Minggu, Mei 15, 2011

Warna Senja Drupadi... (lanjutan)

130189463635230114

**** pastikan kawan telah membaca http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2011/03/26/warna-senja-drupadi-dua-kepala-dua-jiwa-melebur-dalam-satu-tulisan/
sebelum membaca tulisan lanjutan ini. trimakasih-mitrakasih ****

“Jangan..jangan pagi Kau hadirkan biarkan malam terus berjalan. Jangan..jangan mentari Kau terbitkaaannn!!!” Suara lantang Si Inyong dengan gitar kencrungnya , pilu menyanyikan lagu Iwan Fals, kurasakan nadi hidupnya tergores oleh bilah kenyataan, telak mengingatkanku betapa keparatnya malam ini. Seolah kota mati yang dikutuk oleh ancaman radiasi nuklir, begitu senyap, kendaraan pun hanya satu-dua yang melintas, itupun hanya mobil pick up pengangkut sayur mayur menuju Pasar Beringharjo, melintas dari utara membelah kabut sepanjang jalan Mangkubumi yang bisu. Tersenyum ke arahku penumpang perempuan tua di belakang pick up di antara tumpukan kacang panjang dalam balutan jarik pelindung angin malam yang menghantam tubuh rentanya, sementara belasan batang puntung rokok dengan merk dagang Jambu Bol tandas kupijaki dengan geram di depan pintu perlintasan kereta api, rel ini yang menjadi batas Jalan Mangkubumi dengan Jalan Malioboro, rel ini pula tapal batas kesabaranku.



Mas Don, seniman gondrong itu melambaikan tangannya ke arahku, jalannya terlampau gontay, sudah pasti tak kan menggunakan jasaku yang beberapa bulan ini kerap menjadikanku sebagai pelampiasan derita sejak kekasihnya pulang menuju negara asalnya, beternak kangguru barangkali, selalu itu yang dia racaukan setiap kali kesadarannya direbut oleh Lapen. Rembulan saja enggan menampakan wujudnya, Aku pasrah dalam gelitik gerimis yang membasahi wig a la Krisdayanti, melunturkan make up afkir pada setiap senti wajahku. Kubanting wig ku pada genangan air, baiklah kali ini Kau menang memainkan nasib kami, kepalan tanganku yang membumbung angkas dibalas dengan kilatan petir. Semakin Kau tunjukan kuasaMu! Ahhh, aku hanya mahluk yang jelas tak diterima dalam kontruksi kesepakatan-kesepakatan manusia yang mengaku beradab, aku pula yang mungkin tak kan diterima oleh bumi mana kala dipendam tubuh hina ini, dimuntahkannya aku kembali pada permukaan, bisa jadi, bisa saja! Dan Kau… ahh, mungkin Kau pun ragu `kan menempatkanku pada barisan mana ketika semua ciptaanMu berkumpul di hampar padangMu.


Diam-diam kugumamkan lantunan lagu tadi pada pojokan gedung bank berwarna biru yang mendominasi ini, sekedar pengusir rasa dingin tanpa sebatang pun rokok yang menjadi penghanggat tubuh ini, setidaknya bibir ini. Drupadi, lihatlah dirimu yang terkapar pada pojokan jalan, ooo… diri yang sering kali menjadi primadona jalanan yang kadang membuat iri para penggoda jalanan berwujud asli karena setiap para tergoda jalanan lebih memilih tubuh silicon ini. Maaf rekan kerja, sudah berulang kali ku sarankan agar kita menggunakan strategi, optimalkan segala kemampuan yang kita punya, mulut ini tak hanya berkemampuan menyedot, menjilat, menggigit gemas atau mengeluarkan erangan belaka. Mereka para tergoda tak lebih dari seorang bocah yang terjatuh gulali kapasnya lalu berlarian menangis pada ketiak bundanya, merengek minta dibelikan kembali, tak lebih dari itu! Mereka butuh tempat memuntahkan segala penat, stress, kemuakan, kemurkaan tamparan hidup, biarkan mereka menetek pada dada berkarat ini, biarkan mereka mengigau sedang kita hanya memanfaatkan derasnya kata-kata yang keluar dari mulut bergincu tanpa perlu mempertebal kembali selepas kita bekerja.


Ooo, Drupadi, primadona tanpa pemuja di malam gigilkan sendi-sendi tubuh haus belai, tak ubahnya kau serupa pengkotbah pada mimbar kosong sementara umat telah berhaluan pada tuhan baru, uang! Satu lagi kesepakatan manusia yang memperbudak manusia itu sendiri, mereka memuja lembaran itu sekaligus dihela oleh pecutan nilai tukar yang sulit kali untuk sebanding atas jerih payah. Ooo, Drupadi, warna senjamu yang segar kian meredup mana kala mentari siap tampilkan berkas sinar serupa panah Srikandi yang melesat berpinak ribuan anak panah siap menghujam askar Kurawa tak bertameng.


Tak lagi kupedulikan deru motor terparkir di depan gedung yang sama tempat ku berteduh. Pengendaraan itu berlarian kecil menaiki anak tangga kemudian masuk pada kotak kaca, hanya berjarak setengah meter saja lemari berisi uang itu dari titik dimana aku mendekap lutut-lutut menggigilku, apa dayaku yang tidak memiliki kartu ajaib yang mampu mengeluarkan uang dari lemari itu. Kudengar mesin itu mengeluarkan gemuruh onderdilnya yang berputar lalu suara peringatan “bippp…biippp..biipp” memekakkan telinga yang sedari tadi tak mendengar denting koin rupiah yang tersodorkan untuk diri ini.


“Supardi! Kamu Supardi, bukan?!!” Ahh, nama itu sudah lama ku lenyapkan bersama Kartu Tanda Penduduk yang kubakar di depan gedung yang katanya milik rakyat itu bersama ratusan kawan senasib yang tak lagi dipedulikan akan kehadiran diri kami ini sementara mata mereka menatap nanar ke arah kami sekaligus melirik buas mana kala nafsu mereka bergelora, sementara kami berjalan pada bumi yang sama justru mereka meludah jijik pada kami tapi ujung mata mereka menikmati gerik resam tubuh ini sedetik setelah itu, sementara kami berbahasa yang sama namun mereka kerap sajikan cela-maki-cerca-umpatan-fitnah saat mereka melupa mulut usil mereka kerap bersiul genit.
Nama itu sudah tidak ada! Sudah bukan lagi namaku! Aku, Drupadi yang telah meruntuhkan setiap rangka konstruksi sosial lewat bisikan setiap sosok perkasa ratusan Ksatria Pendawa masa kini yang melingkar nyaman dalam candu peluk dan bius gincuku. Namaku Drupadi!! Supardi telah ku kubur hidup-hidup beserta sifat kepengecutan lahiriahnya! Lebih baik mati jika aku takut hidup, maka kubunuh Supardi demi memberi nyawa Drupadi. 


Kuhardik mata si penyebut kata itu, yaa, hanya kata bagiku kini. Ku tentang tubuhnya, postur badannya tak jauh berbeda dengan milikku. Pemuda itu melepas helm dan syal penutup wajahnya, terpaan sinar merkuri dan nyala biru mesin lemari uang memperjelas wajahnya. Kaki-kakiku melumpuh seketika, kini aku bersimpuh pada kedua lutut yang kuharapkan mampu menopang tubuh gigil oleh lapar dan dingin menusuk. Menggelepar aku oleh tikaman masa lalu dan detik kini yang datang menombak ulu kenyataan.


“Believe me it hurt my friend. Really hurt to know that you still alive but… buttttt….” Lehernya tercekik tatapan mataku, kata-katanya tersumbat oleh wujud diri ini. Demi tembok Berlin aku berlindung pada hembus asap rokok sebagai perisai malu, menunduk dalam oleh gelayut tetes air mata yang semakin menegaskan keabadian hukum gravitasi. Aspal hitam menggenangkan air mata ini, kearah situ pula wajah ini tenggelam gelagapan meronta-ronta menggapai apa pun tuk dijadikan pegangan kesadaran.


“Believe me, you don`t want to know my life line…” Kau berharap aku mempercayai ketidak percayaanmu maka aku pun berharap kau paham bahwa kau seharusnya tidak ingin mengetahui ini semua, kawan. 

(bersambung lagi karena nunggu balasan kawan Zee Noor)

1 komentar:

apa yang ada dikepalamu? apa yang menyumbat tenggorokanmu? apa yg membekukan jari-jarimu?... LONTARKAN!!