Senin, Maret 16, 2009

Bahkan ”Z” jarang sekali kugunakan

Tiga puluh menit dua puluh tiga detik!

Tarianku terhenti diantara huruf alfabetik

Terpaku oleh kata, terpasung pada semantik

Bunga ide kembali kuncup kala realita bertahta

Binasa sudah gelora semangat tandas tanpa sisa


Kupunguti mereka yang terserak dari kulit kepalaku

Serupa ketombe! Ada ”M”, ada juga ”P”, ”G”, ”R”, ”W”, ”S”, ”Z”

Akan kuapakan konsonan ini!

Bahkan ”Z” jarang sekali kugunakan


Kemudian muncul ”jelaga”, ”prasasti”,”nirmala”, .......

Lantas mengapa harus kucari padanan kata?

Berpikir keras untuk mencari rima

Sialan! Untuk apa??


Tiba-tiba saja hadir Wiji Thukul, berteriak;

“apa yang berharga dari puisiku // kalau ibu dijiret utang?” *


Masih kupandangi mereka yang terserak

Akan kuapakan mereka?

Bisakah kumpulan alfabetik tak berbentuk ini kutukar beras?

Atau berubah wujud menjadi nikotin dan kafein?

Kupunguti mereka yang terserak

Kusebar kala angin bergemuruh

Melayang bebas serupa gerombolan virus

Virus alfabetik!

- Desa Kaloran Hajah Zaenab, 15 Maret 2009-


* setelah kucari-cari bukunya, secara lengkap kuhadirkan puisi Wiji Thukul;

Apa yang berharga dari puisiku

Apa yang berharga dari puisiku

Kalau adikku tak berangkat sekolah

Karena belum membayar SPP

Apa yang berharga dari puisiku

Kalau becak bapakku tiba-tiba rusak

Jika nasi harus dibeli dengan uang

Jika kami harus makan

Dan jika yang dimakan tidak ada?

Apa yang berharga dari puisiku

Kalau bapak bertengkar dengan ibu

Ibu menyalahkan bapak

Padahal becak-becak terus terdesak oleh bis kota

Kalau bis kota lebih murah siapa yang salah?

Apa yang berharga dari puisiku

Kalau ibu dijiret utang?

Apa yang berharga dari puisiku

Kalau tetangga dijiret utang?

Apa yang berharga dari puisiku

Kalau kami terdesak mendirikan rumah

Ditanah-tanah pinggir selokan

Sementara harga tanah semakin mahal

Kami tak mampu membeli

Salah siapa kami tak mampu beli tanah?

Apa yang berharga dari puisiku

Kalau orang sakit mati dirumah

Karena rumah sakit yang mahal?

Apa yang berharga dari puisiku

Yang kutulis makan waktu berbulan-buan

Apa yang bisa kuberikan dalam kemiskinan

Yang menjiret kami?

Apa yang telah kuberikan

Kalau penonton baca puisi memberi keplokan

Apa yang telah kuberikan

Apa yang telah kuberikan?


Semarang, 6 Maret 86



Kali ini kugunakan ”Z”

Zzzz..............zzz...

Zzzzzzzzz......... zzz...

zzz... zzz... zzz...

Zzzzzzzzz......... zzz...

Zzzzzzzzz......... zzz...

............zzzzzz.................


Wake up! Sun shining bright!!!


Hhhoooaammmm…nyemm…nyemmm….

“Ah! Celanaku basah!!!”

Senyum mengembang, mengambil shampoo

Hhhoooaammmm…nyemm…nyemmm….

………………

- Desa Kaloran Hajah Zaenab, 15 Maret 2009-

Jumat, Maret 13, 2009

Alam gambarkan wajahmu
Rautmu tenang dalam tipis bayang awan
Selepas senja, warna ini auramu
Selepas senja, harapku akan kenangan

Sampai detik ini kalut pikir tetap bergejolak
Entah atas apa getarnya melata lambat
Menjadi ragu,
Membatu khawatir

Pesan alam tak jernih
Kala kalut bungkam akal
Terikat pada tonggak
Gelisah

Sukma yakinkan diri
Cepat kepakan sayap itu

Ikarus Terbang dengan Sayapnya Sendiri




“Kamu dimana sekarang Rus?” 

Dari layar kecil telepon genggam via video call kulihat wajahnya sendu seperti memendam sesuatu. Wajahnya kusut, matanya memerah berkaca-kaca, air mata yang mengalir keluar dari sudut matanya langsung mengering, jelas terlihat tiupan angin begitu kencang menampar wajahnya. Rambut panjang ikalnya beterbangan bebas, sesekali menutupi penuh wajahnya ketika menunduk. Aku masih menerka-nerka dimana kawanku sekarang ini? Rangka-rangka baja berwarna merah kulihat beberapa kali menjadi back ground sebagai petunjuk keberadaannya, tapi kutepis rasa curigaku karena memang kawanku yang satu ini paling aneh diantara kawan-kawanku yang lainnya, pernah dia menelpon tengah malam dengan ekspresi wajah seperti menahan rasa sakit demikian hebat, rupanya dia hanya ingin memberitahuku bahwa dia tengah berada di dalam toilet sedang buang air besar!

“Raka sahabatku, tolong nanti kamu kasih tahu secara langsung rekaman pembicaraan kita ini pada Astuti, ingat langsung kepada Astuti! Aku percaya kamu bisa menyampaikan ini!” wajahnya menoleh kearah kiri, tangannya sesekali menyibak rambut yang berhamburan menutupi sketsa tulang rahang tegasnya, sekilas karakter wajahnya sangat cocok dengan kriteria Natural Born Criminal sebagaimana teori Lombosso, kemudian dia menunduk lama. ”Rus, apa sih maksud kamu telpon aku subuh-subuh gini?” aku masih harus mengumpulkan sisa-sisa jiwa, ruh dan atmaku yang masih melayang-layang di batas dunia mimpi dan kenyataan. Lima belas menit lalu kudengar adzan subuh. Semburat warna merah langit pada latar belakang Ikarus menegaskan bahwa hari ini matahari belum sepenuhnya muncul di ufuk timur.

Ada delapan belas kali panggilan masuk yang tidak sempat kujawab, nomor yang sama dengan penelpon yang sedang kulayani pertama kali setelah bangun tidurku yang hanya sekitar empat jam saja dari nyenyak tidurku. Awalnya si penelpon memprotes aku karena setelah ke sembilan belas kali usahanya menelpon baru berbuah hasil, itu pun aku belum sepenuhnya sadar. ”Sebentar Rus aku mau nyalain dispenser dulu ya! Kamu mau kubuatkan kopi juga?” senyumku menggoda pada kawanku yang juga penikmat kopi hitam, hanya dibalasnya dengan menunjukkan termos kecil terbuat dari stainless steel tempatnya menyimpan kopi. Kepulan asap yang membawa harumnya aroma kopi arabika yang teracik kental dengan sedikit gula pasir pabrikan Madukismo. Aku siap berbincang denganmu wahai Ikarus!

”Kenapa aku harus merekam pembicaraan ini Rus?” seruput kopi panas bisa kuterka dapat memprovokasi dirinya untuk melakukan hal yang sama, mencecapi air hitam caffein kental dan kepulan tembakau beracun nikotin, dua jenis `narkotika` yang masih diterima masyarakat. Termos berbentuk lonjong seperti botol tak berleher itu dibuka, kopi hitam yang terjaga panasnya dalam suhu ruang termos masih juga terlihat mengeluarkan uap aroma, Ikarus mengangkat tutup termos yang digunakan sebagai cangkir, memberi simbol toast! Senyumnya sedikit merekah setelah membiarkan cairan kopi mengalir dalam tenggorokannya. Tangannya memijiti sebatang rokok kretek bermerk deretan tiga angka, sebuah prosesi ritual khas bagi penikmat tembakau racikan rahasia fatsal sembilan.

”Hey tumben `kali kau ini menelepon lambat seperti ini! Biasanya kau hanya menelepon dengan durasi beberapa detik saja, itupun dengan perintah tegas. Rupanya banyak pulsa kau hari ini! Pake video call segala lagi! Ckk…cckk…ckk” entah jin apa yang merasuki tubuhnya yang sudah tidak lagi mengenal adanya dogma agama dalam hidupnya, tidak seperti biasanya kutemukan raut wajah sendu itu. Ikarus adalah tokoh sentral dalam setiap diskusi atau sekedar obrolan ringan diantara kawan-kawan, kelakar konyolnya yang khas diantara pisau bedah analisis sosialnya mendominasi dalam setiap mimbar diskusi malam kami. “Raka kawanku! Pernahkah kau memikirkan jika seluruh anggota Srimulat, Benyamin S, Charlie Chaplin, Mr. Bean atau Komeng tiba-tiba menuntut semua penonton yang pernah tertawa akibat kelakar mereka dengan tuntutan agar membuat mereka tertawa ketika mereka sedang sedih?” tatapan mata kawan akrabku tiba-tiba menajam dan bibirnya bergetar menghembuskan asap nikotin.

Aku paham maksud pembicaraannya, “Wahai Ikarus putra nusantara dari belahan timur laut, berapa tahun kita berkawan? Pernahkah satu detikku menyia-nyiakan dirimu tertelan dalam kesedihan? Adakah noktah rahasia diantara kita? Untuk apa kamu bangunkan Chaplin dan Benyamin dari alam damai mereka hanya untuk menuntut keceriaan di hadapanku?” lagi-lagi kepalanya menunduk berat patuh pada hukum gravitasi. Tak kulihat lewat layar kecil telepon genggamku, kepalanya tenggelam beberapa detik kemudian muncul dengan derai air mata yang tersapu hembusan angin keras yang menerbangkan rambut panjangnya. Ada apa dengan kawanku ini?

”Bukankah kau sendiri yang sering berkoar-koar dalam berbagai mimbar malam kita bahwa kita bukan lagi dalam ikatan persahabatan tapi lebih dari itu, kau juga yang sering mengutip kata-kata para filosof yang hidup dalam otakmu itu. Aku ingat betul kau pernah mengutip Nietzche sang Zarathustra bahwa ”kerinduan kita akan seorang sahabat adalah penghianat kita” kau pasti ingat itu kawan. Untuk apa kau menghianati dirimu sendiri! Ayolah kawan, bicaralah!!” kedua telapak tangannya menutupi seluruh wajahnya, kurasakan ada sesuatu yang bergelora dalam batinnya tapi entah apa? Kedekatanku bertahun-tahun dengannya bukan berarti membuat aku mampu membaca perasaannya karena aku bukan paranormal. Aku hanya mampu merasakannya, baru kusadari ketika Ikarus pernah bercerita tentang ikatan batin persahabatan dengan mengutip kalimat Henry Ward Beecher `In friendship your heart is like a bell struck every time your friend is in trouble.`

Satu persatu permasalahan pribadinya yang sebagian besar kupahami keluar dari mulutnya tapi ada beberapa hal pembicaraannya yang aku tidak paham sama sekali, aku sedikit paham dengan keteguhan idealismenya dalam menilai hal-hal bersifat fundamental bagi dirinya tapi kali ini terlampau berat kurasakan apa yang ada dalam pikirannya, pengakuannya yang mengejutkanku. Berarti memang benar apa kata kawanku, tidak kuragukan lagi Ikarus mengalami gangguan psikotik. Ya aku ingat saat itu kami menghadiri diskusi rutin kawan-kawan Fakultas Psikologi, selesai diskusi kawanku Tiwi mengajakku ngobrol serius tanpa sepengetahuan Ikarus.

“Bang, kawanmu itu terlalu tinggi pemikirannya sehingga terkesan halusinatif dengan pemaparan ide-ide yang terkadang tidak sesuai dengan fakta dan realita. Mungkin terlalu dini untuk mendeteksi adanya gangguan kejiwaan dalam diri kawanmu itu tapi aku juga cukup lama kenal Bang Ikarus, semua ciri-ciri perilakunya yang terkesan aneh sudah masuk kedalam kategori terkena gangguan psikotis!” mendengar penjelasan itu emosiku cukup terpancing, akulah yang lebih mengenal Ikarus, “tidak mungkin! Kamu jangan bicara sembarangan ya?” kurasakan nada bicaraku cukup tinggi, wajah Tiwi yang sendu menjadi menunduk, cepat-cepat aku meminta maaf.

“Bang Raka, sang penderita sendiri pasti tidak menyadari akan hal ini bahkan akan dengan keras menyangkalnya, tapi kita juga sering lihat dia begitu bingung dan sering mengalami disorientasi, sering juga di kos kutemukan dia lebih memilih menyendiri padahal saat itu kawan-kawan kosnya sedang bernyanyi dan bermain gitar, dia sering mengalami anhedonia, tidak dapat merasakan kesenangan. Aku yakin abang lebih sering menemukan keanehan dalam dirinya” tatap mata Tiwi dari balik kacamatanya kurasakan sebagai tatapan analisis terhadap keadaan psikologisku. “Oke jika memang Ikarus mengalami gangguan psikotis, kira-kira dia masuk kedalam kategori manakah?” kali ini aku yang menjadi penilai dari apa yang ada dalam pikiran Tiwi, menunggu penjelasannya, berharap tidak menyebutkan istilah skizoprenia, meskipun aku tidak paham akan arti dan gejalanya. “Begini saja bang, aku akan coba mendekati Ikarus dengan caraku sendiri, bukan untuk menjadikannya kelinci percobaanku tapi untuk mengetahui what inside his mind dan menjawab kecurigaan kita.” Aku menyatakan kesepakatanku, semoga aku tidak ragu akan kemampuan mahasiswi semester akhir yang juga aktif menjadi relawan konselor bagi perempuan korban perkosaan.

Mimbar malam kami tidak lagi akan dipenuhi dengan keceriaan dan kritik sosial tajam Ikarus yang biasa mendominasi dalam diskusi-diskusi panjang kami, meskipun terkadang kami sulit untuk mengikuti jalan pikirannya yang meletup-letup, loncat kesana kemari membicarakan topik yang membuat kening kami berkerenyit. Dari pembicaraan video call itulah terakhir kali kulihat wajah kawanku tersenyum tapi kali ini tidak, dalam sebuah murde bag, kantung mayat berwarna kuning besar menutup wajahnya. Baru kuketahui secara pasti lokasi keberadaannya ketika dia berdiri memegang telepon genggamnya, dia memutar telepon genggamnya merekam keadaan sekitar dari ketinggian sekitar seratus meter dari permukaan tanah, tepatnya diatas menara penguat sinyal. Astuti masih menangis, menyembunyikan wajahnya di bahuku. Tak pernah menyangka kekasihnya mati dalam usia mudanya bahkan dengan cara terkonyol, bunuh diri melompat dari menara penguat sinyal salah satu provider jaringan selluler, tragisnya lagi Ikarus pengguna layanan itu. Aku harus berusaha keras untuk menenangkan hati Astuti yang masih dirundung duka dan penyesalan dosa atas kesalahan yang dibuatnya sehingga Ikarus menghabiskan hidup. Berkali-kali aku harus mengguncang-guncangkan tubuhnya agar sadar dan tidak larut dalam perasaan menyalahkan dirinya sendiri, kematian Ikarus memang menyedihkan tapi menyalahkan diri seolah menjadi penyebab kematiannya adalah hal lain.

Tanda tangan terakhir telah kububuhkan dalam Berita Acara Pemeriksaan yang disodorkan salah seorang petugas, penjelasan yang keluar dari mulutnya mengenai penyelidikan lebih lanjut tidak lagi terdengar olehku. Aku masih bingung, entah bagaimana caranya menyampaikan kepada pihak keluarganya yang akan datang dari Nusa Tenggara Timur esok lusa, sialnya aku menjadi orang terakhir yang mengetahui keberadaannya. Belum lagi sudah kubayangkan akan mendapat cecaran pertanyaan dari kawan-kawan bahkan untuk menjelaskan kehadapan Astuti saja aku belum sanggup, dia berhak lebih tahu dibanding siapapun. Kupeluk tubuhnya erat sebagai tanda dukungan mental begitu dia memasuki ruangan untuk dimintai keterangan oleh petugas. Kubisikan kata-kata yang biasa diucapkan Ikarus jika menghadapi kekasihnya yang tengah bersedih. ”Tenang saja, seberat apapun permasalahmu, aku akan berada disampingmu.”

Ikarus haruskah aku menjadi pengkhianatmu sekali ini? Sebuah wasiat pahit dan berat telah kau titipkan padaku Ikarus, aku tak sanggup memberikan rekaman ini! Aku masih menimang-nimang telepon genggamku, sudah dua minggu setelah kejadian itu tapi aku masih belum berani memutar ulang rekaman terakhir kami. Sore hari Tiwi datang, membawa kertas-kertas hasil pendekatan terakhirnya dengan Ikarus. Penjelasan Tiwi seolah terdengar begitu jauh meski dia hanya duduk dihadapanku, lembar-lembar yang kutatapipun tidak juga kutemui titik pahamnya: Wechler Adult Intelligence Scale, Minnesota Multiphasic Personality Inventory, Bender-Gestalt Test, Rorschach Test, entah apa ini semua. Aku masih melihat bibir Tiwi bergerak-gerak tapi tidak terdengar sedikitpun kata yang keluar dari situ, kepalaku berdenyut menghasilkan pening luar biasa. ”Wi, sepertinya aku memerlukan kopi hitam panas! Bersediakah kamu menemani aku?”

Masih lekat dalam ingatanku senyum terakhir Ikarus yang begitu lepas. Wajahnya kembali terlihat dengan ekspresi penuh kemantapan hati atas keputusan yang telah diambil, aku hanya bisa berteriak berkali-kali agar Ikarus mengurungkan niatnya tapi tiba-tiba citra dalam layar telepon genggamku bergerak cepat. Sempat kulihat beberapa detik wajah kawanku itu masih menghadap kearah kamera kecil pada telepon genggamnya, mengucapkan salam terakhir kemudian dia melepas telepon genggamnya, dari telepon genggam yang melayang dibelakangnya kulihat Ikarus meluncur deras merentangkan tangannya, Alis volat propriis, dia terbang dengan sayapnya sendiri, patuh terhadap hukum gravitasi, kemudian telepon genggam itu hancur berderai menghantam keras bebatuan gunung hanya sepersekian detik setelah tubuh Ikarus. 


-Kaloran Pena, 8 Maret 2009-

Jumat, Februari 27, 2009

PAIDI GOES TO JAKARTA

(sebuah tulisan ngawur-awur)

“Kulonuwun…Yem..Yem..buka toh Yem.. aku kesini bukan untuk marah lagi..Yem, mbok kamu percaya toh dengan aku, aku sudah iklas koq Yem…tenan, suweer deh… kalau itu memang sudah menjadi keputusanmu Yem, aku ndak bisa maksa kehendakku, biar aku yang mengalah, aku akui pemuda skater brondong itu jauh lebih baik dari aku yang cuma sekedar tukang parkir Malioboro, tapi aku sudah bertekad aku pasti akan jauh lebih baik kelak di masa depan. Yem sebenarnya aku kesini untuk pamit pergi ke Jakarta, besok numpak sepur (naik kereta)..” Paidi masih saja terdiam di depan pintu rumah si Iyem.



Istrinya ini minta cerai hanya karena dia tidak mampu memberikan kepuasan batin terutama urusan ranjang. Iyem selalu protes jika Paidi pulang bekerja setelah seharian jaga parkir di daerah Malioboro Yogyakarta, Paidi selalu pulang dalam keadaan mabuk dan langsung tertidur gak karuan, kalaupun tidak tertidur Paidi selalu minta jatah goyang ranjang pada Iyem dalam keadaan mabuk, sebenarnya Iyem tidak mempermasalahkan kondisi Paidi yang mabuk berat karena dengan begitu justru suaminya lebih kuat di ranjang tapi yang menjadi masalah adalah Paidi selalu menolak untuk mandi terlebih dahulu, sedangkan kerjanya seharian di lapangan parkir sudah pasti terpanggang matahari jogja yang tidak bersahabat.



Iyem pun terpaksa melayani sebagai bentuk kewajibannya sebagai istri meskipun dia menahan bau badan suaminya yang hampir mirip seperti kuda nil yang telah berendam dikubangan lumpur, terlebih postur tubuhnya tidak jauh berbeda, bisa dikatakan antara Paidi dan kuda nil seperti anak kembar identk hanya saja beda ayah dan beda ibu. Begitu parahnya bau badan Paidi sampi-sampai Iyem pernah pingsan ketika melayani Paidi, dasar Paidi pemabuk berat, saat itu justru dia menganggapnya sebagai kemenangannya di atas ranjang karena selama ini dia selalu KO lebih dulu melawan keganasan Iyem diatas ring tinju..eh diatas ranjang!

Semilir angin subuh hari bangunkan Paidi dari tidurnya, mungkin lebih tepatnya sadar dari pengaruh alkohol tadi malam. Ditangannya masih tergenggam sebotol Angur Orang tua (AO) dan dua bungkus Autan, bukan digunakan sebagai pengusir nyamuk semalam tapi Paidi lebih memilihnya untuk dijadikan campuran AOnya, dia sempat mengoplos dan mengocok campuran AO dan Autan itu dengan cara juggling layaknya gaya para bartender di café-café tapi apesnya Paidi bukanlah bartender, dia hanya tukang parkir Malioboro, walhasil kepalanya benjol tertimpa botol AO tapi yang lebih menyakitkan lagi adalah isi botol itu tumpah lumayan banyak, Paidi menyesal.



“Loh, aku kok ketiduran disini?!” Paidi baru sadar ternyata dia tertidur didepan rumah Iyem hanya ditemani botol AOnya, sejak remaja dia memang tidak bisa jauh dari botol AO bahkan prinsip hidupnya adalah “LEBIH BAIK JAUH DARI ORANG TUA DARIPADA JAUH DARI ANGGUR ORANG TUA”, Paidi bahkan mengabdaikan prinsip hidupnya itu pada punggungnya dengan bantuan Kobis si tukang tato depan benteng Vredeburg Malioboro, tapi dasar Kobis suka jahil, dia membuat tattoo dipunggung Paidi dengan tulisan besarasekali hingga penuh dibagian belakang tubuh Paidi hingga pantatnya, jadi sisi sebelah kiri tertulis ‘ORANG’ dan sisi pantat sebelah kanannya yang ada bekas bisulnya tertulis ‘TUA’, tentu saja hal itu dia lakukan ketika Paidi mabuk berat dan tidak sadarkan diri. Paidi baru sadar dia memiliki tatttoo terbesar yang pernah ada setelah selesai makan dia melepas seragam oranye kebangganya karena kepanasan, semua orang yang melihat tattoo itu tertawa tak tertahankan, terlebih saat itu sifat usil Kobis kumat lagi, maka celana Paidi ditarik kebawah hingga terlihat dua sisi pantatnya…yang belang itu dan terbacalah semua isi tattoo itu.



Paidi bangkit dari posisinya yang bersandar dipintu rumah Iyem, sisa AO dari botolnya dijadikan untuk membasuh mukanya. Dia harus mengejar kereta api Fajar Utama tujuan Jakarta, tapi karena semalam dia tidak sempat pamit langsung dengan Iyem -calon mantan istrinya-, dia pun berusaha untuk menulis pesan tapi dia tidak mempunyai kertas, dicarinya dari tempat sampah, tidak ada selembar kertaspun yang dapat dijadikan perantara pesannya untuk si Iyem, satu-satunya benda berbahan dasar kertas adalah kotak kecil bergambar kondom yang aneh sekali, ada tonjolan-tonjolan tajam seperti paku (spikes) yang biasa ada di gelang atau kalung yang dipakai anak-anak punk. Paidi menginjak-injak kotak kondom itu karena dia tidak pernah menggunakan itu, seseorang telah menggunakanya saat berhubungan dengan Iyem.



Akhirnya Paidi menggunakan kertas karcis parkir yang biasa dia gunakan untuk parkir di Malioboro, tapi karena pesan yang ditulisnya cukup panjang akibatnya dia banyak menggunakan karcis parkir yang dia tulis dengan spidol; dua alat ini yang dapat menghasilkan uang bagi Paidi selain peluit warisan Eyangnya yang juga menjadi tukang parkir waktu jaman kompeni di benteng Vredeburg Malioboro, hanya saja jaman dulu yang dia parkiri berupa sepeda onthel dan kuda yang selalu meneteskan air liur disela-sela mulutnya karena kuda tidak bias meludah!. Kali ini Paidi bingung mencari cara agar pesannya itu terbaca oleh si Iyem, mengingat dia menulisnya pada lembar karcis tiket parkir kecil-kecil dan cukup banyak, dia tidak ingin selembar karcispun hilang terbawa angin karena bisa jadi ini sebagai pesan terakhir bagi calon mantan istrinya.


Paidi tidak kehilangan akal, dikeluarkannya kotak korek api batangan dari saku seragam oranye kebangganya itu, satu persatu karcis parkir itu dia temple di sela-sela pintu yang terbuat dari anyaman bambu (gedhek) dengan bantuan batang korek api sebagai penjepit pesannya. Setelah selesai Paidi membaca kembali pesannya yang tertulis diatas kertas karcis parkir yang dijepit batang korek ditempel di pintu gedhek pintu depan rumah Iyem. Paidi harus sedikit jongkok untuk membaca akhir dari pesannya “…surat cerai sudah kutandatangani dan kutitipkan dirumah si mbok. Hari ini aku merantau ke Jakarta. Yem aku kangen tempe penyetmu… with love.. Paidi”. Paidi sempat menitikkan air mata setelah membaca pesannya yang tertulis diatas kertas karcis parkir yang dijepit batang korek yang ditempel di pintu gedhek pintu depan rumah Iyem, cukup panjang dari setinggi bahunya hingga mata kaki. Dapat dibayangkan betapa terkejutnya Iyem ketika pulang dari pasar untuk membeli keperluan jual Pecel lele dan Tempe Penyet, bukan karena isi pesan itu tapi karena pintunya berubah menjadi merah karena pesan yang tertulis diatas kertas karcis parkir yang dijepit batang korek ditempel di pintu gedhek itu.


Tekad Paidi sudah bulat! Sebelumnya memang sempat berbentuk segi tiga sama kaki tapi Paidi tidak bisa menggambar segi tiga sama kaki karena biasanya Paidi menggambar segi tiga sama tangan bukan sama kaki!, sejak SD Paidi selalu menolak jika Gurunya memberi tugas untuk menggambar segi tiga sama kaki, tidak sopan protesnya. Saat ini Paidi duduk lemas diatas sambungan gerbong (bordes) kereta api Fajar Utama Jogja jurusan Jakarta. Dia duduk menunduk persis seperti anak babi yang berjalan menunduk malu karena bapaknya babi, pikiran melayang membayangkan kisah asmara memori Indah bersama Iyem, eh salah memori Paidi bersama Iyem,-karena Iyem bukan pasangan lesbi dengan Indah. Paidi menghisap dalam-dalam asap rokok Djarum 76nya, kepalanya masih menunduk, pandangan matanya terganggu oleh seekor katak yang melompat-lompat melewati rel kereta api, Paidi jadi tertarik dengan lompatan katak kecil itu,dalam benaknya muncul pertanyaan “kenapa katak itu harus melompat melewati rel kereta api?” pertanyaan it uterus bergema di kepalanya, “kenapa katak itu harus melompat melewati rel kereta api?” Sudah habis tiga batang rokok dia hisap tapi belum juga dia temukan jawabannya, apakah hal ini merupakan wangsit dari leluhurnya? Kembali pertanyaan itu muncul di benaknya, “kenapa katak itu harus melompat melewati rel kereta api?”



Paidi terganggu dari renungan katak-nya karena seseorang yang ikut duduk di bordes bersebelahan dengannya. Kereta api Fajar Utama belum juga bergerak, hal yang bisa terjadi pada alat transpotasi umum di negeri ini, persis seperti lagu Iwan Fals “…biasanya kereta terlambat // dua jam sudah biasa..” bahkan begitu biasanya telat sampai-sampai kereta api Fajar Utama yang sama tiba-tiba berubah namanya menjadi kereta api Senja Utama tetap dengan jurusan yang sama dan penumpang yang sama karena kereta yang seharusnya jalan kala fajar (pagi) namun akhirnya jalan saat senja (sore) hari karena telat!.



Paidi memberanikan diri untuk berkenalan dengan orang disebelahnya, “Nama saya Paidi, nama mas siapa ya? Mau ke Jakarta juga ya?” tangan Paidi sudah siap dengan posisi berjabat tangan, “Oh, nama saya Pangudi R Antono tapi teman-teman panggil saya PANGERAN karena males menyebutkan nama saya yang kepanjangan”. Senyumnya manis, orang ini cukup tampan, bersih dan murah senyum, tapi Paidi tidak mau memuji berlebihan kenalan barunya ini, takut-takut jadi tertarik malah jadi homo!. Kereta akhirnya menunjukkan tanda-tanda kehidupannya, mesin mulai menderu pertanda akan berjalan, beruntung hanya telat empat jam, yah orang Endonesa selalu beruntung meski telat empat jam, beruntung karena kereta api ini tidak berganti nama menjadi Senja Utama.



Petugas mulai mengangkat tanda bulatan berwarna hijau dan meniupkan peluitnya, mendengar suara peluit dengan cepat Paidi melompat turun dari bordes dan berteriak, “yaa…kiri…kiri…terusss…teruss…” Pangeran dan orang-orang yang melihat tindakan konyol Paidi tertawa tak tertahankan karena baru kali ini ada seseorang berseragam oranye bertindak mengatur jalannya kereta api, Paidi masih belum paham kenapa semua orang tertawa melihatnya sambil menunjuk-nunjuk ke arahnya, sampai akhirnya tersadar setelah dipanggil Pangeran karena kereta telah bergerak maju.



Di atas bordes Paidi merasa malu luar biasa , entah kenapa tiba-tiba refleknya bergerak begitu mendengar suara peluit, mungkin karena kehidupannya sehari-hari yang berkutat dengan dunia per-parkir-an membuat dirinya bertindak diluar kesadarannya. Hal ini akan terjadi jika seseorang yang bias melatih dirinya dengan ilmu bela diri maka ketika keadaan terdesak secara reflek dengan cepat dia dapat memukul dan menedang seorang perampok karena otak dan ototnya telah terbiasa akan hal itu, akan tetapi hal ini sedikit berbeda jika melihat kasusnya Paidi, karena dia telah merebut kerja orang dan tidak sadar lapangan.



Pangeran menepuk-nepuk pundak Paidi memberikan dukungan moril agar Paidi melupakan tindakan memalukan tadi tapi Pangeran merasa menyesal duduk terlalu dekat dengan Paidi karena badannya bau sekali. Pangeran mulai membuka pembicaraan, “Mas tadi belum mandi ya?” Paidi menoleh kearah asal suara, “Memangnya kenapa toh mas?” Pangeran hanya tersenyum tipis, “Kalo mau pergi ya sebaiknya mandi dulu dong mas, ambunee!”, Paidi hanya mengendus-endus badannya yang dikerumuni lalat hijau, dia berpikir tidak ada masalah, biasa saja kok. Giliran Paidi yang membuka pembicaraan. “Mas tadi sebelum kereta api ini berjalan, saya dapat wangsit mas, tapi saya belum paham maksud dari wangsit itu!” Pangeran memperhatikan ekspresi wajah Paidi yang berubah menjadi serius.


Asap rokok Djarum 76 mengepul tebal keluar dari mulut Paidi yang baunya minta ampun; sisa alkohol, semur jengkol dan tongseng asu menguap bersama kepulan asap, Pangeran hampir pingsan saat itu juga. “Memangnya wangsit seperti apa mas? Kok sepertinya serius banget!” Pangeran terbawa rasa penasarannya. Paidi masih ragu untuk menceritakan wangsit yang tadi dia lihat, dia yakin hal itu adalah pesan dari leluhurnya. “Ini pasti wangsit dari leluhur saya mas, saya yakin seratus persen! Ini pasti ada kaitannya dengan kepergian saya merantau ke Jakarta numpak sepur iki (naik kereta ini)” tatap matanya membuat Pangeran tidak ragu dengan keyakinan Paidi, “Bagaimana saya bisa tahu arti wangsit itu kalo mas Paidi gak cerita”



Paidi akhirnya bercerita, “Tadi sebelm kereta ini berjalan saya diberi wangsit berupa penglihatan seekor katak yang melintasi rel kereta api dengan cara melompat, saya yakin ini wangsit dari leluhur saya. Apakah ini ada kaitannya dengan usaha saya merantau ke Jakarta ya mas? Tapi yang membuat saya tak habis pikir kenapa katak itu melompati rel kereta api menuju tempat yang dia inginkan? Nah berarti ini ada kaitannya dengan saya ke Jakarta naik kereta api bukan begitu mas?” Paidi berharap mendapat masukan dari Pangeran.



Pangeran menyalakan rokok Sampoerna Mild-nya dan menjawab pertanyan Paidi, “Mas, sebenarnya saya gak percaya dengan wangsit!” jawaban itu tidak memuaskan batin Paidi, “Tapi mas bukannya kaitannya jelas sekali, kalo kita misalkan katak itu sama dengan aku, trus aku juga sekarang naik kereta api yg berjalan di atas rel kereta api hanya bedanya katak itu melompati rel kereta api, ya toh mas?” Pangeran yang setidaknya pernah kuliah dan terbiasa berpikiran logis, tidak percaya dengan segala sesuatu berbau takhayul seperti yang diyakini Paidi, akhirnya Pangeran tidak tahan dengan desakan Paidi , “Benar nih mas mau tahu kenapa katak itu harus melompati rel kereta?” Paidi sudah tidak sabar menunggu jawabannya, “Ya mas, cepat kasih tau mas!” Pangeran sempat tidak yakin harus menjawab itu, dihisapnya rokok dalam-dalam, “Sebenarnya sederahan saja mas, kenapa katak itu harus melompati rel kereta api? Karena kalu katak itu gak melompati rel itu masak sih katak itu harus mengitari sepanjang rel itu, ketinmabng ambil jalan muter, bisa sepanjang pulau jawa dia jalan muter ikutin rel padahal Cuma mau kedepan situ aja, ya lebih mudah melompati rel kereta bukan?!” Pangeran menghembuskan asap rokoknya tanpa rasa dosa, sementara Paidi belum juga paham. Sepuluh menit kemudian…. “ ooo…iya..ya!!”



Kereta telah tiba di Jakarta dengan selamat, sudah pasti dengan selamat karea dikemudikan oleh masinis bernama Selamat Untung Widodo, mungkin akan lain ceritanya jika masinisnya bernama Kiki Sofyanto! Paidi yang baru pertama kali datang ke ibukota merasa kebingungan. Kebingungan yang pertama karena dia tidak tahu akan tinggal dimana, sementara dia tidak punya kerabat di Jakarta. Kebingungan kedua; Paidi belum tahu akan cari kerja apa di Jakarta, apakah kembali meniti karier sebagi tukang parkir? Kebingungan ketiga; dia masih bingung mencari kebingungan ketiganya (loh! Bingung juga kan?)



Pangeran memahami kebingungan tipikal orang-orang yang nekad merantau ke Jakarta tanpa perencanaan terlebih dahulu dan keahlian memadai untuk bertahan hidup di ibu kota. Pangeran menawarkan Paidi untuk tinggal di rumahnya yang juga berfungsi sebagai kos-kosan bagi pendatang, tapi tidak gratis bagi Paidi, karena tidak ada yang gratis di Jakarta ini, mungkin hanya kentut saja, tiu pun harus siap dihujat. Mereka pun meluncur imaah pinggiran Jakarta dekat Bandar Udara Soekarno-Hatta. Baru saja mereka sampai di tempat tujuan, handphone Pangeran berdering, dia pamit untuk menjemput saudara sepupunya di terminal Kalideres. Pangeran memperkenalkan Paidi dengan saudaranya, “Halo, namaku Agung!”



Pangeran, Agung dan Paidi menikmati suasana pergantian hari di temani kopi panas di beranda lantai satu. Lapangan kecil depan rumah menjadi ramai karena ada pasar malam dadakan kecil-kecilan, anak-anak kampung begitu antusias berbaris di wahana gelombang laut miniatur wahana seperti yang ada di DUFAN hanya saja wahana ini digerakkan secara manual dengan kekuatan ayunan tiga orang operator. Agung yang sedari tadi tertarik dengan apa yang dilihatnya, berkomentar “Coba lihat anak-anak itu seperti tidak sabar berbaris panjang serupa ular naga panjangnya bukan kepalang // berjalan-jalan selalu riang gembira // umpan yang lezat itulah yang dicari // ini lah dia yang terbelakang.. oops koq malah jadi nyanyi! Hehehe, tapi kalau kita cermati lagu tadi, ular naga itu kejam dan diskrimatif sekali ya?”


Pangeran terheran-heran dengan pernyataan Agung, “Maksudnya kejam dan diskrimatif?” Agung meminum sedikit kopi dan menjawab, “Ya, kenapa ular naga itu tidak mau memakan anak yang normal? Tapi justru lebih memilih anak yang idiot dijadikan umpan yang lezat!” Pangeran masih belum paham dengan maksud Agung tadi, “Kenapa bisa begitu?” Agung harus menjelaskan lebih rinci, “Coba perhatikan diujung lagu itu, ..umpan yang lezat itulah yang dicari inilah dia yang terbelakang. Nah berarti naga itu hanya memakan anak yang terbelakang alias idiot!” Pangeran memprotes, “Hey bukan itu maksudnya..” Agung langsung memotong pembicaraan “maksudnya anak yang berada di belakang? Kenapa gak bilang..inilah dia yang dibelakang, hayoo”



“Berbicara tentang lagu anak-anak, sungguh menyedihkan ya anak-anak jaman sekarang tidak mempunyai lagu bagi mereka sendiri” kali ini Agung seperti hendak mengajak berdiskusi serius, “Coba lihat disana? Ada sekitar seratus anak yang menikmati wahana komedi putar tapi coba dengar lagu-lagu yang diputar!” Pangeran baru memperhatikan ternyata lagu-lagu yang diputar sedari tadi hanya lagu Rhoma Irama dan Elvy Sukaesih, itupun dari album lawas! Tidak ada satupun lagu anak-anak yang diputar.



“Kasihan anak-anak jaman sekarang, mereka telah terbiasa menikmati lagu orang dewasa dan remaja seperti Ungu, ST12, dMasiv, Peter Pan dan lain-lain. Aku saja yang setua ini hanya mendapatkan warisan lagu anak-anak yang juga pernah dinikmati kakek-nenek kita sewaktu kecil, ini artinya sangat sedikit sekali orang peduli untuk menciptakan lagu anak-anak, parahnya lagi banyak lagu anak-anak yang ada justru membohongi anak-anak itu sendiri. Kalian percaya?” Agung menantang kepercayaan mereka berdua. Pangeran menggelengkan kepala, Paidi kali ini ikut berbicara, “Aku gak percaya dengan kamu mas!” dengan logat Jogja-nya yang kental. Agung justru terkejut, “Kenapa kamu gak percaya?” Paidi menjawab sekenanya, “Aku cuma percaya dengan Tuhan, kalau aku percaya dengan kamu berarti aku musyrik mas!” Agung dan Pangeran terkekeh geli dengan kepolosan Paidi


“Apa buktinya kalau lagu anak-anak itu pembohong?” Pangeran menantang Agung untuk membuktikan ucapannya. “Oke, kalian pasti tau lagunya `BALONKU`? coba nyanyikan!” Agung tersenyum sinis kepada mereka yang mulai bernyanyi serempak;

Balon ku ada lima

Rupa-rupa warnanya

MERAH

KUNING

KELABU

MERAH MUDA dan

BIRU

Meletus balon HIJAU…doorr!! Hati…”



Agung menghentikan mereka yang bergembira menyanyikan lagu itu, saat itu juga masa bahagia kanak-kanak mereka hilang akibat dihentikan seketika. Paidi jadi penasaran, “Bagian mana yang membohongi anak-anak mas?” Agung meminta Paidi bernyanyi lagi, Paidi langsung bernyanyi dengan wajah sumringah tapi kali ini jari-jari Agung memberi tanda seperti menghitung ketika Paidi menyebutkan warna-warni balon dalam lagu itu. “Betul apa kataku, lagu ini pembohong!!” Pangeran dan Paidi masih belum mengerti. “Kok, bisa sih mas!” Paidi garuk-garuk kepala walau tak gatal. “Perhatikan bait awal lagu itu… balon ku ada lima.. tapi lihat jariku ini menunjukkan ada berapa balon?” Agung mengangkat lima jari yang terbuka ditangan kiri dan satu ibu jari terangkat disebelah kiri. “ENAMM!!” Pangeran dan Paidi masih ragu, mereka pun menyanyikan lagi lagu itu dalam hati sambil menghitung jumlah balon. “Oh..iya..ya!!” mereka pun serempak seperti telah menemukan kebenaran yang sejati.



“Apa kubilang! Katanya balon itu ada lima tapi kenapa ada balon hijau keenam? Hehehehe” Agung terlihat puas telah membukakan mata mereka yang telah tertipu puluhan tahun. “Bukan hanya itu, masih ada lagi! Kalian hapal lagu POK AME-AME?” Paidi dan Pangeran mengangguk ragu seolah tidak siap menjadi korban penipuan lagi. “Nah, apa kalian pernah lihat ada belalang dan kupu-kupu makan nasi di siang hari dan kalau malam mereka minum susu?” Agung menggoda keyakinan mereka dengan senyuman, sementara Pangeran merasa geram karena telah ditipu mentah-mentah sejak usia balita. “Betul ya mas, kalau ada belalang dan kupu-kupu makan nasi dan minum susu, berarti mereka binatang paling sehat sedunia!” kepolosan Paidi menciptakan tawa kekeh ceria.



“Begitu juga lagu BINTANG KECIL, pernahkah kalian melihat bintang kecil dilangit yang biru? Bukankah bintang dapat kita lihat ketika malam hari, benarkah langit saat itu terlihat berwarna biru? Jika bintang itu kecil, dapatkah terlihat dari jarak jutaan kilo meter dari sini? Dan konyolnya lagi lagu itu mengajak anak-anak mati kehabisan oksigen dengan menari ditempat bintang berada yang hampa udara itu! Hehehe” Agung semakin menjadi-jadi membuat Paidi dan Pangeran tertohok dengan kenyataan penipuan ini. “ya, begitulah lagu anak-anak kita, bahkan lagu anak-anak terakhir yang ku ketahui sama saja koq. Siapa yang hapal lagunya Joshua yang berjudul DIOBOK-OBOK?”



Paidi dan Pangeran saling bertatapan karena tidak hapal lagu itu. Pangeran memanggil seorang anak dari atas beranda, “Hey Tong, lu apal lagu DIOBOK-OBOK kagak?” seorang bocah mendongak kearah asal suara, “Apal bang! Mang kenape abang pake tanye segale?” logat Betawi keluar dari mulut bocah kecil itu. “Coba lu nyanyiin Tong”, “Ogah ah bang! Lagian iseng banget abang ini” anak itu bersiap melengos pergi, Pangeran yang masih penasaran, mencoba menyuap anak itu, “Hoy, kalo lu mau nyanyi gue kasih gopek deh!” anak itu berhenti, “Yah cuma gopek mah buat ape bang! Bakal beli permen aje kagak dapet” sial anak ini mempunyai posisi tawar yang bagus, “Ya udeh, seceng (seribu) deh!” bocah itu sepakat. Uang lembaran seribu rupiah pun terbang melayang dan ditangkap dengan sigap oleh sang bocah “HAPP!!” (hehehe..pasti jadi ingat lagunya CICAK DI DINDING ya?)



“Nah kalian dengar sendiri lagu tadi…mas Pay kamu pasti tahu jenis air apakah yang bikin mabuk?” pertanyaan Agung yang ditujukan pada Paidi langsung dijawab cepat, “ALKOHOL mas!” “Benar gak? Masak sih ada ikan yang hidup di alkohol, gak perlu diobok-obok juga tuh ikan dah pasti mabuk, parahnya lagi Joshua ikut mandi pake air itu dan kebohongan berikutnya Joshua pasti gak cuma kedinginan dan masuk angin tapi pasti dia juga ikut mabuk!..wakakakakkakk..hehehehe..hihii…” Pangeran hanya tersenyum kecut. “Ah bisa aja lu!”





“Ngemeng-ngemeng kalian mau ikut gak jalan-jalan keliling kota?” Pangeran memberikan tawaran yang menarik terutama bagi Paidi. “Anu mas, kalau boleh saya usul neh, bisa gak kita pergi ke Monas? Soalnya saya ingin tau seperti apa sih Monas dari dekat, masak cuma liat di tipi aja, di Jogja Monas-nya gak tinggi mas!” Pangeran dan Agung sepakat, mereka pun meluncur kearah pusat kota. Singkat cerita mereka telah sampai di Monas, Paidi tidak dapat menutupi kekagumannya melihat Monas, dia baru tahu jika di puncaknya terdapat emas murni dan konyolnya dia berniat untuk mengambil emas itu untuk dijual. Setelah puas mengagumi Monas, perut mereka berteriak protes minta untuk segera diisi.



“Kita makan malam dimana neh?” Pangeran bertanya kepada penumpangnya sambil tetap mengendalikan mobil Honda seri dangdut, ehh Jazz ding!. “Maap mas kalo boleh usul lagi, bisa gak cari warung pecel lele? Aku kepingin makan tempe penyet” Paidi sudah kangen dengan tempe penyet si Iyem yang panas dan pedas yang biasa disajikan special untuk makan malam Paidi. Pangeran tertawa geli, “Oi mas ini bukan Jogjakarta, hapus”JOG”nya kamu sekarang lagi di Jakarta, susah cari makan kayak gitu, disini yang ada pizza, spaghetti, hamburger, kwetiau, capcay, gaul dong” Paidi merasa asing dengan makanan yang disebutkan tadi kecuali capcay. “Wah makanan apa itu mas? Ya sudah makan capcay juga aku gak protes koq!” Agung sepakat dengan usul itu, Pangeran bahkan dapat ide baru dari usul Paidi, “Wah cocok! Makan capcay bakal lebih seru lagi kalo makannya bareng Tuan Putri dari negeri China nih, tar deh gue kenalin dengan kalian, dia pasti tau restoran capcay paling enak. Oke kita meluncur menjemput Tuan Putri negeri china” mobil Honda seri dangdut ..eh Jazz pun meluncur gesit kearah perumahan elit.



Tuan Putri telah siap di gerbang rumahnya dengan pakaian santai berbahan kaus super irit, mungkin untuk menyesuaikan kondisi krisis global, saking iritnya maka hampir semua bagian kulitnya tubuhnya yang berwarna kuning bangs… oops kuning langsat terlihat berkilau terkena pantulan cahaya. Paidi pun tak dapat menahan air liurnya yang mengalir tak terkontrol, saat in Paidi lebih mirip kuda yang selalu mengeluarkan air liurnya karena sulit untuk meludah! Pangeran memperkenalkan Tuan Putri kepada kedua mahluk aneh yang masih terkagum-kagum dengan kecantikan Tuan Putri yang berwajah khas oriental eksotik. Mereka meluncur kearah restoran yang menyajikan capcay rekomendasi Tuan Putri.



Empat porsi makanan khas negeri mandarin telah tersedia dihadapan mereka. Sepuluh menit kemudian ludes berpindah kedalam perut mereka, terkecuali Paidi, satu porsi tadi hanya mengisi temboloknya saja, tidak cukup membuat perutnya kenyang. Agung tiba-tiba bertanya ragu kearah Tuan Putri, “Eh, maaf nih Tuan Putri, tadi makanannya dijamin halal gak?” Tuan Putri tertawa geli “Ahh gimana sih! Makanan dah habis koq baru tanyanya sekarang… tenang aja yang punya restoran ini dah pernah naik haji tiga kali loh, jadi gak mengandung zat-zat haram pasti halal deh” senyum manis Tuan Putri membuat Agung menjadi lega.



“Hhumm..ada yang tau gak, binatang apa yang paling haram yang pernah kena fatwa haram MUI?” Agung mencoba menghangatkan suasana dengan lelucon-leluconnya yang kadang tidak lucu tapi tetap membuat orang tertawa karena ke-tidak lucu-annya itu. Tuan Putri menjawab dengan cepat “Ya udah pasti babi dong!”, “Salah Non! Masih ada yang lebih haram lagi!” Agung berhasil membuat penasaran calon korbannya, kecuali Paidi yang masih sibuk menghabiskan makanan porsi keduanya. Pangeran mulai terjebak “Memang ada yang lebih haram dari babi? Oh aku tau, pasti jawabannya Politikus yang ngajak GOLPUT! GOLPUT kan dah difatwa haram oleh MUI” oops jawaban Pangeran mengandung muatan politis banget, lagi pula politisi kan bukan binatang, mereka adalah badut!. “Masih salah Bro, ada yang lebih haram lagi” Tuan Putri semakin penasaran “truss apaan dong?.” Agung memegang kendali forum “Ah masak gitu aja nyerah..”



Agung menikmati setiap detik ekpresi penasaran mereka. “Udah kasih tau aja jawabannya, males nebak-nebak tapi tetap salah juga jawabannya” Pangeran sedikit jengkel sambil menyedot teh dari botolnya. “Mau tau nih jawabannya?” Agung masih menggoda. “Ya iyalah cepetan kasih tau dong!” Tuan Putri siap dengan jurus cubitannya. “Oke deh… binatang paling haram yang pernah kena fatwa haram MUI adalah anak babi yang lahir dari hubungan gelap diluar nikah alias anak haram, parahnya lagi sejak kecil gak pernah diolesin minyak kayu putih tapi pakai minyak babi, hehehe” respon para korban berbeda-beda, Agung tak kuasa menghindar dari serangan jurus seribu cubitan yang mendarat ditangannya, “Ah bisa aja lu!” rasa gemesnya terbayar dengan cubitan itu. Paidi sempat memuntahkan capcaynya setelah mendengar jawaban itu, giliran Pangeran yang protes karena tekena hujan lokal berupa kuah capcay “Oooii.. gue gak pesan pake kuah kale” suasana malam direstoran china itu menjadi hangat, suara tawa mereka pun pecah... pyaarr!!!!



“Kalau cuma tebakan jayus gitu sih gue juga punya” kali ini Tuan Putri mencoba peruntungannya didunia tebak-menebak. “Binatang apa yang punya alat kelaminnya sepuluh bahkan bisa lebih?!” Tuan Putri memasang taruhan berupa senyum manisnya pada mereka. “Kucing beranak sepuluh sedang menyusui!” Agung cepat menjawab. “SALAH!” Tuan Putri pun tak kalah cepatnya menilai. “Mungkin kucing dalam karung?” Pangeran menjawab dengan ragu. “Maksud lu?!” Tuan Putri menunjukkan ekspresi wajah yang menegaskan bahwa `jawaban anda salah bung.` “Ayo mas Paidi coba jawab dong! Koq diam aja gak seru nih” Tuan Putri melihat Paidi hanya memegangi perutnya. “Aduh apa ya? Gajah cacat ya mbak?” Paidi hanya nyengir menunjukkan rangkaian giginya yang beraksesoris hijau daun sawi dan merah cabe.



“Ah, payah kalian semua, masak sih gak ada yang tau! Binatang yang kelaminnya ada sepuluh ato lebih adalah Ular Naga Barongsai! Kalo lu pada gak percaya coba liat pas imlek, eh gak ding tuh liat foto itu! Hiihhiihii” Tuan Putri menunjuk pada sebuah foto barongsai dalam perayaan imlek, ekspresi ceria kembali muncul setelah jawaban itu keluar. Mereka masih santai direstoran tertawa riang sambil menikmati asap rokok, Paidi memainkan asap rokoknya dengan membentuk bulatan-bulatan asap rokok. “Ah itu sih dah kuno Pay! Nih aku bisa KOTAK-KOTAK” Agung sudah mulai beraksi lagi membuat yang lain penasaran menanti, Agung ambil ancang-ancang menghisap asap rokok dalam-dalam, Paidi menajamkan pandangannya tidak mau melewatkan momen menarik ini, Agung kemudian menghembuskan asap sambil mengucapkan “ K O T A K.. K O T A K… K O T A K…” penonton kecewa “Hhuuu. Bassii!” Agung pun terbatuk-batuk tersedak asap rokok yang tidak keluar semuanya karena mulutnya ditutup oleh tangan Pangeran sementara yang lain menghujani dengan pukulan.



Handphone Pangeran berdering, dilayar Hpnya yang berkedip-kedip tertera tulisan `Putri Solo calling` Pangeran pun menjawab, setelah itu dia ijin untuk menjemput Putri Solo yang baru saja mendarat di bandara. Agung, Tuan Putri dan Paidi ditinggalkan, kami janjian bertemu lagi di Mall depan restoran tapi sebelum pergi Pangeran memberikan amanat kepada Agung dan Paidi untuk menjaga Tuan Putri baik-baik. Agung dan Paidi pun menjawab serempak “Siap Pangeran!”



Bergaya layaknya body guard professional, Agung dan Paidi berjalan dibelakang Tuan Putri mengikuti kemana pun langkah kaki indah itu menuju. Kali ini Tuan Putri masuk kedalam toko yang menjual sepatu, Paidi dengan sigap memeriksa sepatu yang akan dicoba Tuan Putri. “Iih.. apa-apan sih kalian ini, gila ya?” Tuan Putri hanya tersenyum tipis, “Bukan begitu Tuan Putri, ini demi keselamatan Tuan Putri sesuai amanah Pangeran dan prosedur standar kami, siapa tau ada teroris yang simpan bom di sepatu tadi gimana?” Agung berlogat lagaknya pasukan khusus pengawal presiden, Putri kembali tersenyum geli. “Ada juga kalian tuh terorisnya, pake kacamata hitam lagi, lepas!” Agung menolak perintah itu.




Puas melihat-lihat semua model sepatu, Tuan Putri berpindah ke gerai aksesoris, lagi-lagi tindakan Agung dan Paidi yang berlebihan dan sedikit norak membuat kecerian tersendiri bagi Putri, namun kali ini Tuan Putri ikut aktif dalam sandiwara ala Srimulat ini. Putri memaksakan mereka agar mau memakai semua aksesoris pilihannya yang sangat cewek sekali, mereka tidak bisa menolak. Topi yang biasa dipake tante-tante satu persatu berpindah ke kepala mereka, sementara tangan mereka penuh dengan aksesoris gelang batu imitasi berwarna-warni dan tas tangan berwarna mencolok. Tuan Putri terlihat puas tertawa geli dapat mempermainkan mereka bahkan penjaga gerai pun ikut menambahi mereka dengan berbagai aksesoris dengan warna-warni yang saling bertabrakan..duuerr!!




Hampir semua barang yang ada di toko dipegang dan dicoba Tuan Putri ternyata yang dibeli hanya berupa bando kecil penghias kepalanya. Agung dan Paidi hanya saling berpandangan gelengkan kepala. Belum cukup sampai disitu penderitaan mereka, langkah kaki jenjang itu menuju kearah gerai kosmetik, untuk satu ini Agung sedikit mundur menghindar tapi apes bagi Paidi yang tidak cekatan, dia menjadi korban percobaan kosmetik. Paidi sempat menolak namun suara lembut Putri tapi tegas tidak dapat dilawan, “Eits, tugas kamu tadi kan melindungi Tuan Putri benar gak? Nah ayo sini!” Paidi meronta dari cengkraman Putri tapi tetap tak berdaya, mengharap bantuan dari Agung yang berdiri diluar gerai kosmetik sambil tersenyum, “tapi Tuan Putri inikan.. aduh jangan dong Putri.. tolong..” jeritan iba Paidi tidak berpengaruh bagi Putri yang sudah siap menyapukan warna hijau perona mata, kemudian warna pink pada pipinya dan merah marun pada bibir tebal Paidi. “Udah diam… nanti kalau kosmetik ini beracun gimana? Kecantikanku bisa luntur, makanya kamu harus coba dulu” senyumnya kali tidak terlihat manis dimata Paidi.





Tuan Putri meminta pendapat Agung yang berdiri diluar tentang warna-warni kosmetik pilihannya, Agung memberikan tanda jempol diangkat tapi kemudian dibalikan. Putri keluar gerai itu dengan tawa puas menggandeng tangan Agung, sementara Paidi menjadi bahan tertawaan anak-anak kecil yang berada disitu. “Mamah…mamah..coba liat deh ada kuda nil waria!” bocah mungil itu menarik tangan bundanya demi menunjukkan kuda nil waria temuannya. Agung dan Putri hanya sesekali menengok kebelakang melihat Paidi yang sibuk menghapus bekas kosmetik diwajahnya. Tawa lepas Tuan Putri pun pecah membahana dalam Mall itu..pyaaarr!!!



Kaki jenjang terawat milik Tuan Putri terasa lelah, sudah tiga jam keliling Mall sambil menunggu kehadiran Pangeran dan Putri Solo yang belum juga menunjukkan penampakkannya. Mereka menikmati es krim, beristirahat menunggu. “Maap ya honey…hiihihi.. tapi kamu cantik deh kalo mau pake kosmetik..sueerrr..hiihiii” godaan Putri belum menciptakan senyum pada bibir Paidi karena mulutnya sibuk melahap es krim ukuran jumbo. “Sadis! Anak kecil tadi sampe bilang aku nih kuda nil waria tau gak” mulutnya kembali sibuk menelan es krim. “Apa Pay?! Kuda Nil Waria! Wah cocok juga tuh untuk jadi nama baptismu..hahahaha” Agung tertawa puas mendengar itu, dia memang paling senang melihat kawannya menderita dan ditambahnya dengan hinaan karena dengan begitu menambah power baginya.



“Guys, aku merasa terimakasih banget dengan kalian nih dan mau nemani aku belanja bahkan pake pengawalan khusus lagi, hihihi. I feel save n fun banget. Btw kayaknya kita harus call si Pangeran cabul itu deh, lama banget neh! Aku dah bosen disini, pengin cari suasana baru. Bagaimana kalau kita ke pantai malam ini yuks!” senyum manisnya memperkuat tawaran menarik yang tidak bisa ditolak bagi Agung dan Paidi. Pangeran calling memberitahu sudah siap di parkir depan. Mereka pun meluncur kembali kearah pantai menggunakan mobil Honda seri hip-hop, eeh Jazz maksudnya. Sepanjang perjalanan menuju Pantai Ancol terdengar suara tawa riang keluar dari mulut mereka, terkecuali Paidi mengeluarkan suara misterius… “Dhhuttt….prrett….preet…duuuttt!!!!”.


AMBUNEEEE…….



THE END OF THIS PART

(PLEASE DON`T EXPECT THE NEXT PART!)

-cerita ngawur ini terinspirasi oleh genk ambuneers dan sebuah film dengan format 3G (gak perlu tau judulnya tapi bisa ditebak apa warna filmnya)-



Kaloran Pena, 22 Januari 2009

Rabu, Februari 25, 2009

Sajak Untuk Ayip Heriyana

KAPAN WISUDA KAWAN?


1999 1999 1999 1999 1999 1999 1999 1999 1999 1999 1999 1999

2000 2000 2000 2000 2000 2000 2000 2000 2000 2000 2000 2000

2001 2001 2001 2001 2001 2001 2001 2001 2001 2001 2001 2001

2002 2002 2002 2002 2002 2002 2002 2002 2002 2002 2002 2002

2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003 2003

2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004 2004

2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005 2005

2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006

2007 2007 2007 2007 2007 2007 2007 2007 2007 2007 2007 2007

2008 2008 2008 2008 2008 2008 2008 2008 2008 2008 2008 2008

2009 2009 2009 2009 2009 2009 2009 2009 2009 2009 2009 2009

N O

D O