Kamis, November 19, 2009

Sepotong Sesuatu ... potongan ke

Firasat Buruk
Kamis, 14 Juni 2007. 18. 45 WIB. Lokasi; Kontrakan Nadhien.

Gelas berisi teh panas itu tiba-tiba terlepas begitu saja dari genggaman Raya menghantam lantai keramik, membuat Nadhien terkejut mendengar suara pecahan gelas itu sementara Raya hanya terdiam kaku melihat pecahan gelas. Gerimis belum juga berhenti sejak sore tadi, rupanya hujan kecil ini merata membasahi wilayah Jogjakarta, bulan yang seharusnya bersinar terang tertutup awan tipis. Nadhien merawat kaki Raya yang berdarah akibat terkena pecahan gelas, lagu berjudul Firasat yang dilantunkan oleh Marcel, terdengar dari laptop Nadhien menambah kuatnya kekhawatiran perasaan dalam hati Raya yang masih terkesan shock tidak banyak berbicara seperti biasanya.

Nadhien menawarkan Raya segelas air putih kali ini, baru kali ini dia melihat Raya berprilaku tidak sebagaimana mestinya yang selalu ceria. Air putih digelas itu berisi tinggal separuh, Nadhien memberanikan diri memegang tangan Raya yang menggenggam erat gelas itu khawatir akan jatuh lagi. Sentuhan lembut tangan Nadhien memberikan sebentuk suport mental bagi Raya untuk menjawab pertanyaan Nadhien yang berulang-ulang dilontarkan namun belum juga dia jawab sejak menjatuhkan gelas tadi.
”Mas, Mas Raya baik-baik saja? Ayo dong ngomong, kenapa toh? Koq dari tadi cuma diam aja.” sorot mata teduh Nadhien baru tersadarkan oleh Raya setelah dagunya terangkat oleh tangan Nadhien yang masih penasaran dengan kondisi anehnya itu. Nadhien melihat sorot mata Raya seperti kosong tetapi pergerakan pupil dan kornea menunjukkan ada aktifitas otak yang berlebih dan gerakan jantung yang bekerja dengan cepat. Nadhien menangkap sinyal kecemasan dalam diri Raya kali ini meskipun tubuhnya tidak melakukan pergerakan yang menunjukkan hal itu misalnya berjalan mondar-mandir seperti orang bingung.

”Non, kurasa ada sesuatu hal buruk yang terjadi pada orang dekatku saat ini, aku yakin tapi belum pasti siapa orang itu” mata Raya kali seperti menyala menatap Nadhien yang belum memahami maksud ucapannya.
”Tapi kamu baik-baik saja kan? Apa hal seperti pernah terjadi sebelumnya Mas?” kekhawatiran dan rasa ingin tahu Nadhien bercampur.
”Ya, aku baik-baik aja cuma aku perlu waktu sebentar untuk menstabilkan diriku. Sering sekali aku merasakan hal ini terutama jika orang-orang terdekatku sedang dalam musibah. Aku boleh minta tolong gak?”
”Ya, apa pun Mas, gak masalah”
”Aku harus berada dalam posisi setenang mungkin, supaya aku mengetahui siapa yang sedang mengalami musibah. Bisa minta tolong matikan musik itu sebentar saja.” Nadhien melakukan sebagaimana permintaan Raya.

”Boleh aku melakukan meditasi disini sebentar saja, selain itu aku juga perlu bantuanmu untuk tidak melakukan sesuatu yang bisa menggangu konsentrasiku, bisa?”
”Bi..bisa.. Mas, tapi untuk apa?” Nadhien tergagap masih belum juga memahami kehendak Raya.
”Nanti aku ceritakan setelah ini” Raya sudah mengambil posisi meditasi, duduk bersila dengan kaki kanan bertumpu pada kaki kiri yang terlipat menyentuh lantai, badannya tegak namun tidak tegang, kedua tangannya bertumpu pada kedua lututnya sementara jari-jarinya membentuk cincin, nafasnya teratur ringan.

Nadhien hanya diam memperhatikan, dia terkejut melihat sekeliling tubuh Raya bersinar lembut terutama didahinya ada titik bersinar terang, seperti ada aura transparan menyelimuti tubuh itu. Penuh konsentrasi Raya mengatur nafasnya berada dalam hitungan tujuh ketukan setiap tarikan, tahan dan hembusan nafasnya. Dia mencoba menyatukan unsur pribadi, bumi dan angkasa sebagaimana biasa dia lakukan setiap kali berlatih pernapasan pada sebuah Paguyuban Seni Pernapasan dan Meditasi. Alam bawah kesadarannya dipanggilnya untuk mengetahui firasat apa yang dia rasakan. Citra-citra seluruh keluarga serta orang terdekatnya dia tampilkan dengan kekuatan pikirannya, dengan cara inilah dia dapat mengetahui keadaan mereka meskipun berjauhan jaraknya. Dia percaya ada media yang dapat menghubungkan antara dirinya dengan mereka melalui cara meditasi.

Citra yang pertama kali dia hadirkan adalah Ibunya kemudian Bapaknya dan kedua saudaranya, dari alam bawah sadarnya Raya mengetahui mereka semua baik-baik saja. Konsentrasinya kini menampilkan citra kawan-kawan akrabnya, dia bertemu Jane disana bahkan sempat berkomunikasi karena Jane memiliki keistimewaan bawaan lahir. Hampir semua keluarga dan teman terdekatnya sudah dia hubungi dengan cara ini tapi dia masih belum mendapatkan jawaban atas kegelisahannya tadi. Kali ini dia memaksa penuh kemampuan dirinya, lintasan bola warna-warni beterbangan dihadapan Raya.

Nadhien menjadi semakin khawatir ketika tubuh Raya yang semula hanya diam tenang kini perlahan bergetar hingga seperti terguncang-guncang tubuhnya meski tetap dalam posisi meditasi awalnya. Ada keinginan untuk memegang Raya dan menghentikan ini tapi tiba-tiba dia seperti mendengarkan suara Raya yang berbisik, mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, percayakan pada dirinya. Di alam pikirannya Raya merasakan sinyal penyebab firasatnya itu, dia seperti berada disuatu tempat gelap penuh dengan kabut tipis, berjalan perlahan mencari apapun yang tertemui. Sebuah bola cahaya berwarna emas sejenis orb menjadi pemandu pada sesosok tubuh yang tergeletak lemah, dia kenali sosok itu meski hanya berupa bentuk tubuh berwarna merah dan hitam terutama dibagian wajah menyala merah.

Raya menyandarkan sosok yang ditemukannya pada sebuah batu besar, telapak tangan Raya bersinar keemasan terang kemudian mencabut sesuatu dari dikaki itu dan berkonsentrasi pada bagian luka dikepala dan paha dari sosok yang ditemukannya, dia percaya energi murni dalam tubuhnya yang merupakan hasil olahan Adenossin Tri Pospat dapat digunakan sebagai penyembuhan alternatif yang dapat ditransfer pada siapapun. Energi hangat mengalir keluar dari titik pusat Kundhalini berputar menjulur melewati titik-titik cakra tubuhnya kemudian disalurkan melalui tangan kepada titik-titik yang diinginkan untuk memperbaiki jaringan yang rusak disitu.

Nadhien masih memperhatikan tubuh Raya yang kini bergetar halus sementara sekujur tubuhnya dibasah keringat. Suasana kamar menjadi panas padahal sejak sore tadi suhu kamar cukup dingin akibat turun hujan. Getaran tubuh Raya mulai mereda dan berhenti, tubuhnya terkulai lemah dari posisi meditasi awalnya, membuka kelopak matanya dan melihat wajah Nadhien yang begitu cemas akan keadaan Raya. Segelas air putih habis diteguk menggantikan cairan tubuhnya yang keluar cukup banyak.

Kondisi Raya masih lemah tapi seperti ada hal penting yang harus dia lakukan saat itu juga, Nadhien mencegah Raya yang hendak keluar dari kamarnya. Dia khawatir kondisinya saat ini dapat membahayakan dirinya terlebih malam ini hujan mulai turun cukup deras diselingi angin kencang. Raya mengalah dengan tatapan Nadhien tapi bukan berarti menghentikan niatnya, dia mengambil handphonenya yang berukuran cukup besar biasa digunakan bagi penggemar kegiatan petualangan alam terbuka, berteknologi kurang canggih namun memiliki kelebihan kekuatan sinyal. Nomor Erlang coba dia hubungi tapi gagal, kali ini dia mencoba menghubungi Yanto tapi tidak ada jawaban sementara handphone milik Yanto hanya bergetar tak terdengar oleh siapapun yang ada disitu. Hanya ada satu kesempatan lagi, nomor Hari.
Suara dering monoponik dari handphone bermerk dan seri yang sama seperti milik Raya terangkat oleh Hari, menjawab pangilan masuk.
”Maaf Mas jangan sekarang, nanti saja hubungi saya lagi. Saya ada keperluan penting” suara Hari terdengar cukup jelas dengan backsound suara hujan, angin dan gelegar petir yang memberikan gambaran disekitar situ. Hari memutuskan hubungan telepon, masih bingung menentukan arah mana yang harus dia ambil dipinggir sungai setelah keluar dari terowongan. Raya terkejut setelah Hari memutuskan hubungan teleponnya, dia menekan kembali tombol panggilan keluar.

”Hallo Mas Hari, dengarkan dulu sebentar, tolong jangan dimatikan! Saya tahu dimana lokasi Mas Erlang” suara Raya terdengar sangat jelas ditelinga Hari membuat dirinya terkejut. Bagaimana Raya bisa mengetahui posisi Erlang sedang mereka saja tidak dapat menghubungi Komandannya itu, terlebih Operasi Penyergapan itu bersifat rahasia jadi tidak mungkin Raya mengetahui dimana posisi Erlang.
”Apa maksud kamu Mas?” Hari masih belum mengerti, langkahnya terhenti tapi tangannya memberi kode agar dua anggotanya mencari petunjuk sekecil apapun sementara dia mendengarkan Raya.
”Percaya saya Mas!, sekarang Mas Hari dan kedua anggota cepat menyeberangi sungai itu kearah timur terus lewati bebatuan, nanti disebelah kanan batu paling besar disitu ada pohon jati yang kering pada akarnya ada sebilah belati, ambil saja mungkin berguna sebagai bukti.” Kali ini ada dua orang, Hari dan Nadhien, yang tercengkang kebingungan mendengarkan perintah Raya. Segera Hari memerintahkan anggotanya untuk bergerak.


Lokasi; Pengejaran Target Operasi yang lolos

Erlang sudah sepenuhnya menguasai dirinya, berjalan terseok diantara bebatuan kecil yang menjadi licin akibat guyuran hujan dan lumpur. Sebuah bangunan kecil yang sebagian terkubur pasir dan bebatuan pada jarak puluhan meter terlihat berkat kilatan petir yang membelah gelapnya malam, panduan lampu senter kecil ditangannya membimbing langkah Erlang diantara bebatuan. Lampu senternya dimatikan ketika jaraknya hanya sekitar sepuluh meter dari sisi bagian kiri bungker itu dia tidak ingin kehadirannya diketahui target operasinya. Merapatkan tubuhnya pada dinding bungker, Erlang memastikan peluru dalam magazinenya masih ada dan melepaskan tombol pengaman pelatuk pada pistolnya. Terdengar suara dari dalam bungker yang gelap gulita.

Batu sebesar kepalan tangannya dilemparkan pada pintu baja yang tidak lagi dapat tertutup sempurna akibat desakan material vulakinik Merapi, menunggu reaksi dari dalam. Sebuah batu dilemparkan sekali lagi, tiba-tiba dia seperti melihat kelebatan dari arah dalam berlari menyeruak kegelapan malam. Teriakannya terdengar keras memberikan peringatan agar orang yang dicarinya itu berhenti dan memberi tahukan identitasnya bahwa dia adalah seorang Polisi. Kilatan petir membantu Erlang yang sesaat melihat targetnya yang lari diantara bebatuan, Erlang berlari mengejarnya tapi sayang kondisinya yang belum pulih dan licinnya medan membuat dirinya terperosok, lampu senter kecilnya terlepas dari tangannya dan tidak menyala. Erlang menunggu dengan posisi membidik diatas bebatuan berharap kilatan petir, satu-satunya bantuan penglihatannya, agar datang kembali. Doanya terkabul, petir mengelegar dan membuat terang dalam hitungan beberapa detik saja. Terdengar dua suara letusan senjata api, kemudian gelap kembali.

Rasa sakit dan panas luar biasa dibagian depan bahu kirinya menyebabkan darahnya mengalir kembali, rupanya bukan hanya dia yang melepaskan tembakan tapi dia juga yakin pelurunya tepat mengenai sasaran karena terdengar suara orang terjatuh. Erlang terus memaksa dirinya untuk tetap melangkah mengejar sasarannya, lima belas meter dari posisinya melepaskan tembakan terdapat bercak darah pada sebuah batu tapi dia tidak menemukan siapapun disana. Erlang melompat bersembunyi kearah batu setinggi satu meter, jantungnya berdetak kencang, luka baru dibahunya membuat dirinya sangat menderita, sekarang dia dan pistolnya harus mempersiapkan diri setelah mendengar suara dari belakangnya.

Badannya yang bersandar membelakangi batu pelindungnya, beberapa sorot lampu senter terlihat. Tiga orang, setidaknya dia memperkirakan serangan dari belakangnya, Erlang menekan tombol untuk mengeluarkan magazine dari body colt 45nya, mengecek kembali jumlah peluru yang ada, minimal harus ada tiga peluru didalam situ, lebih banyak lebih baik lagi. Suara langkahnya semakin jelas, perkiraannya sekarang mungkin mereka berada tepat didepan bungker tadi, berarti sekitar dua puluh meter jarak dia dengan orang-orang yang baru saja datang dan semakin mendekat. Erlang merubah posisinya dari balik batu itu dengan pistol mengarah kepada asal suara, berharap kembali petir yang membantu dirinya tadi dapat datang kembali.

Jari telunjuknya sudah siap pada pelatuk, membidik sasaran yang dapat saja muncul dalam hitungan detik dari balik gelapnya malam. Kilatan petir seperti akar terang yang menjalar cepat dihamparan langit hitam muncul kembali. Suara letusan kembali terdengar dari pistol Erlang yang masih mengeluarkan asap efek yang diciptakan akibat letusan mesiu, diujung laras pendeknya. Erlang berteriak menyebutkan identitasnya dari balik batu itu dan menanyakan keadaan sasaran baru bidikan pistolnya tadi. Untung saja Hari berteriak sesaat sebelum kilat menyambar, refleknya merubah bidikan kearah lebih tinggi lagi telah menyelamatkan anggotanya dari serangan Komandannya sendiri. Erlang dan ketiga anggotanya merasa lega.

Hari meminta ijin melakukan pengejaran sementara dia harus meninggalkan seorang anggota untuk merawat Erlang dan memanggil bantuan. Informasi terakhir Komandannya mengenai status sasaran yang terluka tembak membuat Hari dan satu orang anggota menjadi lebih bersemangat tapi pesan Erlang agar mereka tetap berhati-hati karena sasaran membawa senjata api.

Sepotong Sesuatu ... potongan ke

Kontrakan Nadhien

Raya terduduk lemah akibat kehilangan energi cukup banyak dalam meditasinya tadi. Tangannya berusaha menekan tombol panggilan terakhir kepada Hari untuk mengetahui perkembangan. Jawaban yang didapat hanya singkat, penolakan Hari untuk berbicara dengan Raya bisa saja membuat konsentrasi terpecah dan membahayakan nyawa Hari. Nadhien sudah mulai menguasai dirinya dari kecemasannya dan menawarkan teh hangat dicampur sedikit madu.

”Minum ini Mas, lumayan supaya kamu gak terlau lemas” ucapan terimakasih hanya terdengar pelan sekali.
”Gimana sudah agak baik?” anggukan kepala itu sebagai jawabannya
”Mas, bisa tolong ceritain tadi itu kenapa toh Mas? Kenapa tiba-tiba Mas Raya jadi begini? Terus yang Mas hubungi tadi siapa?” Nadhien sudah tidak tahan lagi untuk mengetahui jawaban kecemasannya, dia tidak peduli lagi apakah Raya telah kuat untuk menjawab pertanyaannya itu.

Raya menguatkan dirinya untuk bercerita, statusnya yang berada dalam ruang bedah mayat dia jadikan sebagai pembuka cerita kemudian dia menjelaskan kaitan dirinya yang sangat rumit hingga menjadikan dirinya terlibat pada kasus pembunuhan itu dan terakhir dia menjelaskan mengapa dia harus melakukan meditasi tadi. Dia menyadari kemampuan lebihnya yang dapat melihat dan mengetahui kejadian yang berjarak jauh dari dirinya atau dalam ilmu para-psikologi dikenal sebagai clair voyance ini didapatkan hasil dari latihan meditasi dan pernafasan karena sering terus dilatih maka dia akan keluar dengan sendirinya, dia juga yakin setelah mendengarkan penjelasan dari pelatihnya bahwa manusia baru menggunakan sekitar dua puluh persen dari potensi dalam dirinya dan jika diagali terus maka manusia baru sadar akan kemampuannya yang tak terkira selama ini. Itu sebabnya tiba-tiba dia seperti merasakan ada sesuatu hal buruk sedang terjadi, kali ini kaitannya dengan Erlang yang sedang mengalami masa kritis.

Nadhien yang terbiasa dengan ilmu pasti dan pikiran-pikiran skeptisnya cukup sulit untuk mempercayai hal itu, meskipun dia sering melihat buku-buku tentang penggalian kemampuan bawah sadar manusia melalui berbagai meditasi tapi dia hanya melihat cover bukunya saja karena baginya itu adalah bohong belaka, sekarang dia baru sadar dengan istilah ”don`t judge abook from it`s cover”, selain itu juga dia sangat terkejut dengan status Raya yang selama ini mengaku sebagai mahasiswa yang sedang penelitian skripsi. Nadhien berharap informasi lebih banyak lagi dari keterangan Raya, tapi dia meminta waktu untuk tidak menjelaskannya saat ini. Raya mengingatkan Nadhien bahwa mereka belum menunaikan ibadah malam ini, Raya juga meminta secara khusus agar Nadhien berdoa untuk keselamatan Erlang dan timnya.


Jawaban atas Doa Tulus
Lokasi; Rumah Sakit Sardjito, bagian ICU. 01.05 WIB

Raya dan Nadhien menunggu dengan cemas didepan bagian Intensif Care Unit, mereka mendapatkan informasi dari Hari bahwa Erlang telah dibawa kerumah sakit dalam kondisi kritis. Raya yakin bahwa suara deru mesin helikopter yang melintas diatas kontrakan Nadhien selepas shalat tadi adalah helikopter yang membawa Erlang dari lokasi menuju Rumah Sakit Sardjito yang letaknya tidak jauh dari kontrakan itu. Hari datang mendorong Yanto pada kursi roda, sesaat setelah sadar dari ruang UGD, dia memaksa untuk melihat kondisi Komandannya yang kritis, dihadapan mereka Yanto menangis merasa bersalah karena tidak bisa melindungi Erlang. Hari menenangkan dan menjelaskan kepada Yanto bahwa dia tidak bersalah bahkan diri masih belum bisa berjalan akibat ototnya yang belum dapat digerakkan tapi ini hanya bersifat sementara menurut keterangan dokter.

Pintu ruang ICU terbuka, seorang dokter dan perawat mendekati mereka. Menjelaskan bahwa Erlang telah melewati masa kritisnya dan peluru yang bersarang pada bahunya telah dikeluarkan sejak diruang operasi tadi tapi dia masih perlu waktu yang lama untuk istirahat. Dokter memberikan ijin bagi keluarga dekatnya untuk melihat kondisi Erlang tapi berlaku untuk dua orang setiap kali masuk. Raya dan Nadhien mendapatkan kesempatan pertama karena Hari harus menenangkan Yanto terlebih dahulu, dia tidak ingin nanti didalam sana emosinya tidak terkendali.

Raya mengambil kursi kecil dan mempersilahkan Nadhien untuk duduk disamping tempat Erlang terbaring. Status jantung Erlang dapat termonitor seperti sandi rumput atau kilatan listrik pada sebuah layar kecil itu. Nadhien tidak dapat berbuat apa-apa hanya terdiam mungkin merapal doa dalam hati meskipun dia hanya bertemu sekali didalam ruang bedah mayat tempo hari tapi empatinya terhadap Erlang cukup tinggi. Raya mulai mengosok-gosokan kedua telapak tangannya lalu merasakan getaran halusnya muncul ketika beberapa detik kedua telapak tangan saling berhadapan tanpa bersentuhan kemudian mendekatkan telapak tangan kanannya kearah luka dibahu dan telapak kirinya memegang telapak tangan Erlang. Nadhien hanya dapat menyaksikan saja sambil bertanya-tanya dalam hati, entah apa lagi yang dilakukan Raya yang terpejam penuh konsentrasi.

Beberapa detik setelah Raya melepaskan tangannya, Erlang memperlihatkan tanda-tanda vitalnya, kelopak matanya terbuka lemah sekali nafasnya dibantu masker yang mengalirkan oksigen. Nadhien tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya, dia berdiri seolah ingin menunjukkan kehadirannya disisi Erlang memberi suport baginya, Raya hanya tersenyum memahami kedipan mata lemah itu. Nadhien sampai menitik air mata, salut dengan kegigihan Erlang untuk bertahan hidup.

”Gak masalah Mas. Biar aku saja yang tunggu Mas Erlang disini, Mas Hari dan Mas Yanto istirahat saja dulu.” Raya memahami alasan Hari dan Yanto setelah keluar dari ruang ICU yang tidak dapat menunggui Komandannya malam ini, sementara anggota lainnya juga disibukkan menjaga tahanan yang baru saja mereka tangkap yang juga dirawat di rumah sakit ini dan beberapa lagi diantaranya istirahat di markas setelah melakukan operasi penangkapan yang melelahkan. Nadhien memaksa Raya untuk menemaninya malam ini, meskipun Raya melarang tapi kemauan kerasnya tidak dapat dicegah karena dia juga tidak yakin dengan kondisi Raya.

Malam terus bergerak menuju pergantian hari, Nadhien mempercayakan dirinya tertidur dalam pangkuan Raya. Penyakit Insomnianya tetap tidak dapat dikompromikan meskipun tubuhnya masih terasa lelah, sepanjang malam dia hanya memperhatikan wajah Nadhien yang polos dan tenang dalam tidurnya, tangannya masih mengelus rambut halus itu, tidak menyangka dapat sedekat ini dengan Nadhien. Tepat jam dua dini hari seorang anggota berpangkat rendah datang mengantar kopi, susu panas dan beberapa makanan ringan kemudian pamit kembali untuk menjaga tahanan di ruang UGD.

Nadhien terbangun namun kepalanya terasa berat dan sakit sekali, migrainnya kambuh lagi. Raya melarang Nadhien yang hendak duduk, meminta agar tetap pada posisi tidurnya dalam pangkuan. Raya kembali melakukan gosokan tangannya itu, meminta ijin pada Nadhien, memberikan instruksi agar diam saja dan membantunya dengan nafas teratur. Nadhien merasakan hangat dan seperti ada gelombang yang merambat lembut dari telapak Raya yang didekatkan kearah kepalanya, perlahan rasa nyamannya membuat rasa sakit pada pembuluh darah dikepalanya berkurang, Raya hanya tersenyum melihat Nadhien yang tidak lagi menahan rasa sakit. Nadhien mencium telapak tangan Raya sebagai bentuk rasa terimakasihnya kini dia mengetahui rahasia kemampuan Raya yang terpendam itu.

”Ada kopi dan susu panas, kamu mau minum atau lanjut tidur lagi?” Raya menawarkan minuman panas yang diantarkan bagi mereka. Nadhien terbangun dengan semangat.
”Kebetulan malam ini aku belum minum susu, Mas Raya minum kopi aja ya?” Nadhien telah mengambil pilihannya dan menyodorkan gelas plastik berisi kopi panas pada Raya. Nadhien memperhatikan langit kemudian mengajak Raya untuk keluar menikmati bulan yang bersinar terang didepan taman kecil itu.

Raya merasa kikuk untuk berbicara dengan Nadhien, gelas kopi panas tidak pernah lepas dari tangannya.
”Non, aku boleh tanya sesuatu?” Raya akhirnya memberanikan diri bertanya pada Nadhien yang masih memperhatikan bulan.
”Tanya apa Mas?”
”Eh, gak jadi deh. Nanti aja.” senyum Raya terkesan kaku dan dipaksakan
”Loh kok gak jadi! Mau tanya apaan sih tadi?” Nadhien menjadi semakin penasaran.
”Aku takut kamu nanti marah. Besok lagi aja deh!”
”Marah? Kenapa aku harus marah Mas?” tetap tidak juga mau berbicara meskipun Nadhien terus mendesak dan mencubiti Raya semakin membuatnya menjadi jengkel.
”Ya sudah kalau gak mau kasih tahu. Lebih baik aku tidur lagi, sudah ngantuk nih.” Nadhien mengajak Raya kembali pada ruang tunggu.

Permintaan Nadhien untuk tidur pada pangkuan Raya dikabulkan, lagipula tidak ada bantal diruang tunggu itu. Nadhien sudah pada posisinya untuk tidur, mengucapkan selamat tidur. Raya memperbaiki posisi jaketnya yang dijadikan penghangat bagi tubuh Nadhien. Pandangan mereka bertemu pada titik yang sama sebelum Nadhien memejamkan mata, kemudian tersenyum.
”Non, boleh aku pegang rambutmu selama kamu tidur?” Raya meminta ijin atas tindakan yang telah dia lakukan sebelumnya.
”Boleh aja kok Mas, lagian dari tadi kan Mas Raya juga dah pegang rambutku” Raya tak dapat menyembunyikan malunya tapi Nadhien terkesan tidak berkeberatan.
”Oohh, jadi dari tadi kamu gak tidur toh?” Raya menarik gemas hidung Nadhien yang mungil.
”Aduh sakit Mas, ampun. Hiihiiihii lepasin dong!” Nadhien berontak agar terlepas.
”Ssstt... jangan berisik. Kamu sadar gak? Kita lagi di rumah sakit.” Raya mengecilkan suaranya agar tidak menganggu orang disekitar meskipun malam ini di ruang tunggu tidak ada orang lain.

Nadhien sudah tidak bersuara lagi dalam pangkuan Raya yang terus mengelus lembut rambut halus itu. Kopi panas yang diminumnya tadi justru memperkuat efek insomnianya. Dia hanya termenung memperhatikan wajah Nadhien, matanya menikmati keindahan bibir tipis, hidung yang mungil dan alis yang bergaris hitam tegas tidak terlalu tebal, tiba-tiba mata Nadhien terbuka.
”Hayo, Mas Raya ngelamunin apa?” reflek tangan Raya pun memencet hidung Nadhien, mereka tertawa kecil menahan agar tidak meledak keluar.
”Non, kamu mau gak jadi pacar aku? Yaa itung-itung merawat orang telantar kayak aku ini sama seperti merawat anak asuh, nanti kamu dapat pahala loh!”
”Ah Mas Raya ini becanda, mana mungkin kamu suka dengan aku yang jelek ini?” Nadhien tersenyum menggoda
”Aku serius Non, bersediakah kamu menjadi pacarku, seperti Adam yang menemukan Hawa sebagai belahan jiwanya?” sorot mata Raya berbinar serius menerobos bening mata Nadhien untuk mengetahui dalam hatinya. Nadhien yang berada dalam pangkuan Raya tersentak dengan ucapan dan sorot mata itu.
”Mas Raya seriuskah?” suaranya bergetar, dari posisinya ini Raya dapat mendengarkan detak jantung Nadhien.
”Insya Allah, aku tidak ragu atas perasaanku terhadapmu!” Raya menunggu jawaban Nadhien, teror mental beberapa detik itu seperti membunuh Raya, apa jadinya jika Nadhien menolak? Betapa malunya dia nanti jika cintanya hanya bertepuk sebelah tangan? Nadhien hanya tersenyum mengamati Raya yang mulai gelisah, dahinya mulai basah berharap cemas akan jawaban Nadhien. Lembut tapi pasti Nadhien memberi kode dengan kepalanya. Raya tersenyum puas tapi tidak cukup hanya dengan jawaban itu.
”Bisa jadi aku salah mempersepsikan anggukan kepalamu, jadi tolong jawab dengan bibir manismu itu Non.” Raya menantikan detik-detik itu.

Tangan Raya ditarik kearah dada Nadhien yang berdebar cukup kencang, bibir tipisnya seperti siap memberikan jawaban.
”Mas Raya tidak yakin dengan perasaanku ini? Aku bersedia Mas!” perasaan lega dan sensasi lainnya bergejolak bercampur seperti hendak meledak dalam dada. Mereka terus tersenyum saling berpandangan. Meminta ijin agar dapat mencium kening Nadhien, dijawab dengan anggukan lembut dan mata terpejam. Raya mencium kening itu, hanya sejauh inilah batasan itu, dalam hatinya berjanji akan menjaga kepercayaan ini dan kewajiban Raya untuk dapat menjaga kehormatan dan kepercayaan yang diberikan kepadanya. Nadhien menarik tangan Raya mencium telapak itu dan menaruhnya pada pipi lembutnya. Nadhien tertidur dengan damai, sedamai perasaan Raya yang masih mengelus rambut halusnya.

Suara panggilan bagi umat untuk menghadap penciptaNya, membangunkan Nadhien yang terasa nyaman dari tidur singkatnya. Raya tertidur bersandar pada tembok.
”Mas...Mas... Bangun Mas” suara lembut itu membangunkan Raya yang disambut dengan senyuman manis kekasih hatinya kini.
”Bersedia menjadi imam buat aku, Mas?” Raya merasakan sempurna hidupnya kini.

Sepotong Sesuatu ... (potongan ke 20)

RSUP Sardjito, Empat jam kemudian.

Handphone milik Raya berdering, terdengar suara Hari meminta agar Raya dan Nadhien bisa pulang untuk beristirahat atau melakukan kegiatan lain, Hari menunggu di ruang UGD. Tepat jam sembilan pagi, hari ini Nadhien harus masuk kampus, mereka meninggalkan Erlang yang masih tertidur, berjalan menuju tempat Hari menunggu.
”Apa kabar kalian? Pasti lelah sekali ya?” Hari keluar dari ruang UGD memeriksa keadaan dua hasil tangkapan mereka yang terluka pada bagian bahu dan kaki kiri mereka masing-masing. Jawaban ringan mereka tidak menggambarkan kelelahan yang dikhawatirkan Hari.
”Tolong titip Mas Erlang, mungkin nanti sore aku jenguk kesini lagi. Maaf aku harus antar tuan puteri ini ke kampus.” Nadhien yang disebut sebagai tuan puteri tersenyum manis dan mencubit kecil tangan Raya, Hari hanya tersenyum melihat kemesraan mereka.

”Jadi semalam dapat berapa orang yang tertangkap Mas? Bagaimana keadaan mereka?” Hari menjawab pertanyaan Raya sambil menunjukkan hasil tangkapan mereka kedalam ruang UGD. Ruangan itu hanya berisi dua orang pasien titipan Polisi, mereka terborgol pada tempat tidur mereka masing-masing. Ruangan luas itu menjadi sempit karena terbagi menjadi beberapa ruang kecil yang tersekat dengan selembar kain hijau untuk setiap pasien. Hari, Raya dan Nadhien berada pada pasien yang terluka pada kakinya sementara hasil tangkapan satu lagi berada disebelah satunya dibatasi kain hijau.

Teriakan Nadhien membuat Raya dan Hari terkejut. Nadhien hanya menangis, terguncang, menatap lemah pada kekasihnya yang baru saja dia miliki, sementara Raya tak dapat berbuat apapun. Hari hanya mengarahkan pistolnya dengan ragu, ancaman seseorang yang berlindung dibalik sandera tidak bisa dianggap main-main. Rupanya salah satu tersangka yang berada dibalik kain hijau itu bangkit mengalungkan leher Nadhien dengan pisau bedah yang mungkin dia sembunyikan semalam ketika dilakukan operasi penanganan luka tembak dibahu kirinya, meskipun tangan kanannya terborgol pada ranjang besi dan luka dibahu mengeluarkan darah lagi tapi ancamannya membuat Hari harus memenuhi permintaan orang itu.

Hari meletakan senjatanya dilantai, menendangnya kearah pintu dan memberikan kunci borgol untuk diberikan kepada Nadhien sesuai perintah orang yang berlindung dibalik tubuh Nadhien. Raya hanya bisa menenangkan Nadhien lewat tatapan matanya. Tangannya gemetaran dengan luka sayatan kecil dileher akibat pisau bedah yang tertekan pada kulitnya, Nadhien membukakan borgol dari tangan penyanderanya. Kunci kecil itu telah berpindah tangan, kemudian memerintahkan kepada Hari untuk memasangkan borgol itu ketangannya sendiri dan tangan Raya. Kini penyandera dapat bergerak leluasa, dengan sandera dan penghalangnya akan kesulitan menyerang dengan borgol ditangan mereka.

Penyandera berjalan mundur, tangannya masih memegang pisau bedah yang diarahkan menuju leher sanderanya, berjalan perlahan dengan ancamannya menuju pintu, mengambil pistol milik Hari bahkan sebelum keluar dari pintu itu dia menyempatkan membuang kunci borgol kedalam wastafel tempat bagi dokter untuk mencuci tangan. Nadhien jatuh terdorong setelah penyandera itu berlari keluar dengan acungan senjata api. Hari dan Raya memastikan keadaan Nadhien yang masih terguncang kemudian lari mengejar dengan kondisi terborgol satu sama lain. Tidak sulit mengikuti arah penyandera itu berlari, sepanjang koridor yang mulai didatangi orang yang akan menjenguk menjadi ramai dengan teriakan begitu melihat seseorang berlari dengan senjata api, menabrak siapa saja yang menghalangi.

Hari dan Raya terus mengejar buruannya, seorang perempuan muda terjatuh akibat diterjang, Raya mengenali orang itu dan mendekati.
”Kamu tidak apa-apa Jane?” membantunya berdiri
”Gak apa-apa. Dia lari kearah parkir utara!” tangannya menunjuk kearah larinya orang yang menabraknya.
”Jane kamu tolong ke UGD, disana ada temanku yang shock, dia pakai jaketku!” Raya sambil berlari berteriak memberitahukan agar Jane melihat keadaan Nadhien. Jane hanya mengangkat satu tangannya memberi tanda setuju.

Hari menjelaskan situasi yang terjadi pada seorang SATPAM yang mendekati mereka kemudian membuka borgol.
”Saya memerlukan senjata kamu, cepat hubungi semua anggota yang ada dan minta bantuan Kepolisian terdekat, lakukan penyisiran didalam dan diluar. Kamu disini saja, tangani Nadhien” senjata api berisi peluru tak tajam milik SATPAM telah berpindah tangan, kemudian Hari bergegas mengejar, tapi rasa penasaran Raya tidak menghentikannya hanya sampai disitu.

Raya mendekati petugas SATPAM yang sibuk menghubungi meminta bantuan sesuai perintah Hari.
”Maaf Pak, saya perlu alat ini dan tolong Bapak cepat periksa keadaan saksi dan tahanan titipan di ruang UGD. Cepat laksanakan!” perintah tegas dari Raya meyakinkan petugas keamanan itu seolah mendapatkan perintah langsung dari seorang anggota Polisi. Raya menyusul mengejar menuju parkir utara.

Hari melompati pagar setinggi dua meter, pada tembok itu terlihat jejak kaki buruannya yang melompat kearah rawa kecil yang ditumbuhi tanaman dan semak lebat berbatasan dengan tembok itu. Raya sempat melihat Hari melompati pagar kemudian menyusulnya.
”Kenapa kamu ikut mengejar? kamu tahu ini sangat berbahaya!” Hari terkejut begitu dia menyentuh tanah ternyata tak lama kemudian Raya sudah berada disampingnya.
”Tenang saja Mas, aku bawa ini?” Raya menunjukkan pentungan karet yang dipinjamnya dari SATPAM tadi.
”Gila kamu ini!”
”Ssst... dengar itu Mas?” Raya mendengar kawanan burung pipit yang terbang dari balik semak-semak berjarak sekitar tiga puluh meter didepan mereka.

Hari memberikan kode agar Raya mengejar kearah kanan sementara dia mengambil kearah kiri kemudian sudah hilang dibalik semak belukar. Keadaan rawa menjadi sangat sepi, tidak ada suara ataupun gerakan binatang kecil penghuni rawa, penyandera itu menyadari kehadiran mereka. Raya berjalan perlahan menunduk, berusaha sekecil mungkin tidak menimbulkan suara., dirinya sadar berada dalam situasi berbahaya, tidak sekedar dalam permainan memperebutkan bendera lawan saat perang-perangan dengan senapan mainan berpeluru cat warna-warni. Kepalanya dengan cepat menunduk begitu terdengar suara letusan, sebuah dahan pohon Sengon patah terkena tembakan, hanya setengah meter diatas kepalanya.

”Thanks Jane!” dalam hati bergumam, rupanya kawan dekatnya ini dari ruang UGD memberikan peringatan akan adanya bahaya lewat komunikasi batin dengan Raya, telat satu detik saja peringatan itu, mungkin kepalanya terkena sasaran peluru. Jane memberitahukan keadaan Nadhien yang tengah ditangani perawat. Kelebihan kemampuan indera keenam yang dimiliki Jane dapat keluar begitu saja tidak seperti Raya yang harus melakukan meditasi terlebih dahulu. Raya mengejar penembak itu yang bergerak lari kearah barat setelah menembaknya. Buruannya berlari lemah didaerah terbuka, pentungan ditangannya dilemparkan sekuat tenaga dan tepat mengenai bagian belakang kepala sasarannya, meskipun sempat terjatuh tapi dia masih bisa berlari kearah semak-semak.

Lewat komunikasi batin kali ini Jane memberitahukan posisi buruan mereka yang sedang menahan rasa sakitnya bersembunyi di balik semak, Raya bisa mendekati orang yang hampir sekarat karena mengeluarkan darah banyak sekali dari luka dibahunya. Hari terlebih dahulu menemukan buruannya yang terkapar lemah setelah mengikuti jejak darah, tangannya masih menodongkan senjata dan mengambil senjata miliknya yang berada tidak jauh dari kakinya. Hari memberikan perintah agar Raya memborgol menggunakan borgol yang sama mereka kenakan tadi pada buruannya yang sudah berada dalam posisi tidur telungkup dengan kedua tangan diatas kepala, membawa keluar menuju jalan raya.

Raya bergegas mencari Nadhien, menerobos kerumunan wartawan yang terhadang Polisi didepan sebuah ruang periksa. Jane tengah memeluk Nadhien yang masih terguncang akibat kejadian tadi, Raya memegangi jarinya memastikan bahwa semua baik-baik saja dan telah selesai. Tidak lama kemudian orang tua Nadhien menjemput dan membawa Nadhien, sebenarnya Raya berkeinginan untuk mendampingi Nadhien tapi Hari membutuhkan dirinya setelah dia menghadapi pertanyaan kumpulan wartawan yang memaksa masuk.

”Terimakasih banyak Jane, you save my life once again” Raya meneguk kopi dari gelas plastik.
”Thats what friend are for, aku cuma kecewa selama ini kamu tidak tidak terbuka dengan aku” mereka duduk di kursi tunggu menikmati kopi panas.
”Kamu kan tahu aku gak pernah bohong dan gak akan bisa menutupi apapun dari kamu, aku juga yakin kamu mengetahui alasan mengapa aku gak pernah cerita tentang hal ini, aku harap kamu bisa mengerti.” meskipun Raya berbicara dengan Jane tapi pikirannya masih tertuju kepada Nadhien.
”Aku bisa mengerti jika ini semua masih ada kaitannya dengan skripsimu. Ingat, aku harus berbohong, mengatakan kepada kawan-kawan bahwa kamu pulang kamu untuk urusan penelitian, semua ini demi menutupi keberadaanmu yang hilang begitu saja.” walau bagaimanapun Jane tidak pernah bisa marah terhadap kawan satunya ini.
”You better call her, i know you still worried about her condition.” Jane menyodorkan handphonenya, Raya hanya tersenyum bahkan untuk handphone miliknya yang habis baterenya saja, karena semalaman tidak dicharge, Jane bisa mengetahui hal itu, bagaimana dia bisa menutupi hal lainnya dari kawan akrabnya ini.


Lokasi; Kediaman orang tua Nadhien. 13.30 WIB

Raya menepati janjinya untuk melihat keadaan Nadhien secepatnya setelah urusan selesai. Hari terpaksa memberikan ijin lebih cepat keluar bagi Raya dari pertemuan seluruh tim di ruang kerja Erlang karena melihat Raya tidak fokus mengikuti pembahasan mengenai tindakan berikutnya. Raya bergegas menuju lokasi yang telah disebutkan Nadhien lewat telepon tadi. Gerbang tinggi itu terbuka, seorang penjaga keamanan rumah memberitahukan agar Raya dapat menunggu di ruang tamu. Halaman rumahnya cukup luas dan terawat dengan baik, dihiasi tanaman mahal, Raya masih belum mengerti alasan Nadhien yang memilih untuk tinggal di kontrakan sementara rumahnya sendiri cukup nyaman dan jarak tempuh menuju kampus hanya sekitar empat puluh menit saja.

Ayah Nadhien sudah menunggu di ruang tamu menunggu penjelasan Raya tentang posisi Nadhien hingga bisa berada dalam situasi yang membahyakan puteri kesayangan mereka karena Nadhien belum bisa diajak berbicara sementara belum ada satu pihak pun yang sempat memberikan penjelasan kepada mereka karena langsung membawa Nadhien pulang. Sikap pembawaan Ayah Nadhien yang egaliter tapi tidak menutupi perasaan khawatir terhadap anaknya membuat Raya menjadi tenang menceritakan kejadian yang sesungguhnya, tentu saja menutupi statusnya dengan memberikan alasan bahwa mereka ada di rumah sakit untuk menjenguk kawannya yang sakit.

Raya diajak ke pekarangan belakang rumah, disana Nadhien duduk pada kursi santai memeluk kucing kesayangannya, perempuan tua yang menjadi pengasuhnya sejak kecil tidak bisa membujuk Nadhien yang belum juga menyentuh makan siangnya. Ayahnya membiarkan mereka berdua. Raya tidak tega melihat Nadhien yang tiba-tiba saja terjebak pada situasi yang membuat dirinya terguncang, pandangan matanya masih kosong menatap kedepan, tiba-tiba menangis begitu mengingat kejadian tadi, membuat kucing kesayangannya lari menjauh, terduduk lemah dikursi memeluk Raya yang berdiri disampingnya. Raya mengelus rambutnya menenangkan dan membujuk Nadhien agar mau makan karena sejak tadi pagi dia belum makan.
Lelucon kecilnya tentang ayam tetangga yang masuk rumah sakit karena sering melamun dan tidak mau makan, menciptakan senyum ringan dan berhasil membujuk Nadhien memakan bubur ayam meski tidak habis dan meminum segelas susu. Nadhien meminta agar Raya tidak meninggalkan dia lagi, Raya hanya tersenyum bangga dengan kekuatan hati Nadhien dan berjanji akan selalu berada disisinya kapan pun dia membutuhkan bantuannya, tentu saja tidak termasuk jika berkaitan dengan ujian di kampus atau urusan ke kamar kecil. Mereka sudah bisa tertawa lagi, Ayah Nadhien tersenyum puas, melihat dari balik kaca lantai satu, dia percaya puteri kesayangannya berada di tangan orang yang tulus.


Lokasi Ruang ICU. 20.00 WIB

Raya masih bertanya-tanya dalam hatinya sepanjang perjalanan dari utara Jogjakarta menuju Sardjito, mengapa Hari menelpon dirinya agar segera kesana? Tanpa penjelasan lengkap, hanya keterangan penting. Sebenarnya Nadhien mencegah kepergiannya dan Ayahnya pun tidak berkeberatan jika Raya bersedia menginap di kamar tamu yang telah disediakan, tapi karena ini menyangkut Erlang, dia berjanji akan berhati-hati dan akan terus menghubungi akhirnya Nadhien memahami.

Langkahnya dipercepat menuju ruang ICU, disetiap penghubung satu gedung dengan gedung lainnya dia melihat penjagaan rumah sakit ini menjadi diperketat, mungkin untuk menghindari kejadian serupa terulang lagi karena dia sudah dikenal oleh beberapa petugas maka dengan leluasa melewati mereka, meski tidak ada satupun penjaga yang dapat menjelaskan keadaan Erlang ketika dia bertanya-tanya. Pintu ICU terbuka, dia terkejut, seluruh tim telah berkumpul di tempat Erlang terbaring, dadanya berdegup cukup kencang tapi begitu Hari membalikkan badannya menyambut Raya, terlihat Erlang sudah terduduk bersandar, melepas masker oksigen dan menyapa kehadirannya.Raya tidak dapat menutupi kebahagiaannya, matanya berkaca-kaca. Erlang mendengarkan penjelasan perkembangan kasus dari Hari, kasus ini harus segera diselesaikan karenanya dia memaksakan diri, bahkan dalam keadaan baru saja melewati masa kritis. Ruangan ICU telah disulap menjadi markas sementara......
(bersambung...)

Senin, November 02, 2009

mandi bersama adik2 soka pundong jilid 2

mandi bersama Adik-adik Soka, Pundong -Bantul

telah kutemukan lagi harta karun berhargaku, dokumentasi Trauma Healing sewaktu di Bantul. video ini diambil pd tahun 2006 tepat kami mandi bersama di Sungai Opak, sekedar informasi titk bencana gempa bumi berada dipertemuan sungai opak ini dg sungai Oya, adik2 sudah berani mandi di titik bencana bermuara. perhatikan teriakan yang tidak asing