Kamis, November 19, 2009

Sepotong Sesuatu ... potongan ke



(gambar diunduh dari: http://jendralari.blogspot.com/2011/05/sniper-tni.)


Target Operasi dalam Sasaran

Kamis, 14 Juni 2007. 15.45 WIB. Lokasi; Kali kuning.

”Lapor Komandan, Target Operasi masih berada di dalam gubuk tua itu, ada tiga orang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun. Ciri-ciri cocok dengan orang yang kita cari. Hasil pengintaian saya selama dua hari mendapatkan informasi bahwa setiap malam mereka melakukan aktifitas berat seperti latihan perang, setiap pagi mereka berlari seputar bukit dan lereng ini kemudian dilanjutkan latihan memanah juga melempar pisau. Mereka memiliki kemampuan militer cukup handal meskipun tidak terlihat tanda-tanda latihan menggunakan senjata api tapi berdasarkan informasi beberapa warga yang pernah memancing di sungai balik bukit ini sering terdengar suara seperti letusan senjata api. Saat ini tidak terlihat ada tanda-tanda aktifitas, laporan selesai.” Salahsatu anggota pengintaian berpakaian layaknya petani itu melaporkan keadaan sekitar lokasi.


Erlang meminta anggota tim mendekat, selembar peta dihamparkan di atas kap mesin Jeep berwarna hitam. Beberapa anggota dengan pakaian khusus berwarna hitam turun dari truk lengkap dengan rompi anti peluru, helm baja, senapan M15 tersanding di punggung sementara pistol colt berkaliber 45 mm terpasang pada bagian paha mereka sebagai senjata cadangan. Erlang memberikan instruksi sebagaimana Standar Operasi penanganan teroris, membagi beberapa tim yang akan melakukan penyergapan dari beberapa titik yang telah ditentukan pada peta.


”Oke perhatikan, sebagaimana telah Saya sampaikan tadi malam di markas jadi saya hanya mengingatkan lagi, perlu diketahui yang kita hadapi kali ini tiga orang sipil yang telah memiliki pengalaman pelatihan perang, mereka angggota pasukan jihad lulusan pemberontakan Filipina, sementara kita lihat sendiri medan yang kita hadapi juga cukup sulit mengingat banyaknya tanaman dan kontur tanah berbukit-bukit, sasaran telah menguasai medan dengan baik jadi kita harus ekstra hati-hati.Tim Hijau akan berada pada ring tiga. Satu orang pada posisi utara gubuk, masing-masing satu orang di sebelah barat dan timur, saya yakin pasti ada jalan rahasia selain dari pintu itu. Kalian harus siap pada ring ini. Sekarang pukul 16.58 WIB, semua sudah cocokkan waktu? Dapat dipahami?” empat orang dengan pita berwarna hijau di lengan kirinya serempak menjawab komandannya.


”Tim Kuning, bergerak perlahan dari ring tiga menuju ring dua tepat di belakang melindungi tim merah yang menyusup dari arah pintu, dua jendela sebelah barat dan timur, kita paksa sasaran keluar menggunakan gas airmata, sementara khusus penembak jitu saya percaya anda dapat menepatkan diri pada posisi paling tepat di empat penjuru mata angin. Ingat, jangan sampai sasaran kabur dan usahakan tidak ada korban jiwa terutama pada diri kita karena keluarga menunggu di rumah. Semua perlengkapan sudah siap? Berdoa mulai.” Seluruh anggota tertunduk sejenak.


Lewat alat komunikasi yang terpasang pada telinga tersambung pada mikropon fleksibel di bagian pipi, Erlang siap memimpin pasukan dari jarak di luar ring tiga. Meminta alat teropong pada salah satu anggotanya, sebuah teropong disodorkan ke arahnya. Erlang memperhatikan sejenak cincin pada jari kelingking dari anggotanya yang memberikan teropong itu.
”Sekali lagi aku ucapkan terimakasih, berkat kelihaianmu bersandiwara di dalam sel tempo hari, akhirnya kita mendapatkan titik terang sampai sejauh ini, mungkin sebaiknya kau jadi artis sinetron saja kawan.” Erlang menunjukkan apresiasi atas prestasi anggotanya yang telah berhasil membuka mulut tersangka yang tidak mau memberikan keterangan lewat pemeriksaan verbal, pilihan pendekatan personal dengan memasukan anggotanya kedalam sel yang sama ternyata berbuah hasil sampai sejauh ini.


”Hahaha... justru yang hebat itu sutradara gadungannya,” tangan bercincin itu menepuk-nepuk bahu Erlang.
”Kalau saja kamera CCTV dalam sel itu bisa melihat mukamu yang sedang akting di dalam sel itu pasti kamu akan diketawai semua orang di korps kita! Pasti tampangmu jelek sekali saat menangis, jagal kok nangis.” Erlang tertawa lepas, tapi saat itu dia sempat kebingungan mencari akal untuk memperkuat akting anggotanya ini yang mengarah kepada skenario eksekusi mati, tiba-tiba saja sebuah ide terlintas, kemudian dia membuat petikan surat yang berisi percepatan eksekusi mati untuk Sardi.
”Siap-siap minggu depan kamu akan dieksekusi mati kawan.” Tawa mereka terlepas bebas.

Erlang mendapatkan laporan dari tim merah yang siap mendapatkan perintah dadakan karena sebelum mereka berada titik yang telah ditentukan, dari dalam gubuk itu terdengar suara bunyi kaleng yang saling beradu, rupanya sekeliling gubuk itu telah dipasangi alarm sederhana.
”Lemparkan gas air mata lewat jendela, tim merah dobrak pintu depan lalu masuk kedalam! Tim Hijau tetap pada posisi perhatikan sekitar” Erlang menerima laporan singkat dari anggota yang diperintahkannya.


Enam puluh detik kemudian laporan masuk.


”Tim Merah kepada Kepala Suku, target tidak berada di dalam, target telah melarikan diri, kami menemukan satu lubang di lantai tanah sepertinya ada terowongan di dalamnya. Mohon ijin untuk masuk kedalam.” Ketua tim melaporkan temuan dan minta ijin untuk mendapatkan perintah secepatnya.
”Tim Merah pecah menjadi dua, satu lakukan pengumpulan bukti sisanya lakukan pengejaran, segera laporkan terowongan itu menuju arah mana, laksanakan! Tim Hijau perhatikan dengan cermat sekeliling, tangani setiap gerakan mencurigakan. Elang satu bagaimana keadaan arah utara? Ada tanda-tanda pergerakan? Elang dua, tiga dan empat laporkan setiap gerakan, lakukan eksekusi pelumpuhan, ingat jangan dihabisi!” Erlang mengambil kembali teropong yang ditaruhnya di atas peta, menyapu semua daerah sasaran.


”Lapor komandan, terowongan mengarah menuju selatan sepertinya tembus menuju sungai di balik bukit” Erlang segera bereaksi setelah mendapatkan laporan temuan tim merah itu. Memberi kode kepada Yanto untuk siap di dalam mobil jeep dan memberikan perintah kepada anggota tim hijau bergerak kearah utara, tim kuning mendapatkan perintah kearah barat sementara tim penembak jitu tetap pada posisi karena daya pantau dan tembak mereka dapat menjangkau jarak yang sangat jauh.


Kemampuan Yanto mengendalikan kendaraan di medan berat tidak lagi diragukan, Erlang memerintahkan secepatnya menuju bibir sungai dan bergerak menyusuri kearah selatan. Mobil jeep yang handal dalam segala medan pun harus terhenti karena kumpulan bebatuan besar akibat muntahan Gunung Merapi menghadang mereka. Erlang dan Yanto dengan sigap dan cekatan keluar mobil dan berlompatan pada bebatuan besar sepanjang aliran sungai yang hanya mengalirkan sedikit air karena tertimbun pasir dan material vulkanis lainnya.


”Tim Merah kepada Kepala Suku, lapor Komandan, terowongan terpecah menjadi dua, satu kearah selatan sementara satu lagi menuju barat, Tim Merah kami bagi menjadi dua.” Erlang memerlukan sejenak berhenti untuk memproses laporan anggotanya sambil mengamati sekeliling aliran sungai. Yanto berlari kearah batu besar untuk mendapatkan pandangan pencarian lebih luas. Ketua Tim Merah memberi kode dengan gerakan tangannya, dua orang menuju barat sementara dia sendiri kearah selatan, lampu senter yang terpasang di senapan harus dinyalakan untuk mendapatkan visual yang jelas dalam lorong kecil dan gelap itu.


”Tim Merah sudah sejauh mana kalian menyusuri terowongan?
”Sekitar empat ratus meter dari titik sergap, delapan enam!”
”Elang Tiga, ada tanda-tanda pergerakan menuju selatan? Tim Kuning, kalian dengar laporan tim merah tadi, cepat lakukan penyisiran sepanjang titik barat! Seluruh anggota segera laporkan semua temuan secepatnya!” Erlang tidak ingin usaha semua anggotanya yang telah bergerak sejauh ini hanya mendapatkan temuan nihil.


”Elang Dua kepada Kepala Suku, ada gerakan satu orang dari arah barat lima ratus meter dari titik sergap, pelumpuhan sulit dilakukan akibat terhalang tanaman, Tim Kuning apakah dapat diterima dengan baik? delapan enam!” laporan itu membuat lega dalam diri Erlang, tepat perkiraannya telah membagi tim dan dia yakin Tim Kuning dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik. Yanto yang mengamati dari atas bebatuan memberi kode temuannya. Terdapat banyak jejak sepatu tertinggal pada pasir mengarah kepada seberang sungai ada juga yang berlawanan arah, Erlang dan Yanto saling berpandangan kemudian Erlang memberi kode anggukan kepala, mengeluarkan pistol otomatisnya dari sarungnya yang bergantung diantara lengan dan badannya yang terlindung oleh rompi anti peluru itu. Berjalan hati-hati mengikuti jejak, menyeberangi sungai yang ketinggian airnya hanya sebatas betis mereka.


Erlang berhenti sejenak ketika mereka sampai di sisi seberang sungai, mengamati jejak kaki.
”Kamu lihat ini Mas? Tadi dari seberang sana kita lihat banyak sekali jejak kaki, di sini juga masih terdapat banyak jejak yang sama tapi perhatikan” Erlang dan Yanto berada dalam posisi merendah memperhatikan dan menyentuh permukaan pasir hitam itu.
”Benar Dan, hanya ada satu jejak kaki yang basah menuju arah bukit itu” Yanto mengikuti jejak dengan sapuan matanya.
”Adanya yang aneh, Tim Merah yang menuju selatan dari dalam terowongan belum juga keluar padahal kita tadi mengambil jarak yang lebih jauh dari mereka. Coba kontak seluruh anggota Tim Merah, jika tidak ada laporan segera kembali menuju terowongan tadi dengan mengikuti jejak sementara aku akan lakukan pengejaran kearah bukit itu, laporkan setiap perkembangan. Oh ya, bawa lampu senter?”.


Erlang bergegas mengikuti jejak temuannya, selain mengejar sasarannya dia pun diburu waktu yang semakin mengarah menuju gelap. Sepanjang pinggiran sungai hanya terdapat pasir hitam,bebatuan berbagian ukuran dan debu tebal sisa-sisa letusan Merapi, tidak ada pepohonan, semua kering akibat debu dan awan panas Merapi. Yanto melaporkan telah menemukan pintu terowongan dan telah masuk kedalam, tapi belum sempat pertanyaan tentang tanda-tanda dari Tim Merah terjawab saluran komunikasi mengalami gangguan. Erlang menghubungi Hari yang berjaga pada pos awal penyergapan, meminta bantuan keterangan apapun mengenai lokasi menuju arahnya mengejar target karena peta tertinggal dalam mobil jeep hitamnya, tapi tidak ada jawaban.


Erlang memberikan perintah agar sisa tim yang berada ring satu segera menyusul kedalam terowongan dengan perintah khusus agar menggunakan masker. Firasatnya menjadi yakin ketika anggotanya yang melakukan pengumpulan bukti menemukan beberapa bola tenis lapangan, jika dugaannya benar maka bola itu akan digunakan sebagai senjata rakitan yang dapat mengeluarkan gas pelumpuh otot yang disebut sebagai senjata senyap, biasa digunakan oleh gerakan milisi untuk melarikan diri sekaligus melumpuhkan orang yang mengejar mereka. Kali ini Erlang kebingungan dengan jejak yang diikutinya tiba-tiba saja menghilang, jejak sepatu yang basah itu telah mengering karena debu tebal tapi kini di hadapannya hanya ada bongkahan batu-batu besar sehingga jejak yang semula dapat terlacak pada permukan debu tebal tak lagi dapat dia ikuti, tiba-tiba dikejutkan dengan suara letusan senjata api.


Erlang berteriak berharap siapapun dapat memberikan laporan secepatnya, gangguan komunikasi membuat dirinya harus menaiki batu besar itu namun yang terdengar hanya suara-suara tidak jelas, dirinya baru sadar telah berada di luar jangkauan efektif komunikasi mereka, sementara langit mulai tidak bersahabat dengan mendungnya. Erlang merasakan rasa sakit luar biasa pada bagian belakang paha kirinya, sebuah belati telah tertancap cukup dalam pada kakinya itu menyebabkan Erlang kehilangan keseimbangan namun sebelum terjatuh dia sempat melihat gerakan seseorang yang berlari di antara bebatuan besar.


Getaran tubuhnya seperti diguncang-guncang dan tetesan hujan yang cukup lebat menyadarkan Erlang dari pingsan sesaat akibat terjatuh dan kepalanya menghantam batu di bawahnya, darah yang keluar dari pelipisnya tidak sebanyak dari bagian pahanya yang masih tertancap belati. Bagian pelipis dan paha kirinya kini terasa hangat membangunkan kesadarannya dengan cepat memberikan instruksi bagi dirinya sendiri agar menghentikan pendarahan yang hanya mengeluarkan sedikit darah menggunakan sobekan kain dari baju lengan panjangnya. Menahan sakit pada bagian kaki dan pusing kepalanya, dia merasa heran karena tidak lagi menemukan belati yang tadi tertancap pada pahanya, sepotong doa dia panjatkan dalam guyuran hujan gerimis. Entah berapa lama dirinya pingsan tapi hari telah gelap sementara alat komunikasinya rusak akibat terjatuh tadi.


Penguasaan dirinya harus cepat pulih, sebuah senter dikeluarkan dari saku celana khaki berwarna hijaunya, tertatih mencari pistol kaliber 45nya. Rasa lelahnya memaksa dirinya harus bersandar pada bongkahan batu tapi dia merasakan kehangatan yang memberikan kenyamanan pada bagian paha dan pelipisnya, kesulitan komunikasi dan jarak yang ada, memposisikan dirinya harus berjuang sendirian tapi setidaknya malam ini dia ditemani pistolnya. Kesadarannya yang masih tipis mencoba mengingat-ingat sesuatu. Dia yakin di sekitar lokasi terdapat bungker tempat perlindungan bagi petani jika suatu waktu Gunung Merapi meletus sementara mereka terlalu jauh untuk berlindung pada posko terdekat.


Sementara itu seluruh tim telah bergabung pada titik yang sama, gubuk tua itu berguna bagi mereka untuk berlindung dari hujan dan tempat sementara untuk pengobatan angota yang kritis terkena peluru serta dua anggota yang belum juga sadar akibat menghirup gas pelumpuh otot. Dua orang tersangka tertangkap, salah satu di antaranya terkena luka tembak pada bahu kirinya. Penembak jitu dengan sandi Elang Dua telah melumpuhkan target setelah terdengar letusan senjata Ak 4 yang dipakai target menembak salahsatu anggota Tim Kuning yang tengah mengejar target operasi, dari posisinya dia mendapatkan target berada pada pandangan yang jelas meski bersembunyi dari balik batu tapi target operasi itu tidak sadar jika dia pun menjadi sasaran penembak jitu dari atas bukit, sebuah peluru tepat mengenai bahu kiri bagian belakang hingga menembus batu tempat perlindungannya.


Hari masih mencoba menghubungi Komandannya tapi nihil tidak ada tanda-tanda jawaban sama sekali, sementara Yanto yang menjadi korban senjata senyap setelah menyusul kedalam terowongan itu belum dapat memberikan keterangan posisi terakhir dirinya bersama sang Komandan. Kemampuannya menjadi Ketua Tim dadakan sedang diuji oleh situasi kritis meskipun di antara Erlang dan Yanto, dirinya memang lebih junior, tapi bimbingan kedua partnernya selama ini membuat kepercayaan dirinya muncul. Hari mengambil keputusan setelah mengadakan instruksi dadakan. Dia hanya meminta dua orang menemani dirinya mencari komandannya sementara yang lain menunggu bantuan medis dan mempercayakan Ketua Tim Hijau mengambil alih pimpinan hingga menuju markas dan rumah sakit.


Hari memberi kode kepada dua anggota yang ditunjuknya agar mempersiapkan semua perlengkapan yang diperlukan, mereka berencana menyusul Erlang dengan cara menyusuri kembali terowongan yang sama karena jalan tercepat, sebelum mereka turun kedalam terowongan seorang penembak jitu memberikan teropong berkemampuan penglihatan malamnya kepada Hari. Masker, senter dan senjata api memberikan keyakinan bagi mereka untuk dapat menyusul Komandannya yang berada entah dimana dan bagaimana kondisinya di luar sana.

1 komentar:

apa yang ada dikepalamu? apa yang menyumbat tenggorokanmu? apa yg membekukan jari-jarimu?... LONTARKAN!!