Selasa, November 24, 2009

Jalan Lantang ke 2


”Kau ingat Lantang, beratus-ratus tahun lalu Plato pernah berkata; `jiwa rindu terbang pulang dengan sayap-sayap cinta menuju dunia ide. Ia ingin dibebaskan dari rantai badan...` wahai Lantang kawanku, `kan kemana jiwamu terbang jika ia merindu? sementara kau tak lagi memiliki sayap itu!” gema suara itu perlahan menghilang. ”Siapa kau? Tunjukkan wujudmu! Keluar!” tak ada jawaban, hanya ada satu lingkaran terang, asal cahaya itu tepat berada jauh di atas ubun-ubunnya, entah di luar lingkaran itu, gelap pekat, entah berada dimana dirinya kini? Pertanyaan itu tidak membuatnya memberanikan diri untuk keluar dari lingkaran cahaya. Tersilau matanya ketika coba melihat keatas, jatuhan sinar pada permukaan retina memaksanya agar takluk dan tak lagi mencoba.


Samar di hadapannya berjarak sekitar dua puluh meter, lingkar cahaya yang sama menyinari sesosok tubuh, semakin mendekat jaraknya, barulah dia ketahui asal suara itu walau masih ragu untuk menerka siapa orang itu, setidaknya Lantang pernah mendengar suara itu, ingatannya menggiringnya pada satu kesimpulan; Arius `wong gendeng Bulak Sumur`. Kawan lamanya, seorang mahasiswa filsafat yang menghabiskan hidupnya berkelana disepanjang trotoar Malioboro tertutup debu jalan dan polusi asap kendaraan, tapi Arius sudah mati! Bagaimana bisa dihadapan Lantang?


Arius, kawannya ini pernah beranggapan sudah saatnya mengakhiri peran penipuan diri, cukup sudah manusia menjadi boneka kehidupan dengan tali-tali takdir mencengkram kuat jiwa manusia, belum lagi raga –baginya- adalah penjara paling ketat penjagaannya, sekalipun Alcatraz sombong mengaku sebagai penjara terhebat di dunia dengan sistem super maksimum security-nya, masih tak sebanding dengan dengan raga manusia.


Lantang tetap beranggapan Arius terlampau bodoh, terlebih ketika dia temukan kawannya, Arius, tergolek mati konyol. Tiba-tiba Arius sudah berada di atas gedung BNI tepat sebelum perayaan sekaten digelar. Mungkin bekal diksar pecinta alam yang membawanya pada atap gedung tua tepat diperempatan Malioboro itu. Keras kepalanya terkalahkan setelah beradu dengan kerasnya aspal jalan, mati konyol hanya ingin membebaskan jiwanya terbang dari penjara raga.


Lantang yang saat itu tengah mengatur jajaran sepeda motor yang terparkir dalam batas wilayah kekuasaannya, tak kuasa menahan rasa jengkel terhadap kawannya yang tewas bunuh diri setelah terjun dari gedung tua peninggalan kompeni itu, ”Dasar bodoh kau Arius!!!... Kau pikir kau ini malaikat Seth hah!!! Bodoh!!” teriakan lantangnya memudar dari lengkingan tinggi hingga tak bersuara sama sekali meskipun mulutnya masih menganga lebar. Lantang masih ingat ketika Arius begitu bersemangatnya menceritakan satu adegan film City of Angel ketika malaikat pencabut nyawa bernama Seth terjun dari gedung tinggi menanggalkan keabadiannya menjadi manusia fana hanya demi merasakan satu sentuhan, dipikirnya jika manusia melakukan hal yang sama maka akan bertukar posisi menjadi malaikat. Satu gagasan konyol.


”Lantang kawanku, akhirnya kaupun menyusulku. Sudah bosan rupanya dengan duniamu yang heroik atau kaupun sama bodohnya seperti aku? Kau pikir aku tak dengar teriakanmu pagi itu? Aku bahkan sempat memukulmu agar diam tapi ternyata baru kusadari atom penyusun ragamu tak dapat kusentuh! Ada apa kawan? Rindukah kau atas kawanmu si gendeng ini?” Jarak yang ada membuat Lantang tak berucap.


”Apa ini Arius? Dimana...” belum sempat Lantang mengakhiri ucapannya ”Ruang penantian kawan! Sebuah dimensi lain, Tuhan telah ungkap misteri kegaiban zat kuasaNya, dimensi tanpa batas ini yang ada hanya hampa dan sinar terang itu kawan!” Tangannya merentang lebar, kepalanya menengadah seolah menikmati jatuhan sinar. Detik itu juga Lantang betul-betul melihat sayap Arius.


”Kau tahu kawan, beruntung aku dapat bertemu dengan dirimu, selama ini aku tak pernah bertemu zat selain gelap dan terang tapi sekarang aku tengah melihat kawanku dihadapanku. Disini hanya ada hening, hening ini yang kucari kawan.” terkadang sinar yang jatuh pad sosok Arius redup-terang mengikuti tekanan suaranya. ”Kawanku Lantang, kukira disini bukan duniamu, tak kan kau temui Lapen, Vodka, Wiski bahkan pedang kebanggaanmu tak kan kau genggam lagi disini kawan! Hanya ada sunyi disini, jelas bukan tempatmu kawan.. bukan!”


”Aku kagum dengan keberanianmu, tak bisa aku sepandai kau dalam mengayunkan pedang, tak pernah pula kutikam tubuh orang lain atas dasar apapun, meski dengan mudahnya kau katakan; atas dasar solidaritas! Persaudaraan! Seorang bijak jauh pada masa lampau pernah berkata; `saat debu-debu menghilang, kau kan tahu, kudakah yang kau tunggangi ataukah keledai?` kawan sekarang sadarkah kau tengah menunggangi apa?” bahkan pada dimensi antah-berantah ini, Arius masih juga mengoceh hal yang sama.


Sosok Arius dibawah sorotan cahaya itu semakin menghilang. Serupa efek lighting dalam pementasan teater, lampu fade out dan monolog pun selesai. Belum sempat Lantang berkata, kawannya kini menghilang entah kemana. Tersadari berada sendiri ditengah dimensi yang belum juga dia pahami, Lantang bertumpu lemah pada lututnya. Meraung gejolak dalam dadanya, ”Dimana aku?!!” fade out, gelap.



..bersambung ke Jalan Lantang 3

Jalan Lantang ke 3


Berkas-berkas cahaya kembali terlihat, seperti tersesat dalam padang pasir tak berujung kemudian melihat oase dihadapan, Lantang berlari mengejar menuju asal cahaya tujuannya. Dimensi absurd ini masih juga belum menyadarkan dirinya, asal cahaya yang terlihat tak juga kunjung dia capai. Sekali lagi Lantang bertumpu pada lututnya tak berdaya sekalipun tak merasa lelah sama sekali namun dia merasa jengkel seolah dipermainkan oleh dimensi ini. Kedua pahanya basah oleh tetes airmata, baru kali ini airmata itu kembali menetes semenjak dia dikhitan, baginya anak yang telah dikhitan telah melewati masa kanak-kanak maka pantang baginya menitikkan airmata setelah itu.


Bola matanya yang masih terselimuti air mata samar melihat berkas cahaya dekat sekali dihadapannya, hanya berjarak satu pahanya. Kaki tak beralas, coklat tua, ornamen body painting natural menghiasi kaki itu. Serupa tulang ular mulai pangkal kaki keatas terus ia ikuti jejak natural body painting, yang terbuat dari getah pepohonan dan proses tanpa bantuan dinamo kecil berlistrik dari batu batere, tidak pula menggunakan jarum logam, sejenis duri atau mungkin tulang binatanglah media yang digunakan untuk membentuk pola itu. Pemilik tato berdiri tenang dengan rambut lurus panjangnya yang terikat ayaman tali rami. Badan kurus berwarna coklat tua itu dia kenali.


Rimata Kariasanu, sosok tenangnya tak dapat dilupakan, hutang nyawa baginya tak mungkin dapat hilang dalam memori bututnya, jika saat itu Rimata Kariasanu tidak sedang berburu, dapat dipastikan Lantang mati tak dikenali di tengah hutan belantara. Saat ditemukan badan Lantang menggigil tapi kaku, warna kulitnya menjadi pucat bahkan hijau lebih dominan, dua lubang kecil di bagian betis kirinya yang menyebabkan kondisinya melemah. Entah kemana perginya melata pembuat dua lubang kecil pada betisnya itu? Lantang pun tak tahu ular jenis apa yang menggigitnya sementara dia tertinggal jauh dari rombongan pecinta alam yang melakukan ekspedisi menuju suku Mentawai. Rimata Kariasanu cepat bertindak, dihisapnya bekas lubang kecil itu, disemburkan darah dari dalam mulutnya, tiga kali Rimata lakukan, setelah yakin dilepasnya kulit pohon yang dia jadikan sebagai busur untuk mengikat pangkal betis, kemudian menghilang dilebatnya hutan membawa Lantang.


Huma besar itu terkesan lenggang, hanya ada asap memenuhi hampir sebagian rumah besar adat suku Mentawai ini. Rimata Kariasanu hanya seorang diri dalam huma, seluruh keluarganya bahkan sebagian besar anggota sukunya punah akibat terjangkit penyakit aneh. Rimata merasakan panas dan gatal tak tertahan pada seluruh tubuhnya yang bertaburan benjolan kecil berwarna merah. Tak kuat menahan Rimata berlarian tak tentu arah kemudian menceburkan diri kedalam sungai yang hampir kering, hanya lumpur yang ada. Tiga hari tak sadarkan diri terendam dalam lumpur.


Lantang mendengarkan dengan takzim cerita Rimata Kariasanu, kepala keluarga dalam huma besar, meskipun mereka berdua hanya menggunakan bahasa Tazan, beruntung Lantang memahami inti cerita itu berkat gerak tubuh Rimata dalam menjelaskan ceritanya.


***


Pundak Lantang tersentuh dengan lembut, kini dia temui lagi sosok penyelamat dirinya dalam dimensi antah-berantah ini. Badannya semula terduduk lemah, mulai merasakan ada sesuatu yang merambat menjalari seluruh tubuhnya setelah tersentuh Rimata. Ada aliran energi hangat berasal dari telapak tangan sosok di hadapannya, Lantang masih tercengang.


”Berdirilah, kau laki-laki harus tangguh, dimanapun alam yang kau hadapi. Kau ingat pohon sagu yang pernah kita tebang untuk kita ambil sagunya? Bukankah pohon itu tumbuh kokoh pada pada tepi rawa berlumpur, batang itu menjadi besar meskipun penopangnya hanya lumpur lembek. Namun yang terpenting dari batang kokoh itu dapat memberi kehidupan, tegarlah Lantang, hadapi semua bentuk perjuanganmu karena kehidupanmu masih berguna!”


Tambah lagi keheranan Lantang, selam tiga minggu lebih dia tinggal bersama Rimata tak pernah ia pahami dengan jelas kata perkata yang terucap, hanya perkiraan belaka, bahkan sampai pada saat tim SAR menemukannya dan membawanya pulang tetap tak dia pahami sebait kalimat yang diucapkan Rimata berulang-ulang ketika helikopter penjemputnya mulai terbang yang ia yakini; sampai berjumpa lagi, mungkin.


”Tepat dugaanku pada saat terakhir kali kita berpisah, kita akan bertemu lagi walau dalam dimensi berbeda. Disini tidak ada pohon sagu, burung ataupun kijang yang kita buru seperti di Mentawai dulu, kita bertemu lagi. Kau belum layak ada disini Lantang, alur hidupmu masih panjang, belum lagi kau atasi kerumitan tali nasib, sekarang kau sudah ada disini. Kau harus kembali Lantang...”


Lantang masih belum bisa menemui jawaban misteri dihadapannya. Rimata Kariasanu melepaskan bandul di lehernya, dipegang erat telapak tangan kiri Lantang. Berdua mereka menggenggam bandul yang sama, cepat bergetar lengan mereka yang bergenggaman, kilatan plasma keluar dari arah bawah bersulur panjang berwarna putih perak, terang, menyilaukan.



..bersambung ke Jalan Lantang 4







Jalan Lantang ke 4

Bola matanya bereaksi ketika senter kecil diarahkan pada bola mata sebelah kanannya. Kedua matanya membuka lemah, samar-samar terlihat sosok putih dihadapannya, menjadi semakin jelas dan yakinlah Lantang bahwa dihadapannya adalah dokter yang sama menangani Percil. ”Selamat anda telah melewati masa kritis tapi anda harus banyak beristirahat terlebih dahulu sampai kondisi betul-betul pulih” terlihat kesan bangga campur haru pada raut wajah dokter muda itu.


”Percil...dimana Percil?!” kalimat itu yang pertama kali keluar dari mulutnya, terasa perih, kering, suaranya terdengar parau. Seorang perawat menyuguhkan segelas air putih, habis dalam satu tegukkan. ”Bapak tenang saja, tidak perlu khawatir, bocah itu selamat kok. Percil sekarang berada di bangsal Shofa, sedang istirahat.” Lembut suara perawat ini, manis pula wajahnya, mungkin berusia dua puluh dua tahun.


”Bapak sekarang berada di bangsal ICU setelah delapan hari tak sadarkan diri, jadi bapak jangan banyak pikiran dulu, kalau perlu sesuatu tekan saja tombol ini, Insya Allah saya datang. Jangan lupa banyak berdoa agar bapak cepat sembuh karena hanya Allah yang menyembuhkan ketika kita sakit. Permisi, saya harus ke bangsal lain untuk mengganti infus pasien lainnya. Semoga cepat sembuh, Assalamualaikum.” Damai rasanya mendengarkan suara gadis manis berjilbab itu.


Dasar Lantang pemberontak, baru saja diberi anjuran untuk tidak banyak memikirkan hal yang berat, otaknya sudah berontak, dalam benaknya muncul kembali perkataan perawat tadi `hanya Allah yang menyembuhkan kita ketika sakit` ..... Allah..... betapa aku telah lama melupakan penciptaku. Lantang mencegah perawat itu, memaksa agar dipindahkan pada bangsal yang sama dengan Percil.


Sepanjang lorong dari bangsal ICU hanya dominan warna putih yang Lantang lihat, pakaian seragam perawat berwarna hijau dan aroma karbol yang menguap dari lantai, nuansa khas rumah sakit. Pagi hari ini masih sepi, pengunjung belum diperbolehkan masuk dalam lingkungan rumah sakit milik salah satu yayasan berbasis agama Islam ini. Bangsal Shofa terbuka, belum sempat Lantang mencari bocah dekil itu tiba-tiba sebutir jeruk berwarna kuning terang melayang dan mendarat tepat di perutnya, hampir saja terkena bekas jahitan luka. Percil berlari mendekat, sementara perawat kedua bertampang kecut mencegahnya.


”Bang kemana aja sih? Kok lama betul semaputnya! Manja nih, begitu muncul kok didorong oleh suster cantik dan suster monster!” ceplas-ceplos gaya khas Percil inilah yang dirindukan Lantang, suster yang diberi gelar cantik semakin menunjukkan senyum manisnya sementara perawat yang diberi gelar monster oleh Percil semakin memperlihatkan taring panjangnya. Percil bersembunyi dibalik perawat cantik mencari perlindungan.


Pelayanan Kesehatan Umum milik Muhammadiyah yang berlokasi di pertigaan Jalan Bayangkara dan Jalan Ahmad Dahlan ini mulai ramai dikunjungi penjenguk yang berdatangan membawa rantang makanan mungkin berisi soto Taman Sari atau gudeg kendil Wijilan, sekeranjang buah-buahan dan segenap harapan agar kerabatnya hari ini dapat sembuh dan segera pulang karena semakin lama pasien dirawat maka biaya pengobatan akan semakin membengak.


”Cil, kamu sudah sehat toh? Berapa lama kita masuk PKU ini Cil? Hebat juga kamu Cil masih hidup, aku kira wis modar kowe ki! Nduwe nyowo piro toh?” Lantang terkekeh geli melihat respon Percil. ”Bajigur! Berarti Abang kepingin aku mati toh, enak wae!” kali ini apel merah itu melayang dan hampir mendarat di jidat Lantang. ”Eh Cil, ini apel, jeruk terus susu kotak semua ini dari siapa Cil? Jangan-jangan kamu ngutil dari kamar sebelah ya?” ringan sudah canda Lantang dan Percil dengan gaya bahasa `waton njeplak` karakter khas mereka yang terbiasa hidup dijalanan.


”Enak aja ngutil! No way! Gengsi dong! Ini dari mbak Damai, dia tadi kesini Bang. Sebenarnya sih dari hari pertama tapi tiap kesini pasti nangis, abis gak boleh masuk ruangan ICU, tapi kalo dengan aku pasti ketawa terus. Siapa dulu... Percil!!” senyumnya meriah, ada sedikit perubahan dalam diri Percil terutama giginya tidak lagi sekuning dan sebau seperti biasanya, pasti perempuan bernama Damai itu merawat Percil dengan telaten. ”Siip Cil! Besok kamu gantiin Gogon di Srimulat ya, soalnya dia mau pensiun tuh, oke!” Percil langsung turun dari ranjang hanya untuk menirukan gaya khas Gogon. Badannya yang hitam keling banyak ditutupi perban putih, hampir mirip dodol Garut.


”Sekarang Mbak Damai kemana Cil? Kok gak ada, jangan-jangan masih nangis bombay di depan ruang ICU! padahal aku kan sudah pindah kesini.” Dalam hati Lantang ada juga rasa rindu begitu mendengar Damai ada disini. ”Mbak Damai bilang sih mau mandi dulu, tadi abis solat subuh pamit, nanti kesini lagi sekitar jam sepuluh. Tau gak bawa apa nanti?” Percil menggoda Lantang dengan tebakan yang sebenarnya mereka berdua mengetahui jawabannya.


”Burjo dan roti tawar!!” mereka berdua serempak menyebutkan yang akan dibawa oleh Damai. Bubur yang terbuat dari kacang hijau (burjo) dan roti tawar adalah menu sarapan favorit mereka bertiga yang biasa disantap di warung burjo milik Aa Ipit khas Kota Kuningan. Hampir setiap pagi mereka sudah nongkrong di warung kecil yang berada di Jalan Wirobrajan, seberang kampus dekat galeri seniman besar Jogjakarta milik Amri Yahya.

Jalan Lantang ke 5

”Bang, ini ada titipan dari perawat, katanya sih dipegang Abang waktu mau operasi. Susah tuh dilepasin dari genggaman Abang! Padahal Abang waktu itu semaput toh!” Percil menyodorkan sesuatu yang terbungkus potongan perban putih yang dia ambil dari meja kemudian mondar-mandir sambil membawa tiang penyangga botol infus yang hanya seperempat lagi isinya.


”Apa ini Cil?” Lantang masih menerka isi di balik perban itu terlebih keterangan dari Percil tadi yang membuat dirinya semakin penasaran, terlihat dari raut muka dan kedua alis tebalnya hampir bertemu pada pangkal hidungnya. ”Mana aku tahu Bang! Liat aja sendiri, aku gak berani itu kan punya Abang.” Sikap inilah yang Lantang banggakan dalam diri Percil, jika memang bukan haknya maka Percil tidak akan berani untuk coba mengusik, terlebih untuk dimiliki.


Benda terbungkus perban putih itu masih dipandangi sambil menduga-duga isinya. Belum lagi pertanyaan-pertanyaan membingungkan terjawab kini Lantang masih disodorkan sebuah misteri lagi. Bagaimana bisa benda itu ada dalam genggamannya ketika operasi? Perlahan Lantang mulai membuka lembar demi lembar kain kasa pembungkus itu, pada lembar terakhir dia sibak kain putih itu bertambah lagi keheranan Lantang, benda sebesar ibu jari terbungkus kain hitam! Lantang mengenali benda itu, serupa bandul kalung pembawa keselamatan yang biasa melingkar di leher anak kecil. Bukankah benda ini yang diberikan oleh Rimata Karisanu ketika dia berada pada dimensi antah-berantah itu!


”Ssstt.. Bang! Mbak Damai datang tuh!” Percil berlari kecil dari pintu kamar Shofa yang terdiri dari dua ranjang dengan pembatas sehelai kain hijau lebar dan panjang warna khas rumah sakit milik Muhammadiyah ini. Lantang menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. ”Assalamualaikum Cil! Gimana kabarmu hari ini? Wah Jogja hari ini macet total Cil, didepan tadi ada demo dari temen-temen anak sekolah yang katanya menolak disahkannya RUU SISDIKNAS. Sepertinya sih mereka gak terlalu ngerti masalah demo gituan deh! Buktinya tetap aja tuh yang gerakin mereka mahasiswa juga. Eh, ngomong-ngomong kamu sudah makan Cil? Nih Mbak bawain makanan kesukaan kamu, dua bungkus burjo. Satu bungkus untuk kamu, satu bungkus lagi untuk Mbak, abis si gondrong pemangsa burjo satu lagi masih keenakan semaput di ruang ICU sih! Sebentar ya Cil, Mbak ambil mangkuk dan sendoknya.” Damai pergi menuju dapur umum.


”Kemana dia Cil?” volume suaranya diperkecil hampir seperti berbisik. ”Lagi pinjam mangkuk ke dapur umum Bang. Ssstt... dia masuk lagi Bang!” Percil menunjukkan tampang polos tidak berdosanya dihadapan Damai. ”Eh Cil, di sebelah ini ada pasien baru lagi ya? Siapa cil? Kapan dia masuk?” mangkuk yang tadi dibawanya kini berisi bubur kacang hijau hangat. Percil sudah tidak sabar ingin melahap bubur kesukaannya.


”Oh, itu Ibu Putri. Dia tadi masuk gak lama setelah Mbak Damai pulang subuh tadi. Eh Mbak, dia itu sebentar lagi mau melahirkan loh! Tadi katanya suaminya sih dah sekitar delapan bulan lebih, berarti sebentar lagi mau melahirkan ya Mbak?” Percil memberi info sekenanya, mereka berdua memang paling cocok untuk urusan ngerjain orang, partner in joke!


Tawa Lantang hampir saja meledak, tapi dia tahan demi misi usil dengan skenario dadakan ini, Percil kali ini sebagai sutradara insidentalnya. ”Oooh.. terus suaminya kemana Cil? Kok ditinggal sendirian sih?” Damai sempat melirik kearah kain pembatas yang sedikit tersibak. ”Oo.. ehh.. anu... eh.... anu mbak, eh suaminya lagi kebagian keuangan! Iya lagi ngurus keuangan dulu katanya.” Percil sempat kebingungan menentukan dialog improvisasinya. Lantang senyum menahan suara.


Bagus Cil! Dalam hati Lantang mengacungkan jempol atas peran dadakan dan usilnya Percil. ”Eh Mbak, tau gak? Ibu itu sering merintih-rintih loh Mbak! Kayaknya sakit banget deh, udah gitu suaminya lama lagi datangnya. Aku sih gak bisa bantu. Pokoknya hampir setiap sepuluh menit pasti merintih. Liat aja nanti, sebentar lagi pasti Mbak tau deh. Apa seperti itu kalo orang mau ngelahirin Mbak?” mimik polos Percil berhasil meyakinkan korban target misi usil Agen Percil dan Agen Lantang. Kali ini Lantang yang kebingungan memainkan perannya sebagai ibu hamil!


”Sial si item jelek itu! Bisa saja tuh anak!” seperti mendapatkan arahan sutradara gadungan dari balik layar itu Lantang mempersiapkan pita suaranya, merintih-rintih layaknya ibu hamil tua. ”Ehhh.. aduuuhh...duuhh.... mas...masss....”


”Tuh kan! Betulkan Mbak apa kata Percil tadi! Gitu terus tuh dari tadi Mbak. Kayaknya mules banget ya Mbak? Udah waktunya kali mbak!” Percil menebarkan teror psikologis pada korbannya mahasiswi psikologi tingkat akhir ini. Dapat dilihat kesuksesan Percil pada raut wajah Damai yang kebingungan. ”Gimana nih Cil? Aduh suaminya mana ya?” gadis manis mahasiswi Fakultas Psikologi ini terlihat tambah manis dalam kepanikannya. ”Ya udah, Mbak tolongin aja!” Percil seolah puas menambahkan bumbu kepanikan dalam wajah Damai.


Suara rintihan panjang dari mulut Lantang semakin menjadi. Damai ragu menyibak kain hijau pembatas, menengok sejenak meminta dukungan mental dari Percil, sementara bocah hitam itu hanya memberi kode agar terus mendekati arah suara itu. Pasien itu terbaring berselimut dengan rambut panjangnya terurai membelakangi Damai. ”Eeh... maaf Ibu baik-baik saja bu? Ada yang bisa saya bantu?” suara Damai bergetar kaku sementara si `Ibu` hanya diam, bukan menahan sakit melainkan menahan tawa yang dapat meledak kapan saja.


”Bu.. mau saya panggilkan perawat?.. aduhhh gimana ini!” perlahan si `Ibu` memutar badannya dan menyibakkan rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya, siap dengan ekspresi tawa puasnya. ”Ahhhh..... Lantanggg!! Iihh... sebeell..sebelllll!!!” suara tawa meledak dari mulut Lantang dan Percil tapi tidak bagi Damai yang menarik-narik rambut panjang itu dengan jengkel sambil mencubit dan memukul-mukul meluapkan kekesalannya pada tubuh Lantang hingga akhirnya tepat mengenai bagian perut sebelah kiri. ”Aaarrgggggghhh!!!!...” rintihan kesakitan ini asli, bukan bagian dari peran. Teriakan kesakitan ini membahana dalam rumah sakit, melebar menggetarakan keseluruh Jogjakarta!.... Pulau Jawa!!.... Nusantara Endonesa!!.... Benua Asia!!!... dan bergema pada seluruh penjuru bumi!!!!........... ”Aaarrgggggghhh!!!!...”

Namun bumi tetap berotasi!


.......................................................... T A M A T ..........................................................................................

-Jogjakarta, Medio 2003-

-Diketik ulang (ditransfer dari `buku ajaib`ku); 29 Januari 2009, selesai 4 Juni 2009-

Inspired by; mereka yang hidup dijalanan Jogja, Damai, Poe, Jat, Eve!

Sabtu, November 21, 2009

Warna Senja Drupadi (Dua kepala.. dua jiwa.. melebur dalam satu tulisan)




"Mak, doakan aku mak!" sujud takzimku diantara kedua lutut bundaku yang masih berbalut daster batik. "Pasti nduk... coba lihat sebentar. Ayu! kamu memang cantik Nduk! aihh.. lelaki mana yang tak akan tunduk pada bibir lembut ini" Emak telaten membersihkan sapuan gincuku yang melewati batas bibirku, sengaja malam ini kupakai warna gincu menyerupai senja dari belasan koleksi gincu milik Emak, karena saat senjalah aku bukan lagi diri yang lahir dalam bentuk ini, aku harus berubah.




"Loh kok malah nangis nduk? senyum anakku cantik karena senyummu dapat mengobati hati para lelaki yang tengah patah hati atau pening setelah menghadapi beban kerja. Berangkatlah anakku, Drupadi…" Emak tak lupa memberikan beberapa tetes cairan dari botol transparan kecil tepat di keningku, tak perlu kutanya apa gunanya, lewat senyuman pasti Emak, aku sudah mengetahui jawaban itu.Berbekal tas kulit yang sewarna dengan sepatu hak tinggi, Aku, Drupadi memulai dini hari ini dengan melemparkan kaki-kaki berbalut stocking warna gelap. Sempat kulihat pada wajah Emak, namun ia bergegas menunduk dan pergi.





Seperti biasa becak pak Pono sudah menanti didepan pagar halaman. Pak Pono selama ini selalu setia menggendong tubuh sintalku menuju sebuah tempat dikawasan jantung kota Jogja. Bangunan-banguna tua nan kokoh, orang bilang disitu gudang uang sementara kami keparat mencari recehan tepat di taman berbau pesing, hanya berjarak sejengkal saja depan gerbang gudang uang republik ini. Di seberang sana, benteng Vredeburg tak kalah kokoh menjadi benteng pertahanan hidupku. Aku... Drupadi.




Ya, akulah Drupadi! Aku rela menantang kontruksi sosial. Aku ingin berontak dari kungkungan pranata sosial, bukan sekedar keinginan semata, tatanan sosial pula yang menciptakan Drupadi ini. Aku, Drupadi yang akan menikahi semua lelaki perkasa. Tak hanya Yudhistira, Bima, Arjuna atau si kembar Nakula-Sadewa. Aku, Drupadi yang akan membuat seluruh kesatria yang terjun ke medan laga Kurusetra merasakan rasa damai dalam pelukanku dan gincu berwarna serupa senja ini yang kan memberi gelora hidup setelah para kesatria itu lelah dan terluka sepulang berperang.
Aku, Drupadi yang akan membuat kalian lupa akan rasa berdosa karena telah membantai musuh. Drupadi inilah yang akan mengobati luka perang akibat panah, tombak, gada, pedang milik musuh yang sempat menyentuh kulit kesatria, dengan kecupan bibir lembut berbalut gincu berwarna senja ini.





Aku, Drupadi, selalu siap membelai kulit penuh memar dari para ksatria yang mendatangiku. Kubaluri luka-luka dengan jampi-jampi goyangan markesot, lewat sekulum senyum bibir bergincuku, aku mulai "mendongeng" membawa lutut ksatria yang mendatangiku untuk rela tertekuk di pangkuanku. Sambil terus "menari" aku menarik imaji kesatria tangguh namun berhati rapuh, dalam benak aku tersenyum sambil terus berpikir, siapakah yang sebenarnya pecundang.

Drupadi satu ini jelas bukan Banowati! Aku tak akan terkelupas bahkan kulit tertipisku ini sekalipun. Berjuta Dursasana yang mencoba menguliti jati diriku tak kan mampu membuka siapa aku sesungguhnya. Aku bukan Banowati yang harus menipu orang lain hanya karena ingin bercinta dengan seorang Arjuna. Drupadi inilah yang akan terang-terangan akan bercinta dengan ribuan kesatria masa kini yang telah lelah menghadapi perang sesungguhnya dalam hidup mereka masing-masing.


Seorang lagi pemuda ragu mendekatiku. Aku paham betul, lelaki satu ini pasti kesatria baru dalam medan percintaan. Mungkin mahasiswa yang belum lihai dalam percintaan. Kudekati, tubuhnya bergetar dapat kuketahui lelaki ini perlu perlindungan dan sentuhan perempuan, asap rokoknya selalu dihembuskan membentur tanah, kacamata tebal dan jaket lusuhnya semakin memperkuat stigma kawan-kawannya bahwa lelaki ini pecundang. Drupadi ini yang akan merubahmu menjadi serupa Bima.

Kuangkat dagunya yang selalu tunduk pada hukum gravitasi, kupercikan gairah keberanian “Mas, percayalah kamu jauh lebih perkasa dibanding temanmu itu” lirikan bulu mata lentikku mengarah kepada sosok pemuda yang berlaga perkasa, asap rokoknya selalu dia hembuskan keangkasa, berlagak menantang langit tapi tunduk dalam buai ketiak kami. Kulepas kacamata itu, baru kuketahui ada letupan amarah dari sorot matanya. Singa ini siap kulepaskan pada gelanggang gladiator, lihatlah Jogja lewat sentuhan Drupadi, pemuda yang kau kecam sebagai pecundang akan berjalan busungkan dada setelah ini. Tunggu saja!

“Jangan..jangan pagi Kau hadirkan biarkan malam terus berjalan. Jangan..jangan mentari Kau terbitkaaannn!!!” Suara lantang Si Inyong dengan gitar kencrungnya , pilu menyanyikan lagu Iwan Fals, kurasakan nadi hidupnya tergores oleh bilah kenyataan, telak mengingatkanku betapa keparatnya malam ini. Seolah kota mati yang dikutuk oleh ancaman radiasi nuklir, begitu senyap, kendaraan pun hanya satu-dua yang melintas, itupun hanya mobil pick up pengangkut sayur mayur menuju Pasar Beringharjo, melintas dari utara membelah kabut sepanjang jalan Mangkubumi yang bisu.


Tersenyum ke arahku penumpang perempuan tua di belakang pick up di antara tumpukan kacang panjang dalam balutan jarik pelindung angin malam yang menghantam tubuh rentanya, sementara belasan batang puntung rokok dengan merk dagang Jambu Bol tandas kupijaki dengan geram di depan pintu perlintasan kereta api, rel ini yang menjadi batas Jalan Mangkubumi dengan Jalan Malioboro, rel ini pula tapal batas kesabaranku.



Mas Don, seniman gondrong itu melambaikan tangannya ke arahku, jalannya terlampau gontay, sudah pasti tak kan menggunakan jasaku yang beberapa bulan ini kerap menjadikanku sebagai pelampiasan derita sejak kekasihnya pulang menuju negara asalnya, beternak kangguru barangkali, selalu itu yang dia racaukan setiap kali kesadarannya direbut oleh Lapen. Rembulan saja enggan menampakan wujudnya, Aku pasrah dalam gelitik gerimis yang membasahi wig a la Krisdayanti, melunturkan make up afkir pada setiap senti wajahku. Kubanting wig ku pada genangan air, baiklah kali ini Kau menang memainkan nasib kami, kepalan tanganku yang membumbung angkas dibalas dengan kilatan petir.


Semakin Kau tunjukan kuasaMu! Ahhh, aku hanya mahluk yang jelas tak diterima dalam kontruksi kesepakatan-kesepakatan manusia yang mengaku beradab, aku pula yang mungkin tak kan diterima oleh bumi mana kala dipendam tubuh hina ini, dimuntahkannya aku kembali pada permukaan, bisa jadi, bisa saja! Dan Kau… ahh, mungkin Kau pun ragu `kan menempatkanku pada barisan mana ketika semua ciptaanMu berkumpul di hampar padangMu.


Diam-diam kugumamkan lantunan lagu tadi pada pojokan gedung bank berwarna biru yang mendominasi ini, sekedar pengusir rasa dingin tanpa sebatang pun rokok yang menjadi penghanggat tubuh ini, setidaknya bibir ini. Drupadi, lihatlah dirimu yang terkapar pada pojokan jalan, ooo… diri yang sering kali menjadi primadona jalanan yang kadang membuat iri para penggoda jalanan berwujud asli karena setiap para tergoda jalanan lebih memilih tubuh silicon ini. Maaf rekan kerja, sudah berulang kali ku sarankan agar kita menggunakan strategi, optimalkan segala kemampuan yang kita punya, mulut ini tak hanya berkemampuan menyedot, menjilat, menggigit gemas atau mengeluarkan erangan belaka.


Mereka para tergoda tak lebih dari seorang bocah yang terjatuh gulali kapasnya lalu berlarian menangis pada ketiak bundanya, merengek minta dibelikan kembali, tak lebih dari itu! Mereka butuh tempat memuntahkan segala  penat, stress, kemuakan, kemurkaan tamparan hidup, biarkan mereka menetek pada dada berkarat ini, biarkan mereka mengigau sedang kita hanya memanfaatkan derasnya kata-kata yang keluar dari mulut bergincu tanpa perlu mempertebal kembali selepas kita bekerja.


Ooo, Drupadi, primadona tanpa pemuja di malam gigilkan sendi-sendi tubuh haus belai, tak ubahnya kau serupa pengkotbah pada mimbar kosong sementara umat telah berhaluan pada tuhan baru, uang! Satu lagi  kesepakatan manusia yang memperbudak manusia itu sendiri, mereka memuja lembaran itu sekaligus dihela oleh pecutan nilai tukar yang sulit kali untuk sebanding atas jerih payah. Ooo, Drupadi, warna senjamu yang segar kian meredup mana kala mentari siap tampilkan berkas sinar serupa panah Srikandi yang melesat berpinak ribuan anak panah siap menghujam askar Kurawa tak bertameng.


Tak lagi kupedulikan deru motor terparkir di depan gedung yang sama tempat ku berteduh. Pengendaraan itu berlarian kecil menaiki anak tangga kemudian masuk pada kotak kaca, hanya berjarak setengah meter saja lemari berisi uang itu dari titik dimana aku mendekap lutut-lutut menggigilku, apa dayaku yang tidak memiliki kartu ajaib yang mampu mengeluarkan uang dari lemari itu. Kudengar mesin itu mengeluarkan gemuruh onderdilnya yang berputar lalu suara peringatan “bippp…biippp..biipp” memekakkan telinga yang sedari tadi tak mendengar denting koin rupiah yang tersodorkan untuk diri ini.


“Supardi! Kamu Supardi, bukan?!!” Ahh, nama itu sudah lama ku lenyapkan bersama Kartu Tanda Penduduk yang kubakar di depan gedung yang katanya milik rakyat itu bersama ratusan kawan senasib yang tak lagi dipedulikan akan kehadiran diri kami ini sementara mata mereka menatap nanar ke arah kami sekaligus melirik buas mana kala nafsu mereka bergelora, sementara kami berjalan pada bumi yang sama justru mereka meludah jijik pada kami tapi ujung mata mereka menikmati gerik resam tubuh ini sedetik setelah itu, sementara kami berbahasa yang sama namun mereka kerap  sajikan cela-maki-cerca-umpatan-fitnah saat mereka melupa mulut usil mereka kerap bersiul genit.


Nama itu sudah tidak ada! Sudah bukan lagi namaku! Aku, Drupadi yang telah meruntuhkan setiap rangka konstruksi sosial lewat bisikan setiap sosok perkasa ratusan Ksatria Pendawa masa kini yang melingkar nyaman dalam candu peluk dan bius gincuku. Namaku Drupadi!! Supardi telah ku kubur hidup-hidup beserta sifat kepengecutan lahiriahnya! Lebih baik mati jika aku takut hidup, maka kubunuh Supardi demi memberi nyawa Drupadi. 


Kuhardik mata si penyebut kata itu, yaa, hanya kata bagiku kini. Ku tentang tubuhnya, postur badannya tak jauh berbeda dengan milikku. Pemuda itu melepas helm dan syal penutup wajahnya, terpaan sinar merkuri dan nyala biru mesin lemari uang memperjelas wajahnya. Kaki-kakiku melumpuh seketika, kini aku bersimpuh pada kedua lutut yang kuharapkan mampu menopang tubuh gigil oleh lapar dan dingin menusuk. Menggelepar aku oleh tikaman masa lalu dan detik kini yang datang menombak ulu kenyataan.


“Believe me it hurt my friend. Really hurt to know that you still alive but… buttttt….” Lehernya tercekik tatapan mataku, kata-katanya tersumbat oleh wujud diri ini. Demi tembok Berlin aku berlindung pada hembus asap rokok sebagai perisai malu, menunduk dalam oleh gelayut tetes air mata yang semakin menegaskan keabadian hukum gravitasi. Aspal hitam menggenangkan air mata ini, kearah situ pula wajah ini tenggelam gelagapan meronta-ronta menggapai apa pun tuk dijadikan pegangan kesadaran.


“Believe me, you don`t want to know my life line…” Kau berharap aku mempercayai ketidak percayaanmu maka aku pun berharap kau paham bahwa kau seharusnya tidak ingin mengetahui ini semua, kawan. 




...bersambung!




kolaborasi dua kepala-dua jiwa by:
- Zee Noor and Koelit Ketjil -