Senin, Oktober 19, 2009

Terpisah diantara dua Carrefour (baca: terjajah oleh bentuk kolonialisme baru Perancis)

Malam ini (Minggu, 18 Oktober 2009 pukul 20.30an) Aku janjian ketemu dengan Kika Syafii (KS). Waktu dan tempat telah kami sepakati, maka meluncurlah kami ke titik pertemuan. Aku sudah di Tangerang, begitu juga KS. Aku sudah di depan Carrefour, begitu juga KS. KS bilang sudah di halaman parkir, begitu juga Aku. KS kasih deskripsi tentang kendaraan yang dia gunakan; mobil pick up Panther warna hitam, kudekati mobil pick up Panther hitam.. mobil bergerak lambat. Lewat komunikasi handphone kukatakan, “aku sudah lihat mobilmu, jangan bergerak! coba berhenti” handphone kumatikan, aku bergerak menuju mobil pick up Panther hitam itu tapi mobil hitam itu terus melaju cepat! Aku terdiam bengong setelah teriak-teriak melambaikan handphone yang sengaja kuangkat agar terlihat tanganku dengan nyala layar handphoneku tapi mobil pick up Panther hitam itu terus melaju semakin cepat. Ku SMS, KS (sialan) itu sambil menggerutu dalam hatiku; “kukejar koq malah bablas trus!” tak lama handphone berdering, “itu bukan mobilku!” Oaaalaaaahhhhhhhhhh…. Biyung…biyung.. tobat..tobat.. makan soto campur babat!!!!! ternyata Aku di Cikokol sementara KS di Pamulang meskipun kami sama-sama di depan Carrefour...Juancukk!!!!


Hehehehe…. Aku tertawa sejadi-jadinya bahkan ade sepupuku yang menunggu di kedai roti bolong Dunkin Donut (DD) tertawa puas melihat abangnya terlihat keringetan masuk DD (situ pikir ngejar mobil di halaman parkir kagak capek apa!) Begitulah dahsyatnya gaya penjajahan Perancis terbaru ini. Carrefour ada dimana-dimana... bayangkan jika Aku dan KS janjian bertemu di Alfamart (yang juga ‘milik’ Carrefour setelah berhasil meng-akuisisi Alfamart) bisa di setiap tikungan jalan tuh...hahaahahaa..


Mari kita lihat cuplikan data menarik yang kami copy dari artikelnya http://antinekolib.blogspot.com dan (kemudian) kami posting (kembali) dalam blog forum diskusi kami pada http://babadbanten.blogspot.com/2009/08/carrefour-sudah-monopoli.html


“……Dengan mengakuisisi Alfa, berarti Carrefour sudah memiliki 58 gerai, sebuah kekuatan besar dalam industri ritel Indonesia. Bila digabungkan dari segi pendapatan, Carrefour sebesar Rp 7,2 triliun dan Alfa sebesar Rp 2 triliun, itu sudah menjadi Rp 9,2 triliun. Sedangkan jumlah gerai hypermarket Giant adalah setengah dari jumlah outlet Carrefour dan Hypermart.


Paska akuisisi Alfa oleh Carrefour, kesenjangan omzet Carrefour melampaui sangat jauh dari pesaingnya, yakni Ramayana yang hanya memiliki omzet Rp 4,8 triliun pada tahun yang sama.”…….

Endonesa-ku tak sadar sedang dijajah oleh kolonialisme model baru-nya Perancis... mati sudah kejayaan warung-warung kecil milik entrepreneurs sejati Endonesa jika rakyatnya bangga melenggang keluar-masuk Alfamart walau hanya sekedar membeli sebungkus kecil kwaci matahari ketimbang membeli di warung reyotnya milik Mbok Surti!


Forum diskusi kami (babad banten) tengah mengkaji secara akademis mengenai Pembangunan Carrefour yang berdiri megah tepat di jantung Kota Serang. Entah bagaimana historisnya bagunan Carrefour itu dapat berdiri tegak tepat dipersimpangan jalan protokol kota tercinta kami ini? Entah siapa yang memberikan ijin pembangunannya? Mengingat Kota Serang barulah seumur jagung (setelah mendapatkan persetujuan pemekaran sebagai Kota baru sehingga terlepas dari Kabupaten Serang, induknya ini), begitu cepatnya kinerja Anggota Dewan dan Pemerintah Kota Serang yang baru ini dalam membuat regulasi pendirian bangunan Carrefour padahal masih banyak sekali yang harus dipikirkan terlebih dahulu (sekedar gambaran saja, jarak antara Gedung Pemerintahan Kota Serang dan Carrefour hanya berseberangan saja diantara persimpangan jalan protokol!!), bahkan tata adminstrasai dan sumber daya aparatur kota saja masih amburadul, banyak pegawai yang mengeluh belum mendapatkan honorarium dan gaji mereka setelah dimutasi ‘paksa’ dari instansi Kabupaten Serang kepada instansi Kota Serang.


Seyogyanya produk hukum daerah yang telah terbit harus terlebih dahulu masuk dalam Program Legislasi Daerah (Prolegda), jika melihat dari usia Pemerintahan Kota yang seumur jagung berdasarkan UU Nomor 32 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kota Serang maka Menteri Dalam Negeri Mardiyanto meresmikan kota pemekaran, yaitu Kota Serang, Provinsi Banten, pada tanggal 2 Novenber 2007 bersamaan dengan Kabupaten Pesawaran, Propinsi Lampung maka sungguhlah luar biasa para pemimpin pemerintahan yang baru ini karena sudah berhasil mendirikan pusat perbelanjaan setaraf Carrefour dalam waktu singkat.


Seyogyanya (lagi) setiap produk hukum yang akan terbit haruslah terlebih dahulu mempertimbangkan aspek filosofis, sosiologis, hukum dan juga perlu mempertimbangkan prioritas produk hukum mana yang terlebih dahulu penting untuk dipikirkan, pemerintah juga harus mempertimbangkan bagaimana efeknya terhadap pasar-pasar dan toko/warung tradisional. Tempo interaktif memotret fenomena ini “………..Kondisi itu terjadi setelah Pemerintah Kota Serang mengeluarkan Peraturan Walikota Nomor 157 tahun 2007 yang tidak membatasi jumlah dan jarak ritel modern di pusat kota………” maka dapat dibayangkan betapa banyaknya warga Kota Serang bangga keluar-masuk Alfamart dan sejenisnya meski tubuhnya hanya dililit handuk hanya untuk membeli sabun mandinya yang habis, mereka hanya melangkah kedepan rumah padahal di sebelah kanan-kiri ada warung Ibu Hajah Jup dan warung-warung kecil lainnya yang tersisihkan sejak munculnya alfamart dan sejenisnya yang tumbuh subur di hampir setiap 30 meter!!!


Saya dan beberapa kawan (Heru W, Diqbal S dkk) tengah merintis forum diskusi BABAD BANTEN (www.babadbanten.blogspot.com) yang coba menggali kembali kearifan lokal kampung halaman kami tercinta ini (baca;Banten). Sekedar cerita anekdot miris yang biasa saya lontarkan ketika kami berdiskusi berlama-lama hingga menghabiskan beberapa liter kopi dan entah berapa bungkus rokok yang menjadi pasokan energi mulut kami yang (alhamdulillah) tak pernah berbusa. Begini ceritanya, jika saya tiba-tiba diculik lalu mata saya ditutup rapat dan dibius pula, kemudian saya dibawa entah kemana namun setelah saya tersadar dari pengaruh bius itu maka saya dapat menerka bahwa saya telah berada di Bali, meskipun saya tak mengetahui rute yang saya lalui, penutup matapun belum saya buka dan tidak ada seorangpun yang memberitahukan kepada saya, karena saat itu saya sudah merasakan atmosfernya Bali, saya sudah mampu membuat kesimpulan saya tengah berada di Bali walau hanya dipandu oleh hidung saya terlebih saya diyakinkan oleh telinga saya yang mendengar alunan musik khas Bali.


Mari kita lihat perbandingannya, jika anda berangkat dari Bali menggunakan pesawat maka anda akan mendarat di bandara Soekarno-Hatta, dari Bandara anda menggunakan taxi melewati daerah Pintu Air lalu Cikokol, hingga daerah Blaraja terus melaju melewati gerbang kota dan sampai pada alun-alun Kota Serang, anda telah memastikan diri anda tidak tertidur sedetikpun sejak dari bandara hingga alun-alun kota tapi anda (bisa saja) akan berkata “Saya berada dimana sekarang?” Perlu diingat bahwa Bandar udara Internasional Soekarno-Hatta berada dalam wilayah Tangerang, which is bagian dari Propinsi Banten tapi adakah nuansa Banten-nya? Atau anda masih merasakan berada di Bali (perhatikan ornament gerbangnya, dll). Kampung halaman kami telah kehilangan warna aslinya tapi di sisi lain kampung halaman kami tidak terkena imbas perkembangan pembangunan yang optimal dari Ibu Kota Negara, mengingat dekatnya jarak Jakarta-Banten, orang Jawa bilang “mung sak plentingan tok!” Hanya sekali tarik ketapel maka batu yang dilontarkan dari Banten dapat mengenai pucuk Monas! (jika yang main ketapel Samson mungkin..hehehehe).


Kisah sedih di hari Minggu (kayak judul lagu yak!) yang saya alami baru saja ini, hingga saya tidak jadi bertemu kawan KS, mungkin saja campuran cerita ironis-dagelan-keidiotan saya-miss communication kami-atau kebingungan kami dalam rimba neo-kolonialisme Perancis!


Maaf saya telah menghabiskan waktu anda karena telah membaca tulisan ‘gado-gado’ (mungkin tak berguna) ini tapi mari kita pertimbangkan kembali “mana lebih baik;


  1. membeli kwaci matahari seharga Rp. 500,- dapat bonus kantong plastic dan senyum kompak-ramah pelayan Alfamart, atau
  2. membeli kwaci matahari seharga Rp. 550,- yang gak ada kembalian Rp. 50 karena anda membayar dengan Rp. 600,- di warung Bang Udin?


The choice is in your hands. Mitra kasih..eh Terimakasih!



- Koelit Ketjil, 18-19 Oktober 2009-

also posted in; http://babadbanten.blogspot.com/2009/10/terpisah-diantara-dua-carrefour-baca.html

1 komentar:

apa yang ada dikepalamu? apa yang menyumbat tenggorokanmu? apa yg membekukan jari-jarimu?... LONTARKAN!!