Kamis, Juli 15, 2010

Kado pernikahan nan cantik




(foto kucuri dari http://nanoqdakansas.blogspot.com )

Sampan kayuku

sampan kayuku,
kuserahkan takdir kita pada gelombang
melampaui segala perhitungan cuaca
karena dermaga demi dermaga telah terbakar
kepingan matahari masa silamku

kaukah
yang menunggu kedatangan ini?

senja mulai nyentuh buritan
bagai bibir perkasa dari langit
menciumi musimku bertubi-tubi
o, tidurlah air mata

tidurlah sampan kayu takdirku
fanalah waktu

kita abadi


nanoq da kansas
penghuni http://nanoqdakansas.blogspot.com/
kado pernikahan untuk koelit ketjil

[dikirim via notes fb pada Selasa, 13 Juli 2010]

****
-------------------------------------------------------------------------------



(foto kucuri dari kumpulan foto akun fbnya SK)


Aku percaya padaMU
Aku percaya padaNUR
Ada dalam tiap hadirMU ... Lihat Selengkapnya
Ada dalam tiap titikNUR

Aku, Kau, Dia

Kini Kau hadir dalam istriKU
Kini AKU hadir dalam suamiNYA

Satunya AKU, KAU, Dia
Pisahku juga AKU, KAU, DIA

Ijinkanlah AKU, KAU, DIA
dalam satu, hingga kami kembali ke haribaanMu dalam satu juga, bersama sama
AKU, KAU, DIA



Stanislav Kostka L
¤Medio July, Pesisiran Utara¤ teruntuk sahabatku, selamat berbahagia....
[dikirim via fb pada Kamis, 15 Juli 2010]

----------------------------------------------------------



(foto kucuri dari akun fb brader GM)

Ini tentang Kami

kami adalah pengembara,
yang singgah pada suatu hari, di suatu tempat di bumi,
menangis tertawa di sepanjang putaran jagad,
menunggu waktu yang tak pernah tertulis di buku.

sesungguhnya, kami hanyalah pengembara,
yang menyusur jalan di setiap aliran nadi,
mengikuti arah angin penuntun nafas,
dan akan selalu menghelanya sampai udara habis.

tautan hujan dan matahari yang telah mempertemukan kami.
menyatukan warna-warna yang kami pikirkan di setiap bincang.

barangkali jingga di timur dan jingga di barat,
turut memberikan warna untuk kami torehkan.
barangkali kelap-kelip bintang di langit malam,
ikut menghias senyum di tiap perjumpaan.
barangkali kesah angin yang mendesah,
membisikkan kata-kata yang menghilang saat pertemuan.
barangkali, tetes hujan adalah tempat semayam rindu kami.

dan mata kami tak bisa berpaling satu sama lain.
dan jemari kami berpadu, mengeja sentuhan-sentuhan.
dan hati bersatu, mencipta rasa, hanya kami yang tahu.

berbincang dalam diam, saling genggam,
melukis tangis dan tawa di sepanjang perjalanan.
menerka-nerka cerita di ujung langkah.

kini kami telah berjanji, untuk tak menapak jejak dalam sendiri.
berbagi setiap letik kisah, dan mengukirnya pada setiap pori.
sesungguhnya nama kami adalah satu, telah ditulis itu pada langit.
jauh sebelum tercipta cerita tentang bumi.


Goenoeng Moelyo penghuni http://goenoeng.com/
--------------------------
------------------------------------------------------
: buat Braderku KK (atau Pak Dosen Jaim AP? whoever-lah... :P ) dan inisial W.
*peringatan : dibaca dalam hati sambil ngopi akan lebih nikmat. membaca tulisan ini dimuka umum, dapat menyebabkan mual2, pusing dan mata berkunang2.*


[dikirim via fb tanggal 16 Juli 2010)

*****
---------------------------------------------------------------------------





Bukan Kado Cantik

(Sajak Ketjil Buat Sahabat: Koelit Ketjil)

tik.....tik.....tik.....
ini bukan kado yang cantik

tik.....tik.....tik.....
meski dibungkus ketika hujan rintik-rintik

tik.....tik.....tik.....
tapi aku yakin istrimu pastilah cantik

tik.....tik.....tik.....
jemarinya pun sudah pasti lentik

tik.....tik.....tik.....
maka tunggulah dalam hitungan detik

tik.....tik.....tik.....
kau akan segera memilikinya wahai pria antik

ups!
(maaf, aku salah ketik)

tik.....tik.....tik.....
sudah ya, titik!


(Pekanbaru, ketika hujan rintikrintik 15 Juli 2010)


Syahyurli Ab
[dikirim via fb tanggal 16 Juli 2010]


------------------------------------


(foto kucuri dari kumpulan foto propil pesbuknya)

Merangkul Waktu


: Koelit Ketjil


adakah ijin bagi waktu
sebentar saja
berhenti di terang air mata
tempat kebahagiaan jadi sungainya

adakah ijin bagi waktu
sebentar saja
agar terhenti di sebilah cerah
terangkan jalan hingga ke ujung

memang nyatanya,
ada hujan datang di kemarau
ada anak nangis teriak parau
keadilan dilipat samar terlihat
kedamaian diacak biar minggat
juga ada,
cahaya langka jadi seterang kemewahan
ledakan tabung jadi genderang kemegahan

maka mari merangkul waktu
yang ngerti indah itu satu
dimana tangan tangan terulur
dimana sulur sulur doa tersalur
dan ketika lebur
waktu terhenti

bagi berdua



SandraPalupi penghuni http://sandrapalupi.tumblr.com/
dikirim via fesbuk pada 19 Juli 2010 jam 16:15

-----------------------------------






Sebuah Kado Pernikahan yang telat namun tetap berkesan

CATATAN JULI
: Alyth & Wiwin


sejak hari yang telah tertandai

kita tak lagi sendiri

karena pagi terbit dari harum rambutmu

dan malam terbenam kau di pelukanku

matahari hidupku

jika hujan

akulah air mata itu

bahagia membasahimu

membasuh bumi jiwamu

bergenggaman tangan kita

mencipta dunia

menjejak cerita

satu demi satu

sampai akhir waktu


[Austria - Jogja]

Maria Ingrid A.K.A Injith penghuni http://negeriajaib.blogspot.com/

-dikirim via fesbuk; 21 Agustus jam 2:50

Senin, Juli 12, 2010

Our Wedding

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaannya-Nya ialah diciptakan-Nya
Untukmu pasangan dari jenismu sendiri supaya kamu mendapatkan ketenangan hati
Dan dijadikan-Nya kasih sayang diantara kamu.
Sesungguhnya yang demikian menjadi tanda-tanda kebesaran-Nya bagi
Orang-orang berpikir”
( Ar- Rum : 21 )






Menikah;

Wiwin Tri Kuswandari
(Putri Ketiga Bpk. Suhadi & Ibu Rubingah)

Dengan

Aliyth Prakarsa
(Putra Kedua Bpk. Adik Pertomo & Ibu Tuty Suarty)




Akad nikah ;
Selasa, 20 Juli 2010 | Pukul 09.00 wib
Bertempat di ; Jl. Ki Ajurum RT 01 RW 18 No. 03 Sempu Gedang
Serang Banten




Resepsi;
Selasa, 20 Juli 2010
Pukul 12.00 – selesai
Jl. Ki Ajurum RT 01 RW 18 No. 03 Sempu Gedang, Serang - Banten




MOHON DOA-RESTU

trimakasih mitrakasih

- Aliyth & Wiwin -


Sabtu, Mei 29, 2010

A `till Z (zzzzzzz….)


Aku memulai tulisan ini dengan huruf “A” sekedar mengikuti hukum awal dan keberakhiran, hukum yang kubuat sendiri tanpa premis, tanpa aturan, sekedar saja, sekedar mengikuti irama jemariku pada tombol-tombol dingin keyboard yang telah lama membeku, menantikan kehangatan vibrasi dari ujung jemariku. Menulis..menulis dan terus menulis! Maka kekasih yang bernama linguistik biarlah kali ini kau berdiam saja, simpan kritikmu pada dinding-dinding perskriptif kelu; kontemporer!


Mari kita buktikan saja bentuk akhir dari proses menulisku yang jauh dari bentuk gagasan agung; kreatifitas! Adakalanya manusia, homo sapiens ini diperbolehkan menjajal sesuatu yang baru, lepas dari konsep, jauh dari kontruksi tata bahasa yang telah berabad lamanya terpahat pada prasasti literasi pujangga, bahkan aku yakini (tanpa dasar apapun) para pujangga manapun kiranya pernah mencoba berontak dari kungkungan aturan baku, sekedar kiraku belaka! Pranata mana `kan mendakwaku sebagai pesakitan pada gelanggang mahkamah agung sastra?


Masih ingatkah kita akan sejarah manakala Sang nabi Kesusastraan Nusantara ini pernah menduduki kursi gusar pada pengadilan konyol itu? Atas nama kesucian agama maka tergelarlah dagelan majelis sastra. Seorang pengecutkah yang bersembunyi di balik nama samaran? Atau justru mereka yang berlindung pada benteng perselingkuhan hukum manusia dan keangkuhan hikayat Nabi Tuhan? Ah, sudahlah… biarlah kita nikmati gelar sebagai bangsa pelupa, kaum abai yang telah terkutuk ini.


Silakan saja kalian hitung jumlah monemnya! Bukankah ini forum terbuka, seterbukanya ujaran daftar monem pada bahasa purba sekalipun. Bukankah kelahiran kalimat menimbulkan kehidupan baru? Adakah kelahiran akan menciptakan keniscyaan jumlah berbatas pembaharuan? Salahkah Bunda mengajarkan bahasanya kepada kita? Haruskah manusia mencapai tingkatan pemahaman Bahasa Tuhan? Sampai pada sebuah titik yang mengharuskan kita berujar; me duele la cabeza! ketika kita dipusingkan dengan ujaran penanda amalgam yang tak terpahami?


Mengadulah pada bunda ilmu; filsafat, jika keraguan menyadarkan kita kembali pada masa pedagogic sebagai tanda belum lagi dianggap akil balig. Meraung-raunglah kita setiap kali kita tersadarkan tak mampu mencapai jenjang kognitif karena tingkatan intelektualitas kita belum juga hinggap pada dahan analisis, jauh dari ranting sintesis terlebih tak pernah mengicipi buah evaluasi hanya terpaku pada tatar ingatan, bersandar pada pokok pemahaman tak lagi mampu menerapkan makna P.E.N.D.I.D.I.K.A.N.


Lihat.. lihatlah Maha Guru kita itu! mereka masih terjebak pada variable presage. Buntu pada pojokan pengalaman yang berputar-putar pada lingkup strata sosial, masih juga membedakan kepemilikan jenis kelaminnya masing-masing; penis atau vagina-kah! Padahal mereka sudah lapuk oleh gerogot sunatullah waktu. Terpetakanlah mereka itu dalam kotak-kotak latar belakang jenjang keilmuannya masing-masing sembari menyusun kursi kehormatan, dimulai dari ilmu ubin terus bertingkat serupa piramida maka terlihatlah pada pucuk itu hanya seorang diri bertengger.


Mereka-mereka itu, dari golongan entah manakah datangnya pada beton-beton megah padepokan akademia ini? Seseorang dari kumpulannya maju dan berkoar-koar hingga berbusa mulut dan hidungnya, rangkaian kalimat-kalimat indah mulus meluncur, sebuah agitasi ciri khas tipe pengajaran kaum sophist yang sukses diserap oleh turunan muridnya. Begitu lincahnya mendeskripsikan ratusan definisi, model-model klasifikasi serta selalu berpatokan pada hukum-hukum keilmuan yang telah termahfuzkan. Kemudian dipanggilnya belia-belia akademia ini, ditugasinya para belia untuk menghafal kitab-kitab yang tertulis oleh para sophist pendahulunya, dibebaninya mereka agar meniru apa yang telah dicontohkan dari busa mulut itu, dibekalinya tanggungjawab berupa hipotesis.


Jauh dari kemegahan akademia, seorang renta bertubuh buntal sedikit rambut ikal pada kepalanya dengan jubah sahajanya mengajak berbicara pada setiap orang di alun-alun kota. Mencukili opini-opini pedagang rokok, menguliti petugas penarik karcis pajak dengan rentetan pertanyaan awam, si pengajak bincang mendapati jawaban berupa alasan-alasan beragam hingga tak ada lagi pasokan alasan dari kawan diskusinya. Selepas si pengajak bincang berlalu dengan langkah gontainya dengan selipan rumput di bibirnya, barulah tersadarkan pada puluhan manusia di alun-alun ini manakala dalam benak mereka bergejolak kontradiksi antara keraguan mentalitas bercampur sensasi pengalaman analitik yang sama sekali baru mereka rasakan lewat diskusi singkat itu saja. Tersadarkan bahwa mereka tidak tahu apa yang selama ini mereka anggap sebagai kebenaran yang telah membatu dalam bentuk keyakinan pengalaman. Mengertilah mereka bahwa setiap orang merupakan guru.


Tepat diseberang alun-alun kota, pada sebuah gedung tua yang dahulu bernama gereja negara. Dentang lonceng menandakan bergeliatnya sebuah perdebatan dalam atmosfer khidmat aula beratus lilin yang berkedip genit. Berdiri pada sebuah podium seseorang yang sering kali meneriakan ujaran; Sic et Non! Dia menggoyahkan pondasi keimanan jemaat yang ditampu oleh pundak Petrus, Dia melontarkan isu sensitif; rekontruksi keimanan trinity, mempertanyakan kegunaan sakramen, mengajak ratusan jemaat untuk mengamati kisah jual-beli surat penebusan dosa. Dia yang meninggalkan sisa perdebatan dengan dua pilihan di kolom kegamangan; Sic atau tidak, tanpa upaya perdamaian.


Mari singgahlah sejenak diantara rerimbunan dahan mahoni yang sesekali menggugurkan bunganya yang berkitir, sedikit melawan hukum gravitasi lewat penampangnya, sebuah proses yang kemudian mengilhami kegunaan baling-baling pada moncong pesawat. Hutan hujan tropis ini menyajikan gudang ilmu; flora, fauna, hewan renik, fotosintesis, kekerabatan dalam kerajaan hewani, pola interaksi-organisasi gerombolan semut, kelembaban suhu yang menyuburkan pepakuan, siklus air, kerumitan rantai makanan serta ratusan cabang keilmuan tanpa sekat fakultas.


Bukankah the great university is universe? Mengamati pelajaran suguhan Maha Guru alam, menjadi pengetahuan yang terpatri pada pikiran menggugah init kebijakan diri dengan mengoptimalkan segala berkah indra. Ahh, tak terasa ada beban dari proses belajar ini. Guru alam tak pernah menugasi pekerjaan rumah segalanya diselesaikan disini, hamparan alam pula yang menyajikan jawaban itu, kita tinggal memetiknya.


Ahhh.... sejuknya semilir angin di tepian bukit penuh ilmu ini, dari A berakhir pada Z zzzzzzzzzz..........



-Koelit Ketjil –

Kota S, hari ini adalah Tanggal 29 Bulan Mei masih di Tahun 2010

Jumat, April 30, 2010

Isyarat Hening

Telapak tangan kanannya terkepal menghadap ke depan dengan jempol mengacung, lalu dengan sigap telunjuknya bangkit dari kepalan sementara ibu jari bertemu dengan telunjuk dan jari tengah yang masih tertekuk, lalu kembali telunjuknya bersatu bersama jemari yang lain. Kembali dia melakukan gerakan itu, jemari telunjuk dan tengahnya dari kedua telapak tangannya beradu di depan dadanya sambil berusaha dengan keras memperkenalkan diri, “Nak..meaaa nak..yeaa, akkk..nee” senyumnya mengembang manis sekali.




“Baiklah anak-anak sebagai mana tadi teman baru kalian telah memperkenalkan diri, mari kita sambut kehadiran murid baru ini dengan ciri khas kehangatan kita. Beri ucapan selamat datang pada Ade Hening Tamyiz!” instruksi Bu Melia cepat direspon oleh murid-murid dalam ruang kelas XI C, “Selamat datang Ade!!!” kompak sekali mereka, ada pancaran kebahagian dari senyum Ade atas sambutan hangat yang dia terima.


Ade, namanya panggilannya, singkat saja tapi menjadi sebuah usaha yang cukup sulit bagi si pemilik nama untuk memperkenalkan diri di hadapan teman-teman sekelas di sekolah barunya, lebih sulit lagi bagi puluhan siswa-siswi untuk memahami ucapan teman baru mereka ini. Ade Hening Tamyiz, keterbatasan kemampuan komunikasi yang dimiliki tidak membuat dirinya lantas menjadi minder bertemu dengan siapapun, raut wajahnya yang lugu tapi selalu memancarkan senyum beraura ramah menjadi modal bagi dirinya mudah bergaul meski dengan orang yang baru berkenalan sekalipun.


Ade tak pernah takut berkenalan karena Ade memiliki berkah istimewa berupa kemampuan tamyiz sehingga dia mampu mengetahui kesejatian diri orang yang baru dia kenali, apakah baik atau jahat. Pepatah “dalamnya samudera dapat diterka tapi dalamnya hati seseorang tak dapat diterka” tidak berlaku bagi Ade.


Sekolah Menengah Atas milik Yayasan Putera Bumi Nusantara ini merupakan sekolah kesepuluh sepanjang sejarah pendidikan Ade yang hampir setiap tahun selalu berpindah-pindah dari satu kota ke kota yang lain. Bukan keinginan Ade ataupun perlakuan buruk yang diterima Ade akibat keterbatasan komunikasinya, melainkan tugas orang tuanya yang mengharuskan Ade berpindah dari satu sekolah ke sekolah lainnya hampir setiap tahunnya. Ade tak pernah mendapatkan penjelasan yang rasional dari orang tuanya setiap kali akan berpindah sekolah, akhirnya hal ini menjadi suatu hal yang lumrah bagi Ade jika tiba-tiba dia harus berpindah sekolah, bahkan rekor tercepat mendiami sekolah baru yang pernah Ade alami adalah tak lebih dari dua minggu, tepatnya sembilan hari saja.



Kelahiran Ade yang hening tanpa tangisan awal kehadirannya di dunia ini justru membuat panik bidan yang membantu persalinan ibunya, berbagai upaya telah dilakukan oleh bidan agar bayi berwarna merah muda itu menangis atau setidaknya mengeluarkan sebentuk suara sekecil apapun. Bidan itu telah membersihkan hidung, rongga mulut dan tenggorokan jabang bayi ini, telapak kaki kecil itupun beberpakali ditepuk bahkan gosokan kain kering pada seluruh permukaan kulit lembutnya tidak menunjukkan efek apapun, segala usahanya nihil, Ade tetap hening. Bidan menduga pada saat kehamilan ibunya terkena virus Rubella atau moribili.


Keluarganya paham betul meskipun Ade dalam perkembangannya memiliki keterbatasan berbicara dan mendengar tapi hal itu tidak mereka anggap sebagai aib atau kutukan dari Tuhan tapi lebih kepada berkah tak ternilai karena mereka yakin Ade merupakan anak yang spesial bagi mereka. Tak hanya keheningan tanpa suara tapi raut wajahnya yang terang namun meneduhkan itulah yang membuat kedua orang tuanya menamakan dirinya ‘Hening’, sementara ‘Ade’ tetap disisipkan di awal namanya meskipun Ade anak sulung, sekedar mengingatkan bahwa Ade seharusnya memiliki seorang kakak tapi Tuhan berkehendak lain.


Waktu istirahat pertamanya di sekolah baru ini dihabiskan dengan cara berkenalan pada perpustakaan sekolah. Suasananya sepi hanya satu-dua siswa di perpustakaan ini, sangat kontras kondisinya jika dibandingkan dengan kantin. Perpustakaan selalu menjadi tempat favorit bagi Ade, bukan karena dirinya tidak ingin bersosialisasi dengan teman-temannya tapi memang ketertarikan Ade pada dunia membaca sudah dia minati sejak kecil. Ade masih mengamati suasana perpustakaan yang cukup besar ini, maklum sekolah barunya merupakan sekolah tertua di kota ini bahkan bangunan ini dulunya merupakan bekas gedung perkantoran pemerintahan jaman penjajahan Belanda.


Deretan rak buku dari kayu jati tua dengan ratusan -mungkin ribuan- koleksi buku tersusun rapi, pada bagian tengah ruangan terdapat meja super besar dari dua bilah kayu jati tua. Telapak tangannya meraba permukaan kayu jati yang terasa sejuk dengan pelitur berwarna netral sehingga kesan unik guratan kayu jati jelas terlihat. Motif lingkaran kambiumnya menegaskan kayu ini berasal dari pohon berusia sangat tua terlebih satu bilah papan jati ini berukuran kurang lebih satu setengah meter pada lebarnya dan sekitar lima meter pada panjangnya maka praktis meja berukuran tiga kali lima meter ini hanya terbuat dari dua bilah kayu jati.


Kekaguman Ade yang kedua adalah pada bagian atap ruang perpustakaan yang sedikit menonjol keluar mirip kubah masjid kecil dengan mozaik kaca berwarna merah, biru dan netral bermotif serupa cetakan batik yang menyerap sinar masuk yang jatuh tepat di tengah meja besar jika matahari berada pada titik kulminasi tertinggi pada pukul dua belas siang, pancaran spektrum warnanya begitu indah.



Sebuah buku cukup tebal berjudul ‘Laut Biru, Langit Biru’ menjadi pilihan Ade. Raut wajahnya menandakan keceriaan ketika menemukan buku itu, ini pertemuan kedua antara Ade dengan buku ini setelah pertemuan pertamanya pada perpustakaan sekolah terdahulu yang hanya kurang dari dua minggu dia singgahi. Perpustakaan pada sekolah-sekolah lainnya tidak terdapat buku itu pada deretan raknya. Ketertarikan Ade pada karya sastra mulai terlihat ketika di bangku Sekolah Menengah Pertama, bermula dari tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia membuat resensi kumpulan cerpen Nh Dini.


Ade langsung jatuh hati dengan gaya penulisan Nh Dini ketika membaca “Tuileries”. Imajinasi Ade menghantarkan dirinya seolah berada di tengah-tengah taman indah Kota Paris itu, penggambaran suasana taman oeh penulis membuat begitu terasa atmosfer adem, sejuk dan cericit burung serta kesegaran air mancur yang berasal dari Sungai Seine. Kali ini Ade disapa kembali oleh Nh Dini lewat buku yang dibacanya, pada halaman 337 terdapat sebuah fragmen berjudul “Pada Sebuah Kapal” karya Nh Dini yang menjadi salah satu bagian pada buku kumpulan karya sastra penulis-penulis handal lainnya seperti; HB. Jassin, Mochtar Lubis, Subagio Sastrowardojo, A.A Navis, Umar Kayam, Rendra dan masih banyak lagi penulis-penulis besar lainnya, semuanya tersaji pada buku ini; ‘Laut Biru, Langit Biru’.


Hari pertamanya di sekolah baru dilewati tanpa ada kesan yang begitu kuat, kondisi yang kerap dia rasakan di sekolah lain yang pernah dihinggapi ketika awal-awal kehadirannya. Hari kedua di sekolah ini, Ade mendapatkan sebuah kejutan berharga! Ade tidak memperhatikan awal kehadiran murid yang berdiri di depan kelas. Ade masih sibuk menulis sepenggal tulisan pada buku jurnal perjalanan hidupnya, jika Ade tengah larut dengan tulisannya terkadang Ade melepaskan alat bantu pendengarannya, dia ingin kembali pada kondisi sejati dirinya, hening.


Teman,
Bisakah kau meminta pada Tuhan yang kerap kau sebut gembala itu untuk menghadirkan dirimu di titik yang sama pada kordinat yang sama dimana kali ini aku tepat berada?
Jika bisa, pintakan segera!
Sekarang
Saat ini juga!!
Maka aku akan menyambutnya dengan penghayatan ’amien’ku yang terdalam


Ade menghentikan gores pena itu dari jurnalnya, pandangan matanya bertemu pada binar mata yang dia kenali, lentik bulu mata dan garis lengkung alis nyaris sempurna yang kerap dia pandangi itu kini ada dihadapannya. Doa lewat gores pena pada jurnal itu dikabulkan oleh Tuhannya dan Gembala sahabatnya. Sontak dia berdiri menatap tajam kearah murid yang berdiri di depan kelas, lalu menengadahkan kepalanya seperti merapal sepotong mantram dengan takzim.


Brenda, siswi itu hanya tersenyum menahan tawa kecilnya seraya membuat sebuah bahasa isyarat dengan kedua tangannya, jari telunjuk kanannya mengait pada jari telunjuk dan jari tengah tangan kirinya yang berada diatas dari posisi telapak tangan kirinya; T.E.M.A.N.



Ade membalasnya dengan gerakan sigapnya, jemari tangan kanannya tergenggam di depan dadanya hanya jari telunjuk yang berdiri lalu membuat gerakan melingkar sambil menutupkan jari telunjuknya: A.B.A.D.I.





-Koelit Ketjil-
Kota S, 29-30 April 2010. [22.20 – 01.31]

...semoga bisa bersambung...



Jumat, April 02, 2010

Memantapkan Hati

Bismillah... Romo-Bunda
`kan ku boyong seorang putri
persembahan puteramu ini
cenderamata hari tua


Bismillah... Bapak-Ibu
saksikan ini calon mantu
Dengan sisa keberanian dan mimpi masa depan
Kulamar putrimu, ijinkanlah


Bismillah... Kekasihku
Kupinang Engkau dengan caraku
Disaksikan mimpi masa depan gambaran kita
Disokong oleh kepingan jalinan memori cinta


Bismillah... Wahai Leluhur kami
Keturunanmu dari sisa kejayaan masa silam
Hamba hanya mampu menghibur dengan cara kusam
Berkahi kami penerus generasimu ini


Bismillah... Ya Rahman.. Ya Rahim
Bukakan sepotong surga suci
Percikkan jaminan halal masa depan kami
Amin Ya Rabbal 'Alalmin


Koelit ketjil
Kota S, 2 Mei 2010