Rabu, Agustus 03, 2011

Senja yang Tenggelam Tepat Diatas Ubun-ubun Kita


(foto diambil dari: http://lajournaldeolive.blogspot.com/2010_12_01_archive.html)



Janji adalah hutang, begitu banyak orang menyakini akan hal ini, namun pertanyaannya kemudian adalah; apakah janji boleh berubah manakala waktu telah berubah, situasi dan kondisi juga berubah bahkan saksi dan si pembuat janji telah berubah wujud? Apakah lantas hutang tersebut kemudian menjadi tunai terbayarkan begitu saja?





Bulan Mati, demikian Kau menginginkanku menuliskan kisah tentang Bulan Mati, Aku pun berjanji menyanggupi permintaanmu itu. Sebuah kisah yang membuat jemariku lantas meradang, merambat kelu di antara deret huruf-huruf alfabet, memohon samudera ide menggelorakan deburan kata-kata yang dapat merontokkan karang bisu kemandegan. Bulan bagi Kita adalah kehidupan yang mistik, Sayang. Bulan dengan gravitasinya yang menjadi penyebab pasang-surutnya gelombang laut sebagai penanda garis pantai, batas antara air dan pasir, daya yang meluap maju tuk tengelamkan batas itu atau surut kebelakang melapangkan hamparan butir pasir hingga pelampung peringatan batas bahaya renang hingga menjadi hanya semata kaki belaka.



Demikian sama surutnya semburan kalimat pada sumber mata air inspirasiku hingga sebatas telapak kaki bahkan perlahan mengering pasti di sela-sela jemari.





Permintaanmu tentang kisah 'Bulan Mati' turut mematikan pula tarian jemariku pada penanda kalimat tak memiliki ritme, tempo acak serta cacat nada. Bagaimana jika kutawarkan satu kisah baru, Kekasihku? Tentang senja, yaa, meski banyak orang telah mengisahkan tentang senja tapi kan kucoba dengan perspektif Kita. Sudut pandang yang sedikit mengambil derajat curam seperti sudut lancip bagi segitiga sama sisi, sesungguhnya kisah ini pun permintaanmu, jika Kau masih mengingatnya.





Mari sedikit kuberi petunjuk bahwa pada suatu senja tiba-tiba Kau mengajukan sebuah permintaan; “Ceritakan padaku kisah tentang senja yang tenggelam tepat di atas ubun-ubun Kita?” permintaanmu ini serupa permintaan seorang pangeran kecil dari planet antah berantah yang minta dibuatkan seekor domba kepada seorang pilot yang terdampar pada sebuah gurun pasir, tentunya Aku pun tidak ingin menguras energiku seperti yang telah dilakukan pilot itu dengan tetap bersikukuh menggambarkan seekor domba dengan perspektif orang dewasa sementara yang meminta adalah seorang bocah maka wajar kiranya jika bocah tersebut berhak untuk memprotes hasil gambaran, beribu kali pun mencoba menggambarkan dengan sudut pandang sebagai orang dewasa, pangeran kecil itu akan tetap memprotes.





Mari Kita menuju pantai, Kekasihku, biar senja itu sendiri yang akan bercerita langsung kepada Dirimu, kepada Diriku tentang kembaranya dari ufuk timur menuju ufuk barat sembari Kita rebahan di butiran pasir, menatapi langit yang berubah warna sementara membiarkan senja tenggelam tepat di atas ubun-ubun kita.







KK wrote this especially for my lovely IKK

CORETAN DINDING TOILET UMUM




Mataku memicing tajam ke arah sebuah titik yang ditunjukkan penjual minuman yang baru saja turun dari Bus Arimbi di terminal Kalideres pinggiran barat Kota Jakarta, “Busyettt dah! Jauh banget!” kupercepat langkahku sementara desakan sisa metabolisme tubuh berupa racun urine sudah berada di ujung jalur keluarnya. “Ahh, Anjrittt! masih terlalu jauh euy!” kepalaku clingak-clinguk mencari tukang ojek. Yap, ada satu! Langsung saja kukeluarkan jurus siulan maut, setengah melompat bak Lone Ranger menunggang kuda putihnya, aku sudah duduk dan menepuk bahu tukang ojek seraya menunjuk pada sebuah titik yang kumaksud.

Aaahhhh, lega sudah, sebuah tulisan peringatan pada dinding toilet membuatku tersenyum geli “HABIS KENCING HARAP DISIRAM SAMPE BERSIH, KALAU KAGAK GUE SIRAM LU PAKE AIR KENCING GUE!!!” di bawah tulisan itu tertanda penjaga toilet dalam kurung preman terminal. Bagaimana mungkin aku bisa menyiram dengan bersih sementara tidak ada air yang mencukupi dari tetesan kran yang diwadahi ember kecil bekas cat. Toilet umum berukuran 1,5m x 1,5m begitu sempit dan aromanya bisa membuatku pingsan jika terlalu lama berada di dalam sini.

Salah satu sisi dinding toilet umum ini penuh dengan beragam coretan-coretan seperti; “Gue pernah kencing disini!” ada saja yang iseng menulis di bawahnya “Gue juga!” bahkan masih ada yang melanjutkan lagi “Gue aja sering kencing disini gak sombong kayak elu-elu pada!!” lucunya lagi masih saja ada yang membalas “Nah, itu elu juga somse pake nulis segala!” rupanya si pencoret sebelumnya membalas lagi “INI CUMA PEMBERITAHUAN BAHWA GUE KAGAK NARSIS KAYAK LU, NYET!!” aku cuma senyum kecut membaca coretan-coretan dinding ini, kalau kuperhatikan dari jenis tulisan, alat tulis beraneka jenis dan warna, coretan timpal-menimpal komentar ini dibuat oleh beberapa orang yang berbeda, hampir mirip ketika kau menulis status di facebook lalu beberapa kawanmu menjawab komentar-komentar asal goblek.

Perhatianku tertuju pada sebuah tulisan diantara coretan-coretan yang lain dari sisi dinding yang lainnya, pesannya sangat berbeda dari coretan yang ada; “Aku capek dengan hidupku yang tak pernah berubah dari titik penderitaan, seolah nasibku hanyalah permainan tangan Tuhan. Sepertinya Tuhan menciptakan aku sekedar untuk iseng belaka agar Tuhan tidak kesepian di atas sana” tidak ada komentar iseng atas luapan hati si pencoret ini, sisi dinding toilet umum yang satu ini relatif lebih bersih dibanding sisi yang lainnya, keherananku yang lainnya adalah si pencoret menyebut-nyebut nama Tuhan di tempat kotor seperti ini. Aku mengambil kesimpulan bahwa si pencoret betul-betul dalam keadaan tertekan sehingga perlu untuk meluapkan kegelisahan hatinya di toilet umum begini rupa, dapat dipastikan dia tidak memiliki kawan untuk berbagi di tengah kehidupannya yang tertekan.

Aku pun turut mengeluarkan spidol dari tas punggungku, kucoretkan sebaris kalimat; “Sobat, inilah kehidupan yang perlu kita jalani, tak perlu kau mengeluh atas nasibmu terlebih menyalahkan Tuhan yang telah menciptakanmu, selalu ada rahasia di balik ketetapan yang telah Tuhan tentukan maka bersabarlah, Sobat” kubaca kembali coretanku, ahh, kenapa tiba-tiba aku jadi sok perhatian begini bahkan terkesan seperti ustadz yang sering kulihat di berbagai televisi swasta.

Woyyyy, lu yang di dalem lagi boker ato semedi cari wangsit lu??!!! Kalau mau bertapa jangan di toilet gue! Pegi sono ke goa hantu!” Pintu toilet yang terbuat dari seng digedor-gedor cukup keras, membuatku terkejut sekaligus hampir membuat tuli telingaku.

Busyett dah lu, cuma bayar seceng aje lama banget, lu!” aku tidak meragukan kepremanan penjaga toilet ini, dilihat dari tato-tato sangar yang ada di sekujur tangan dan lehernya serta postur tubuh tegap lengkap dengan kumis lebat melintang di atas bibirnya.

“Sorryy, Bang. Gue mules banget tadi” aku tidak ingin membuat perkara panjang, kusodorkan uang dua ribu rupiah sekedar menghentikan emosinya.

Sebuah lagu yang dilantunkan oleh Iwan Fals terdengar dari telepon genggam penjaga toilet… “Coretan di dinding membuat resah, resah hati pencoret mungkin ingin tampil, tapi lebih resah pembaca coretannya sebab coretan dinding adalah pemberontakan kucing hitam yang terpojok di tiap tempat sampah, di tiap kota…”

Keesokan harinya, seperti de javu, aku harus mengulangi penderitaan yang sama, kantung kemihku serasa penuh menahan sisa metabolisme tubuh yang tak keluar melalui pori-pori kulitku, tak menjadi keringat akibat terdesak udara dingin AC Bus Arimbi. Aku berada di toilet yang sama persis seperti kemarin, sebelum aku keluar toilet umum ini, sudut mataku tertuju pada coretan kemarin. “Sobat?? Siapa Anda ini? Berani-berani menyebut diri Anda sebagai Sobat! Di dunia ini aku tak punya kawan, tak pernah aku merasakan arti kalimat ‘That what friends are for’ semua itu bullshit!! Jangan Anda bertindak sok suci seperti para ustadz yang tak lebihnya dari pedagang! Mereka berdagang kalimat suci sementara tingkah laku mereka jauh lebih kotor dari toilet ini! Biarkan aku dengan kesimpulanku sendiri terhadap Tuhan, jangan Anda ikut campur dengan permasalahanku!” rupanya coretanku telah dijawab oleh si penulis pertama!

Aku memerlukan waktu sejenak untuk mengambil kesimpulan; menjawab atau tidak? kekhawatiranku terhadap preman penjaga toilet ini menjadi pertimbanganku berikutnya, jangan-jangan pintu ini akan digedor lagi. Secepatnya kubalas dengan coretan spidolku,

“Maaf, Sobat jika aku turut campur dengan permasalahan yang sedang kau hadapi. Aku hanya tergugah dengan coretan batin ini. Bukankah sesama manusia kita harus saling mengingatkan? Bukankah Tuhan yang Sobat maksud, juga Tuhan yang sama dengan Tuhanku? Jika kau butuh sobat untuk sekedar berbagi cerita, mungkin kita bisa berjumpa, tentunya dengan seijin Tuhan yang Maha Mempertemukan. Setiap hari aku ada di terminal ini, cari saja yang biasa berpakaian seragam berwarna biru tua, setiap pagi di terminal ini. Terimakasih.” Aku langsung keluar toilet, beruntung penjaga toilet sedang tertidur di kursi kayu panjang itu, kumasukan seribu rupiah pada kotak kayu depan pintu.

Sepanjang hari di kantor, aku hanya memikirkan coretan-coretan dinding toilet itu, kenapa aku jadi sedemikian tertariknya dengan coretan itu? Kenapa juga aku sok-sokan suci dan seolah jadi pahlawan dari orang yang tidak kukenal sama sekali ?! Lebih gilanya lagi, kok berani-beraninya minta bertemu dengan orang itu?? Bagaimana jika orang itu…..?? ahh, tiba-tiba pertanyaan-pertanyaan dalam benakku menjadi teror bagi diriku sendiri.

Aku sendiri punya segudang permasalahan yang belum tentu bisa kuhadapi; posisi kerja di kantor yang terancam dipecat, biaya kontrakan yang sudah tiga bulan nunggak, biaya sekolah tiga anakku yang selangit masuk SD-SMP-SMA tepat di waktu bersamaan, istriku yang tidak ada kabarnya selama satu tahun, belum lagi berita di telivisi yang gencar memberikan kabar hukuman pancung, ketiga anakku yang setiap malam selalu merengek minta bertemu ibunya. Arrggghh, aku memerlukan menghirup kopi panas dan rokok untuk menenangkan pikirku tapi sial hari ini ramadhan kedua!

Sore hari aku sengaja menyempatkan untuk kembali ke toilet umum itu, tepat seperti dugaanku, coretanku telah terbalas! Jantungku berdebar tidak karuan membaca pesan itu;
“Jika Anda mengaku sebagai sobat dan bersedia untuk berbagi beban hidup yang tengah aku hadapi, segera cari saya di tempat yang mendekati Tuhan. Sekedar berusaha mencapai singgasana Tuhan, tapi jika Anda atau Tuhan sekalipun tidak peduli maka aku akan terjun menjauh dari singgasana Tuhan yang tak pernah terjangkau itu, tepat sebelum mentari tenggelam. Call me 08123456789.”

Gilaaaaa!!! Orang ini akan bunuh diri!!! Aku berlarian sambil melihat-lihat tempat tertinggi di sekitar terminal ini, dalam hatiku mengutuki diri yang iseng ikut campur dengan permasalahan orang. Aku langsung mengambil kesimpulan dari pesan terakhir coretan itu; “singgasana Tuhan,” ini sudah pasti suatu tempat yang tinggi dan “terjun menjauh dari singgasana Tuhan,” ini berarti dia akan melompat dari tempat itu! Sementara….Aaarrgghh!!!

Arloji di lengan kiriku sudah menunjukkan pukul 17.30, sebentar lagi matahari akan tenggelam. Kepalaku menjadi pening ketika berputar tak tentu arah, mencari-cari menara penguat sinyal provider telepon seluler terdekat. Aku yakin menara itu pasti yang akan dituju karena sudah terlalu banyak percobaan bunuh diri, baik yang gagal maupun yang sukses, lebih sering memilih menara penguat sinyal sebagai titik favorit sebagai potong jalan tercepat bertemu Tuhan.

Aku berlari secepatnya kembali menuju toilet umum itu, nomor telepon itu, yaa, dia meninggalkan nomor yang dapat dihubungi. Penjaga toilet mencegahku masuk dengan gagang sapu karetnya, jadwal membersihkan toilet setiap hari dia kerjakan menjelang magrib.

“Tolong, Bang, ini penting! Sebentar aja!!!” penjaga toilet itu tidak mau tahu dengan kepanikanku, aku tidak peduli, kudorong tubuh kekarnya hingga terjerembab menimpa kotak kayu, uang recehan bertebaran keluar dari kotak itu.


(foto diambil dari: http://market-insight.blogspot.com/2009/12/dampak-perkembangan-telekomunikasi.html)

Tak ada jawaban, kembali kutekan tombol redial, masih juga belum terangkat. Ahha!! Aku melihat satu menara penguat sinyal, kupanggil seorang tukang ojek dengan gaya khas siulanku. Aku harus memanjat menara penguat sinyal ini, sekalipun aku tidak melihat orang itu, setidaknya dari titik yang sama tinggi bisa kupantau dimana posisinya berada.

Baru separuh perjalananku pada puncak menara, aku terlampau letih, terkulai berpegangan pada rangka-rangka besi, mengatur nafasku kembali menghubungi nomor itu. Keringat dari dahiku menetes tepat di kaca arloji, waktuku sudah habis! Aku terlambat mencegah dia melakukan bunuh diri, jalan pintas baginya bertemu Tuhan. Aku terduduk lemas, terkulai diantara rangka-rangka besi menara penguat sinyal, memandangi mentari yang tenggelam di ufuk barat, sebagai pertanda kegagalanku. 

“Ayo turun, Sobat. Sudah lewat magrib, saatnya kita sholat dan berbuka puasa,” suara lembut itu mengejutkanku, preman penjaga toilet umum ini tiba-tiba sudah berada di sisiku, sementara di bawah terdengar suara orang-orang berteriak meski tidak jelas dan sorot lampu senter terarah kepada kami. 

“Sudahlah, Sob, inilah idup yang kudu kite jalani, Sobat. Takdir Tuhan bukannye beban bagi mahlukNya, karene Tuhan gak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan mahlukNya. Kite cuma perlu istiqomah, bersabar dan tawakal. Selalu ade rahasie di balik ketetapan Tuhan. Mari kite turun, Sob!” logat betawi dari mulutnya kental terasa.

Belum habis rasa bersalahku akibat tidak mampu menolong si pencoret dinding toilet umum, kini aku harus mencerna keherananku sendiri dengan kalimat-kalimat yang kucoretkan sendiri di dinding itu, tapi hampir setiap kata-kataku dikutip oleh preman penjaga toilet ini. Entah bagaimana caranya, tiba-tiba dia bisa berada di atas menara penguat sinyal yang sama dengan posisiku berada. Ada apa dengan ini semua?

“Abang, baca semua tulisanku di tembok toilet itu, ya?” penjaga toilet itu tersenyum, tak pernah aku melihatnya tersenyum selama menjaga toilet itu.

Sude pastinye, Sobat. Semua coretan di tembok itu, udeh pasti gue bace, bahkan tulisan lu, mau-kagak-mau, kudu gue jawab, sebab sebagai sesame manusie, kite kudu saling ngingetin,” apa lagi ini??!! Bisa-bisanya penjaga toilet itu mengklaim semua coretan yang kutulis sebagai jawaban luapan hati seseorang yang berniat untuk bunuh diri. Sombong sekali, seolah dia sendiri pencipta kalimat itu, seharusnya dia meminta ijin atas apa yang aku tulis.

Udeh, Nyok kite turun. Gelap neh! Lagian juge bahaye, mane kite bedue belon solat megrib lagi!” Aku masih nyaman berada di atas sini, selain itu juga aku perlu jawaban atas kesimpangsiuran fakta ini.

“Abang jangan asal ngomong ya, Bang! Yang barusan Abang bilang tadi, itu semua tulisan gue!” preman penjaga toilet umum itu kembali tersenyum tulus mendengar protesku.

Wajahnya mengeluarkan sinar sejuk, sementara kami masih berada di titik cukup tinggi dan gelap mulai mewarnai langit pinggiran Jakarta.

“Sob, lu bise liat nomer hape ini?” Dia menunjukkan deret angka di layar telepon genggamnya.

Kuperhatikan dengan nomor yang ada pada panggilan keluar di telepon genggamku, sama dengan nomor yang kuhubungi! Penjaga toilet itu menekan fitur panggilan keluar, aku sudah menerka tidak akan ada jawaban. Aku hanya tersenyum melihat preman itu, sudah bisa dipastikan hanya akan mendapatkan pangilan tak terjawab. Tepat dugaanku tidak ada yang menyahut. Dia mencoba lagi.

Tas punggungku bergetar, kurogoh saku kecil di sisi samping tasku. Telepon genggamku yang satu lagi, sejak semula memang ku setting silent, bergetar-getar dan lampu pada layar menyala mengikuti ritmik getaran, nomor tak dikenal. Kutekan tombol hijau, terdengar suara dari speaker di telingaku sebelah kananku dan telingaku yang kiri mendengar langsung dari bibir penjaga toilet itu.

Assalamulaikum, Sob, mari kite turun. Bunuh diri bukan solusi bakal ngadepin semue masalah idup. Waktunye buke puase ame solat megrib.


Koelit Ketjil,
-Kota S, menjelang waktu sahur di Ramadhan hari ketiga pada tahun 1432 setelah Rasulullah SAW hijrah-

Rabu, Juli 27, 2011

PENDING

**** STOP PRESS****

Peringatan Penulis:

Konten Tulisan Mengandung Unsur-Unsur Provokatif Kebiasaan Merokok, Bagi Yang Tidak Merokok Atau Masih Di Bawah Umur Disarankan Agar Tidak Membaca Tulisan Ini, Begitu Juga Yang Sedang Mencoba Berhenti Merokok. Penulis Tidak Bertanggungjawab Jika Di Kemudian Hari Pembaca Jadi Terpengaruh Untuk Merokok Setelah Membaca Tulisan Ini. Maka Sudah Menjadi Kewajiban Penulis Untuk Menyampaikan Peringatan Yang Biasa Terdapat Pada Bungkus Rokok; MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN

PENDING

Satu poci teh tubruk telah terseduh. Aroma khasnya mengepul bersamaan sentilan uap wangi melati ketika gelas tanah liat itu terisi racikan teh melumerkan sebongkah gula batu berkilau jernih serupa kriptonit bening. Senyumnya mengembang sempurna mencecapi racikan tepat yang telah mampu menendang segala kepenatan pikirannya, otak yang membeku terasa lumer seketika, otot-otot lehernya yang semula kaku sekonyong-konyong seolah ada tangan imajiner memijiti simpul syarafnya yang menyumbat membuntukan segala aliran ide yang dibutuhkannya. Ahhh, nasgitel!

Sebatang kretek favoritnya sedari tadi hanya diketuk-ketukan pada permukaan mancis kuno pemberian seorang kawan sudah tak sabar ingin segera saja membakar lintingan tembakau itu tapi Maulana masih belum tergoyahkan untuk kembali meracuni paru-parunya dengan nikotin. Ini hari kelima belas dirinya terbebas dari cengkraman adiktif racikan tembakau dan rempah rahasia terbaik yang pernah dibuat pada lintingan rokok kretek merk manapun.

Tak lama kemudian, hanya berselang lima menit, mulutnya sudah mengepulkan asap yang sebelumnya dia sedot dan tertahan beberapa detik dalam rongga paru-parunya, ketika hendak terasa ada desakan batuk datang dari dada merambat ke arah kerongkongannya, barulah dia hembuskan perlahan asap putih itu, sensasi nikmat-derita itulah yang selama ini menjeratnya pada adiksi level akut. Adiksi yang bodoh sekali yang kemudian baru-baru ini saja dia sadari, betapa malang ongokan paru-paru itu. Maulana larut dalam buaian teh poci di tepian sawah sementara bibirnya terus mengepulkan asap.

Batang ketiga patah sia-sia dalam asbak, kekuatan imannya telah tergoyahkan oleh godaan Syaithon nikotin terkutuk itu. Kepalanya terasa segar, ide-ide seolah berkeriaan meletup-letup, jemarinya lincah menekan tombol-tombol alfabet pada notebooknya. Lancar! Sejenak sudut matanya melirik ke arah penanda waktu di pojok kanan bawah layar 10 inchi, satu bulan lagi, itulah demarkasi nyata antara impian dan perjuangan, begitu dia memberi istilah. Keyakinannya menebal bahwa dia sanggup selesaikan proyek impiannya sebelum sampai pada hari itu.

Ini hari terakhir menjelang bulan ramadhan, nanti malam sudah mulai tarawih, malam pembuka ramadhan tapi tetap ramadhan adalah bulan penuh misteri dan kekuatan magis luarbiasa bagi dirinya. Bibirnya masih menggelayut pada tubir gelas tanah liat, aroma teh yang panas, legi tur kentel,-nasgitel- menggelitiki setiap simpul syaraf di seputaran lubang hidungnya. Pikirnya meliar, flash back pada masa ramadhan beberapa tahun silam, berlompatan lintas ruang dan dimensi seolah Voyager dengan jam saku antiknya yang menghantarkan dirinya pada fragmen-fragmen kehidupan yang tengah dia hadapi.

Ramadan tahun silam, Maulana berkolaborasi bersama kawan-kawan pecinta alam tengah berada di lokasi gempa yang melongsorkan bongkahan bebatuan besar dari bibir bukit Desa Cikangkareng, Cianjur. Menghempas puluhan anak-anak yang tengah bermain bola, jika di beberapa lokasi bencana yang telah dia dampingi, bola plastik selalu menjadi media paling efektif untuk menghilangkan trauma psikologis anak-anak korban bencana, tapi tidak kali ini, karena anak-anak daerah ini menjadi saksi belasan sahabatnya terkubur longsoran bebatuan tepat ketika mereka tengah bermain sepak bola. Permainan sepak bola menjadi teror mental bagi anak-anak ini. Maulana merekam dalam memori biologis dan digitalnya, kondisi anak-anak ini sejak belum terjamah pendampingan psikososial hingga senyum mereka kembali mengembang karena psikososial hakikatnya mengembalikan psikologis anak kepada kondisi semula, ceria. Panduan foto-foto hasil jepretannya membantu Maulana untuk terus menuliskan kisah-kisah yang dia temui.

Sebuah telepon genggam bergetar cukup lama, lampu pada layar berkedip-kedip, pemilik terlampau larut di hadapan notebook. Jemarinya menari tanpa ritmik terpola diantara tuts cacat nada alfabetik. Getar kedua masih belum mampu mengalihkan konsentrasinya namun getar yang entah ke sekian kali barulah si pemilik telepon genggam menyadari, itu pun ketika hendak menyalakan batang tembakau, Maulana sangat tidak suka ketika atmosfer yang mendukung dirinya menulis terganggu oleh dering telepon genggamnya.

Assalamualaikum… Ya, ada apa, Nggit? Maaf tadi gak dengar! Keliatannya cukup penting nih?” menahan ucapan, menghisap dalam-dalam lalu menghembuskan asap pencipta racun nikotin cukup panjang. Sekalipun terpahami bahaya dari ingredients yang ada dalam sebatang rokok namun sensasi nikmat racikan rahasia pelinting tembakau favoritnya yang terbungkus dalam kemasyan berwarna kuning dengan desain yang tak pernah berubah sejak tahun 1913 itu selalu saja memukau!

“Bang, sorry nih ganggu sebentar. Begini, aku cuma mau mengingatkan kalau hari ini ada renca…”

“Aduh, Nggit. Tolong, sehari ini saja! Setidaknya sampai malam ini deh! Aku gak bisa diganggu dulu ya? Mumpung masih di Jogja neh, aku gak mau melewatkan atmosfer menulis ini.”

“Ini semua tentang anak-anak Indonesia yang istimewa. Sengaja kubuat tulisan ini seutuhnya murni tentang perjalananku, lebih tepatnya mengenang kembali perjalananku pada masa-masa bersama anak-anak itu. Pada sebuah masa ketika bencana besar yang kerap terjadi di tanah yang terjaga oleh puja-puji leluhur sebagai tanah damai, tata titi tentrem, gemah ripah loh jenawi, manusia-manusia yang di atas tanah ini berdiri dikenal sebagai manusia yang bersahabat dengan alam, tak pernah lupa bersyukur ‘sedekah bumi’ mana kala tanahnya memberikan limpahan rejeki, selalu merayakan ‘larung sesaji’ kepada samudera yang memberikan ratusan jenis ikan yang dengan mudahnya masuk tebaran jala, keturunan-keturunan yang tak pernah absen memberikan sesajen kepada leluhurnya yang telah tiada setiap kali hari kelahiran atau kematian leluhurnya, manusia yang hidup di bumi yang berbudi dan berbudaya,” tak ada suara dari lawan bicara, si penelepon sangat paham jika Maulana tengah berbicara maka dia hanya merasakan derasnya gelombang kata-kata, hanya mengamini dalam hati.

“Nggit, tahukah kau sekarang aku sedang berada dimana?” ini adalah petunjuk bagi si penelepon untuk berbicara

“Hhhumm… itulah sebabnya aku nelpon Abang. Dimana sekarang, Bang?”

“Aku berada di tepi hamparan luas hijau sawah, tak salah jika bumi kita mendapatkan julukan permadani zamrud di tengah garis maya katulistiwa. Hanya hamparan hijau segar sepanjang mataku memandang, Nggit! Beberapa anak bumi tengah menyuburi tanah yang memberikan mereka kehidupan, mereka bertopi caping, menyandarkan sepeda onthelnya di batang pohon kelapa tepi sawah, menurunkan sekarung kecil pupuk. Sempat kutanyakan jenis pupuk yang digunakan, rupanya mereka telah paham zat kimia buatan salah satu pabrik kita justru meracuni bunda alam, mereka menerangkan bahwa butiran pupuk berbentuk pellet itu merupakan hasil olahan dari telethong, yaa kotoran sapi, Nggit! Para pemuda berkeliling kampung mendatangi kandang-kandang sapi dimana kotoran sapi itu telah disiapkan oleh pemilik ternak dalam karung-karung, lalu para pemuda itu mengolahnya dengan mesin sederhana, kemudian petani-petani kampung sini akan mendapatkan beberapa karung bentukan hasil akhir pupuk itu hanya dengan imbalan uang rokok a la kadarnya, Nggit!” Si pencerita sejenak menikmati orkestra alam paduan suara katak sawah, cericit burung pipit, ayam-ayam yang berkotek-berkokok bersahut-sahut dan ditimpahi lenguhan sapi bernada bass berat.

“Kau dengar itu, Nggit? Ini orkestra alami! Damai sekali disini, jauh dari kebisingan kota… Ahh, tidak! Aku tidak ingin berbicara tentang kota saat ini. Aku ingin menikmati suasana alam Jogja saja kali ini. Nggit, kalau saja kau ada disini pasti kan kuajak kau berpetualang diantara galengan sawah, mencari lubang-lubang tempat belut bersemayam, menggureki dengan tali senar yang di ujungnya diberi kail kecil berharap si pemilik lubang tergoda oleh potongan cacing tanah dan sensasi tali senar yang mulai bergerak-gerak lalu tertarik kedalam, kita biarkan sejenak untuk kita tarik hingga hilang keseimbangan kita dan jatuh ke lumpur sawah yang telah dialiri air oleh ulu-ulu kampung berdasarkan kesepakatan kelompok tani... Ahhh disitu serunya, Nggit!”

“Bisa saja Abang ini memprovokasi, tapi bagaimana aku menghadapi mereka?” nada panik Anggit mulai merebak. “Kau hadapi saja mereka seperti biasanya, Nggit! Kau buka saja emailmu, sudah aku atur semuanya, pastikan semua peralatan pendukung telah siap. Aku memang pewaris tunggal perusahaan tapi sudah kukatakan berkali-kali, kuserahkan segala urusan manajemen perusahaan kepada mereka, biarlah aku hanya mengurus CSR perusahaan saja. Dosa perusahaan terlampau besar, Nggit! Setidaknya dengan berbagi sedikit, seharusnya justu sebanyak mungkin dari laba perusahaan kita untuk disalurkan bagi saudara-saudara kita yang tengah tertimpa musibah. Aku percayakan semua kepada kamu. Oke, kita akhiri pembicara kita. Oh ya, Nggit… Thanks any way, kupastikan tak lupa membawa sekotak bakpia untukmu. Byeee!”

Anggit bukan pertama kali menghadapi situasi pelik saat rapat dewan komisaris perusahaan kimia tempat kakak sepupunya memimpin tapi selalu saja tatapan sinis para dewan yang seolah merasa tidak dihargai dengan ketidakhadiran Maulana secara langsung, sekalipun Maulana terlihat melaporkan semua progress report perusahaan tapi rekaman video adalah pelecahan bagi mereka. Maulana lebih memilih mengurusi Corporate Social Responsibilty yang sama sekali tidak menghasilkan keuntungan bagi perusahaan justru menghamburkan uang sangat besar dalam pandangan para dewan komisaris tapi posisi Maulana terlampau kuat untuk mereka hadapi.

Maulana masih menikmati orkestra alam tepi sawah. Kursos dalam notebook mengarah pada folder SENYUM ANAK INDONESIA, disitu tempat dia menyimpan seluruh dokumentasi gerakannya dari setiap daerah terkena bencana alam maupun konflik sosial; Aceh, Nias, Sumatera Barat, Ujung Kulon, Pangandaran, Jogja, Bantul, Sampit, Poso, Papua, semua daerah bencana sudah dia jelajahi tapi senyum anak Indonesia selalu mampu kembali terkembang dengan manisnya, semanis seduhan teh poci yang dia cecapi. Senyum anak Indonesia inilah yang ingin dia sampaikan kepada semua orang lewat buku yang kelak akan terbit membawa secercah potongan surga dari celah senyum anak-anak.



-Koelit Ketjil-

First wrote; Jogja, 26th August, 2010

Pending; one year!

Finished: Serang, 26th July, 2011

Senin, Juli 11, 2011

LIES INSIDE OF ME







Samuel berjalan terseok-seok, telapak tangannya merayapi dinding gang gelap, lembab. Malam di Kota New York sepanjang summer dapat dipastikan malam yang membuat semua orang tak nyaman tertidur. Sirine pabrik pengepakan barang baru saja melepaskan bunyi sebagai pertanda manusia berikutnya harus bergantian bekerja. Man versus machine, fuck!





Sirine itu juga digunakan Samuel sebagai clue, dua jam berikutnya dia harus siap bertanding melawan mesin- mesin. Kondisi perekonomian Amerika yang carut-marut memaksa dirinya menjadi keparat yang hidup bertumpuk dalam sebuah gedung rapuh. Memori mendapatkan bonus besar dari pekerjaannya yang dulu mapan di City Bank hanya menjadi placebo ketika dia lelah berlarian dari satu pekerjaan menuju tempat lain yang bersedia menerimanya kerja beberapa jam hanya demi dua dollar.





Tubuhnya terpental oleh buangan uap pabrik ketika merayapi tembok, berdebam pada genangan air kotor. Mengutuki diri ketika luka-luka sekujur tubuhnya terbasuh genangan air bercampur bebauan kencing gelandangan, tikus-tikus got dan kotoran anjing. Luka sayatan sepanjang lima senti tepat di bagian rusuknya membuat dirinya mengerang tetapi harus tetap menjaga kesadaran dirinya. Tangga besi samping gedung apartemen busuknya tak sanggup dia gapai dengan segala sisa kekuatan dan kesadaran, tanggannya meraih dengan sedikit lompatan, tulang kakinya mungkin retak terhantam pemukul baseball, kini genggaman tanggan yang semula berada di rusuk dan satu lagi berusaha menggapai tangga itu beralih ke tulang kering kakinya. Dia tidak boleh pingsan.





“Great! hanya inikah yang bisa kudapatkan! Shittt!!!” umpatannya harus pula tertahan, dia tak ingin membangunkan istrinya, dia tahu bencana apa lagi yang akan dia hadapi jika istrinya terbangun. Hanya ada sebaskom air yang tertampung dari tetesan kran, Samuel merobek satu kaos oblong bertuliskan “FAMILY GATHERING CITY BANK, ONE HAPPY FAMILY, ONE HAPPY BANK” kaos putih itu berubah warna menjadi merah pekat. Samuel harus mengirit air dan kaos yang dia jadikan lap juga pembalut luka, untuk ukuran luka-luka itu rasanya tidak mungkin.





Samuel sudah siap menggigit sikat giginya, meski ragu masih menimbang sebotol cairan kumur, tak ada alkohol, tak ada obat antiseptik, tak mampu untuk membeli itu semua, cukuplah dia percaya tulisan pada botol kemasan itu ‘MENCEGAH KUMAN MULUT’. Tekad Samuel bulat, disiramnya cairan berwarna biru terang itu pada luka sayatan di rusuknya, aroma mentol menyeruak “Arrrrggghhhh!!!!!” patah sudah sikat gigi diantara geliginya, dia tidak boleh pingsan.





Samuel tak dapat mencegah istrinya terjaga ketika engsel pintu kamar berderak, dia mengutuki pintu sialan itu karena sudah dapat dipastikan suara itu telah membangunkan monster yang tertidur tak lelap di malam lembab seperti ini. Istrinya menatap dingin lalu melemparkan beberapa lembar kertas, mendarat tepat di wajah lelahnya, Samuel tak berdaya melihat kertas-kertas tagihan yang melayang seolah slow motion itu terlebih berondongan kalimat kasar keluar dari mulut istrinya yang tidak ingin dia pahami sepatah kata pun.





Samuel bingung harus menutupi kedua telinganya atau luka di rusuk dan kakinya. Dia mengambil seutas tali, lalu mengikat dirinya pada pipa besi saluran pembuangan kotoran dari lantai atas di tembok pembatas kamarnya dengan kamar tetangga, berlutut tak berdaya. Istrinya terus memberondong dengan sejuta pertanyaan, cacian, sindiran, cerita-cerita masa lalu yang mapan yang tak lagi sebanding dengan kehidupan yang keparat kali ini. Samuel hanya diam sekalipun entah apa yang ada di dalam tubuhnya mengajukan pemberontakan.





Geligi Samuel bergemeretak begitu juga tulang-tulang pada pergelangan tangannya, “Sudah cukup Sam! Saatnya berontak!!” Suara itu berdengung dalam kepalanya. Itulah sebabnya dia mengikat dirinya pada pipa berkarat itu. Samuel sangat takut jika apa yang ada dalam tubuhnya berontak lalu melakukan hal yang sama terhadap tiga orang dari pabrik yang terkapar dengan luka yang jauh lebih parah dari dirinya. Monster dalam tubuhnya berontak ketika mandor pabrik tempatnya bekerja memaki-maki Samuel hanya karena terlambat sepuluh menit lalu ceramah mengenai kesempatan kerja yang sempit, sampai pada ancaman pemecatan membuat kupingnya panas. Samuel menghentikan sumber bising itu dengan kunci inggris besar, helm yang dikenakan mandor itu pecah mukanya bersimbah darah pertanda kepala yang terlindungi itu turut pecah, kedua rekan kerja yang sejak semula sinis terhadap Samuel seolah mendapatkan pembenaran untuk menghajar dia, namun justru mereka yang terkapar.





“Berdiri kau pengecut!!!”





Suara itu terus menerus menjadi teror dalam otak Samuel, hanya dengan membenturkan sumber teror pada temboklah yang mampu membebaskan Samuel dari penderitaan itu sekalipun tubuhnya terpenjara di balik jeruji besi. Kali ini Samuel bebas pingsan setiap kali tembok itu membuatnya KO, tembok derita yang sengaja dia tempeli sepotong berita dari koran;



“SAMUEL L KEMPERS, KILLED HIS WIFE AND THREE MEN IN ONE NIGHT”









Koelit Ketjil

Sempu Gedang, 10 Juli 2011





*foto from: http://wongndro.blogspot.com/






Kamis, Juni 30, 2011

Sebabnya aku tak lagi berpuisi?


oleh Koelit Ketjil pada 30 Juni 2011 jam 11:58


Sebabnya aku tak lagi berpuisi?

Karena setiap penyair yang telah melahirkan anak katakata telah membuatkan akta kelahiran atas katakata hasil prosesi persenggamaan khayali penuh birahi, berpeluh huruf, kata, rima, diksi, tanda baca! Full of passion, passionated oleh liur, kelenjar, getah, darah, nanah, dan dahak, kemudian mereka sibuk merayakan pesta kelahiran anak mereka dengan mengundang penyair kondang lainnya berharap mereka bersedia kondangan mengenakan pakaian terbaik mereka dari kemeja batik sampai baju lurik, dari gaun longdress sampai topless, bergincu tebal, menyisir kumis tebal, berharap pujian atas kelahiran anaknya yang elok-cantik-rupawan-rupawati-gagah-perkasa-centil-bahenol karena sebelumnya dia selalu hadir di setiap pesta kelahiran katakata penyair manapun, dia melakukan hal yang sama; LIP SERVICE! Diujung sana seorang mahasiswa sastra tingkat akhir berteriak “MAU DOOONGG LIP SERVICE-NYA!!” lalu penyair centil dari ujung sana geram menghembuskan asap rokoknya serupa banteng memburu selembar kain berwarna merah menyeruduk pemuda tengil itu “KAU PIKIR AKU PENJAJA BALON?? SANA TIUP SENDIRI OTAKMU YANG MENGEMPIS DI SELANGKANGANMU!”

Undangan pun disebar ke semua kritikus-bau kakus agar mereka bersedia menghadiri bedah buku, sontak mereka sibuk dengan berbagai perlengkapan operatik, mengenakan masker sebabnya mereka paham akan membedah kakus sekalipun mereka akan menghirup bau mulut mereka sendiri yang di dalamnya teronggok septic tank yang telah disirami pengharum antiseptik, siap dengan pisau bedah anal-itik, semantik terkadang kritik menjadi simpatik ketika di amplop ada bilangan numerik, terkadang diagnostik menjadi sinical apatik. Bergerundel dalam benak kritikus-bau kakus: “AHHH, ANAK PREMATUR!”

Budayawan-budayawati tak lupa dalam perhelatan sarasehan budaya, mereka hadir dengan kacamata kultur bertengger di batang hidung yang landai. Tak jarang komentar mereka selalu sama seputar; representation of local cultural, cultural identities, cultural shocks, cultural deviations, cultural movements, cultural commitments, cultural enlightments

wartawan-wartawati kenalannya dihubungi via telpon untuk hadir di press confrence, berharap mereka mewartakan kepada publik bahwa telah terbit anak katakata edisi terbarunya. Dia ingin nama anak katakatanya menjadi headline di semua berita surat kabar. Pertanyaan standar sekali dari mulut wartawan pun melayang; “APA PESAN MORAL YANG AKAN ANDA SAMPAIKAN LEWAT TERBITNYA KATAKATA DARI RAHIM KEGELISAHAN ANDA INI?”

Sang sohibul hajat pun mengundang setiap pendoa dari berbagai sekte di acara akikah anak katakata keturunannya, segala doa, puji-pujian terderas mencapai pelataran arrasy, manakala dipertontonkan berkeliling jamaah, anak katakata kebanggaannya sesekali penuh ekspresi, dingin, tersenyum, menangis, diam, lalu para pendoa bergiliran mengguntingi setiap helai serabut huruf halus agar kelak tak nakal, agar tak melenceng dari akidah, agar berbakti pada yang melahirkannya, agar berguna bagi umat, agar katakata yang keluar selalu berupa puja-puji suci, agar para pendoa pulang nanti membawa sekeranjang nasi berkat. Sebagian pendoa memercikan air suci agar Lucifer, belzeebul, batara kala, tak merasuki tubuh mungil soft cover itu dan tak menjadi serupa kitab satanic verses

Untuk menaikan gengsi, sang penyair dengan penuh hormat mengundang pejabat tertinggi meski dia hafal betul yang hadir selalu saja ajudan pribadi yang kemudian membacakan teks atasannya dengan permulaan kalimat: “SEBELUMNYA SAYA INGIN MENGUCAPKAN PERMOHONAN MAAF DARI ATASAN KAMI YANG SEDIANYA BERKENAN HADIR DI ACARA MULIA INI, SESUNGGUHNYA BELIAU AMAT SANGAT INGIN HADIR DISINI AKAN TETAPI KARENA SATU DAN LAIN HAL YANG TIDAK DAPAT DITINGGALKAN, BELIAU HANYA BERPESAN SEMOGA SUKSES SEBAGAIMANA HADIRIN BISA LIHAT PADA KARANGAN BUNGA TERBESAR DI GERBANG DEPAN”

Penyair ini pun mengundang para penyair dan penikmat sastra dunia maya agar hadir pada temu OFF AIR, sekalipun komentar mereka yang terapdet adalah “LIKE THIS” seraya membubuhkan jempol.

-KK-



*komentar kawan-kawan dari facebook*


    • Koelit Ketjil wuuahh, udah ada jempol neh! *ngelirik Shourisha Arashi* :))
      5 jam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Ridwan Mahadi Ini apa ya, mas KK? :D
      5 jam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Koelit Ketjil ya silakan terka sendiri..:)
      5 jam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Shourisha Arashi ungkapan yang jujur. harusnya mereka2 yg disebut disini membaca tulisan ini.

      *absen, hadirah.. hehe
      5 jam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Ridwan Mahadi masih blm ngerti sya? :-P
      5 jam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Koelit Ketjil ahh masak Penyair Kalbu, gak ngerti sih! .. *nyolek Shourisha Arashi* :p
      5 jam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Goenoeng Moelyo wakakakakakakakakak...
      *ngakak Fira'un*
      5 jam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Koelit Ketjil nah yg ngakak firaun kyk gni masuk golongan mana neh??? :p
      5 jam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Shourisha Arashi ih, kang Koelit koq colek2?
      takut ah.., haha..
      5 jam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Koelit Ketjil salahnya situ mirip sabun colek! hehehehhee
      5 jam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Ridwan Mahadi Maaf sya bukan Penyair kalbu. (sebutan Penyair Kalbu diberikan oleh teman2 sya dulu sewaktu di Rutan, karena sy sering baca puisi di sana, jika dulu sy pernah memakai nama itu, hapuslah dlm ingatan Anda, sebab sy bukan Penyair.)

      saya hanya berpuisi bagi diri sy sendiri. bukan untuk siapa2 dan tak berkehendak menjadi siapa2. ^_^
      5 jam yang lalu · · 2 orangMemuat...
    • Shourisha Arashi sebenarnya beberapa waktu lalu ada seorang kawan yg mngatakan hal yg sama seperti ini ke saya, dia pun dulu penyair.
      5 jam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Hari Senjakala mmm...berarti itu termasuk penyair yang suka glaomur yach..ndak pa pa sich, kita siapin aja EO untuk mereka2 ncih, lumayan kan...«lol»
      «« Hari is using the new facebook smileys.
      To enable smileys visit http://apps.facebook.com/orangesmileys/?aff=6as »»
      5 jam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Shourisha Arashi memang orientasi kepenyairan orang2 zaman sekarang makin bergeser ya?
      5 jam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Shourisha Arashi saya seperti sabun colek?
      hmmm.. saya memang wangi..
      hup aaahh...
      5 jam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Koelit Ketjil Ridwan Mahadi, hahhaha rupanya nama itu tidak masuk itungan klo ganti nama akun lagi ya. membaca komenmu aku jadi teringat Wiji Tukul... "penjara sekalipun
      tak bakal mampu
      mendidikku menjadi patuh".... but i still enjoy with your poems, dulur...
      5 jam yang lalu · · 3 orangMemuat...
    • Sandra Palupi
      ‎*belum baca* sungguh puisi yang panjang dan sarat enerji...

      simpen dulu ya, komen berikut setelah baca... nanti dilihat perbedaannya, sebelum dan sesudah baca, apakah ada perbedaannya atau tidak, kalau ada perbedaannya, pastilah komennya le...bih panjang, kalau tidak ada perbedaannya, pastilah karna saya belum baca, jadi cukup copas komen yang sebelumnya, yaitu komen ini. jadi tunggu dulu, saya komentarnya ya saya juga nunggu nunggu apakah akan ada hal yang berbeda. *minggir dulu, ada printer nyala, harus segera nge-print, kalau tidak terlena lagi saya, lupa lagi saya*Lihat Selengkapnya
      5 jam yang lalu · · 2 orangMemuat...
    • Koelit Ketjil Shourisha Arashi, wangi jeruk lemo! :p ... yg saya tau orientasi seksualnya Ridwan Mahadi, sudah mulai bergeser dari penyuka sesama jenis kepada lawan jenis. patut kita syukuri..hehhehehe.. just killing, Lur! :p
      5 jam yang lalu · · 2 orangMemuat...
    • Ridwan Mahadi Hei hei....keterlaluan. dari dulu saya suka lawan jenis taauu!! hahaha
      5 jam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Koelit Ketjil hlaaa.. bukannya baru kemarin ente baru sadar kalau Ivan Gunawan dan Olga syahputra itu laki2!!!..hehehhehehee.. *copas dari lagunya KPC* :p
      5 jam yang lalu · · 2 orangMemuat...
    • Shourisha Arashi hahahaha...
      5 jam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Ridwan Mahadi Hahahaha....Sial*n!!!
      5 jam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Koelit Ketjil ‎*lempar poto olga* tangkap, Dul Ridwan Mahadi! :))
      5 jam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Koelit Ketjil Sandra Palupi, sibuk bu!
      5 jam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Ridwan Mahadi He eh...poto olga, aku dan note ini apa hubungannya ya? :-P
      5 jam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Koelit Ketjil ahh, bukannya kau ini penggemar beratnya Olga.buktinya setiap patah hati selalu nyanyi..Han... hannncuurr..hancurrr..hancurrr..hatiiikuuuuu :P
      5 jam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Ridwan Mahadi wakakkakakakkkk.....fitnah!
      4 jam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Shourisha Arashi eh, kalian berdua ini, sama MANTAN jangan gitu ah!

      hahahaha
      4 jam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Koelit Ketjil hahay dia belum tau sensasi sesama jenis rupanya... :)
      4 jam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Shourisha Arashi emh???

      glegh..
      4 jam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Ridwan Mahadi Nah, akhirnya ngaku juga dia tu, Sit. sedang aku gak pernah dan memang gak kyak gitu2an. hihihi....merinding aku. :D
      4 jam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Koelit Ketjil
      hhmm.. gini neh yg pemahaman agamanya setengah2. ini kan sudah dijelaskan dalam kitab suci...ehm! Jaammaaahhh....ooo jamaaaahh..."Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dariJENISMU SENDIRI, supaya ka...mu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir". (Ar-Ruum : 21)....nah, berarti memang harus dari sesama jenis! ya jenis saya sendiri... kalau dulur Ridwan Mahadi kepingin dg diluar jenismu sendiri..misal dg jenis hewan, jenis jin, jenis tumbuh2an ya silakan..monggooo..selamat menikmati Lur! :))Lihat Selengkapnya
      4 jam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Ridwan Mahadi Hmmm...........kabuuur ah.
      4 jam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Shourisha Arashi ahahahaha...

      a Ridwan, kita kabur aja yuuuk...
      4 jam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Ridwan Mahadi wookkehh................aku bisya kepanasannnnnn soalnya si empunya rumah sudah ngeluarin ayat2nya.

      kabuuurrrrrrrrrrrrr....
      4 jam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Koelit Ketjil hahahhaa.. silakan, tanda-tanda ini hanya utk mereka yg berpikir..kekekekkekek... byeeeee. titi dj
      4 jam yang lalu · · 2 orangMemuat...
    • Sunker Aja gue kasih tanda pentung saja!
      4 jam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Koelit Ketjil maka termasuk golongan SATPAM lah anda..
      4 jam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Sunker Aja terima kasih sarimin! kami sangat menyayangkan anda tidak berakrobatik dengan huruf berserak lagi....
      4 jam yang lalu · · 2 orangMemuat...
    • Sunker Aja padahal anda itu sangat talented!
      4 jam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Anas Nasrudin kayanya dapat ide dari esai"tukang sastra".he
      4 jam yang lalu · · 2 orangMemuat...
    • Anas Nasrudin kayanya dapat ide dari esai"tukang sastra".he
      4 jam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Koelit Ketjil trimakasih Sunk Bo Kong... rupanya penilaian anda kurang tepat
      4 jam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Koelit Ketjil Anas Nasrudin, ide bisa dari mana saja. salah satunya dari esai itu tpi yg lebih banyak dari pertanyaan kawan2.. :p
      4 jam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Stanislav Kostka L ‎^LIKE THIS^ *jejak Tjap Djempol
      4 jam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Anas Nasrudin Haha. Kini semua profesi terjangkit virus.mementingkan prestise ketimbang prestasi.
      4 jam yang lalu ·
    • Anas Nasrudin Siapapun kamu,bagaimanapun ujungujungnya minta kelamin (baca-mementingkan napsu pribadi)pidi baiq.
      3 jam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Puak Cullen wis tak 'LIKE' timbangane mumet.
      3 jam yang lalu ·
    • Sunker Aja lah kang stanis ningalin jejak biologis disini....
      3 jam yang lalu ·
    • Syafruddin Azhar Mengapa...?
      3 jam yang lalu ·
    • Leliana Lesmana itulah sebabnya aku tidak pernah tertarik menghadiri acara kumpul2 penyair, bedah buku dst...apalagi bikin buku...hahahahha.....

      *komen liane tak LIKE wae melu dr.Puak...timbangane mumet....
      2 jam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Koelit Ketjil kang Syafruddin Azhar, lah masih tanya lagi,segitu panjangnya penjelasan ane.. *masak harus bikin tulissan sepanjang ini lagi, hiiikss* ;(
      sekitar sejam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Koelit Ketjil mbk Leliana Lesmana, yoo wis komentmu tak LIKE juga! :p
      sekitar sejam yang lalu ·
    • Leliana Lesmana aku belum pernah baca puisi kamu KK coba dong tulis sedikit disini cuplikannya saja.
      *kayak iklan felm wae pake iklan...
      sekitar sejam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Koelit Ketjil ketaun nih mbk Leliana Lesmana, gak pernah baca notesku, jangan2 termasuk golongan terkahir dari tulisan diatas neh..hehehhee..ehheemm.. jadi terpaksa iklan juga neh.. mampir aja ke timoerlaoetnoesantara, mbak..utk sampel, klik aja -> http://timoerlaoetnoesantara.blogspot.com/2011/05/insomnia-pendosa.html
      sekitar sejam yang lalu ·
    • Syafruddin Azhar Saya bertanya "judulnya" saja kang...
      sekitar sejam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Koelit Ketjil saya menjawab dengan tulisan yg dibawah judul, kang Syafruddin Azhar.... hadeuhhh *jangan sampe minta dibacain langsung ya* *tepok zidat*.. :))
      sekitar sejam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Leliana Lesmana wuizzzz..tenanan penyair toh kirain 'gadungan' kayak aku......
      sekitar sejam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Koelit Ketjil hladalaaaahhh... itu pitnah mbk Leliana Lesmana.. wuuaduhhhh.. *tepok zidat lagi*
      sekitar sejam yang lalu ·
    • Leliana Lesmana wadalah jidatku kena tepok juga..-P
      sekitar sejam yang lalu ·
    • Koelit Ketjil ada kupu2 ehh nyamuk sih yg nemplok disitu! :))
      sekitar sejam yang lalu ·
    • Koelit Ketjil ehh ada jempolnya Kang Gol A Gong..masak cuma jempol seh??? jangan2 masuk golongan terakhir juga neh! jiiakakakakkkk :))
      sekitar sejam yang lalu ·
    • Gol A Gong belum sy baca ntar, sabar kenapa....
      sekitar sejam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Koelit Ketjil hahayy.. orang gak sabar kekasih Farah Quinn...amiennn :))
      sekitar sejam yang lalu ·
    • Koelit Ketjil kang Stanislav Kostka L, urik tenak ik..nek aku komen ning tulisanmu dhowo2..kowe malah njempoli and laik dis, thok! njempole mambu meneh! *uncali jempol cantengan* hahahhahaa :))
      sekitar sejam yang lalu ·
    • Gol A Gong Hmmm, lucu juga. Saya jelas tersindir. introspeksilah. Memagn rada repot jika menafsir ini. Paling asik memang menulis saja, lempar ke pasar, terserah publik. Tapi, kalau di Rumah Dunia tidak melakukan prosesi kelahiran lewat bedah/peluncuran, pesannya nggak sampai; yaiu membangun dunia literasi di Banten, hehehe.. pembelaan dirinih...
      sekitar sejam yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Koelit Ketjil
      hahahaa.. Kang Gol A Gong, tulisan ini memang hadir salah satunya ketika saya main ke Rumah Dunia ngobrol dg beberapa relawan ttg 'essai tukang sastra' salah satunya waktu itu Anas Nasrudin, setelah itu juga ngobrol dg kang Muhyi seputar pe...nyair salon dan beberapa kawan yg menanyakan kok gak pernah bikin lagi 'serupa' puisi atau 'mirip2' sajak lg sih. ini juga kegelisahan saya kalau2 kumpulan 'sejenis' puisi saya (ehhemm..sebenarnya tinggal serahin aja ke gong publishing)..tapi kemudian saya ukur2 diri..hhmmm..dah siap AKIKAHAN blum ya saya ini?? tapi kalau utk berkontribusi demi kemajuan literasi khususnya Banten..mungkin siyap2 aja neh dilempar ke Gong Publishing..ya setidaknya menjadi salah satu referensi 'sejenis puisi terburuk sepanjang peradaban manusia' <-- (meminjam istilah salah satu seniman pengejar proyek di banten) hehehehehehe..Lihat Selengkapnya
      52 menit yang lalu · · 1 orangMemuat...
    • Koelit Ketjil nge-LAIK DIS komen sendiri!..*narsis abis!*... :p
      47 menit yang lalu ·
    • Koelit Ketjil
      oh ya kang Gol A Gong, ada puisinya Wiji Thukul yang menampar saya bertubi..dan komen kang Gong bahwa harus ada pesan yaitu membangun literasi banten juga cukup ngejitak jidat saya... mari kita saksikan berikut ini:.... Apa yang Berharga da...ri Puisiku (sajak Wiji Thukul)

      Apa yang berharga dari puisiku
      Kalau adikku tak berangkat sekolah karena belum membayar SPP
      Apa yang berharga dari puisiku
      Kalau becak bapakku tibatiba rusak
      Jika nasi harus dibeli dengan uang
      Jika kami harus makan
      Dan jika yang dimakan tidak ada?
      Apa yang berharga dari puisiku
      Kalau bapak bertengkar dengan ibu
      Ibu menyalahkan bapak
      Padahal becakbecak terdesak oleh bis kota
      Kalau bis kota lebih murah siapa yang salah?
      Apa yang berharga dari puisiku
      Kalau ibu dijiret utang
      Kalau tetangga dijiret utang?
      Apa yang berharga dari puisiku
      Kalau kami terdesak mendirikan rumah
      Di tanahtanah pinggir selokan
      Sementara harga tanah semakin mahal
      Kami tak mampu membeli
      Salah siapa kalau kami tak mampu beli tanah?
      Apa yang berharga dari puisiku
      Kalau orang sakit mati di rumah
      Karena rumah sakit yang mahal?
      Apa yang berharga dari puisiku
      Yang kutulis makan waktu berbulanbulan
      Apa yang bisa kuberikan dalam kemiskinan yang menjiret kami?

      Apa yang telah kuberikan
      Kalau penonton baca puisi memberi keplokan
      Apa yang telah kuberikan
      Apa yang telah kuberikan
      Apa yang telah kuberikan?

      Semarang,6 maret 86
      Lihat Selengkapnya
      41 menit yang lalu ·