Kamis, Mei 21, 2009
TUHAN AKU BERTERIMAKASIH
Engkau telah ciptakan manusia,
Manusia yang telah ciptakan listrik
Hingga benderang alam ini!
Tuhan Aku berterimakasih
Sebab Engkau telah hadirkan manusia
Manusia yang telah melahirkan computer
Dan jemari kami pun menari pada keyboard ini!
Tuhan Aku berterimakasih
Karena kehendakMu tiup ruh pada manusia
Tiup ruhMu semangatkan pencipta flashdisk
Maka kamipun dengan leluasa pindahkan ruh kreasi kami!
Tuhan Aku berterimakasih
Karena Engkau mengijinkan manusia ini hidup didunia nyata
Dalam kehidupan nyatanya dia ciptakan internet
Sehingga menghidupkan manusia di dunia maya!
Tuhan Aku berterimakasih
Sungguh!!!
MENUNGGUMU DI PRASASTI BATU INI, AKU MEMBATU
Satu purnama telah tersenyum
Awalnya senyum rembulan begitu ranum
Berkas garis sabit, ingatkan senyummu
Utuh bentuk purnama wakilkan wajah teduhmu
Kali kedua kini muncul sabit
Kali ini garis itu menyayat
Jingga bentuk utuh itu
Hingga terkapar tubuhku
Sabit ketiga, garis itu
tidak lagi citrakan lengkung bibirmu
Purnama hanya menjadi candu
Tubuh ini bergetar dahsyat oleh rindu
Janjimu pada purnama ketiga
Tepat di prasasti batu kita bersua
Purnama itu menyihirku menjadi batu
Janji-janjimu terpahat pada kujur tubuh membatu
Kota S – Desa Kaloran Hj. Jaenab, May 21st, 2009
Audi et Alteram Partem
”Sepuluh hari waktu yang cukup! Cukup singkat untuk mengambil keputusan yang akan berimbas kepada sisa waktu sepanjang hidupmu kawan. Engkau harus berani menghadapi sidang ini setelah masa panjang penderitaanmu.” Tangan kawanku masih memijat-mijat tengkukku sementara wajahku tertunduk lesu, mataku memerah, degup jantung tak beraturan, tiba-tiba saja aku kesulitan untuk menghirup oksigen. Ramsad bilang aku pingsan selama sepuluh menit!
Sepuluh tahun sudah berlalu sejak ketukan palu terakhir hakim yang membuat putusan in kraght van geweisjde, rasanya seperti pingsan selama sepuluh menit saja. Ramsad datang lagi tepat di kebun yang sama dan tangannya lagi-lagi berada di tengkukku, kuperlihatkan berita mengejutkan ditulis dalam koran itu pada Ramsad. Wajahku tertunduk lesu, mataku memerah, degup jantung tak beraturan, tiba-tiba saja aku kesulitan untuk menghirup oksigen. Ramsad bilang aku pingsan selama sepuluh menit!
Sepuluh jam sudah sejak aku pingsan, Ramsad masih di sampingku. Tangannya kali ini ada di telapak tanganku, ada aura hangat mengalir dari telapak tangannya. Aku hanya melirik sedikit kearah Ramsad yang memejam serius. Ramsad mulai membuka kelopak matanya, buru-buru kusembunyikan lagi wajahku. Ramsad memutar wajahku hingga tepat berhadapan langsung, hanya beberapa jarak saja. Nafasku memburu tapi Ramsad hanya tenang saja, tenang sekali dengan wajah senyum kecil. Aku semakin curiga, rupanya Ramsad mencuri nafasku, dihisapnya dalam-dalam hembusan nafasku. Ramsad apa yang kau lakukan? Tapi aku hanya diam, bola mataku bergerak cepat kekanan dan kekiri tanpa menyentuh ujung bola mata. Ram
sad apa yang kau lakukan ??!!
Ramsad bilang aku pingsan lagi selama sepuluh menit. Kali ini tangannya menggengam segelas air mineral, bibirku ragu menerima uluran gelas itu. Semangkuk bubur putih tanpa potongan daging ayam, tanpa kecap, tanpa kerupuk, tanpa sambal, hanya seujung sendok saja yang masuk kemulutku itu pun tak jadi masuk perut. Kumuntahkan kembali. Tenggorokanku terasa panas, nafasku memburu, mataku memerah, degup jantung tak beraturan, tiba-tiba saja aku kesulitan untuk menghirup oksigen. Ramsad bilang aku pingsan selama sepuluh menit!
Handuk kecil yang tercelup dalam air hangat, diperas oleh Ramsad kemudian wajahku merasakan hangat nyaman handuk basah itu. Wajah Ramsad begitu tenang hanya saja mengapa garis-garis kerut mulai tampak pada keningnya? pipi yang kuketahui sebelumnya begitu menarik perhatian banyak perempuan, mengapa pipi itu terlihat begitu kisut? Ramsad menunjukkan senyumnya yang semakin melebar, dia paham aku memperhatikan detail wajahnya. Didekatkannya wajah itu kearahku hingga hanya beberapa jarak saja, senyumnya mengembang menunjukkan keistimewaan pada pipinya yang mulai kisut itu. Ramsad hanya diam, aku juga hanya terdiam, bola mataku bergerak cepat kekanan dan kekiri tanpa menyentuh ujung mata. Ramsad apa yang terjadi ??!!
Ramsad bilang aku pingsan selama sepuluh menit! Dia melambaikan tangannya kemudian menghilang. Sepuluh menit kemudian pintu tempat terakhir kali Ramsad terlihat, kini terbuka, dua orang bocah berlari kearah ranjang tempat pembaringanku. ”Bunda... bunda... coba lihat Nada dikasih kado oleh Ayah! Kak Bella juga tuh, ayo kasih liat ke bunda dong kak!” bocah lucu dengan rambut terikat mirip dua air mancur yang tumbuh dikepalanya itu menarik-narik baju seragam merah putih milik bocah perempuan yang dia sebut kakak. Ekspresi bocah yang lebih besar ini hanya datar dan malas berbicara ”Iya bun, kemarin waktu ulang tahun Bella dikasih kado. Papah Ramsad baik deh walaupun bukan Papah Be...” Ramsad tiba-tiba menutup mulut bocah itu dan buru-buru mengajak mereka keluar, tangan Ramsad melambai kearahku, menutup pintu. Nafasku memburu, siapa bocah-bocah itu Ramsad? degup jantungku tak beraturan, mengapa mereka menyebut aku sebagai bunda? Ramsad dimana kamu? Mengapa kamu tutup mulut anak itu??
Ramsad bilang aku pingsan selama sepuluh menit! Anak-anak sedang bermain dibagian penitipan anak bersama suster, kudengar suara Ramsad tapi kuperhatikan bibir Ramsad tidak sesuai dengan apa yang dia ucapkan, seperti proses dubbing film telenovela. Kedua telapak tangan Ramsad berada kedua telingaku seolah memastikan keadaanku, Ramsad mengamati setiap detil gerak bola mataku. Aku baik-baik saja Ramsad, sungguh! Aku buktikan itu dihadapan Ramsad dengan duduk bersandar pada bantal dibalik punggungku. Ramsad mengeluarkan beberapa berkas dari tas kerjanya, ada logo bank milik BUMN berprada emas pada bahan kulit tasnya. Ramsad bilang baru saja selesai mengurus biaya rumah sakitku di kantor ASKES, katanya juga beruntung Kepala Dinasku bersedia menandatangani berkas itu hari ini juga, jika telat satu hari saja maka biaya rumah sakit ini tidak akan ditanggung negara meskipun aku pengabdi negara.
Ramsad melangkah kearah kamar mandi. Kuambil koran dari meja disebelahku, tepatnya lemari kecil multi fungsi yang biasa terdapat disetiap rumah sakit. Entah kapan terakhir kali aku membaca koran? Mataku tertuju pada headline berita, lengkap dengan foto berita itu. Aku hanya terdiam, bola mataku bergerak cepat kekanan dan kekiri tanpa menyentuh ujung mata, nafasku memburu mataku memerah, degup jantung tak beraturan, tiba-tiba saja aku kesulitan untuk menghirup oksigen. Ramsad apa yang kau lakukan!!!
Koran itu terjatuh kelantai kemudian disusul besi penyangga botol cairan infus.
Head line koran itu tertulis:
BELLA SELAMAT DARI PERCOBAAN PENCULIKAN AYAH KANDUNGNYA
Kota S, (Kompaz),-
Bella Kartika Chandra Rini (11), putri sulung mantan Kepala Dinas Peternakan Kota S, Perwita Chandra Rini (30), berhasil diselamatkan oleh ayah tirinya, Ramsad Daud Ali (40), setelah hendak diculik oleh ayah kandungnya sendiri, Jeremy Bentham Walker (45), pada hari Selasa 21 April 2009. Peristiwa penculikan ini terjadi ketika Bella tengah merayakan hari ulang tahunnya kesebelas yang jatuh bertepatan dengan Hari Kartini.
Bella yang masih terlihat shock hanya dapat menangis dipelukkan ayah tirinya. Pesta yang sekiranya membuat dirinya bahagia kemudian berubah menjadi momen yang menakutkan bagi Bella. Berkat aksi perlawanan Ramsad kini Bella dapat kembali pada pelukannya. Baik Ramsad maupun Bella menolak untuk memberikan pernyataan kehadapan para wartawan.
Jeremy Bentham Walker, merupakan mantan penyanyi terkenal dari Australia ini telah bercerai dengan Perwita Chandra Rini sepuluh tahun lalu dan terpisah dengan anaknya karena Jeremy harus menjalani hukuman penjara. Latar belakang rasa rindu tak tertahankan terhadap anaknya yang menyebabkan Jeremy sehingga nekad menculik Bella ketika pesta perayaan putrinya di rumah sakit tempat ibu kandungnya dirawat. Jeremy telah menyusun serangkaian rencana penculikan ini hanya berselang satu minggu setelah dirinya keluar dari penjara dan berencana akan membawa Bella ke negara asalnya.
Kilas balik sepuluh tahun lalu mengingatkan kita pada kasus yang menggemparkan masyarakat Kota S saat itu, kehebohan itu bukan hanya karena perceraian antara Perwita dengan Jeremy, Warga Negara Australia yang juga penyanyi terkenal itu, tetapi juga karena kesadisan Jeremy yang tega berniat menghabisi nyawa Perwita ketika selesai sidang kedua perceraian dimana kedua belah pihak masing–masing diperdengarkan kesaksiannya (Audi et Alteram Partem). Beruntung saat itu tindakan Jeremy diketahui oleh Ramsad (belakangan menjadi suami perwita, empat tahun kemudian setelah kejadian tersebut), sehingga nyawa Perwita dapat terselamatkan meskipun menderita luka berat.
Namun akibat dari perbuatan itu menyebabkan Perwita mengidap penyakit langka yang disebabkan oleh pukulan keras dikepalanya yang dilakukan Jeremy sepuluh tahun yang lalu. Berdasarkan pengakuan dari dokter yang menangani Perwita, pasiennya ini mengalami kerusakan jaringan syaraf otak akibat pukulan keras yang menyebabkan luka dibagian kepalanya sehingga mengakibatkan hilangnya beberapa bagian memori ingatan dan ketidaksadaran alias pingsan setiap kali keadaan dirinya menjadi tegang terutama jika mengingat kembali trauma masa lalunya dan jika merasakan anaknya akan ditimpa musibah.
Menurut sumber kami yang dapat dipercaya bahwa keberadaan Perwita dalam perawatan di rumah sakit ini dikarenakan dirinya shock begitu mengetahui mantan suaminya, Jeremy, telah keluar dari penjara sepekan lalu. (KK)
Senin, Mei 11, 2009
Mengisi sesuatu dengan KOSONG
Dimulai dari titik
kemudian
(tak sanggup kali ini mengisi sesuatu disini, maaf)
Sabtu, April 25, 2009
Petit Doigt Petit
“Bagas, ayo cepat mandi! Bunda sudah siapkan baju batik dan celana yang harus kamu pakai. Ayo Bagas… nanti kita telat, Bunda tidak mau ketinggalan momen penting ini.” Suara Bunda memang terdengar jelas dari kamar mandi ini, terlebih berkali-kali dengan penegasan ketukan pintu kamar mandi. Aku masih saja menatapi wajah yang mulai tumbuh rambut-rambut liar dihampir seluruh wajahku, bahkan Bunda mempersiapkan pisau cukur baru lengkap dengan foamnya, letaknya sudah berpindah dari kotak kecil peralatan mandi tepat didepan cermin wastafel, jelas sudah Bunda menginginkan aku tampil sebersih mungkin. Ahh Bunda, putramu satu ini bukan lagi bayi mungilmu. Kali ini pintu bukan lagi terketuk lembut, iramanya menjadi seperti penggerebekan sarang judi.
“Loh kok kamu hanya mandi begitu saja, coba lihat kumis, jenggot dan jambang di mukamu itu! Keramas saja malas, ayo sana balik lagi!” Bunda sudah siap dengan kebaya barunya, aku melangkah ragu menuju kamar mandi. “Jangan lupa keramas, seharian tadi kamu terkena panas matahari lokasi proyek, bau apek” pintu kututup, keran air shower terbuka penuh. Deras air menghantam ubun-ubunku, kunikmati sensasi pijatan air pada batok kepalaku.
“Ya ampun Bagas anak Bunda paling ganteng! Coba sekali ini saja kamu dengar dan turuti keinginan Bundamu ini.” Bunda menarik paksa tanganku menuju kembali kamar mandi. Bunda tolong sebutkan satu saja pembangkangan putramu ini, empat puluh tahun rentang hidupku tak sedetikpun hamba lepas dari ketiak Bunda. Pernahkah hamba menolak menggunakan pakaian yang selalu saja Bunda samakan dengan pakaian Abang, (hanya berbeda warna)? Sekolah favoritku tak pernah Bunda restui hanya karena jauh dari rumah. Sayur bayam yang selalu saja Bunda paksakan agar masuk dalam mulut akhirnya tetap juga kutelan, aku tidak ingin seperti Popeye, bahkan ketika hamba mendapatkan panggilan kerja dipedalaman Kalimantan yang paling didambakan harus rela dilepas karena Bunda takut putramu ini menjadi korban pembantaian perang etnis.
Pasrah aku mengikuti perintah Bunda, hampir seluruh wajahku terselimuti busa putih pencukur kumis, terduduk kaku diatas closet. Bunda melepas kebayanya agar tidak terkena air, menarik kursi kecil hinga wajah Bunda sejajar dengan wajahku, tiba-tiba saja aku seperti melihat wajahku sendiri dihadapanku, tentunya tanpa sedikitpun ada rambut liar diwajah Bunda. Lihatlah hamba ini Bunda, bayi berumur empat puluh tahun yang tak pernah lepas dari timanganmu, bahkan untuk mencukur kumis pada wajah saja harus Bunda yang melakukan. ”Bagas, anak Bunda satu-satunya. Bahagiakan Bunda sekali ini saja, sekali saja. Kamu satu-satunya perhiasan yang Bunda miliki, setelah Abangmu tiada...” cepat kututup mulut Bunda dan menghentikan air mata yang mengalir diwajah teduhnya.
Hanya karena ini aku rela mematikan mimpi-mimpiku. Aku pernah bersumpah untuk membahagiakan Bunda dan tidak ingin satu titikpun air matanya menetes ketanah karena jika saja aku lengah maka air mata itu akan berubah menjadi samudera kesedihan Bunda tak berkesudahan. Dua kali aku melihat Bunda mengaliri air serupa derasnya air terjun yang bebas terurai dari kedua matanya, dua kali Bunda kehilangan lelaki pelindungnya; Ayah dan Abang.
”Kamu memang tidak beda dengan ayah dan abangmu, mengapa kalian begitu senang dengan rambut-rambut liar diwajah kalian? Hanya sekedar lima menit membersihkan wajah sendiri saja harus Bunda yang lakukan.” Bunda memulai pekerjaannya, tak diragukan lagi Bunda memang pandai membersihkan wajah kedua lelaki tercintanya, sering kali kulihat Bunda mencukur ayah setiap kali beliau pulang dari lokasi proyek pembangunan bendungan dengan oleh-oleh rambut lebat diwajahnya, jangankan satu bulan, pagi ini dicukur, sore nanti saja wajah ayah sudah berwarna hijau gelap seolah tumbuh lumut disekitar rahang, bawah hidung dan dagunya.
Busa putih itu tidak lagi terasa mengelitiki wajahku, Bunda dengan telatennya membabat setiap helai rambut yang tumbuh. Kain lap basah memastikan busa itu benar-benar hilang, kini datang penyiksaan berikutnya, telapak tangan Bunda sudah siap dengan cairan penyegar after shaving. Dahiku berkerenyit dan geligiku bergemeretak menahan pedihnya cairan berbahan zat aktif yang masuk kedalam pori-pori kulit wajahku, kukutuki orang menciptakan formula cairan penyegar wajah yang menyakitkan ini. Bunda menarik nafas pendek dan memamerkan senyum puasnya, seolah pematung yang baru saja menyelesaikan karya agungnya.
”Lihatlah Bagas, lelaki kebanggaan Bunda! Betapa tampannya engkau, aih perempuan mana yang tidak akan takluk menatap wajah tegas dan terang putraku ini.” Bunda menepuk-nepuk lembut wajahku, ritual terakhir yang selalu Bunda lakukan sama kepada kedua lelakinya selain aku; ciuman tiga menit pada dahi. Subhannallah, beginikah rasanya siraman kasih sayang Bunda yang ayah dan abang rasakan, setiap pori-pori tubuhku bergetar hebat. Spontan aku bersimpuh pada kedua lutut Bunda yang terselimutkan kain batik terbaiknya. Mulai saat ini putramu tidak akan lagi berani membangkang keinginan Bunda, hamba bersumpah, sumpah yang sama serupa Patih Gajah Mada ikrarkan.
Lagi-lagi tangan Bunda tidak pernah lepas dari bayi berumur empat puluh tahunnya ini, setiap detail sisiran rambut dan pakaianku diperhatikan baik-baik. Wajah Bunda muncul dari balik badanku, dihadapan cermin ini kembali Bunda menyirami aku dengan motivasi hidup. ”Wahai para leluhur kami, lihatlah tetes darah terakhirmu ini, seorang pangeran yang telah siap menghadapi medan laga pertempuran hidup, mohon percikkan pada keturunanmu ini sedikit saja restumu. Saatnya putraku ini menjadi lelaki sejati.” Mantera Bunda membuat badanku seolah membesar serupa para patih perkasa yang siap dengan beribu bala tentara.
”Bagas Prawira Negara, inilah saatnya putraku tersayang, titisan leluhur agung bumi putera nusantara, temui perempuanmu!”
- Banten, 25 April 2009; dari sebuah rumah tua berlokasi di jalan yang mengambil nama Sarjana pertama Nusantara, Bumi putera terbaik dari Banten pada jamannya; Raden Mas Husein Jayadiningrat -
-Ucapan terimakasih kepada ”G” atas inspirasinya! Comment allez-vous?-
-Sumpah serapah untuk Kika atas provokasinya; ”Jancuuk!! Lagek saiki iso nulis cuk! Kesuwen yo? Hahahaha”-
-Pertanyaan untuk Bli Nanoq; ”Mengapa tak kau sapa daku difesbuk?”