Jika Pras berkutat dengan diskusi antara `dia`
versus `dirinya sendiri`, lain halnya dengan Tristan, dia harus berhadapan
dengan petugas pemeriksa karcis kereta api. Kesalahan fatal baginya hanya
karena mengikuti seorang gadis yang hampir mirip dengan mantan pacarnya,
mungkin mantan idaman hatinya lebih tepat lagi, sekarang Tristan harus main
`kucing-kucingan` atau lebih tepatnya `kucing-tikus-an` adalah hal biasa bagi
penumpang gelap kereta api yang selalu dijadikan kambing hitam atas penyebab
defisit atau selalu dijadikan alasan bagi Perum penyedia layanan
transportasi massal itu selalu meruginya setiap tahun akibat banyaknya
penumpang tak berkarcis yang mengakibatkan sedikitnya setoran pada Negara, ah
bagi Tristan setoran itu pasti mampir di kantong pejabat teras Perum dan
menguap menjadi rumah mewah atau serupa mobil sport import keluaran dari negeri
pemberi hutang negerinya ini.
Rangkaian demi rangkaian gerbong telah dijadikan persembunyian, sementara
toilet busuk sudah digembok karena diketahui menjadi tempat persembunyian
favorit penumpang gelap, alhasil penumpang resmipun tak berhak menggunakan
fasilitas busuk itu. Kini Tristan berada pada sambungan antara gerbong
restorasi dan loko, seorang tua memanggilnya untuk turun dari atas gerbong.
“Anak muda lebih baik turun dari situ sia-sia kau korbankan nyawamu hanya
sekedar lari dari petugas, ayo turun sini gabung dengan oom,” Tristan hanya
tertegun.
Eksentrik sekali lelaki tua ini, rambut putih tapi gondrong terkucir, jaket
kulit penuh dengan emblem logo-logo tak asing di matanya, celana jeans belel
menyaingi kulit hampir keriputnya dan sepatu catterpillaar tua. Orang ini minta
dipanggil oom? ahh dengan eyang kakungnya saja mungkin sebaya, sedikit lompat
mendarat pada baja padat lalu dia rebahkan badannya berlindung dari angin, Pras
duduk di sebelah lelaki tua itu tapi tidak ada tanda-tanda percakapan diantara
mereka. Tristan hanya memberi kode `siapa orang ini?` sementara yang diberi
kode hanya mengangkat bahunya sedikit kemudian bersin.
“Hhhuatsyii!”
“Oke Ratri, aku sms sekarang tenang aja…”
“Kamu ngomong apa Bro?” Tristan seperti mendengar Pras berbicara tapi tidak
jelas
“Ahh, gak ada apa-apa kok!” tangannya merogoh saku jaket, mengambil handphone.
`aku lagi di kereta api bareng Tristan, nanti aku kirim email foto-foto
perjalanan kami. Tenang aja kondisi aman terkendali. Salam untuk kawan-kawan di Jogja` ibu jarinya menekan tombol `ok` lalu pada layar tertera `sending
message` tak lama layar berkedip `message sent to Ratri`.
“Dulu kawan oom sampai patah tulang kaki dan pergelangan kaki remuk gara-gara
jatuh dan berguling puluhan kali tapi dia cuma ketawa karena sebelum jatuh kami
ditemani si `TOMI`, kamu pahamkan?” gerakan tangan membentuk topi di kepala lalu
dimiringkan yang menyakinkan Tristan atas maksud pembicaraan dari oom eksentrik
itu, Tristan masih tersihir pesona eksentrik teman sesama pelariannya itu.
Lelaki tua itu memahami ekspresi anak muda berkaca mata di hadapannya.
“Hahaahhaaa… Anak muda…anak muda, engkau terlihat begitu kokoh! Otak mu tidak
pernah aku ragukan akan sama dengan udang kali, semangatmu sama seperti mereka
prajurit seroja di medan tempur timur laut Dili, tapi kenapa hanya karena tak
paham bentuk perhatian dari kekasih lantas kau serupa pesakitan Nusakambangan
yang hilang dukungan politis kroni-kroni cendana karena terjerat kasus korupsi,
merasa hancur karirnya, kekayaan disita negara atau mungkin lebih tepatnya
koruptor seniornya sementara keluarganya kabur keluar negeri menikmati kekayaan
yang tidak terlacak tapi lupa menjeguk Ayahnya yang rela mendekam akibat
tuntutan istri dan anaknya yang haus akan kehidupan jetset! Baahh… macam mana
pula kau ini anak muda!”
Belum habis pengaruh sihir eksentrisme lelaki tua itu, tiba-tiba mulut Tristan
dengan ringannya menceritakan perang kecilnya dengan kekasihnya pagi tadi dan
sekarang dia seperti Gogon di tengah panggung Ketoprak Humor yang menggigil
sakau ditertawai penonton justru bukan karena tingkah polahnya yang membuat
geli penonton melainkan cibiran ratusan mulut penonton yang mengetahui dirinya
sebagai pengguna narkoba. `Siapa kakek tua ini? Kenapa aku jadi curhat kepada
orang itu? Apa hak dia menertawai aku sedemikian puasnya? Biar ku pukul dagu
rapuh itu agar diam atau ku lempar dia, mari kita lihat, tertawakah dia
berguling puluhan kali tanpa `TOMI`!!` tapi hal itu tidak akan terjadi karena
berkas teduh dari balik mata hampir katarak itu menyihir Tristan untuk tetap
diam.
“Hey, Kek bisa diam ga? Nanti terdengar penjaga!” Tristan tahu persis
ancamannya itu sia-sia, ini akan dilakukan oleh siapapun yang kehormatannya
terancam cemooh.
“Apa terdengar penjaga?! Hahahahahha… anak muda…anak muda…Disini?? Kau
bernyanyi Indonesia Raya pake versi dangdut dengan menggunakan megaphone pun
tak akan terdengar aparat Kodim di dalam sana…hahahhaa… ada-ada saja anak muda
ini.” Gila! menyanyi Indonesia Pras versi dangdut adalah sama saja dengan bunuh
diri. Jaman SMA dulu Tristan pernah merasakan 27 jam sel dingin Kodim hanya
karena tim Marching Band SMAnya memainkan lagu Indonesia Raya versi dangdut
tanpa pengawasan pelatih, itupun mereka terselamatkan karena pelatihnya harus
turun tangan rela meninggalkan tugas melatih Marching Band Gubernuran Jawa
Barat begitu mendengar asuhannya mendekam sel Kodim, sebuah keuntungan
mempunyai pelatih anggota Kodim juga.
“Ahh, maafkan kelancangan mulut tua ini anak muda. Sudahlah jangan panggil aku
dengan sebutan kakek, bisa mati aku jika kau panggil kakek. Panggil aku oom,
oom Binsar!” tangannya menjulur kearah Tristan, kini mata Tristan jelas
merasakan keteduhan sihir mata abu-abu itu, tapi kemudian terbelalak begitu
tangannya berjabat erat dengan lengan lelaki tua itu semakin ototnya mudanya
meregang, reaksi otot lelaki di hadapannya itu tak kalah tegasnya, bukan orang
tua biasa kesimpulan singkatnya. Pras hanya sekedar menghormati orang tua ini,
tangannya ikut menyambut uluran, berkenalan singkat sekedarnya lalu tenggelam
dalam dunia lamunannya, berbeda dengan Tristan.
“Ok oom… tapi dengan satu syarat, berhenti sebut aku anak muda!” lengan mudanya
melepas pasti jabat erat lawan bicaranya.
“Aih, anak muda dengan darah mudanya, luar biasa!. Ok, aku tidak akan sebut Kau
lagi dengan sebutan anak muda, setuju anak muda…ooo maaf siapa namamu anak
muda?” pancingan Binsar langsung diterkam Tristan.
“KODOK, bukan A NAK MU DAA!” Kereta ekonomi berhenti sesaat untuk memberi
kesempatan bagi kaum borjuis pada kereta kencana Argo Lawu melaju, tak berubah
jaman ini sejak Max Havelaar merasakan perbedaan kelas antara Adipati dengan
kawulo alit di tanah Banten sana.
Semilir angin senja menjadi penghantar momen curhat yang nyaman terlebih kopi
panas tertuang dari termos stainless steel setinggi 40 centi
menghangatkan tubuh dari nakalnya angin bulan desember.
“Aku heran oom mengapa wanita tidak mau memahami kegelisahan kita kaum adam
ini?” Tristan kembali mempercayakan gelora batinnya pada orang yang baru
dikenalnya ini sementara Pras tenggelam dalam Nikon D10, lensanya kini mengarah
pada langit senja dan belasan burung.
“Padahal aku sudah meghilangkan ego kelelakianku dan ku obral gengsiku bahkan
derai tangisku laris manis menetes di hadapan dia ketika seluruh unek-unek ku
ungkapkan pada pacarku, tolong digarisbawahi PACARKU, tapi apa yang kudapat?
hanya tanggapan dingin! lantas pada siapa lagi aku harus berbagi? Apa pada
seorang tua eksentrik di tengah jalan kupanggil dan kuberi uang lima rebu perak
cuma untuk mendengar rengekanku tanpa perlu komentarnya, semurah itukah aku?”
“Hhmm, Tristan muda…” aihh mulai lagi kakek tua ini membangunkan macan lapar
dalam diri Tristan
“Oom cukup Tristan saja, ok” senyum kecut jelas ditunjukan sebagai bentuk
protesnya. “Kau harus memahami dirimu sendiri baru kau coba pelajari perempuan
kekasihmu itu, kau akan sangat menyesal ada disini jika saja kau sudah paham
betul dirimu sendiri dan perempuan kekasihmu itu adalah belahan jiwamu bukan?
Ini juga berlaku untuk dirimu anak muda” Binsar menunjuk pada Pras, lalu
menawarkan kopi panas dari termos stainless steelnya. Pras yang semula tidak
ambil bagian dalam diskusi kecil itu akhirnya menjadi tertarik untuk
mendengarkan.
“Otomatis kau pun akan memahami jalan pikiran kekasihmu itu. Panggil kembali
memori biologismu yang pernah menyatakan bahwa dia adalah pilihan paling tepat
bagi dirimu, mahluk yang akan meruntuhkan raksasa Gorgoyle dalam diri liarmu
itu, panggil saja kembali toh ada dalam dirimu tidak kau buang,” auranya
memancar tenang, mentari senja mencipta siluet tubuhnya kala menenggak kopi
panas. Momen ini tak luput dalam jepretan kamera Pras.
Tristan serasa dibelai oleh Eyang kakungnya dulu saat dia menangis berebut bola
tenis dari tangan sepupu tuanya. Meresapi kata-kata lembut tadi, terheran akan
rasa hormat kakek tua ini terhadap kaum hawa, bahkan dia menyebut perempuan
bukan wanita, meski Tristan pernah tidak sepakat berdebat sengit dengan
kawannya yang sok aktivis itu mengenai perubahan istilah `wanita` menjadi
`perempuan`, dia akhirnya mengakui ada makna dan efek berbeda lebih dari
sekedar sebutan belaka, perempuan terasa lebih terhormat dan memberi efek
psikologis hebat bagi yang disebutnya. Pras baru menyadari, bagaimana kakek tua
itu dapat mengetahui kalau dia pernah mengatakan bahwa Nadhien adalah pilihan
paling tepat bagi dirinya juga tentang raksasa itu?
“Aku pernah muda bahkan sekarang pun masih muda jadi jangan heran. Boleh aku
menebak?” Tristan hanya menggerakan bahunya halus saja.
“Kulihat dari gayamu, pasti kau ini sering mendaki gunung tapi kau belum layak
disebut pecinta alam, jangan marah dulu kawan,” sesaat darah muda Tristan
berdesir tapi Pras menahan bahunya, peringatan kakek tua ini ada benarnya,
walau ada protes dalam dirinya, hampir mati hypothermia di ujung puncak
Pangrango demi selembar syal berwarna orange bertuliskan MAHASISWA PECINTA
ALAM, kok bisa-bisanya diragukan kadar “cinta alam”nya. Baik mari kita
dengarkan siraman rohani kakek tua ini, dalam hatinya coba berkompromi dengan
gejolak batinnya.
“Seorang pecinta alam sejati pasti mampu memahami perempuan, kau pikir orang
membuat perumpamaan yang sia-sia antara perempuan dengan alam dan berpikir
tidak ada kaitannya sama sekali? Coba sadari lagi kenapa alam nusantara raya
ini disebut BUNDA PERTIWI, coba kau khayalkan kembali kenapa padi di sawah
sebagai perlambang Dewi Sri, pernah dengar pegunungan yang diumpamakan dengan
keindahan payudara Putri Sheeba (THE BREAST OF SHEEBA)?, atau kau perlu
menyelam laut selatan untuk menemui Ratu Roro Kidul?, coba kau renungkan lagi
kenapa Shopia akar kata philoshopy bermakna sisi perempuan dari Tuhan,
bahkan agamaku menaruh keistimewaan teramat indah pada diri perempuan;
cita-cita paling luhur dari manusia paling suci hingga manusia paling bejat
sekali pun, siapa tak ingin menuju SURGA? Kau tahu letaknya dimana? Telapak
kaki ibumu, ibumu, ibumu bukan ayahmu! Melebihi tanaman padi, melebihi
nusantara raya, melebihi sebuah dimensi. S U R G A! anak muda, surga pada diri
perempuan, begitu juga agama lainnya yang menaruh penghargaan tertingi terhadap
perempuan, pasti kau pernah dengar Holly Marry The Virgin atau Dewi Kuan
Iem.” Binsar memperhatikan ekspresi wajah Tristan.
“Berapa kali kau mendaki gunung? Gunung tertinggi mana pernah kau taklukan?”
Tristan sadar pertanyaan itu bukan untuk dijawab terlebih dengan arogansi
penaklukan.
“Tapi pernahkah kau berdiskusi dengan alam? Ya… memang gunung bisa menjadi guru
alam paling hebat bahkan melebihi guru besar dari UGM sana yang lagaknya
melebihi kemampuan wali, seolah-olah hanya dia yang pernah sekolah saja, tak
perlu jauh-jauh jika untuk sekedar berdiskusi dengan alam, apa menurutmu Ebiet
G. Ade adalah seorang gila ketika dia berteriak lembut dengan gitar usangnya …
`tanyakan saja pada rumput yang bergoyang…`, Ebiet telah mendapatkan jawaban
maha dahsyat dari situ bukan pertanyaan sia-sia dia ajukan pada rumput
bergoyang dengan jawaban angin lalu semata” diam beberapa detiknya mencipta
decak kagum akan keluasan pandangan kakek tua ini.
“Aku tidak akan membuat mu menjadi paham karena aku pun sekedar berdiskusi
dengan salah satu unsur alam paling sempurna yang Tuhan pernah ciptakan, bukan
begitu pemuda pendiam?” matanya menatap dalam kearah Pras, sementara dalam hati
Tristan bergema, `hey Binsar tua sudah berapa gunung pernah kau ajak diskusi?`
dia yakin pada pandangan pertamanya bahwa lelaki tua ini juga pastinya sering
mendaki gunung, begitu juga keyakinan lelaki tua yang menebak tepat hobinya,
dia jadi teringat seloroh kawan laki-laki genitnya pernah berkata `hanya Gay
tulen yang dapat mengetahui ada beberapa Gay berkeliaran dalam gedung mall ini`
kawannya itu dapat menunjukan dengan yakin orang-orang tersebut. Rasanya
sia-sia dia menunjukkan pada kawan-kawan kosnya puluhan lembar poto ekspedisi
alamnya dan koleksi potongan ranting kayu bakar dari setiap gunung yang dia
beri catatan serupa inventaris sebuah departemen yang dibeli dengan uang negara,
tak pernah dia sadari untuk berdiskusi dengan alam, dengan gunung, pohon,
semak, burung, ular atau apapun yang dia temui sepanjang langkah ekspedisinya.
Bodoh kau anak manusia!
“Boleh saya gabung disini?” senyum tipis pemuda tegap itu seakan sedikit lega,
lega bisa lepas dari kejaran penjaga, lega mendapatkan kawan pelarian dan lebih
lega lagi seorang tua menyodorkan kopi panas setelah wajahnya tertampar angin
selama tiga jam lamanya. Entah ada chemistry apa bagi sesama pelarian mereka
begitu mudahnya menggelontorkan bongkahan perasaan hati mereka yang membatu
serupa gunung Merapi yang memuntahkan jutaan kubik material lahar dingin.
“Hahaha…lagi-lagi anak muda dengan dengan problematika hidup” ringan saja
Binsar melontarkan ungkapan itu tanpa melihat ekspresi wajah kedua anak muda
yang hanya saling berpandangan aneh.
“Maaf pak, nama saya Dewan… dan terus terang saya kurang suka dengan sebutan
`anak muda` tadi, maaf,“ Tristan seolah sepakat dengan kawan barunya ini,
ekspresi wajahnya menunjukkan hal itu dan dagunya memberi kode pada Binsar,
seolah mengatakan dengan lantang `kau dengar, tidak ada satu anak muda pun
senang untuk disebut anak muda` tentunya tidak dengan bahasa verbal sementara
kakek eksentrik ini lagi-lagi hanya tersenyum.
“Jadi kau lari dari dunia pendidikan hanya karena kau menangis? Secengeng
itukah pemuda segagah dirimu ini! Bisa kau ceritakan lebih jauh lagi?” Tristan
yang tidak menjadi objek `pembantaian mental` dari Binsar menggeleng lembut
bercampur salut akan keterbukaan kakek itu mungkin memang seperti inilah dia
berbicara dengan semua orang yang baru dia kenal, tidak ada sedikitpun
basa-basi keparat atau hormat palsu bagi lawan bicaranya.
“Jauh sebelum itu oom!, ketika aku masih di dalam rahim bundaku, nama Dewantara
sudah dipersiapkan Ayahku yang berharap agar kelak anaknya menjadi pendidik
seperti sosok Ki Hajar Dewantara karena Ayah pengagum sosok besar itu, terlebih
Ayah adalah lulusan Taman Siswa di Jogja dulu kala, aku turuti keinginan agung
Ayah selain itu juga aku pun terasa seperti ada panggilan untuk mendidik
anak-anak Indonesia meski jauh dari bayangan untuk dapat menciptakan putera
bangsa berkualitas, aku hanya terprovokasi setelah membaca Kartini ketika di
sekolah dasar dulu, aku ingat betul ucapan Kartini `betapa sempurnanya hidup,
menjadi Guru sekaligus menjadi murid dalam waktu bersamaan`, terus terang saat
itu juga badanku bergetar.” Dewan tak ragu menceritakan masa lalunya
“Berapa lama kamu menjadi guru? Bukankah dirimu mendapatkan kesempurnaan hidup
dari mendidik?” Tristan turut membuka diskusi sela gerbong bagi pelarian, ada
rasa penasaran dari tutur kata Dewan terlebih ketika dia menyatir kata-kata
Kartini.
“Hanya sekitar enam bulan saja, empat bulan terakhir sebenarnya sudah menjadi
puncak pemberontakanku. Awalnya memang aku merasakan nikmatnya dunia mendidik
anak-anak, bayangkan saja berpuluh-puluh anak menciumi tanganmu ketika kau baru
sampai pada gerbang bambu sekolah terpencil itu, aku yakin dulu waktu SD kau
pernah mengalami itu, bahkan anak-anak yang berada di pojok sekolah pun
berlarian menyambutku dan memanggilku `pak guru..pak guru` berebutan menciumi
tanganku, tapi kenikmatan itu tidak kudapatkan dari rekan sesama pendidik,
mereka korup! Mereka memeras kantong orang tua dari anak-anak yang hanya sekedar
buruh tani, menggarap sawah mereka sendiri tapi hasil panen menjadi milik tuan
tanah hanya karena sertifikat tanahnya berubah menjadi uang pangkal masuk
sekolah bagi anaknya, bahkan parahnya lagi tuan tanah itu adalah orang yang
sama dengan Kepala Sekolah dari sekolah dimana anaknya mengecap pendidikan dari
guru-guru setengah hati mengajar, tak layak mereka disebut mendidik!” Dewan
menceritakan dengan menggebu-gebu.
“Mengapa kau begitu idealis anak muda, ooh maaf, Dewan? Tidakkah kau sadar akan
kebutuhan hidup guru-guru daerah terpencil seperti rekan kerjamu itu? Seberapa
besar gaji pokok dan tunjangan minimalis para pendidik kita? Terlebih mereka
yang bertahun-tahun menjadi `budak` dari dunia pendidikan kita ini, alih-alih
anggaran, pemerintah terkesan senang mempertahankan status `honorer` mereka
bukankah itu sebuah penelataran? Aku juga yakin ada pergolakan batin antara
idealismemu dengan kenyataan kebutuhan hidupmu. Begitu juga rekan kerjamu yang
harus membiayai kebutuhan sekolah anak-anaknya yang harus mereka sekolahkan
diluar tempat dia bekerja karena mereka paham betul rekan kerjanya akan
mengajar separuh hati jika anak mereka bersekolah di tempat dia mengajar, maka
dia harus mengeluarkan biaya ekstra untuk mencari sekolah yang sedikit lebih
memadai. Tokoh idolamu; Ki Hajar Dewantara dan Kartini berasal dari keluarga
berkecukupan, anak muda. Pernah terpikir hal itu dalam diri pemberontakmu?”
mata abu-abu Binsar seolah menyala di balik keremangan senja yang semakin pekat.
Dewan mengatur emosinya, menata napas, mempersiapkan kata-kata. Tenggorokannya
seolah tersedak akibat masuknya oksigen yang tak terbendung oleh hidungnya
akibat ucapan Binsar tadi.
“Aku berasal dari keluarga tidak lebih dari cukup pak, tidak lebih, bahkan
cukup pun jarang kami temui, gelora mudaku tak pernah mempertanyakan besarnya
honor kuterima dari sekolah dasar desa terpencil yang berdiri di atas tanah kas
desa, berdinding kapur campuran pasir, atap genteng dengan ventilasi lebar
di atasnya bahkan tiga dari empat ruang belajar tanpa daun pintu sama sekali,
tak tega rasanya aku menerima rupiah dari kondisi itu, tapi kenyataannya aku
membutuhkan biaya juga, maka hak honor empat bulan yang tak pernah kuambil
terpaksa kumintakan.” Bibir Dewan bergetar sehingga suara yang keluar dari tenggorokan
terdengar seperti menggigil, dia pun menarik napas panjang tapi wajahnya tak
kuasa dia angkat. Sinar matahari senja menyentuh setengah wajahnya, lensa Nikon
zoom mengarah pada detail wajah itu.
“Enam ratus ribu rupiah, pengabdian empat bulanku hanya dihargai enam ratus
ribu rupiah. Satu bulan aku hanya berhak mendapatkan sebesar seratus lima puluh
ribu rupiah, bayangkan enam hari kerja dengan enam jam kerja perhari maka aku
mendapatkan enam ribu dua ratus lima puluh rupiah, sementara aku datang pada
sekolah terpencil itu harus menggunakan satu kali angkutan kota disambung
angkutan desa lalu berganti naik ojek pada ujung desa itupun aku diuntungkan
tidak perlu mengeluarkan ongkos penyeberangan sungai karena si pemilik getek
merupakan salah satu orang tua muridku,” intonasi yang keluar dari mulutnya
terkesan bergetar.
“Bukan itung-itungan rupiah sebenarnya yang membuat aku mengambil keputusan
untuk keluar dari sekolah itu, hampir setiap malam aku dihantui kesombongan
akademisku, terror pengecut dalam batinku jika aku keluar dari garis juangku
ini serta kenyataan rupiah selalu berkecamuk dalam malam-malamku, betapa tidak
kesombongan akademisku berteriak kawan! Satu minggu setelah aku mendapatkan hak
atas rupiahku aku menemukan lembar rekapitulasi pembayaran gaji para guru,
disitu tertera nama penerima, latar pendidikan, jenjang dan jumlah gaji.”
Pandangan Dewan menjadi kabur akibat air yang terbendung kelopak matanya.
“Miris rasanya dan menangis kesombongan akademisku begitu mengetahui guru
lulusan setingkat D II mendapatkan gaji pokok sebesar dua juta tujuh ratus lima
puluh ribu rupiah, oke mungkin karena beliau memiliki masa bakti setelah
belasan tahun jadi berhak mendapatkan gaji sebesar itu, tapi aku terkejut
sampai terduduk tidak percaya, Pak Udin penjaga sekolah yang hanya berlatar
pendidikan pernah mengikuti Kejar Paket C mendapatkan gaji sebesar satu juta
lima ratus ribu rupiah sedang aku lulusan Sarjana Sosial Politik dari Perguruan
Tinggi Negeri paling bergengsi di Yogyakarta mendapatkan gaji sebesar seratus
lima puluh ribu rupiah perbulan, aku merasa sang maha patih pun menangis
melihat lulusannya dengan kondisi terpuruk ini,” ketiga pelarian itu hanya
terdiam masing-masing mencari perlindungan batin atas kenyataan yang baru saja
mereka saksikan dari pengakuannya. Ada yang menatap rembulan, memegang cangkir
kopi dan satunya lagi hanya menyedot asap tembakau sekedar meredam efek dari
cerita getir Dewan.
Lengan Binsar menepuk bahu Dewan memberikan sedikit sokongan mental, Dewan
hanya menatap sebentar tangan pada bahunya itu.
“Disitulah aku sadari betul, ijazah sarjanaku belum menjadi jaminan kehidupan
lebih baik, ternyata aku harus mengakui keunggulan orang beruntung dalam sistem
kehidupan yang belum juga aku pahami kemisteriusannya hingga detik ini,” kali
ini Dewan memberanikan diri untuk menatap mata kawan-kawannya untuk mengetahui
reaksi dari cerita panjangnya itu. Binsar tak ragu membalas tatapannya tapi
Tristan terkesan gelagapan mencari perlindungan lagi.
“Kawan, hidup adalah perjuangan, aku yakin semua orang sepakat akan hal ini.
Kita perlu mempersiapkan segala amunisi dan logistik untuk mengarungi medan
pertempuran masing-masing agar tidak mati konyol atau terdampar pada pojokan
gelap kehidupan. Ada saatnya kita berkata, ya, sudah saatnya kita berdiri lalu
berjalan mencari jawaban atas misteri sistem kehidupan yang belum kau temui
hingga saat ini hingga berwujud kegelisahan, mencari, dicari, carilah! meski
tak kau temui tetapi sesungguhnya proses pencarianmu itulah jawaban itu. Oh
maaf, setidaknya hal itu yang sedang kulakukan kawan, mungkin saja bisa sama
untuk dirimu, bisa saja karena kita sama-sama pelarian, bukan begitu kawan
Tristan!” Tristan hanya mengangkat cangkir kopinya.
Pembicaraan mereka beralih pada perjalan hidup Binsar yang membuat perut mereka
terkocok hingga kaku dan mereka tertawa terbahak-bahak. Mereka bertukar alamat,
nomor telpon bahkan email tradisi lama bagi para penjelajah alam sebagai tanda
pertemuan mereka kali ini merupakan sebuah awal perjalanan panjang bersama dan
seakan berikrar suci akan melakukan petualangan bersama di masa depan. Sisa
pertanyaan diskusi panjang masih menunggu untuk dikeluarkan tapi malam
terlanjur larut, rasa letih mereka memaksa tubuh untuk takluk pada rasa kantuk,
berharap jiwa gelisah hilang terbawa angin laju kereta api yang menembus
kegelapan malam alam pasundan. Mentari pagi menyentuh kelopak mata Pras,
Tristan dan Dewan tapi mereka tak menemui sosok Binsar, pada jaket mereka
terdapat bungkusan nasi rames panas dan termos stainless steel setinggi empat
puluh senti terselip di bagian samping ransel Tristan sudah terisi penuh lagi,
dia tahu ini hadiah spesial untuknya. Mereka saling bertatapan, tersenyum dan
berkata
“Dasar lelaki tua eksentrik bernama Binsar!” tawa lepas keluar dari mulut mereka.
Tristan berteriak mengacungkan termos kecil itu,
“Oooii, orang tua, kami anak muda ini berterimakasih, bangsaaattt!!!” Dewan
tersenyum geli namun dalam batin Pras masih menyisakan misteri, dia merasa ada
benang semrawut yang kedua ujungnya akan bertemu antara Pras dan Binsar.
Derit roda kereta api berhenti pada stasiun kereta api Kota Bandung. Dewan
masih harus melanjutkan perjalanannya, Tristan sudah merengek untuk segera
menuju BIP, Pras memberi menyetujui dengan syarat mandi dulu.
“Ini Bandung Bro! jangan samain dengan Jogja dong, katanya mau liat-liat cewek
Bandung, mandi dulu abis itu sarapan, oke! Sayang kan nasi bungkus dari oom
Binsar, Gak lama kok, lagi pula BIP masih sepi jam segini,” Tristan akhirnya
sepakat karena sisa pencernaan semalaman memaksa untuk segera terbuang.
Tristan sibuk dengan pilihan lagu-lagu Punk yang dibuat secara indie-label, dia
jadi tertarik dengan filosofi Punk setelah membaca novel Dewi Lestari bahkan
dia yakin akan bertemu Bodi di Bandung ini, parahnya lagi Tristan akan
memangkas habis rambutnya mirip Bodi, kalau bisa Bodi sendiri yang bersedia
menggunduli kepalanya yang asimetris itu belum lagi bekas luka tahun baru lalu,
entah apa jadinya orang ini nanti. Ahh bekas luka tahun lalu berarti
mengingatkan dirinya pada sosok Genta. Pras memindahkan memory card
pindah pada card reader masuk kedalam laptopnya, hari ini dia harus memenuhi
janjinya pada Ratri untuk mengirim email cerita perjalanan mereka. Dipilihnya
foto-foto hasil jepretan Nikon, anehnya tidak ada yang menampilkan wajah Binsar
dengan jelas, yang ada hanya siluet, tertutup tangan ketika menggambarkan
maksud pembicaraan, tertutup cangkir kopi dan beberapa hasil yang tidak fokus.
Beruntung mall BIP ini memiliki fasilitas hot spot, Pras leluasa
mengakses internet tanpa harus keluarkan biaya, entah ada berapa rupiah dalam
dompetnya, duduk pada deretan meja restoran siap saji waralaba dengan mascot
badut ini bukan berarti harus memesan menu dari situ, Pras pun tetap dengan
cueknya meski meja sebelahnya dilap berkali-kali, dia tau itu salahsatu
strategi agar dia tidak nyaman dan pergi dari meja itu. Email telah terkirim,
laptop ditutup lalu berpindah kedalam ranselnya, Senyumnya mengembang. Just
like you said to me, Ratri; “You are single until you decide you are. Just
until you decide.” Yap, kamu benar! Aku pun meng-amini ucapanmu, at the
end I am taking care of my self! So, perjalanan ini bukan pelarianku, hanya
sekedar kembali pada titik awalku.
Dengan polosnya Pras bertanya pada pelayan restoran siap saji itu, “Kang, kalau
yang jual nasi kuning dimana ya? Saya gak biasa makan sampah euy!” haram
baginya memakan junk food, si pelayan dengan muka masam menjawab tidak tahu.
Pras tidak peduli lagi pula dia sudah sarapan nasi bungkus pagi ini.
Perasaannya jauh lebih ringan.
Kaloran Pena, Medio June 2008
(Rubbish! Everybody has bad times. Don`t give up... adalah ucapan peringatan
seorang kawan terbaikku (Eve) saat aku terpuruk !)