Senin, Juli 12, 2010

Our Wedding

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaannya-Nya ialah diciptakan-Nya
Untukmu pasangan dari jenismu sendiri supaya kamu mendapatkan ketenangan hati
Dan dijadikan-Nya kasih sayang diantara kamu.
Sesungguhnya yang demikian menjadi tanda-tanda kebesaran-Nya bagi
Orang-orang berpikir”
( Ar- Rum : 21 )






Menikah;

Wiwin Tri Kuswandari
(Putri Ketiga Bpk. Suhadi & Ibu Rubingah)

Dengan

Aliyth Prakarsa
(Putra Kedua Bpk. Adik Pertomo & Ibu Tuty Suarty)




Akad nikah ;
Selasa, 20 Juli 2010 | Pukul 09.00 wib
Bertempat di ; Jl. Ki Ajurum RT 01 RW 18 No. 03 Sempu Gedang
Serang Banten




Resepsi;
Selasa, 20 Juli 2010
Pukul 12.00 – selesai
Jl. Ki Ajurum RT 01 RW 18 No. 03 Sempu Gedang, Serang - Banten




MOHON DOA-RESTU

trimakasih mitrakasih

- Aliyth & Wiwin -


Sabtu, Mei 29, 2010

A `till Z (zzzzzzz….)


Aku memulai tulisan ini dengan huruf “A” sekedar mengikuti hukum awal dan keberakhiran, hukum yang kubuat sendiri tanpa premis, tanpa aturan, sekedar saja, sekedar mengikuti irama jemariku pada tombol-tombol dingin keyboard yang telah lama membeku, menantikan kehangatan vibrasi dari ujung jemariku. Menulis..menulis dan terus menulis! Maka kekasih yang bernama linguistik biarlah kali ini kau berdiam saja, simpan kritikmu pada dinding-dinding perskriptif kelu; kontemporer!


Mari kita buktikan saja bentuk akhir dari proses menulisku yang jauh dari bentuk gagasan agung; kreatifitas! Adakalanya manusia, homo sapiens ini diperbolehkan menjajal sesuatu yang baru, lepas dari konsep, jauh dari kontruksi tata bahasa yang telah berabad lamanya terpahat pada prasasti literasi pujangga, bahkan aku yakini (tanpa dasar apapun) para pujangga manapun kiranya pernah mencoba berontak dari kungkungan aturan baku, sekedar kiraku belaka! Pranata mana `kan mendakwaku sebagai pesakitan pada gelanggang mahkamah agung sastra?


Masih ingatkah kita akan sejarah manakala Sang nabi Kesusastraan Nusantara ini pernah menduduki kursi gusar pada pengadilan konyol itu? Atas nama kesucian agama maka tergelarlah dagelan majelis sastra. Seorang pengecutkah yang bersembunyi di balik nama samaran? Atau justru mereka yang berlindung pada benteng perselingkuhan hukum manusia dan keangkuhan hikayat Nabi Tuhan? Ah, sudahlah… biarlah kita nikmati gelar sebagai bangsa pelupa, kaum abai yang telah terkutuk ini.


Silakan saja kalian hitung jumlah monemnya! Bukankah ini forum terbuka, seterbukanya ujaran daftar monem pada bahasa purba sekalipun. Bukankah kelahiran kalimat menimbulkan kehidupan baru? Adakah kelahiran akan menciptakan keniscyaan jumlah berbatas pembaharuan? Salahkah Bunda mengajarkan bahasanya kepada kita? Haruskah manusia mencapai tingkatan pemahaman Bahasa Tuhan? Sampai pada sebuah titik yang mengharuskan kita berujar; me duele la cabeza! ketika kita dipusingkan dengan ujaran penanda amalgam yang tak terpahami?


Mengadulah pada bunda ilmu; filsafat, jika keraguan menyadarkan kita kembali pada masa pedagogic sebagai tanda belum lagi dianggap akil balig. Meraung-raunglah kita setiap kali kita tersadarkan tak mampu mencapai jenjang kognitif karena tingkatan intelektualitas kita belum juga hinggap pada dahan analisis, jauh dari ranting sintesis terlebih tak pernah mengicipi buah evaluasi hanya terpaku pada tatar ingatan, bersandar pada pokok pemahaman tak lagi mampu menerapkan makna P.E.N.D.I.D.I.K.A.N.


Lihat.. lihatlah Maha Guru kita itu! mereka masih terjebak pada variable presage. Buntu pada pojokan pengalaman yang berputar-putar pada lingkup strata sosial, masih juga membedakan kepemilikan jenis kelaminnya masing-masing; penis atau vagina-kah! Padahal mereka sudah lapuk oleh gerogot sunatullah waktu. Terpetakanlah mereka itu dalam kotak-kotak latar belakang jenjang keilmuannya masing-masing sembari menyusun kursi kehormatan, dimulai dari ilmu ubin terus bertingkat serupa piramida maka terlihatlah pada pucuk itu hanya seorang diri bertengger.


Mereka-mereka itu, dari golongan entah manakah datangnya pada beton-beton megah padepokan akademia ini? Seseorang dari kumpulannya maju dan berkoar-koar hingga berbusa mulut dan hidungnya, rangkaian kalimat-kalimat indah mulus meluncur, sebuah agitasi ciri khas tipe pengajaran kaum sophist yang sukses diserap oleh turunan muridnya. Begitu lincahnya mendeskripsikan ratusan definisi, model-model klasifikasi serta selalu berpatokan pada hukum-hukum keilmuan yang telah termahfuzkan. Kemudian dipanggilnya belia-belia akademia ini, ditugasinya para belia untuk menghafal kitab-kitab yang tertulis oleh para sophist pendahulunya, dibebaninya mereka agar meniru apa yang telah dicontohkan dari busa mulut itu, dibekalinya tanggungjawab berupa hipotesis.


Jauh dari kemegahan akademia, seorang renta bertubuh buntal sedikit rambut ikal pada kepalanya dengan jubah sahajanya mengajak berbicara pada setiap orang di alun-alun kota. Mencukili opini-opini pedagang rokok, menguliti petugas penarik karcis pajak dengan rentetan pertanyaan awam, si pengajak bincang mendapati jawaban berupa alasan-alasan beragam hingga tak ada lagi pasokan alasan dari kawan diskusinya. Selepas si pengajak bincang berlalu dengan langkah gontainya dengan selipan rumput di bibirnya, barulah tersadarkan pada puluhan manusia di alun-alun ini manakala dalam benak mereka bergejolak kontradiksi antara keraguan mentalitas bercampur sensasi pengalaman analitik yang sama sekali baru mereka rasakan lewat diskusi singkat itu saja. Tersadarkan bahwa mereka tidak tahu apa yang selama ini mereka anggap sebagai kebenaran yang telah membatu dalam bentuk keyakinan pengalaman. Mengertilah mereka bahwa setiap orang merupakan guru.


Tepat diseberang alun-alun kota, pada sebuah gedung tua yang dahulu bernama gereja negara. Dentang lonceng menandakan bergeliatnya sebuah perdebatan dalam atmosfer khidmat aula beratus lilin yang berkedip genit. Berdiri pada sebuah podium seseorang yang sering kali meneriakan ujaran; Sic et Non! Dia menggoyahkan pondasi keimanan jemaat yang ditampu oleh pundak Petrus, Dia melontarkan isu sensitif; rekontruksi keimanan trinity, mempertanyakan kegunaan sakramen, mengajak ratusan jemaat untuk mengamati kisah jual-beli surat penebusan dosa. Dia yang meninggalkan sisa perdebatan dengan dua pilihan di kolom kegamangan; Sic atau tidak, tanpa upaya perdamaian.


Mari singgahlah sejenak diantara rerimbunan dahan mahoni yang sesekali menggugurkan bunganya yang berkitir, sedikit melawan hukum gravitasi lewat penampangnya, sebuah proses yang kemudian mengilhami kegunaan baling-baling pada moncong pesawat. Hutan hujan tropis ini menyajikan gudang ilmu; flora, fauna, hewan renik, fotosintesis, kekerabatan dalam kerajaan hewani, pola interaksi-organisasi gerombolan semut, kelembaban suhu yang menyuburkan pepakuan, siklus air, kerumitan rantai makanan serta ratusan cabang keilmuan tanpa sekat fakultas.


Bukankah the great university is universe? Mengamati pelajaran suguhan Maha Guru alam, menjadi pengetahuan yang terpatri pada pikiran menggugah init kebijakan diri dengan mengoptimalkan segala berkah indra. Ahh, tak terasa ada beban dari proses belajar ini. Guru alam tak pernah menugasi pekerjaan rumah segalanya diselesaikan disini, hamparan alam pula yang menyajikan jawaban itu, kita tinggal memetiknya.


Ahhh.... sejuknya semilir angin di tepian bukit penuh ilmu ini, dari A berakhir pada Z zzzzzzzzzz..........



-Koelit Ketjil –

Kota S, hari ini adalah Tanggal 29 Bulan Mei masih di Tahun 2010

Jumat, April 30, 2010

Isyarat Hening

Telapak tangan kanannya terkepal menghadap ke depan dengan jempol mengacung, lalu dengan sigap telunjuknya bangkit dari kepalan sementara ibu jari bertemu dengan telunjuk dan jari tengah yang masih tertekuk, lalu kembali telunjuknya bersatu bersama jemari yang lain. Kembali dia melakukan gerakan itu, jemari telunjuk dan tengahnya dari kedua telapak tangannya beradu di depan dadanya sambil berusaha dengan keras memperkenalkan diri, “Nak..meaaa nak..yeaa, akkk..nee” senyumnya mengembang manis sekali.




“Baiklah anak-anak sebagai mana tadi teman baru kalian telah memperkenalkan diri, mari kita sambut kehadiran murid baru ini dengan ciri khas kehangatan kita. Beri ucapan selamat datang pada Ade Hening Tamyiz!” instruksi Bu Melia cepat direspon oleh murid-murid dalam ruang kelas XI C, “Selamat datang Ade!!!” kompak sekali mereka, ada pancaran kebahagian dari senyum Ade atas sambutan hangat yang dia terima.


Ade, namanya panggilannya, singkat saja tapi menjadi sebuah usaha yang cukup sulit bagi si pemilik nama untuk memperkenalkan diri di hadapan teman-teman sekelas di sekolah barunya, lebih sulit lagi bagi puluhan siswa-siswi untuk memahami ucapan teman baru mereka ini. Ade Hening Tamyiz, keterbatasan kemampuan komunikasi yang dimiliki tidak membuat dirinya lantas menjadi minder bertemu dengan siapapun, raut wajahnya yang lugu tapi selalu memancarkan senyum beraura ramah menjadi modal bagi dirinya mudah bergaul meski dengan orang yang baru berkenalan sekalipun.


Ade tak pernah takut berkenalan karena Ade memiliki berkah istimewa berupa kemampuan tamyiz sehingga dia mampu mengetahui kesejatian diri orang yang baru dia kenali, apakah baik atau jahat. Pepatah “dalamnya samudera dapat diterka tapi dalamnya hati seseorang tak dapat diterka” tidak berlaku bagi Ade.


Sekolah Menengah Atas milik Yayasan Putera Bumi Nusantara ini merupakan sekolah kesepuluh sepanjang sejarah pendidikan Ade yang hampir setiap tahun selalu berpindah-pindah dari satu kota ke kota yang lain. Bukan keinginan Ade ataupun perlakuan buruk yang diterima Ade akibat keterbatasan komunikasinya, melainkan tugas orang tuanya yang mengharuskan Ade berpindah dari satu sekolah ke sekolah lainnya hampir setiap tahunnya. Ade tak pernah mendapatkan penjelasan yang rasional dari orang tuanya setiap kali akan berpindah sekolah, akhirnya hal ini menjadi suatu hal yang lumrah bagi Ade jika tiba-tiba dia harus berpindah sekolah, bahkan rekor tercepat mendiami sekolah baru yang pernah Ade alami adalah tak lebih dari dua minggu, tepatnya sembilan hari saja.



Kelahiran Ade yang hening tanpa tangisan awal kehadirannya di dunia ini justru membuat panik bidan yang membantu persalinan ibunya, berbagai upaya telah dilakukan oleh bidan agar bayi berwarna merah muda itu menangis atau setidaknya mengeluarkan sebentuk suara sekecil apapun. Bidan itu telah membersihkan hidung, rongga mulut dan tenggorokan jabang bayi ini, telapak kaki kecil itupun beberpakali ditepuk bahkan gosokan kain kering pada seluruh permukaan kulit lembutnya tidak menunjukkan efek apapun, segala usahanya nihil, Ade tetap hening. Bidan menduga pada saat kehamilan ibunya terkena virus Rubella atau moribili.


Keluarganya paham betul meskipun Ade dalam perkembangannya memiliki keterbatasan berbicara dan mendengar tapi hal itu tidak mereka anggap sebagai aib atau kutukan dari Tuhan tapi lebih kepada berkah tak ternilai karena mereka yakin Ade merupakan anak yang spesial bagi mereka. Tak hanya keheningan tanpa suara tapi raut wajahnya yang terang namun meneduhkan itulah yang membuat kedua orang tuanya menamakan dirinya ‘Hening’, sementara ‘Ade’ tetap disisipkan di awal namanya meskipun Ade anak sulung, sekedar mengingatkan bahwa Ade seharusnya memiliki seorang kakak tapi Tuhan berkehendak lain.


Waktu istirahat pertamanya di sekolah baru ini dihabiskan dengan cara berkenalan pada perpustakaan sekolah. Suasananya sepi hanya satu-dua siswa di perpustakaan ini, sangat kontras kondisinya jika dibandingkan dengan kantin. Perpustakaan selalu menjadi tempat favorit bagi Ade, bukan karena dirinya tidak ingin bersosialisasi dengan teman-temannya tapi memang ketertarikan Ade pada dunia membaca sudah dia minati sejak kecil. Ade masih mengamati suasana perpustakaan yang cukup besar ini, maklum sekolah barunya merupakan sekolah tertua di kota ini bahkan bangunan ini dulunya merupakan bekas gedung perkantoran pemerintahan jaman penjajahan Belanda.


Deretan rak buku dari kayu jati tua dengan ratusan -mungkin ribuan- koleksi buku tersusun rapi, pada bagian tengah ruangan terdapat meja super besar dari dua bilah kayu jati tua. Telapak tangannya meraba permukaan kayu jati yang terasa sejuk dengan pelitur berwarna netral sehingga kesan unik guratan kayu jati jelas terlihat. Motif lingkaran kambiumnya menegaskan kayu ini berasal dari pohon berusia sangat tua terlebih satu bilah papan jati ini berukuran kurang lebih satu setengah meter pada lebarnya dan sekitar lima meter pada panjangnya maka praktis meja berukuran tiga kali lima meter ini hanya terbuat dari dua bilah kayu jati.


Kekaguman Ade yang kedua adalah pada bagian atap ruang perpustakaan yang sedikit menonjol keluar mirip kubah masjid kecil dengan mozaik kaca berwarna merah, biru dan netral bermotif serupa cetakan batik yang menyerap sinar masuk yang jatuh tepat di tengah meja besar jika matahari berada pada titik kulminasi tertinggi pada pukul dua belas siang, pancaran spektrum warnanya begitu indah.



Sebuah buku cukup tebal berjudul ‘Laut Biru, Langit Biru’ menjadi pilihan Ade. Raut wajahnya menandakan keceriaan ketika menemukan buku itu, ini pertemuan kedua antara Ade dengan buku ini setelah pertemuan pertamanya pada perpustakaan sekolah terdahulu yang hanya kurang dari dua minggu dia singgahi. Perpustakaan pada sekolah-sekolah lainnya tidak terdapat buku itu pada deretan raknya. Ketertarikan Ade pada karya sastra mulai terlihat ketika di bangku Sekolah Menengah Pertama, bermula dari tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia membuat resensi kumpulan cerpen Nh Dini.


Ade langsung jatuh hati dengan gaya penulisan Nh Dini ketika membaca “Tuileries”. Imajinasi Ade menghantarkan dirinya seolah berada di tengah-tengah taman indah Kota Paris itu, penggambaran suasana taman oeh penulis membuat begitu terasa atmosfer adem, sejuk dan cericit burung serta kesegaran air mancur yang berasal dari Sungai Seine. Kali ini Ade disapa kembali oleh Nh Dini lewat buku yang dibacanya, pada halaman 337 terdapat sebuah fragmen berjudul “Pada Sebuah Kapal” karya Nh Dini yang menjadi salah satu bagian pada buku kumpulan karya sastra penulis-penulis handal lainnya seperti; HB. Jassin, Mochtar Lubis, Subagio Sastrowardojo, A.A Navis, Umar Kayam, Rendra dan masih banyak lagi penulis-penulis besar lainnya, semuanya tersaji pada buku ini; ‘Laut Biru, Langit Biru’.


Hari pertamanya di sekolah baru dilewati tanpa ada kesan yang begitu kuat, kondisi yang kerap dia rasakan di sekolah lain yang pernah dihinggapi ketika awal-awal kehadirannya. Hari kedua di sekolah ini, Ade mendapatkan sebuah kejutan berharga! Ade tidak memperhatikan awal kehadiran murid yang berdiri di depan kelas. Ade masih sibuk menulis sepenggal tulisan pada buku jurnal perjalanan hidupnya, jika Ade tengah larut dengan tulisannya terkadang Ade melepaskan alat bantu pendengarannya, dia ingin kembali pada kondisi sejati dirinya, hening.


Teman,
Bisakah kau meminta pada Tuhan yang kerap kau sebut gembala itu untuk menghadirkan dirimu di titik yang sama pada kordinat yang sama dimana kali ini aku tepat berada?
Jika bisa, pintakan segera!
Sekarang
Saat ini juga!!
Maka aku akan menyambutnya dengan penghayatan ’amien’ku yang terdalam


Ade menghentikan gores pena itu dari jurnalnya, pandangan matanya bertemu pada binar mata yang dia kenali, lentik bulu mata dan garis lengkung alis nyaris sempurna yang kerap dia pandangi itu kini ada dihadapannya. Doa lewat gores pena pada jurnal itu dikabulkan oleh Tuhannya dan Gembala sahabatnya. Sontak dia berdiri menatap tajam kearah murid yang berdiri di depan kelas, lalu menengadahkan kepalanya seperti merapal sepotong mantram dengan takzim.


Brenda, siswi itu hanya tersenyum menahan tawa kecilnya seraya membuat sebuah bahasa isyarat dengan kedua tangannya, jari telunjuk kanannya mengait pada jari telunjuk dan jari tengah tangan kirinya yang berada diatas dari posisi telapak tangan kirinya; T.E.M.A.N.



Ade membalasnya dengan gerakan sigapnya, jemari tangan kanannya tergenggam di depan dadanya hanya jari telunjuk yang berdiri lalu membuat gerakan melingkar sambil menutupkan jari telunjuknya: A.B.A.D.I.





-Koelit Ketjil-
Kota S, 29-30 April 2010. [22.20 – 01.31]

...semoga bisa bersambung...



Jumat, April 02, 2010

Memantapkan Hati

Bismillah... Romo-Bunda
`kan ku boyong seorang putri
persembahan puteramu ini
cenderamata hari tua


Bismillah... Bapak-Ibu
saksikan ini calon mantu
Dengan sisa keberanian dan mimpi masa depan
Kulamar putrimu, ijinkanlah


Bismillah... Kekasihku
Kupinang Engkau dengan caraku
Disaksikan mimpi masa depan gambaran kita
Disokong oleh kepingan jalinan memori cinta


Bismillah... Wahai Leluhur kami
Keturunanmu dari sisa kejayaan masa silam
Hamba hanya mampu menghibur dengan cara kusam
Berkahi kami penerus generasimu ini


Bismillah... Ya Rahman.. Ya Rahim
Bukakan sepotong surga suci
Percikkan jaminan halal masa depan kami
Amin Ya Rabbal 'Alalmin


Koelit ketjil
Kota S, 2 Mei 2010

Jumat, Maret 26, 2010

Kabar kematian

”Assalamualaikum warrahmatullahiii wabarakattuuuuh… Innalillahi wainna lillahi rojiiuunnn…. Innalillahi wainna lillahi rojiiuunnn….” Suara khas itu berkumandang lewat pengeras suara Langgar Syaban, memecah kesunyian dini hari serta membangunkan nyenyak tidur warga kampung Cijuru. Siapapun dan dalam kondisi terlelap bagaimanapun pasti akan terbangun tiba-tiba, menunggu dan berharap cemas semoga asal suara yang berkumandang dari Langgar Syaban yang terletak di ujung barat kampung ini tidak menyampaikan kabar kematian nama keluarga, kerabat atau orang terdekat mereka.

”Telah berpulang ke rahmatullah saudara kita yang bernama Syahru Muadzin Khairul Rizal bin Ahmad Zaelani. Hari ini pada pukul kosong satu lewat delapan belas menit. Sekali lagi... Innalillahi wainna lillahi rojiiuunnn…. Telah berpulang ke rahmatullah saudara kita yang bernama Syahru Muadzin Khairul Rizal bin Ahmad Zaelani. Hari ini pukul kosong satu lewat delapan belas menit....” kabar kematian itu tidaklah lengkap seperti biasanya kami dengar jika tersiar kabar kematian lewat pengeras Langgar kampung ini.

Aku memaksakan diri untuk bangun dari tempat tidurku, kulihat penunjuk waktu pada telepon genggamku, pukul dua tepat dini hari. Rupanya memang sedang padam listrik, meskipun baru terbangun dengan separuh kesadaranku tapi aku yakin sebelum memejamkan mataku, saklar lampu kamar tidak kumatikan. Novel Epitaph karya seorang kawan masih tergeletak di sebelah bantalku, pertanda aku tertidur saat membaca novel itu.

Dibantu penerangan ala kadarnya dari sinar telepon genggam, aku bergerak sempoyongan menuju rak buku mencari-cari senter, kepalaku serasa dihantam mobil truk setiap kali harus terbangun dalam keadaan terkejut,. Ahh, sial betul! Mengapa selalu sulit mencari benda yang dibutuhkan, seolah-olah raib ditelan bumi atau disembunyikan jin, seingatku senter berwarna kuning itu selalu ada diantara sela-sela buku.

Kubasuh terlebih dahulu wajah mengantuk ini, setidaknya air segar dini hari ini dapat mengembalikan kesadaranku secara penuh dan dapat memangil kembali potongan-potongan ruh ku yang masih melayang-layang di gerbang mimpi. Segelas air putih tandas kutenggak. Sudah sepekan ini kampung kami harus merasakan kembali mundur pada jaman sebelum bola lampu listrik ditemukan oleh Thomas Alfa Edisson. Pemadaman listrik bergilir yang disebabkan kurangnya pasokan energi untuk wilayah pulau Jawa ini sangat merepotkan sekali.

Pancaran sinar lampu senter tidak memuaskan daya penglihatanku, kali ini aku kesulitan mencari lampu tempel, baru kemarin malam kugunakan, sekarang aku harus mengobrak-abrik seisi rumah kecil ini, entah jin dari golongan mana yang gemar sekali menyembunyikan barang terpenting yang harus digunakan saat ini juga!

Lampu tempel sudah kutemukan, aku masih terduduk di bangku bambu ruang makan sambil mengingat-ingat petikan berita kematian tadi. Syahru Muadzin Khairul Rizal bin Ahmad Zaelani, tiga kali kuulangi nama almarhum yang baru saja diumumkan oleh Pak Iing, merbot tua pengurus langgar kampung. Seingatku tidak ada nama Syahru Muadzin Khairul Rizal atau Ahmad Zaelani di kampung yang hanya berjumlah dua ratus tiga puluh jiwa ini.

Sinar lampu senter dalam genggamanku meredup perlahan dan akhirnya padam, kupukul-pukul gagangnya sedetik menyala lalu tak menunjukkan lagi sisa energi dari battere kering seukuran jari kelingking ini. Lagi-lagi sial! Belum sempat kunyalakan lampu tempel tadi kini aku harus gerayangan meraba-raba permukaan dinding dan memaksimalkan sensitifitas telapak kakiku menuntun menuju kamar tidurku. Kali ini aku kesulitan tanpa setitikpun panduan cahaya untuk mencari korek api meskipun aku ingat betul letak terakhir korek itu, pasti tak jauh dari bungkus rokok, tidak diragukan lagi berada disebelah asbak yang tergolek di meja bacaku.

Aku tertawa geli sendiri mengingat lelucon teka-teki kawanku; ”Kalau sedang padam listrik dan di hadapan kalian ada lilin, lampu tempel, korek api dan petromak, maka yang terlebih dahulu kalian nyalakan yang mana?” seorang kawanku yang terpancing jebakan dengan sigap menjawab, ”lilin!” sudah keras, sok yakin, masih salah pula. Pertanyaan konyol macam apa itu? Aku hanya menyunggingkan senyumku sambil menjawab datar ketika si penanya menantangku untuk menjawab, sudah pasti korek api terlebih dulu yang harus dinyalakan! Untuk kasusku kali ini korek api yang terakhir kali harus kucari.

Lama kuperhatikan kerlip ujung mata api dari lampu tempel sembari mengingat-ingat lagi nama-nama warga Cijuru. Rumah paling barat pinggir sungai batas kampung dihuni oleh Pak Ahwan beserta istrinya dan tiga anaknya yang masih kecil; Marni, Rani dan Ridwan. Lalu kemudian Pakde Tukijan seorang diri, disusul Aswandi dan kakak perempuannya terus hingga pemilik rumah di batas kampung sebelah timur. Ahh, mungkin almarhum merupakan kerabat dari warga kampung yang akan dikebumikan di tanah wakaf pekuburan kampung kami, lagi pula tadi Pak Iing memberikan informasi tidak lengkap kabar kematian itu.

Warga kampung selalu merindu suara khas Pak Iing yang syahdu, empuk dan panjang tanpa tergangu helaan nafas jika setiap kali mengumandangkan adzan pertanda masuk waktu shalat, getaran suaranya yang mendamaikan itu tak akan mampu terkalahkan oleh godaan setan yang mengajak warga agar absen beribadah tapi jangan harap warga menanti-nanti suara khas Pak Iing jika diluar waktu shalat seperti selepas isya atau sebelum masuk waktu subuh, dapat dipastikan jika bergaung pengeras suara dari langgar maka tersiarlah kabar kematian di seantoro kampung Cijuru.

Merbot tua itu tergolong pendatang baru meskipun sudah puluhan tahun tinggal di kampung kami. Konon menurut cerita Kakek, awal kedatangannya disini karena Iing kecil yang yatim-piatu itu diasuh oleh almarhum Kyai Mahdum, sesepuh kampung kami. Pak Iing sejak remaja selalu aktif mengurusi kebersihan dan keperluan langgar ini, bukan karena Kyai Mahdum sebagai pendiri langgar diatas tanah miliknya yang diwakafkan tapi karena didikan agama yang didapatkan langsung dari Kyai Mahdum yang begitu sayang terhadap Pak Iing sejak kecil.

Warga kampung tak pernah mendengar suara kesedihan mendalam yang pernah keluar dari mulut Pak Iing selama dia menyiarkan kabar kematian selain ketika harus mengabarkan kematian Kyai Mahdum, ayah angkatnya. Sontak seluruh warga kampung menangis begitu mendengar kabar itu, bukan karena suara Pak Iing muda yang begitu menyayat hati melainkan rasa kehilangan atas sosok sesepuh karismatik Kampung Cijuru. Pak Iing sejak saat itu kembali menjalani hidup sendiri lagi. Keperluan hidupnya didapatkan dari sepetak sawah kecil peninggalan Kyai Mahdum yang dipercayakan pada dirinya dan pemberian makanan ikhlas dari warga kampung jika belum tiba masa panen.

Kenapa pula tiba-tiba aku jadi teringat Pak Iing selepas shalat malam ini? Memang sudah tiga hari ini Pak Iing terlihat sakit-sakitan tapi meski demikian dia selalu menjadi muadzin dan memimpin shalat lima waktu karena memang langgar kami terletak pada pekarang rumah peninggalan almarhum Kyai Mahdum yang jaraknya hanya beberapa belas meter saja.

Masih berbalut sarung, aku melanjutkan membaca novel yang judulnya mengambil istilah dari tulisan pada batu nisan; Epitaph. Kabar kematian...lagi-lagi kabar kematian! Hujan deras dini hari menjelang subuh dan tanpa penerangan listrik ini begitu syahdu menganyam kabar kematian.

Hujan deras datang lagi, o betapa nikmatnya kembali menarik selimut hangat, melingkarkan tubuhku dan tidur lelap hingga siang hari tapi itu hanya impian belaka karena selepas subuh nanti aku sudah harus pergi kerja. Sudah pukul lima lewat sepuluh, seharusnya sudah masuk waktu shalat subuh tapi belum kudengar suara Pak Iing mengumandangkan adzan. Ah, Betapa bodohnya aku! Lampu tempelku masih menyala, bukankah itu pertanda yang nyata bahwa listrik belum menyala?

Kutimang-timang helmku, mesin motor sudah menyala menunggu panas yang cukup, membiarkan oli melumasi sela-sela mesin. Berangkat...Tidak... Berangkat... Tidak... Berangkat!! Pakaian kerja masih terlipat rapi di dalam tas ranselku, lebih baik kukenakan kaos dan celana pendek lalu jas hujan agar tidak basah kuyup di kantor nanti, hujan masih juga belum menandakan akan reda. Aku pun menerobos keheningan subuh hari terguyur hujan lebat.

Melintasi depan Langgar kulihat sosok tubuh menunduk Pak Iing keluar dari langgar, kutekan tombol klaksonku sebagai tanda sapaan. Langgar sepi sekali, biasanya selepas subuh masih ada beberapa orang membaca kitab suci atau sekedar ngobrol-ngobrol di depan langgar hingga matahari memancarkan sinarnya, subuh ini terlihat lengang mungkin karena hujan lebat pikirku.

Telepon genggamku berdering, kutenggak minuman fruit tea langsung dari botolnya untuk mendorong nasi dan lauk makan siang yang masih menyangkut di sepanjang tenggorokanku. Telepon genggamku terjatuh dari tanganku, badanku melemas, shock luar biasa begitu aku mendengar kabar dari lawan bicara via telepon genggamku. Aku memerlukan bersandar pada kursi dan menghisap rokok untuk menenangkan diri.

Pikiranku mengaitkan keping-keping puzzle misteri dini hari tadi. Lalu siapa yang mengumumkan kabar kematian itu? Pengeras suara langgar kampung itu, bukankah semalam hingga pagi tadi listrik masih padam di kampung kami?! Jadi yang kusapa lewat klakson selepas subuh tadi siapa orangnya?! Wandi baru saja mengabarkan bahwa Pak Iing ditemukan telah meninggal dunia setelah warga mendatangi rumah peninggalan Kyai Mahdum karena Pak Iing tidak mengumandangan adzan dhuhur. Selepas ashar seluruh warga kampung mengumandangkan adzan perpisahan dari lubang kubur muadzin kampung kami.

Syahru Muadzin Khairul Rizal, mengabarkan kematian dirinya sendiri....


-Koelit ketjil-
Kota S, 20 Maret 2010, pukul dua-tiga dini hari
(berharap pengeras suara mushola kampungku tak berbunyi)