Jumat, November 20, 2009

Sepotong Sesuatu ... potongan ke

Ruang Bedah Mayat. 14.30 WIB

Insiden kecil yang berakibat fatal tadi menjadikan semua orang yang nantinya memasuki ruang bedah mayat semakin berhati-hati dalam bertindak. Dokter Widjaja dan Dokter Ferryal telah bersepakat bahwa pemeriksaan dilanjutkan terpisah untuk mencegah hal yang tidak diinginkan maka Dokter Ferryal meminta agar pemeriksaan organ dalam tubuh mayat tanpa ada pihak lain didekatnya kecuali asistennya. Raya dan Nadhien tidak dapat menutupi kekecewaan atas keputusan mereka, sebenarnya bisa saja Nadhien membujuk Dokter Widjaja agar dapat menyaksikan pemeriksaan yang dilakukan oleh Dokter Ferryal tapi mereka menghargai hal itu demi profesionalitas pemeriksaan.

Dokter Widjaja memberikan kode agar mereka semua masuk ruang bedah mayat, kali ini Dokter Widjaja akan melanjutkan pemeriksaan lanjutan dari luka-luka yang ada disekujur tubuh korban. Metode top to bottom dipilihnya karena secara kasat mata pada bagian kepala hingga pinggang korban terdapat banyak bekas luka berupa abrasi, kontusi, laserasi maupun luka insisi dan luka lainnya yang belum terlihat.

Pada bagian kepala korban pemeriksaan dimulai dari bagian wajah, jelas terlihat beberapa luka memar dibagian dahi kanan dan kiri, bayang hitam disekitar kelopak mata, hidung korban yang sedikit bengkok, rahang dan dagu yang lecet belum termasuk rongga mulut. Dokter Widjaja merekam semua ucapannya menggunakan rekorder kecil yang tergantung didadanya sementara Nadhien dan Raya mencatat ulang semua ucapannya. Pada pelipis kiri, 8 cm dari puncak kepala, 2 cm di atas batas rambut samping ditemukan luka terbuka dengan tepi tidak rata, kedua sudut tumpul, ditemukan jembatan jaringan, dasar luka otot kepala, pada bagian bawahnya terdapat kulit yang menggelambir kebawah dengan ukuran 2 cm x 2 cm, luka bila dirapatkan membentuk garis lengkung kebawah sepanjang 4cm. Pada dahi sebelah kanan ditemukan bekas trauma akibat benda tumpul, tidak mengakibatkan luka terbuka, terdapat berkas memar berwarna kebiruan, berbentuk bundar dengan diameter 2cm.

Perhatian dokter menuju bagian lingkar mata yang berwarna merah kebiruan sepanjang 5cm sepanjang kelopak mata bagian bawah sebelah kiri. Nampak berkas hantaman akibat Abrasi Crushing yang diperkiraan cukup kuat hingga terjadi kebocoran dari pembuluh darah tetapi pada epidermis masih utuh meskipun tidak terlihat goresan namun terjadi memar dan tonjolan oedem lokal pada permukaan kulit. Dokter Widjaja yakin jika ini terjadi akibat trauma langsung meskipun dalam beberapa kasus ditemukan pergerakan memar yang mengikuti gaya gravitasi terlebih mayat ditemukan dengan posisi berdiri terikat pada tiang.

Kuatnya trauma langsung yang diderita korban dapat dilihat pada kondisi hidung yang sedikit bengkok kearah kanan sehingga dapat diperkirakan arah hantaman yang datang berasal dari arah kiri korban, tidak adanya luka iris atau lecet menandakan trauma diakibatkan oleh hantaman benda tumpul namun ditemukan bercak darah pada lubang hidung. Asisten Dokter Widjaja hanya mencatat tetapi Raya dalam hatinya dapat menyimpulkan kemungkinan hidung itu dipukul dengan tangan kanan, dilihat dari akibat luka pada hidung maka kemungkinan terbesar korban tidak ada kesempatan untuk mengelak, bisa jadi dilakukan ketika korban terikat pada tiang.

Raya mencuri pandang kearah Nadhien yang masih serius memperhatikan Dokter Widjaja yang tengah membuka mulut korban, jangan sampai hidung mungil itu terluka sedikitpun. Raya sudah menaruh perhatian khusus terhadap Nadhien sejak luka di kepalanya yang kembali infeksi telah dirawat Nadhien dengan telaten meskipun pada waktu itu mereka baru dua kali bertemu setelah obrolan seputar penelitian diangkringan Lek Man. Nadhien menoleh kearah Raya seolah merasa ada yang memperhatikan tapi Raya sudah tenggelam dalam buku catatan kumalnya. Nadhien hanya tersenyum melihat buku itu.

“Mbak Nadhien saya perlu bantuan anda, tolong bantu membalikkan tubuh korban, saya ingin melihat bagian samping kepala korban dan Mas Raya tolong tahan sebentar pad posis tubuh miring,” Dokter Widjaja memberikan instruksi kepada mereka berdua sementara asistennya mempersiapkan pisau cukur untuk mencukur sedikit rambut yang terkena darah. Lewat senter kecil dan bantuan kaca pembesar, Dokter Widjaja menemukan luka terbuka dibagian samping kepala dekat telinga.

Adanya Nadhien disampingnya membuat Raya tidak ragu lagi untuk menahan tubuh korban agar tetap pada posisi yang diinstruksikan, wajah korban yang terlihat tersiksa dengan mata yang hampir menutup menatap langsung kearah Raya. Posisi yang tidak menguntungkan sementara ketiga orang lainnya berada dibagian belakang tubuh korban tapi Raya menemukan titik pengalihan perhatian. Nadhien tepat dihadapannya, juga bertugas menahan tubuh korban, meskipun mereka berdua mengenakan masker hijau tapi senyum mereka dapat terlihat dari tarikan otot yang mengangkat masker itu beberapa senti meter dan mata mereka tak dapat saling membohongi, terlebih Dokter Widjaja meminta untuk tidak menciptakan gerakan kecil pada tubuh korban. Mereka tidak sekedar tersenyum melainkan tertawa kecil.

Terlihat luka terbuka sepanjang 7cm dekat telinga korban memanjang vertikal, kedalam luka hanya beberapa milimeter saja juga ditemukan penggumpalan darah dibawah lapisan kulit dekat luka terbuka. Dokter Widjaja melakukan swab pada luka terbuka, dengan bantuan kaca pembesar Dokter Widjaja menemukan unsur logam hitam dari luka terbuka itu sementara pada daerah bahu hingga belikat terlihat jejas tekan berwarna merah muda dengan panjang 15cm sebanding lurus dengan luka dekat telinga itu. Mendengar itu Raya jadi teringat posisi korban yang terikat pada tiang besi, bisa jadi ini merupakan hasil benturan tubuh yang terhantam oleh pelaku dan luka di kepala dan jejas panjang itu tepat mengenai bagian menonjol pada tiang besi itu. Kesimpulan Raya itu mengakibatkan rambut-rambut halus disekitar tangannya berdiri, dia membayangkan kekejaman pelaku yang menganiaya korban dalam keadaan tak berdaya.

Pusat perhatian kini berpindah kearah leher koban secara detail temuan itu tercatat. Terlihat jejas berupa luka lecet tekan arah pada lingkar leher sepanjang 10cm dibawah dagu, Dokter Widjaja tidak ragu membuka sarung tangan karetnya kemudian meraba permukaan kulit leher depan tepat pada jejas itu. Temuan lainnya adalah satu luka lecet tekan dengan lebar 8mm berbentuk bulat sabit dengan posisi vertikal tepat dibawah rahang sebelah kanan sementara ditemukan lagi empat jejas yang hampir sama dibagian bawah rahang sebelah kiri, tiga jejas relatif berukuran sama selebar 5mm dan satu lagi berukuran lebih kecil.

Bagian dada korban tidak luput dari pemeriksaan, dengan mata telanjang saja terlihat beberapa jejas kontusi, luka lecet dan abrasi. Diantara jejas itu Raya lebih tertarik pada abrasi crusing dengan pola seperti bentuk bagian bawah sepatu, jejasnya terlihat begitu jelas menandakan kekuatan tekanan yang menciptakan pola itu. Hantaman hebat ini mungkin mengakibatkan luka pada bagian dekat telinga tadi, korban terhantam keras dan membentur besi tiang. Dokter Widjaja mengukur panjang jejas itu kemudian melakukan perabaan tulang dada mencari kemungkinan retak atau bahkan patahan dengan sarung tangan yang telah terpakai lagi untuk menghindari resiko karena darah korban berceceran didekat dada sisa pembedahan bagian perut.

Pemeriksaan daerah dada dirasakan cukup, Dokter Widjaja meminta kepada Raya untuk mundur dan memperhatikan dari kursi saja karena pemeriksaan berikutnya menuju kearah bagian iga korban yang begitu dekat dengan rongga perut korban yang telah terbuka, mengingat resiko besar yang kemungkinan dapat terjadi lagi seperti dialami Frans pagi tadi maka Raya dan Nadhien hanya dapat memperhatikan dari jauh saja. Lega rasanya menemukan kursi untuk sandaran menghilangkan lelah sejenak, Raya bersandar dengan menegadahkan kepalan untuk mengendorkan otot disekitar leher dan bahunya.

Secarik kertas berpindah pada buku yang berada dipangkuannya. `Capek ya Mas?`, Raya tersenyum membaca pesan Nadhien yang melakukan komunikasi bisu lewat tulisan pad kertas. Raya membalas dengan tulisan pada kertas yang sama. `Ya, lumayan capek sih tapi masih kuat kok. Kamu masih kuat?` tak lupa gambar wajah senyum dibubuhkan pada kertas itu. `Sebenarnya masih kuat sih, tapi kakiku dah protes aja dari tadi. Kelamaan berdiri sih!` kali ini Nadhien membubuhkan gambar dua titik dan satu garis melengkung kearah bawah sebagai representasi perasaannya. Raya menahan tawa gelinya dan membalas lagi, `Coba aja kalo aku `dah punya sertifikat pijat pasti kaki kamu kupijat biar ilang capeknya` Raya memberi tambahan dua titik dan huruf `P` yang tertidur pada pesan singkatnya itu. Nadhien membalasnya dengan cubitan, Raya hanya menahan sakit didaerah lengan kirinya, pasti terdapat jejas tekan berwarna merah dan putih pada kulit dibalik lengan kaosnya.

Dokter Widjaja telah selesai melakukan pemeriksaan mayat korban hingga bagian telapak kaki. Jam dinding menunjukkan waktu telah bergulir pada pukul 17.02 WIB. ”Mengingat waktu shalat Ashar hampir habis dan pemeriksaan bagian depan mayat korban telah selesai jadi lebih baik kita istirahat terlebih dahulu. Saya memberikan tawaran bagi anda berdua jika masih berminat untuk hadir pada pemeriksaan berikutnya yaitu bagian belakang tubuh korban. Kita bertemu lagi disini selepas shalat Isya, tepatnya pukul 20.30, malam ini kita lembur!” informasi dari Dokter Widjaja ini membuat kekaguman tersendiri dalam benak Raya, bahkan dalam tugas yang begitu penting dan membutuhkan ketelitian tingkat tinggi ternyata Dokter Widjaja tidak lupa akan waktu beribadah. Jejas hitam pada dahi dokter itu dapat dipastikan tidak hanya sekedar jejas belaka melainkan cerminan keimanan sang dokter.

Lega rasanya begitu menghirup udara segar setelah keluar dari ruang bedah mayat. Nadhien mengajak Raya untuk shalat berjamaah di mushola, semula Raya ragu untuk menyanggupi tapi juga tidak tega menolak permintaan Nadhien.
”Mas Raya bersedia menjadi imam untuk aku?” permintaan itu menjadi intropeksi diri Raya akan pengetahuan ilmu agamanya, jangankan menjadi imam untuk melaksanakan kewajibannya sebagai umat saja dalam sebulan dapat dihitung dengan jari yang berada ditangan kanannya, itupun hanya ibadah setiap jumat saja.

”Ehm...badan dan bajuku kotor Non, didalam tadi kita `main` dengan mayat sih!” Raya tergagap mencari alasan,
”Tapi kalau kamu mau, tunggu aku mandi dulu, sebentar aja ya.” rasa bersalahnya cepat menyentuh batinnya dan berusaha untuk memperbaiki.
”Mas Raya bawa perlengkapan mandi? Aku bawa nih,” Nadhien bersiap mengambil sesuatu dari tas.
”Aku bawa kok, percuma dong bawa `kantong doraemon` tapi gak digunakan. Didalam sini ada kaos, sabun, sampo, handuk bahkan bak mandi juga ada!” Raya tersenyum menunjukkan tas ranselnya, Nadhien terpancing ikut tersenyum geli.

***

Sepotong Sesuatu ... potongan ke




Paska pemeriksaan mayat. Lokasi; Menuju Kos Nadhien
Yang Jauh Mendekat, Yang Dekat Merapat

Setelah shalat, Nadhien meminta untuk diantarkan ke kosnya agar bisa bersama menuju Sardjito lagi selepas Isya nanti, Raya menyanggupinya. Keluar dari gerbang RSUP Sardjito motor diarahkan menuju lokasi tujuan dengan navigator duduk dibagian belakang. Tak lebih dari 10 menit mereka telah memasuki gerbang halaman kos Nadhien, sebenarnya kontrakan lebih tepatnya namun Nadhien tidak begitu akrab dengan teman-teman satu atapnya bahkan mereka juga satu fakultas dengannya. Kehidupan teman-temannya terlalu glamor bagi Nadhien, maklum untuk masuk kedalam fakultas bergengsi sekelas kedokteran dapat dipastikan mereka berasal dari keluarga berkecukupan tapi bukan berarti harus sombong dengan kekayaan orang tuanya.

Nadhien memilih merasakan menjadi anak kos meskipun rumah orang tuanya berada di utara kota Jogja tak jauh dari sini, segala kebutuhan sudah pasti terpenuhi dengan baik disana. Alasan agar lebih dekat dari kampus dan bujukan mobil baru dari Bundanya tidak mengendorkan niat Nadhien.
”Mas, tunggu disini sebentar. Aku mau mandi dulu, sudah hampir magrib nih, nanti kita shalat berjamaah lagi ya? Mas Raya masih mau menjadi imam `kan?” senyum ragunya menandakan ketidak kuasaannya untuk menolak. Sebenarnya Raya lebih memilih menunggu di teras depan agar dia dapat menghisap rokoknya, berjam-jam mulutnya terasa pahit belum terkena efek nikotin tapi Nadhien melarang dengan alasan kurang baik duduk di luar sementara hari hampir magrib.

Semangkuk mie instan lengkap dengan telur dan potongan lombok rawit ditemani teh panas setelah shalat magrib menambah lagi rasa damai dalam hati Raya. Suara musik dan lagu terbaru terdengar dari balik masing-masing kamar teman satu kontrakan Nadhien sejak kehadiran Raya sampai detik ini masih terdengar non-stop tak peduli panggilan dari atap masjid dan mushola sekitar kontrakan mereka. Hanya kamar Nadhien yang terasa tentram yang kini dinikmati Raya. Ini waktu yang tepat bagi Raya untuk mengetahui karakter Nadhien yang belum terungkap. Kumpulan foto yang tersusun rapi dan manis dalam album dijadikan media bagi Nadhien untuk menjawab pertanyaan-pertanyan Raya. Pose-pose dalam foto lebih banyak dihiasi dengan background pesawat helikopter, `maklum Ayahku cuma supir tapi supir helikopter` Nadhien merendah dengan senyum manisnya.

Masa liburan saat Nadhien remaja banyak dihabiskan dengan tur ke berbagai kota di luar dan dalam negeri, Nadhien menceritakan segala keceriaan cerita dibalik lembar-lembar foto itu sementara Raya menjadi pendengar yang baik dan mencoba membayangkan berada ditempat yang sama seperti dikunjungi Nadhien. Jangankan liburan ke luar negeri, bagi Raya, Nusantara Indonesia saja belum terekplorasi secara keseluruhan Bagian barat terjauh dari wilayah Indonesia yang pernah dia singgahi saja hanya Jambi sementara daerah timur terjauh adalah Malang, itu pun dalam rangka urusan keluarga dan menjadi delegasi kampus dalam pertemuan nasional mahasiswa bukan untuk liburan.

”Kok, Mas Raya mirip Bayu sih kalau aku lagi bercerita, mirip banget! Cuma diam sambil meneteskan air liur, hihiiihii.” Nadhien berhasil menggoda Raya yang duduk tersihir mendengar cerita itu lalu sibuk mengusap bagian bibirnya yang tentu saja air liur itu tidak keluar dari mulutnya. Nadhien menikmati momen kemenangan karena berhasil membuat Raya terkecoh sementara Raya menikmati deretan gigi putih dari rekahan bibir tipis itu. Sekarang keduanya hanya terdiam saling menatap dalam-dalam, memandangi bola mata lawannya satu sama lain yang berkedip dan berbinar sementara senyum mereka tertahan beberapa detik hampir satu menit, kemudian tawa terlepas bebas meredam emosi masing-masing didalam dada mereka. Adzan Isya bergema.

Nadhien dan Raya kembali kegedung Instalasi Kedokteran Forensik, kali ini mereka datang lebih cepat dari Dokter Widjaja. Raya tidak pernah menyangka bisa terlibat begitu jauh dengan kasus ini, kesadaran akan hal ini muncul ketika dia merasakan suasana yang hening di ruang tunggu.

***

Sepotong Sesuatu ... potongan ke


Silent of The Innocent
Sabtu, 9 Juni 2007. 09.15 WIB. Lokasi; Ruang Interograsi Poltabes

Ruang berukuran 4x4m hanya terdapat satu meja, tiga kursi dan tiga manusia dengan raut muka tegang. Wajah tua itu semakin menunduk, hampir tidak ada darah yang mengalir menuju pembuluh darah yang berada dibalik kulit wajah tersangka hanya air yang keluar dari pori-pori kulit coklat itu. Erlang masih dengan sabar menggali informasi dari pengakuan tersangka, nalurinya masih membimbing keyakinannya bahwa tersangka bukan merupakan pelaku sesungguhnya.
”Saya ulangi sekali lagi, tolong Pak Jono mengatakan dengan sesungguhnya. Perlu Bapak ketahui semua ucapan Bapak bisa jadi membantu di persidangan atau justru memberatkan Bapak. Saya yakin ada sesuatu yang Bapak tutupi, percayalah kami disini untuk membantu Pak Jono.” Sorot mata tajam milik Erlang tak mampu menembus pertahanan tersangka.

Yanto yang mendampingi di ruangan yang sama sudah tidak sabar lagi menungu jawaban tersangka yang tak kunjung keluar satu kata pun. Lengan kekarnya mencengkram kaos bergambar salah satu partai jaman orde baru yang dikenakan tersangka.
”Jangan bikin kesabaran kami hilang Pak! Ayo katakan! Hormati orang yang sedang berbicara, lihat mata saya!” lengannya masih mengguncang tubuh korban yang ringkih, Erlang mencegah tindakan Yanto dan berbisik untuk melepaskan cengkramannya.
”Tapi Dan, orang ini tidak akan berbicara jika tidak kita paksa” Erlang memahami tekanan kerja pada diri Yanto tapi dia lebih menghargai hak seseorang untuk diperlakukan manusiawi.

”Oke, Pak Jono bisa liat sendiri, teman saya ini sebenarnya seorang yang sabar tapi Bapak juga tahu kami hanya manusia yang juga mempunyai batas kesabaran. Kemarin kami sudah tawarkan kepada Bapak untuk dapat didampingi pengacara selama proses ini tapi Bapak menolaknya,” Erlang masih menjaga emosi dalam dirinya, kekerasan tidak akan dapat membuat titik terang itu datang, dia memahami konsep orang jawa yang jika sudah dalam keadaan pasrah maka akan sulit untuk merubah pilihannya itu. Erlang menyodorkan map Berkas Acara Perkara kehadapan tersangka, ditunjukkan tulisan yang dia harapkan dapat terbaca oleh tersangka.

”Pak Jono bisa baca ini?” ekspresi wajah yang diharapkan mulai terlihat dari sikap wajah yang menunduk itu
”Kalau Pak Jono tidak bisa atau tidak berminat untuk membaca tulisan ini maka saya akan bacakan” Erlang menunjukkan ekspresi wajah ceria kepada partnernya itu menandakan umpan telah berhasil, Yanto masih belum memahami maksud Komandannya.
”Tolong dengarkan baik-baik, menurut KUHP Pasal 340 yang mengatur bahwa `Barangsiapa dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan rencana, dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama DUA PULUH TAHUN.` Bapak dengar itu DUA PULUH TAHUN!” Intonasinya ditekankan pada akhir kalimat. Yanto mulai memahami maksud Komandannya itu dan memperhatikan kedua telapak tangan tersangka yang bertumpu rapat dibawah perut, ada getaran yang tidak bisa dikontrol oleh tersangka. Yanto pun beraksi menambahkan tekanan psikologis pada tersangka.

”Perlu Bapak ketahui bulan lalu, kami baru saja mengeksekusi mati pelaku pembunuhan yang keji membantai empat orang korbannya. Bapak tahu apa yang dilakukan oleh pembunuh itu? Dia hanya diam bahkan sampai dipersidangan pun tidak banyak yang diucapkan, tapi dihadapan tim Brimob yang siap untuk menembaknya akhirnya pembunuh itu menangis, apa gunanya tangisan setelah peluru menembus dadanya?” kini Yanto dapat memperhatikan kedua kaki tersangka yang tersembunyi dibawah kursi itu bergetar cukup kencang.

Erlang menepuk bahu Yanto agar memberikan kesempatan bagi dirinya kali ini. Tenang Erlang duduk diatas meja disamping tersangka, meyakinkan bahwa dirinya berada dipihak tersangka untuk membantu. Bujukan dan rayuan agar tersangka membuka mulutnya ternyata belum juga berhasil merubah keyakinan tersangka meskipun keringat semakin membasahi wajah dan punggung tersangka. Posisi duduknya pun tidak berubah, menandakan keteguhan hatinya mampu meredam tekanan psikologis yang menyerangnya bertubi-tubi.
”Saya katakan sekali lagi bahwa kami disini untuk membantu Bapak karena Saya pribadi percaya bahwa Bapak bukan orang jahat” Erlang menanti jawaban, perlahan kepala tersangka terangkat dan bersiap mengucapkan sesuatu, mungkin karena mendengar perkataan Erlang yang tulus, hati kecilnya terguggah dan memberanikan diri.
”Kulo khilaf Pak Polisi, saestu, kulo khilaf....” bibirnya bergetar mengucapkan kalimat itu, dalam batinnya pasti bergejolak menyatakan pengakuan yang dipaksakan mengatakan kejujuran tapi Erlang bukanlah penyidik yang tidak mengetahui mana pengakuan yang benar atau kebohongan belaka.

”Oke, katakanlah jika Bapak memang benar-benar khilaf saat itu tapi Bapak bisa ceritakan pada kami apa alasannya Bapak sehingga tega membunuh korban? Kesalahan apa yang dilakukan korban sampai-sampai membuat Bapak menjadi khilaf?” tatapan tajam Erlang menjadi sia-sia karena tersangka kembali tertunduk, diam dan jawaban tak kunjung keluar dari mulut tersangka. Yanto semakin tidak sabar, kursi yang didudukinya terlempar menghantam tembok. Tak hanya tersangka yang terkejut atas reaksi Yanto itu, Erlang pun tak kalah terkejutnya. Lengan Yanto dengan cepat mencengkram tersangka dan mengangkat tinggi-tinggi hingga wajah tua itu berhadapan langsung dengan wajah yang tak mampu menahan emosi. Ledakan pertanyaan Yanto hanya dijawab dengan kalimat yang sama keluar dari mulut tersangka tadi kali ini dengan tambahan tangisan kecil dan mata yang terpejam pasrah, bisa saja nasibnya sama seperti kursi yang hancur berantakan tadi.

Erlang berusaha menenangkan Yanto meminta untuk melepaskan cengkramannya. Tiga jam berada diruangan tanpa mendapatkan hasil apapun. Erlang mengajak Yanto untuk keluar menghirup udara segar sementara tersangka dibiarkan didalam ruangan. Taman kecil belakang ruang kerja Erlang mereka masih menunduk dengan asap rokok yang terhembus kearah bawah, jika dalam teori psikologi bahasa tubuh, prilaku seorang perokok dengan ciri seperti ini menandakan mereka sedang mengalami depresi atau tertekan. Erlang sebagai komandan tidak boleh terbawa arus emosi bawahannya yang bisa saja menjebak mereka pada hal yang justru merugikan. Yanto masih saja menggerutu dan memuntahkan kekesalannya menghadapi tersangka satu itu. Dia selalu berhasil membuka mulut para pengedar kecil sehingga menemukan bandar besar narkoba dengan metode intimidasinya bahkan tak segan-segan kekerasan fisik dia pergunakan.

”Apalagi yang harus kita lakukan Dan? Kenapa kita tidak melakukan cara lama yang jelas-jelas telah terbukti!” Yanto masih menghormati atasannya ini meskipun usianya jauh lebih tua. Erlang masih menatap kearah kolam ikan koi yang berenang tenang, perlahan emosinya ikut terbawa tenang. Menghisap dalam-dalam batang rokok diengan kirinya, mengambil handphone yang tersimpan di pinggangnya kemudian menghubungi bawahannya.
”Ada temuan dan perkembangan baru?”
”Siap Dan!, Saya telah menyelidiki latar belakang tersangka dan keluarganya, ada beberapa temuan yang mungkin bisa membantu kita.” Hari melaporkan hasil investigasinya.
”Oke, bagus! Posisi sekarang dimana? Harap segera meluncur kearah markas.” Ekspresi Erlang menjadi sedikit cerah mendengar laporan itu, Yanto masih juga memendam emosi yang perlu diluapkan segera. Erlang menekan kembali tombol handphonenya untuk menghubungi Raya.

”Hallo Mas Raya, ada perkembangan baru dari ruang bedah mayat? Maaf kami hari ini masih belum sempat mampir kesana. Tolong setiap ada perkembangan beritahukan segera atau jika perlu bantuan jangan sungkan-sungkan.” Ada perasaan tidak enak hati dalam diri Erlang yang membebani Raya dengan tugas yang begitu berat tapi dia tidak meragukan kemampuan Raya. Erlang sedikit terkejut mendengarkan laporan Raya yang memberitahukan adanya insiden kecil.
”Insiden kecil bagaimana maksud kamu?” Erlang menunggu penjelasan Raya
”Wah, kok bisa gitu ya! Pasti mahasiswa itu melakukan kelalaian. Hati-hati, jangan sampai kamu mengalami kejadian yang sama. Oh ya, terus bagaimana keadaan mahasiswa itu?” Erlang merasa lega insiden itu tidak menimpa Raya dan mahasiswa itu telah mendapatkan perawatan berdasarkan laporan Raya.
”Saya minta tolong setiap ada perkembangan yang penting segera laporkan Saya. Nanti pulsa akan dikirim supaya kita tidak terhambat hanya karena kehabisan pulsa. Jaga diri baik-baik.” Percakapan berakhir.

Hari segera menghadap Erlang dan melaporkan hasil temuannya. Erlang mendapatkan ide baru setelah mendengarkan laporan Hari. Kedua bawahannya terlihat setuju dengan rencana komandannya itu. Kedua bawahannya undur diri dari kantornya untuk melaksanakan perintah. Erlang kembali ke ruang introgasi, menjelaskan bahwa interigasi hari ini dirasakan cukup kemudian mengantar tersangka kedalam sel tahanan.

***

Kamis, November 19, 2009

Sepotong Sesuatu ... potongan ke

Rencana B, Siap Laksanakan!
Menjelang malam. Lokasi; Sel tahanan

Pintu baja berderit terbuka sebentar kemudian tertutup kembali dengan dua gembok besar dan tambahan rantai tergantung mengunci pintu sel tahanan. Pak Jono terduduk menunduk sendirian pada sebuah sudut sel tahanan itu meratapi nasibnya. Pertanyaan-pertanyaan di ruang interogasi tadi masih terbayang dalam selnya kesendiriannya sepanjang sore. Setiap teringat dengan cengkraman, teriakan dan mata merah Yanto wajahnya semakin tenggelam pada posisi duduk dengan tangan menggenggam erat kedua kakinya.
”Kena kasus apa sampeyan sampai masuk bui ini?” Pak Jono terkejut bukan main mendengar suara itu, dia tidak memperhatikan ada orang masuk sel yang sama dia tempati ketika pintu itu terbuka tadi.
Posisinya tambah merapat pada sudut itu, teman satu selnya itu berpenampilan besar, seram dan beberapa hiasan tato jelas terlihat mengisi lengan bagian atas kanan dan kiri begitu membuka baju tahanan. Bayangan tentang cerita-cerita mengerikan dari balik jeruji yang sering terjadi sesama tahanan membuat Pak Jono semakin takut, hari ini dia harus berbagi dengan orang lain dalam sel itu.
”Kenapa Pak? Jangan takut, aku gak akan ngapa-ngapain sampeyan!” baju tahanannya digunakan sebagai kipas untuk sedikit mengurangi hawa panas yang terasa menguap di sel tahanan.
”Sudah lama di masuk sini pak? Hey, sampeyan dari tadi belum kasih tau kena kasus apa?” orang yang ditanya menjawab singkat tetap tenggelam dalam ketakutannya.

”Tolong perhatikan kalau ditanya, lihat saya pak! Hey, jangan nunduk terus gitu, sini kamu!” gelegar ucapannya membuat gemertak tulang pada kaki Pak Jono, mendekat ragu kearah kawan satu selnya.
”Ampun Pak, jangan pukul saya Pak, tolong kasihani saya” posisinya menggapurancang rapuh dengan getaran halus seluruh tubuhnya, membayangkan apa yang akan dialami setelah ini.
”Loh, sampeyan kira saya ini penjahat apa? Diluar sana saya memang penjahat, perampok dan pembunuh tapi sekarang saya cuma mau dipijat, itu saja! Tolong pijat bahu saya ini pak, rasanya pegel banget.”

Tangan kasar Pak Jono terampil dalam mengatasi otot-otot yang bermasalah, disela-sela menunggu penumpang yang menggunakan jasa angkutan genjotnya Pak Jono juga menawarkan jasa pijat atau urut, lewat karton bekas mie instan yang ditulisi `Jasa Pijat dan Urut` yang dia gunakan sebagai media promosi layanan jasanya yang biasa dia gelar disebelah becaknya. Penghasilan tambahannya ini justru lebih menguntungkan, dia hanya mengeluarkan sedikit tenaga menyusuri setiap jalur-jalur otot manusia jika dibandingkan pekerjaan utamanya mengayuh becak yang berjarak kiloan meter belum lagi beban penumpang dan barang bawaan demi lembaran ribuan rupiah.

”Nama asliku Sardi tapi sampeyan gak akan nemuin nama Sardi kalau tanya ke preman-preman Jogja atau sepanjang daerah Jawa Tengah, mereka panggil aku Izroil karena urusan cabut-mencabut nyawa sudah jadi keahlianku. Kadang-kadang aku juga disebut sebagai Jagal dari Jagalan, gara-gara isu usaha potong kerbau dan sapi milik keluargaku bangkrut makanya aku jadi jagal manusia. Nama sampeyan siapa Pak? Kerja apa dijogja?”

Tekanan psikologis yang diderita Pak jono rupanya sedikit teralihkan dengan adanya kawan ngobrol yang baru masuk dalam selnya itu. Awalnya Pak Jono hanya sekedar menjawab pertanyaan pasien pijatnya ini tapi keterbukaan kawan satu selnya ini yang menceritakan masa lalunya yang kelam telah membunuh banyak orang hanya demi menaikkan statusnya dan mendapatkan gelar bergengsi dimata sesama preman, namun bagaimanapun sadisnya dia ketika menghabiskan korbannya, sebagai manusia dia pun sering menghadapi teror-teror mental lewat mimpi yang membuatnya menangis jika terbangun ditengah malam.

”Korbanku terakhir adalah seorang bocah berusia empat tahun, sebenarnya dia bukan sasaranku tapi terpaksa kuhabisi karena dia melihat aku ketika membantai keluarganya. Waktu itu aku panik karena tangisan bocah itu sangat keras, entah setan apa yang merasuk ketubuh aku, tiba-tiba dia sudah berlumuran darah dan parang yang kupegang meneteskan darah dari bocah tidak bersalah itu. Aku jadi teringat anakku yang seusia dia tapi terlambat bocah itu sudah meninggal waktu aku coba mengangkat tubuhnya. Kupikir aku bisa menyelamatkan dan kubawa lari kerumah sakit saat itu juga, temanku mengajak aku segera kabur dari situ tapi bayangan bocah itu terus menghantui selama masa pelarianku.”

”Akhirnya aku menyerahkan diri karena aku sudah tidak tahan lagi. Dipersidangan aku lebih tak tahan lagi mendengar jeritan histeris isteri dan anakku yang mendengar putusan hakim bahwa aku dijatuhi hukuman mati. Jantungku terasa berhenti saat itu juga. Tujuh tahun aku menjalani masa hukumanku sambil menunggu waktu eksekusi tapi kemudian aku melarikan diri setelah mendengar kabar anakku sakit keras, aku harus bertemu dengan anakku saat itu juga tapi dasar apes setelah dua minggu menunggu di rumah sakit akhirnya aku tertangkap lagi seminggu kemarin. Hukuman matiku dipercepat setelah aku tertangkap terlebih tambahan hukuman akibat dua penjaga yang kubunuh saat melarikan diri. Sekarang yang kupikirkan hanya nasib anakku, aku gak tega ninggalin isteriku menanggung ini semua, ahh...”

Lengan Pak Jono berhenti sejenak dari aktivitasnya ketika suara sang jagal sedikit bergetar terbata-bata menceritakan masa lalunya dan kerinduannya terhadap anaknya yang telah berusia dua belas tahun yang harus ditinggalkan karena keberadaannya didalam sel. Pak Jono memperhalus pijatan tangannya menjadi usapan pada punggung, sedikit menghibur ketika emosi Sardi menjadi tak terkendali tenggelam dalam isak tangisnya sementara kepala tangannya memukul-mukul lantai, Pak Jono merasakan penyesalan mendalam.

Sardi merubah posisi duduknya dan dengan cepat menguasai emosi begitu mendengar suara langkah sepatu lars penjaga sel yang mengantarkan bungkusan nasi, air putih dan kopi hitam, dia tidak ingin terlihat lemah dihadapan penjaga. Mereka menikmati nasi dan tempe penyet, cukup telat untuk disebut sebagai makan malam. Kopi hitam kini menemani mereka yang hanya terdiam beberapa saat setelah makan, bibir Pak Jono bergetar seperti hendak berbicara namun tidak satu pun kata yang terucap. Tegukan kopi hangat ditenggorokannya membuat dia memberanikan diri bercerita tentang detail kasusnya kepada kawan satu selnya itu, kepalanya masih tetap tertunduk selama menceritakan bagaimana dia hinga masuk sel ini, rasa penyesalan mendalam keluar begitu saja. Sardi hanya tersenyum. Malam semakin melarutkan mereka kedalam tragedi hidup yang tidak mereka duga sama sekali.

Adzan subuh menghentikan cerita Pak Jono, Sardi mengajak untuk beribadah subuh berjamaah. Derit pintu baja kembali terdengar menggangu mereka berdua yang khusuk dalam doa, seorang penjaga masuk dan meminta Sardi agar keluar dari sel karena ada hal penting yang harus diselesaikan. Satu jam kemudian Sardi kembali masuk dengan langkah lunglai kemudian terduduk lemas sementara kertas pada tangan yang terselip cincin perak berbentuk rantai kecil di jari kelingkingnya tak kuat menahan lembar surat itu, kemudian melayang jatuh ke lantai. Pak Jono mendekat, memungut kertas itu, setelah membaca isi surat itu muka menunjukkan ekspresi terkejut. Kawan satu selnya akan dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Wirogunan dan eksekusi hukuman matinya akan dilaksanakan satu bulan lagi terhitung hari ini. Kertas itu pun melayang kembali terlepas dari tangan.

****

Sepotong Sesuatu ... potongan ke



(gambar diunduh dari: http://jendralari.blogspot.com/2011/05/sniper-tni.)


Target Operasi dalam Sasaran

Kamis, 14 Juni 2007. 15.45 WIB. Lokasi; Kali kuning.

”Lapor Komandan, Target Operasi masih berada di dalam gubuk tua itu, ada tiga orang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun. Ciri-ciri cocok dengan orang yang kita cari. Hasil pengintaian saya selama dua hari mendapatkan informasi bahwa setiap malam mereka melakukan aktifitas berat seperti latihan perang, setiap pagi mereka berlari seputar bukit dan lereng ini kemudian dilanjutkan latihan memanah juga melempar pisau. Mereka memiliki kemampuan militer cukup handal meskipun tidak terlihat tanda-tanda latihan menggunakan senjata api tapi berdasarkan informasi beberapa warga yang pernah memancing di sungai balik bukit ini sering terdengar suara seperti letusan senjata api. Saat ini tidak terlihat ada tanda-tanda aktifitas, laporan selesai.” Salahsatu anggota pengintaian berpakaian layaknya petani itu melaporkan keadaan sekitar lokasi.


Erlang meminta anggota tim mendekat, selembar peta dihamparkan di atas kap mesin Jeep berwarna hitam. Beberapa anggota dengan pakaian khusus berwarna hitam turun dari truk lengkap dengan rompi anti peluru, helm baja, senapan M15 tersanding di punggung sementara pistol colt berkaliber 45 mm terpasang pada bagian paha mereka sebagai senjata cadangan. Erlang memberikan instruksi sebagaimana Standar Operasi penanganan teroris, membagi beberapa tim yang akan melakukan penyergapan dari beberapa titik yang telah ditentukan pada peta.


”Oke perhatikan, sebagaimana telah Saya sampaikan tadi malam di markas jadi saya hanya mengingatkan lagi, perlu diketahui yang kita hadapi kali ini tiga orang sipil yang telah memiliki pengalaman pelatihan perang, mereka angggota pasukan jihad lulusan pemberontakan Filipina, sementara kita lihat sendiri medan yang kita hadapi juga cukup sulit mengingat banyaknya tanaman dan kontur tanah berbukit-bukit, sasaran telah menguasai medan dengan baik jadi kita harus ekstra hati-hati.Tim Hijau akan berada pada ring tiga. Satu orang pada posisi utara gubuk, masing-masing satu orang di sebelah barat dan timur, saya yakin pasti ada jalan rahasia selain dari pintu itu. Kalian harus siap pada ring ini. Sekarang pukul 16.58 WIB, semua sudah cocokkan waktu? Dapat dipahami?” empat orang dengan pita berwarna hijau di lengan kirinya serempak menjawab komandannya.


”Tim Kuning, bergerak perlahan dari ring tiga menuju ring dua tepat di belakang melindungi tim merah yang menyusup dari arah pintu, dua jendela sebelah barat dan timur, kita paksa sasaran keluar menggunakan gas airmata, sementara khusus penembak jitu saya percaya anda dapat menepatkan diri pada posisi paling tepat di empat penjuru mata angin. Ingat, jangan sampai sasaran kabur dan usahakan tidak ada korban jiwa terutama pada diri kita karena keluarga menunggu di rumah. Semua perlengkapan sudah siap? Berdoa mulai.” Seluruh anggota tertunduk sejenak.


Lewat alat komunikasi yang terpasang pada telinga tersambung pada mikropon fleksibel di bagian pipi, Erlang siap memimpin pasukan dari jarak di luar ring tiga. Meminta alat teropong pada salah satu anggotanya, sebuah teropong disodorkan ke arahnya. Erlang memperhatikan sejenak cincin pada jari kelingking dari anggotanya yang memberikan teropong itu.
”Sekali lagi aku ucapkan terimakasih, berkat kelihaianmu bersandiwara di dalam sel tempo hari, akhirnya kita mendapatkan titik terang sampai sejauh ini, mungkin sebaiknya kau jadi artis sinetron saja kawan.” Erlang menunjukkan apresiasi atas prestasi anggotanya yang telah berhasil membuka mulut tersangka yang tidak mau memberikan keterangan lewat pemeriksaan verbal, pilihan pendekatan personal dengan memasukan anggotanya kedalam sel yang sama ternyata berbuah hasil sampai sejauh ini.


”Hahaha... justru yang hebat itu sutradara gadungannya,” tangan bercincin itu menepuk-nepuk bahu Erlang.
”Kalau saja kamera CCTV dalam sel itu bisa melihat mukamu yang sedang akting di dalam sel itu pasti kamu akan diketawai semua orang di korps kita! Pasti tampangmu jelek sekali saat menangis, jagal kok nangis.” Erlang tertawa lepas, tapi saat itu dia sempat kebingungan mencari akal untuk memperkuat akting anggotanya ini yang mengarah kepada skenario eksekusi mati, tiba-tiba saja sebuah ide terlintas, kemudian dia membuat petikan surat yang berisi percepatan eksekusi mati untuk Sardi.
”Siap-siap minggu depan kamu akan dieksekusi mati kawan.” Tawa mereka terlepas bebas.

Erlang mendapatkan laporan dari tim merah yang siap mendapatkan perintah dadakan karena sebelum mereka berada titik yang telah ditentukan, dari dalam gubuk itu terdengar suara bunyi kaleng yang saling beradu, rupanya sekeliling gubuk itu telah dipasangi alarm sederhana.
”Lemparkan gas air mata lewat jendela, tim merah dobrak pintu depan lalu masuk kedalam! Tim Hijau tetap pada posisi perhatikan sekitar” Erlang menerima laporan singkat dari anggota yang diperintahkannya.


Enam puluh detik kemudian laporan masuk.


”Tim Merah kepada Kepala Suku, target tidak berada di dalam, target telah melarikan diri, kami menemukan satu lubang di lantai tanah sepertinya ada terowongan di dalamnya. Mohon ijin untuk masuk kedalam.” Ketua tim melaporkan temuan dan minta ijin untuk mendapatkan perintah secepatnya.
”Tim Merah pecah menjadi dua, satu lakukan pengumpulan bukti sisanya lakukan pengejaran, segera laporkan terowongan itu menuju arah mana, laksanakan! Tim Hijau perhatikan dengan cermat sekeliling, tangani setiap gerakan mencurigakan. Elang satu bagaimana keadaan arah utara? Ada tanda-tanda pergerakan? Elang dua, tiga dan empat laporkan setiap gerakan, lakukan eksekusi pelumpuhan, ingat jangan dihabisi!” Erlang mengambil kembali teropong yang ditaruhnya di atas peta, menyapu semua daerah sasaran.


”Lapor komandan, terowongan mengarah menuju selatan sepertinya tembus menuju sungai di balik bukit” Erlang segera bereaksi setelah mendapatkan laporan temuan tim merah itu. Memberi kode kepada Yanto untuk siap di dalam mobil jeep dan memberikan perintah kepada anggota tim hijau bergerak kearah utara, tim kuning mendapatkan perintah kearah barat sementara tim penembak jitu tetap pada posisi karena daya pantau dan tembak mereka dapat menjangkau jarak yang sangat jauh.


Kemampuan Yanto mengendalikan kendaraan di medan berat tidak lagi diragukan, Erlang memerintahkan secepatnya menuju bibir sungai dan bergerak menyusuri kearah selatan. Mobil jeep yang handal dalam segala medan pun harus terhenti karena kumpulan bebatuan besar akibat muntahan Gunung Merapi menghadang mereka. Erlang dan Yanto dengan sigap dan cekatan keluar mobil dan berlompatan pada bebatuan besar sepanjang aliran sungai yang hanya mengalirkan sedikit air karena tertimbun pasir dan material vulkanis lainnya.


”Tim Merah kepada Kepala Suku, lapor Komandan, terowongan terpecah menjadi dua, satu kearah selatan sementara satu lagi menuju barat, Tim Merah kami bagi menjadi dua.” Erlang memerlukan sejenak berhenti untuk memproses laporan anggotanya sambil mengamati sekeliling aliran sungai. Yanto berlari kearah batu besar untuk mendapatkan pandangan pencarian lebih luas. Ketua Tim Merah memberi kode dengan gerakan tangannya, dua orang menuju barat sementara dia sendiri kearah selatan, lampu senter yang terpasang di senapan harus dinyalakan untuk mendapatkan visual yang jelas dalam lorong kecil dan gelap itu.


”Tim Merah sudah sejauh mana kalian menyusuri terowongan?
”Sekitar empat ratus meter dari titik sergap, delapan enam!”
”Elang Tiga, ada tanda-tanda pergerakan menuju selatan? Tim Kuning, kalian dengar laporan tim merah tadi, cepat lakukan penyisiran sepanjang titik barat! Seluruh anggota segera laporkan semua temuan secepatnya!” Erlang tidak ingin usaha semua anggotanya yang telah bergerak sejauh ini hanya mendapatkan temuan nihil.


”Elang Dua kepada Kepala Suku, ada gerakan satu orang dari arah barat lima ratus meter dari titik sergap, pelumpuhan sulit dilakukan akibat terhalang tanaman, Tim Kuning apakah dapat diterima dengan baik? delapan enam!” laporan itu membuat lega dalam diri Erlang, tepat perkiraannya telah membagi tim dan dia yakin Tim Kuning dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik. Yanto yang mengamati dari atas bebatuan memberi kode temuannya. Terdapat banyak jejak sepatu tertinggal pada pasir mengarah kepada seberang sungai ada juga yang berlawanan arah, Erlang dan Yanto saling berpandangan kemudian Erlang memberi kode anggukan kepala, mengeluarkan pistol otomatisnya dari sarungnya yang bergantung diantara lengan dan badannya yang terlindung oleh rompi anti peluru itu. Berjalan hati-hati mengikuti jejak, menyeberangi sungai yang ketinggian airnya hanya sebatas betis mereka.


Erlang berhenti sejenak ketika mereka sampai di sisi seberang sungai, mengamati jejak kaki.
”Kamu lihat ini Mas? Tadi dari seberang sana kita lihat banyak sekali jejak kaki, di sini juga masih terdapat banyak jejak yang sama tapi perhatikan” Erlang dan Yanto berada dalam posisi merendah memperhatikan dan menyentuh permukaan pasir hitam itu.
”Benar Dan, hanya ada satu jejak kaki yang basah menuju arah bukit itu” Yanto mengikuti jejak dengan sapuan matanya.
”Adanya yang aneh, Tim Merah yang menuju selatan dari dalam terowongan belum juga keluar padahal kita tadi mengambil jarak yang lebih jauh dari mereka. Coba kontak seluruh anggota Tim Merah, jika tidak ada laporan segera kembali menuju terowongan tadi dengan mengikuti jejak sementara aku akan lakukan pengejaran kearah bukit itu, laporkan setiap perkembangan. Oh ya, bawa lampu senter?”.


Erlang bergegas mengikuti jejak temuannya, selain mengejar sasarannya dia pun diburu waktu yang semakin mengarah menuju gelap. Sepanjang pinggiran sungai hanya terdapat pasir hitam,bebatuan berbagian ukuran dan debu tebal sisa-sisa letusan Merapi, tidak ada pepohonan, semua kering akibat debu dan awan panas Merapi. Yanto melaporkan telah menemukan pintu terowongan dan telah masuk kedalam, tapi belum sempat pertanyaan tentang tanda-tanda dari Tim Merah terjawab saluran komunikasi mengalami gangguan. Erlang menghubungi Hari yang berjaga pada pos awal penyergapan, meminta bantuan keterangan apapun mengenai lokasi menuju arahnya mengejar target karena peta tertinggal dalam mobil jeep hitamnya, tapi tidak ada jawaban.


Erlang memberikan perintah agar sisa tim yang berada ring satu segera menyusul kedalam terowongan dengan perintah khusus agar menggunakan masker. Firasatnya menjadi yakin ketika anggotanya yang melakukan pengumpulan bukti menemukan beberapa bola tenis lapangan, jika dugaannya benar maka bola itu akan digunakan sebagai senjata rakitan yang dapat mengeluarkan gas pelumpuh otot yang disebut sebagai senjata senyap, biasa digunakan oleh gerakan milisi untuk melarikan diri sekaligus melumpuhkan orang yang mengejar mereka. Kali ini Erlang kebingungan dengan jejak yang diikutinya tiba-tiba saja menghilang, jejak sepatu yang basah itu telah mengering karena debu tebal tapi kini di hadapannya hanya ada bongkahan batu-batu besar sehingga jejak yang semula dapat terlacak pada permukan debu tebal tak lagi dapat dia ikuti, tiba-tiba dikejutkan dengan suara letusan senjata api.


Erlang berteriak berharap siapapun dapat memberikan laporan secepatnya, gangguan komunikasi membuat dirinya harus menaiki batu besar itu namun yang terdengar hanya suara-suara tidak jelas, dirinya baru sadar telah berada di luar jangkauan efektif komunikasi mereka, sementara langit mulai tidak bersahabat dengan mendungnya. Erlang merasakan rasa sakit luar biasa pada bagian belakang paha kirinya, sebuah belati telah tertancap cukup dalam pada kakinya itu menyebabkan Erlang kehilangan keseimbangan namun sebelum terjatuh dia sempat melihat gerakan seseorang yang berlari di antara bebatuan besar.


Getaran tubuhnya seperti diguncang-guncang dan tetesan hujan yang cukup lebat menyadarkan Erlang dari pingsan sesaat akibat terjatuh dan kepalanya menghantam batu di bawahnya, darah yang keluar dari pelipisnya tidak sebanyak dari bagian pahanya yang masih tertancap belati. Bagian pelipis dan paha kirinya kini terasa hangat membangunkan kesadarannya dengan cepat memberikan instruksi bagi dirinya sendiri agar menghentikan pendarahan yang hanya mengeluarkan sedikit darah menggunakan sobekan kain dari baju lengan panjangnya. Menahan sakit pada bagian kaki dan pusing kepalanya, dia merasa heran karena tidak lagi menemukan belati yang tadi tertancap pada pahanya, sepotong doa dia panjatkan dalam guyuran hujan gerimis. Entah berapa lama dirinya pingsan tapi hari telah gelap sementara alat komunikasinya rusak akibat terjatuh tadi.


Penguasaan dirinya harus cepat pulih, sebuah senter dikeluarkan dari saku celana khaki berwarna hijaunya, tertatih mencari pistol kaliber 45nya. Rasa lelahnya memaksa dirinya harus bersandar pada bongkahan batu tapi dia merasakan kehangatan yang memberikan kenyamanan pada bagian paha dan pelipisnya, kesulitan komunikasi dan jarak yang ada, memposisikan dirinya harus berjuang sendirian tapi setidaknya malam ini dia ditemani pistolnya. Kesadarannya yang masih tipis mencoba mengingat-ingat sesuatu. Dia yakin di sekitar lokasi terdapat bungker tempat perlindungan bagi petani jika suatu waktu Gunung Merapi meletus sementara mereka terlalu jauh untuk berlindung pada posko terdekat.


Sementara itu seluruh tim telah bergabung pada titik yang sama, gubuk tua itu berguna bagi mereka untuk berlindung dari hujan dan tempat sementara untuk pengobatan angota yang kritis terkena peluru serta dua anggota yang belum juga sadar akibat menghirup gas pelumpuh otot. Dua orang tersangka tertangkap, salah satu di antaranya terkena luka tembak pada bahu kirinya. Penembak jitu dengan sandi Elang Dua telah melumpuhkan target setelah terdengar letusan senjata Ak 4 yang dipakai target menembak salahsatu anggota Tim Kuning yang tengah mengejar target operasi, dari posisinya dia mendapatkan target berada pada pandangan yang jelas meski bersembunyi dari balik batu tapi target operasi itu tidak sadar jika dia pun menjadi sasaran penembak jitu dari atas bukit, sebuah peluru tepat mengenai bahu kiri bagian belakang hingga menembus batu tempat perlindungannya.


Hari masih mencoba menghubungi Komandannya tapi nihil tidak ada tanda-tanda jawaban sama sekali, sementara Yanto yang menjadi korban senjata senyap setelah menyusul kedalam terowongan itu belum dapat memberikan keterangan posisi terakhir dirinya bersama sang Komandan. Kemampuannya menjadi Ketua Tim dadakan sedang diuji oleh situasi kritis meskipun di antara Erlang dan Yanto, dirinya memang lebih junior, tapi bimbingan kedua partnernya selama ini membuat kepercayaan dirinya muncul. Hari mengambil keputusan setelah mengadakan instruksi dadakan. Dia hanya meminta dua orang menemani dirinya mencari komandannya sementara yang lain menunggu bantuan medis dan mempercayakan Ketua Tim Hijau mengambil alih pimpinan hingga menuju markas dan rumah sakit.


Hari memberi kode kepada dua anggota yang ditunjuknya agar mempersiapkan semua perlengkapan yang diperlukan, mereka berencana menyusul Erlang dengan cara menyusuri kembali terowongan yang sama karena jalan tercepat, sebelum mereka turun kedalam terowongan seorang penembak jitu memberikan teropong berkemampuan penglihatan malamnya kepada Hari. Masker, senter dan senjata api memberikan keyakinan bagi mereka untuk dapat menyusul Komandannya yang berada entah dimana dan bagaimana kondisinya di luar sana.