan kunjungi http://kompas.com/read/xml/2008/08/15/07535978/daendels.pun.mendarat.di.anyer.) sejarah ini berawal dari ide HW Daendels yang dituangkan dalam proposal tentang rancangan kebijakan yang akan diterapkan dalam Nusantara (Hindia Timur) yang diajukan dihadapan Napoleon Bonaparte di Paris sebagai pemimpin tertinggi karena saat itu Belanda telah menjadi salah satu wilayah kekuasaan Perancis, beralih sistem menjadi Republik Bataaf (1795-1806) dan dipimpin oleh Louis Napoleon atau orang Belanda menyebutnya sebagai Lodewijk Napoleon. Rancangan itu disepakati maka HW Daendels setelah mendapatkan restu dan promosi kenaikan pangkat dari Kolonel Jenderal menjadi Marsekal kemudian Daendels berlayar menuju Banten, namum perjalanan ternyata tidak semulus yang diharapkan karena saat itu dalam eksalasi perpolitikan dunia terjadi pem-blokade-an laut yang dilakukan oleh armada perang Inggris, sehingga Daendels pun harus melakukan berbagai trik agar bisa mendarat di Banten.

Daendels memulai perjalanan dari Eropa tanggal 18 Februari 1807, secara singkat rute yang diambil dimulai dari pelabuhan Bordeaux lalu mencari jalur alternatif ke Lisabon di Portugal kemudian menuju Maroko namun dia tertimpa masalah kehilangan semua dokumen karena dirampok bajak laut. Berhasil meloloskan diri ke Kepulauan Kanari hingga menyewa kapal Amerika, Virginia yang mengantarnya menyelinap ke Pulau Jawa. Perjalanan panjang yang memakan waktu 10 bulan ini mengantarkan Daendels di Pulau Jawa pada tanggal 1 Januari 1808.

(foto diri HW Daendels diambil dari http://kompas.com Ekspedisi/Napak Tilas Kompas yang mengambil tema ”200 Tahun Anjer-Panaroekan: Jalan (untuk) Perubahan”)


Paparan sejarawan Joko Marihandono yang telah melakukan penelitian komprehensif mengenai Daendels ini kiranya dapat meluruskan ’prasasti’ Titik Nol KM yang terletak tepat di sisa pondasi mercusuar lama karena disitu tertulis angka tahun 1806, sementara jika kita bandingkan dengan pemaparan diatas bahwa Daendels mendarat tepat pada tanggal 1 Januari 1808 maka sangat tidak mungkin mega proyek tersebut dimulai pada tahun 1806, saya rasa ketidaktepatan penentuan tahun dalam ’prasasti’ ini wajar saja terjadi karena jika melihat secara fisik maka dapat disimpulkan bahwa ’prasasti’ ini belum lama dibuat dan tidak digarap secara serius karena tidak diperkuat dengan patokan sejarah, namun cukup berguna bagi saya sebagai generasi muda yang ahistoris ini setidaknya mengingatkan bahwa di titik inilah penanda tonggak sejarah besar peradaban modern Indonesia dimulai.




(dokumentasi pribadi/WAPPEN/2009, tugu ”Titik Nol” yang juga dikenal sebagai tugu tanam paksa)

Media besar seperti Kompas pun telah melakukan inkonsistensi dalam pengutipan waktu sejarah, dapat dilihat pada http://www.kompas.com/read/xml/2008/08/14/06221595/ekspedisi.daendels.belajar.dari.sejarah.sebuah.jalan, tertanggal 14 Agustus 2008 yang merupakan kumpulan artikel berseri ini adalah upaya Kompas melakukan Napak tilas yang mengambil tema ”200 Tahun Anjer-Panaroekan: Jalan (untuk) Perubahan” sebagai salah satu tonggak sejarah ini, dari artikel tertanggal 14 Agustus 2008 tersebut tertulis ”5 Januari 1808. Maarschalk Herman Willem Daendels menjejakkan kakinya di Anyer, Banten. Ini adalah hari pertamanya di Pulau Jawa setelah perjalanan jauh melintas samudra dari negeri Belanda” bandingkan pada artikel berikutnya http://kompas.com/read/xml/2008/08/15/07535978/daendels.pun.mendarat.di.anyer, hanya berselang tepat satu hari setelahnya, tertanggal 15 Agustus 2008; ”Herman Willem Daendels memulai jabatan sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat dia menapak Pulau Jawa, tanggal 1 Januari 1808 dengan menumpang kapal Virginia.” jadi terdapat dua patokan tanggal yang berbeda (selang 4 hari) dari kedua artikel tersebut.

Hal ini mungkin sekilas dianggap sebagai remeh-temeh namun dapat berimbas pada generasi berikutnya yang akan diombang-ambing dengan kebimbangan sejarah, sebagai contoh besar yang bisa kita lihat dalam buku pegangan sejarah yang ada sejak jaman saya sekolah dasar yang dikenal dengan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB), yang tertanam dalam pikiran saya adalah citra heroik Soeharto dalam menumpas gerakan G 30/S/PKI maupun kontroversi SUPERSEMAR kemudian baru-baru ini muncul sejarah dengan versi yang berbeda yang dapat dilihat dari acara telusur sejarah dalam berbagai stasiun televisi.

Terlepas dari itu semua era kekuasaan Daendels di Pulau Jawa yang relatif singkat ini, hanya tiga tahun (1808-1811), membawa dampak yang sangat besar
(Semoga masih kuat bikin sambungan tulisan ini)
(Koelit ketjil, 12 Agustus 2009)