Kamis, November 19, 2009

Sepotong Sesuatu ... potongan ke

Kontrakan Nadhien

Raya terduduk lemah akibat kehilangan energi cukup banyak dalam meditasinya tadi. Tangannya berusaha menekan tombol panggilan terakhir kepada Hari untuk mengetahui perkembangan. Jawaban yang didapat hanya singkat, penolakan Hari untuk berbicara dengan Raya bisa saja membuat konsentrasi terpecah dan membahayakan nyawa Hari. Nadhien sudah mulai menguasai dirinya dari kecemasannya dan menawarkan teh hangat dicampur sedikit madu.

”Minum ini Mas, lumayan supaya kamu gak terlau lemas” ucapan terimakasih hanya terdengar pelan sekali.
”Gimana sudah agak baik?” anggukan kepala itu sebagai jawabannya
”Mas, bisa tolong ceritain tadi itu kenapa toh Mas? Kenapa tiba-tiba Mas Raya jadi begini? Terus yang Mas hubungi tadi siapa?” Nadhien sudah tidak tahan lagi untuk mengetahui jawaban kecemasannya, dia tidak peduli lagi apakah Raya telah kuat untuk menjawab pertanyaannya itu.

Raya menguatkan dirinya untuk bercerita, statusnya yang berada dalam ruang bedah mayat dia jadikan sebagai pembuka cerita kemudian dia menjelaskan kaitan dirinya yang sangat rumit hingga menjadikan dirinya terlibat pada kasus pembunuhan itu dan terakhir dia menjelaskan mengapa dia harus melakukan meditasi tadi. Dia menyadari kemampuan lebihnya yang dapat melihat dan mengetahui kejadian yang berjarak jauh dari dirinya atau dalam ilmu para-psikologi dikenal sebagai clair voyance ini didapatkan hasil dari latihan meditasi dan pernafasan karena sering terus dilatih maka dia akan keluar dengan sendirinya, dia juga yakin setelah mendengarkan penjelasan dari pelatihnya bahwa manusia baru menggunakan sekitar dua puluh persen dari potensi dalam dirinya dan jika diagali terus maka manusia baru sadar akan kemampuannya yang tak terkira selama ini. Itu sebabnya tiba-tiba dia seperti merasakan ada sesuatu hal buruk sedang terjadi, kali ini kaitannya dengan Erlang yang sedang mengalami masa kritis.

Nadhien yang terbiasa dengan ilmu pasti dan pikiran-pikiran skeptisnya cukup sulit untuk mempercayai hal itu, meskipun dia sering melihat buku-buku tentang penggalian kemampuan bawah sadar manusia melalui berbagai meditasi tapi dia hanya melihat cover bukunya saja karena baginya itu adalah bohong belaka, sekarang dia baru sadar dengan istilah ”don`t judge abook from it`s cover”, selain itu juga dia sangat terkejut dengan status Raya yang selama ini mengaku sebagai mahasiswa yang sedang penelitian skripsi. Nadhien berharap informasi lebih banyak lagi dari keterangan Raya, tapi dia meminta waktu untuk tidak menjelaskannya saat ini. Raya mengingatkan Nadhien bahwa mereka belum menunaikan ibadah malam ini, Raya juga meminta secara khusus agar Nadhien berdoa untuk keselamatan Erlang dan timnya.


Jawaban atas Doa Tulus
Lokasi; Rumah Sakit Sardjito, bagian ICU. 01.05 WIB

Raya dan Nadhien menunggu dengan cemas didepan bagian Intensif Care Unit, mereka mendapatkan informasi dari Hari bahwa Erlang telah dibawa kerumah sakit dalam kondisi kritis. Raya yakin bahwa suara deru mesin helikopter yang melintas diatas kontrakan Nadhien selepas shalat tadi adalah helikopter yang membawa Erlang dari lokasi menuju Rumah Sakit Sardjito yang letaknya tidak jauh dari kontrakan itu. Hari datang mendorong Yanto pada kursi roda, sesaat setelah sadar dari ruang UGD, dia memaksa untuk melihat kondisi Komandannya yang kritis, dihadapan mereka Yanto menangis merasa bersalah karena tidak bisa melindungi Erlang. Hari menenangkan dan menjelaskan kepada Yanto bahwa dia tidak bersalah bahkan diri masih belum bisa berjalan akibat ototnya yang belum dapat digerakkan tapi ini hanya bersifat sementara menurut keterangan dokter.

Pintu ruang ICU terbuka, seorang dokter dan perawat mendekati mereka. Menjelaskan bahwa Erlang telah melewati masa kritisnya dan peluru yang bersarang pada bahunya telah dikeluarkan sejak diruang operasi tadi tapi dia masih perlu waktu yang lama untuk istirahat. Dokter memberikan ijin bagi keluarga dekatnya untuk melihat kondisi Erlang tapi berlaku untuk dua orang setiap kali masuk. Raya dan Nadhien mendapatkan kesempatan pertama karena Hari harus menenangkan Yanto terlebih dahulu, dia tidak ingin nanti didalam sana emosinya tidak terkendali.

Raya mengambil kursi kecil dan mempersilahkan Nadhien untuk duduk disamping tempat Erlang terbaring. Status jantung Erlang dapat termonitor seperti sandi rumput atau kilatan listrik pada sebuah layar kecil itu. Nadhien tidak dapat berbuat apa-apa hanya terdiam mungkin merapal doa dalam hati meskipun dia hanya bertemu sekali didalam ruang bedah mayat tempo hari tapi empatinya terhadap Erlang cukup tinggi. Raya mulai mengosok-gosokan kedua telapak tangannya lalu merasakan getaran halusnya muncul ketika beberapa detik kedua telapak tangan saling berhadapan tanpa bersentuhan kemudian mendekatkan telapak tangan kanannya kearah luka dibahu dan telapak kirinya memegang telapak tangan Erlang. Nadhien hanya dapat menyaksikan saja sambil bertanya-tanya dalam hati, entah apa lagi yang dilakukan Raya yang terpejam penuh konsentrasi.

Beberapa detik setelah Raya melepaskan tangannya, Erlang memperlihatkan tanda-tanda vitalnya, kelopak matanya terbuka lemah sekali nafasnya dibantu masker yang mengalirkan oksigen. Nadhien tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya, dia berdiri seolah ingin menunjukkan kehadirannya disisi Erlang memberi suport baginya, Raya hanya tersenyum memahami kedipan mata lemah itu. Nadhien sampai menitik air mata, salut dengan kegigihan Erlang untuk bertahan hidup.

”Gak masalah Mas. Biar aku saja yang tunggu Mas Erlang disini, Mas Hari dan Mas Yanto istirahat saja dulu.” Raya memahami alasan Hari dan Yanto setelah keluar dari ruang ICU yang tidak dapat menunggui Komandannya malam ini, sementara anggota lainnya juga disibukkan menjaga tahanan yang baru saja mereka tangkap yang juga dirawat di rumah sakit ini dan beberapa lagi diantaranya istirahat di markas setelah melakukan operasi penangkapan yang melelahkan. Nadhien memaksa Raya untuk menemaninya malam ini, meskipun Raya melarang tapi kemauan kerasnya tidak dapat dicegah karena dia juga tidak yakin dengan kondisi Raya.

Malam terus bergerak menuju pergantian hari, Nadhien mempercayakan dirinya tertidur dalam pangkuan Raya. Penyakit Insomnianya tetap tidak dapat dikompromikan meskipun tubuhnya masih terasa lelah, sepanjang malam dia hanya memperhatikan wajah Nadhien yang polos dan tenang dalam tidurnya, tangannya masih mengelus rambut halus itu, tidak menyangka dapat sedekat ini dengan Nadhien. Tepat jam dua dini hari seorang anggota berpangkat rendah datang mengantar kopi, susu panas dan beberapa makanan ringan kemudian pamit kembali untuk menjaga tahanan di ruang UGD.

Nadhien terbangun namun kepalanya terasa berat dan sakit sekali, migrainnya kambuh lagi. Raya melarang Nadhien yang hendak duduk, meminta agar tetap pada posisi tidurnya dalam pangkuan. Raya kembali melakukan gosokan tangannya itu, meminta ijin pada Nadhien, memberikan instruksi agar diam saja dan membantunya dengan nafas teratur. Nadhien merasakan hangat dan seperti ada gelombang yang merambat lembut dari telapak Raya yang didekatkan kearah kepalanya, perlahan rasa nyamannya membuat rasa sakit pada pembuluh darah dikepalanya berkurang, Raya hanya tersenyum melihat Nadhien yang tidak lagi menahan rasa sakit. Nadhien mencium telapak tangan Raya sebagai bentuk rasa terimakasihnya kini dia mengetahui rahasia kemampuan Raya yang terpendam itu.

”Ada kopi dan susu panas, kamu mau minum atau lanjut tidur lagi?” Raya menawarkan minuman panas yang diantarkan bagi mereka. Nadhien terbangun dengan semangat.
”Kebetulan malam ini aku belum minum susu, Mas Raya minum kopi aja ya?” Nadhien telah mengambil pilihannya dan menyodorkan gelas plastik berisi kopi panas pada Raya. Nadhien memperhatikan langit kemudian mengajak Raya untuk keluar menikmati bulan yang bersinar terang didepan taman kecil itu.

Raya merasa kikuk untuk berbicara dengan Nadhien, gelas kopi panas tidak pernah lepas dari tangannya.
”Non, aku boleh tanya sesuatu?” Raya akhirnya memberanikan diri bertanya pada Nadhien yang masih memperhatikan bulan.
”Tanya apa Mas?”
”Eh, gak jadi deh. Nanti aja.” senyum Raya terkesan kaku dan dipaksakan
”Loh kok gak jadi! Mau tanya apaan sih tadi?” Nadhien menjadi semakin penasaran.
”Aku takut kamu nanti marah. Besok lagi aja deh!”
”Marah? Kenapa aku harus marah Mas?” tetap tidak juga mau berbicara meskipun Nadhien terus mendesak dan mencubiti Raya semakin membuatnya menjadi jengkel.
”Ya sudah kalau gak mau kasih tahu. Lebih baik aku tidur lagi, sudah ngantuk nih.” Nadhien mengajak Raya kembali pada ruang tunggu.

Permintaan Nadhien untuk tidur pada pangkuan Raya dikabulkan, lagipula tidak ada bantal diruang tunggu itu. Nadhien sudah pada posisinya untuk tidur, mengucapkan selamat tidur. Raya memperbaiki posisi jaketnya yang dijadikan penghangat bagi tubuh Nadhien. Pandangan mereka bertemu pada titik yang sama sebelum Nadhien memejamkan mata, kemudian tersenyum.
”Non, boleh aku pegang rambutmu selama kamu tidur?” Raya meminta ijin atas tindakan yang telah dia lakukan sebelumnya.
”Boleh aja kok Mas, lagian dari tadi kan Mas Raya juga dah pegang rambutku” Raya tak dapat menyembunyikan malunya tapi Nadhien terkesan tidak berkeberatan.
”Oohh, jadi dari tadi kamu gak tidur toh?” Raya menarik gemas hidung Nadhien yang mungil.
”Aduh sakit Mas, ampun. Hiihiiihii lepasin dong!” Nadhien berontak agar terlepas.
”Ssstt... jangan berisik. Kamu sadar gak? Kita lagi di rumah sakit.” Raya mengecilkan suaranya agar tidak menganggu orang disekitar meskipun malam ini di ruang tunggu tidak ada orang lain.

Nadhien sudah tidak bersuara lagi dalam pangkuan Raya yang terus mengelus lembut rambut halus itu. Kopi panas yang diminumnya tadi justru memperkuat efek insomnianya. Dia hanya termenung memperhatikan wajah Nadhien, matanya menikmati keindahan bibir tipis, hidung yang mungil dan alis yang bergaris hitam tegas tidak terlalu tebal, tiba-tiba mata Nadhien terbuka.
”Hayo, Mas Raya ngelamunin apa?” reflek tangan Raya pun memencet hidung Nadhien, mereka tertawa kecil menahan agar tidak meledak keluar.
”Non, kamu mau gak jadi pacar aku? Yaa itung-itung merawat orang telantar kayak aku ini sama seperti merawat anak asuh, nanti kamu dapat pahala loh!”
”Ah Mas Raya ini becanda, mana mungkin kamu suka dengan aku yang jelek ini?” Nadhien tersenyum menggoda
”Aku serius Non, bersediakah kamu menjadi pacarku, seperti Adam yang menemukan Hawa sebagai belahan jiwanya?” sorot mata Raya berbinar serius menerobos bening mata Nadhien untuk mengetahui dalam hatinya. Nadhien yang berada dalam pangkuan Raya tersentak dengan ucapan dan sorot mata itu.
”Mas Raya seriuskah?” suaranya bergetar, dari posisinya ini Raya dapat mendengarkan detak jantung Nadhien.
”Insya Allah, aku tidak ragu atas perasaanku terhadapmu!” Raya menunggu jawaban Nadhien, teror mental beberapa detik itu seperti membunuh Raya, apa jadinya jika Nadhien menolak? Betapa malunya dia nanti jika cintanya hanya bertepuk sebelah tangan? Nadhien hanya tersenyum mengamati Raya yang mulai gelisah, dahinya mulai basah berharap cemas akan jawaban Nadhien. Lembut tapi pasti Nadhien memberi kode dengan kepalanya. Raya tersenyum puas tapi tidak cukup hanya dengan jawaban itu.
”Bisa jadi aku salah mempersepsikan anggukan kepalamu, jadi tolong jawab dengan bibir manismu itu Non.” Raya menantikan detik-detik itu.

Tangan Raya ditarik kearah dada Nadhien yang berdebar cukup kencang, bibir tipisnya seperti siap memberikan jawaban.
”Mas Raya tidak yakin dengan perasaanku ini? Aku bersedia Mas!” perasaan lega dan sensasi lainnya bergejolak bercampur seperti hendak meledak dalam dada. Mereka terus tersenyum saling berpandangan. Meminta ijin agar dapat mencium kening Nadhien, dijawab dengan anggukan lembut dan mata terpejam. Raya mencium kening itu, hanya sejauh inilah batasan itu, dalam hatinya berjanji akan menjaga kepercayaan ini dan kewajiban Raya untuk dapat menjaga kehormatan dan kepercayaan yang diberikan kepadanya. Nadhien menarik tangan Raya mencium telapak itu dan menaruhnya pada pipi lembutnya. Nadhien tertidur dengan damai, sedamai perasaan Raya yang masih mengelus rambut halusnya.

Suara panggilan bagi umat untuk menghadap penciptaNya, membangunkan Nadhien yang terasa nyaman dari tidur singkatnya. Raya tertidur bersandar pada tembok.
”Mas...Mas... Bangun Mas” suara lembut itu membangunkan Raya yang disambut dengan senyuman manis kekasih hatinya kini.
”Bersedia menjadi imam buat aku, Mas?” Raya merasakan sempurna hidupnya kini.

1 komentar:

apa yang ada dikepalamu? apa yang menyumbat tenggorokanmu? apa yg membekukan jari-jarimu?... LONTARKAN!!