Minggu, Mei 15, 2011

Insomnia Pendosa



Sebentar lagi fajar

Aku masih mencari kata

Seisi kepala berdengung

Jemariku melemah

Jika saja mentari enggan

Bisa jadi kata-kata menguap

Jika kabut tetap melayang

Maka kelopak ini tak terkatup

Kata, mengapa harus tersiksa olehnya?

Makna, mengapa begitu kuat tuntutannya?

Baru saja niat berkata ‘henti’

Tapi jemari kian berontak

Bergerak lepas tanpa kordinasi

Tak lagi peduli makna

Entah apa kata berikut `kan tampil

Gaung suara masjid satu persatu berlomba

Seolah tunjukan pada Tuhan mereka

“Aku lah mahlukMu yang selalu memujaMu tatkala yang lain terlelap, maka lihatlah aku, Tuhan!”

Cukup tuduhanku atas mereka

Aku tak lebih baik dari mereka… jauh!

mengingatMu saja kadang lupa!

memujaMu hanya ketika bahagia!

memohon padaMu kala terpuruk!

Berharap kemurahanMu saat detik pengemisanku!

Sebentar lagi fajar

Suara penyeruMu meramai

Seisi kepala berdengung

Tapi aku tetap tarik selimut

Menjadi pengecut atas sinar sang fajar

Menjadi pendosa kala taburan rizkiMu berjatuhan dari ArrasyMu

Menjadi pendosa… pengecut!


Fajar telah terbit

Kelopak mataku terbenam


KK, -somewhere-some place-



Warna Senja Drupadi... (lanjutan)

130189463635230114

**** pastikan kawan telah membaca http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2011/03/26/warna-senja-drupadi-dua-kepala-dua-jiwa-melebur-dalam-satu-tulisan/
sebelum membaca tulisan lanjutan ini. trimakasih-mitrakasih ****

“Jangan..jangan pagi Kau hadirkan biarkan malam terus berjalan. Jangan..jangan mentari Kau terbitkaaannn!!!” Suara lantang Si Inyong dengan gitar kencrungnya , pilu menyanyikan lagu Iwan Fals, kurasakan nadi hidupnya tergores oleh bilah kenyataan, telak mengingatkanku betapa keparatnya malam ini. Seolah kota mati yang dikutuk oleh ancaman radiasi nuklir, begitu senyap, kendaraan pun hanya satu-dua yang melintas, itupun hanya mobil pick up pengangkut sayur mayur menuju Pasar Beringharjo, melintas dari utara membelah kabut sepanjang jalan Mangkubumi yang bisu. Tersenyum ke arahku penumpang perempuan tua di belakang pick up di antara tumpukan kacang panjang dalam balutan jarik pelindung angin malam yang menghantam tubuh rentanya, sementara belasan batang puntung rokok dengan merk dagang Jambu Bol tandas kupijaki dengan geram di depan pintu perlintasan kereta api, rel ini yang menjadi batas Jalan Mangkubumi dengan Jalan Malioboro, rel ini pula tapal batas kesabaranku.



Mas Don, seniman gondrong itu melambaikan tangannya ke arahku, jalannya terlampau gontay, sudah pasti tak kan menggunakan jasaku yang beberapa bulan ini kerap menjadikanku sebagai pelampiasan derita sejak kekasihnya pulang menuju negara asalnya, beternak kangguru barangkali, selalu itu yang dia racaukan setiap kali kesadarannya direbut oleh Lapen. Rembulan saja enggan menampakan wujudnya, Aku pasrah dalam gelitik gerimis yang membasahi wig a la Krisdayanti, melunturkan make up afkir pada setiap senti wajahku. Kubanting wig ku pada genangan air, baiklah kali ini Kau menang memainkan nasib kami, kepalan tanganku yang membumbung angkas dibalas dengan kilatan petir. Semakin Kau tunjukan kuasaMu! Ahhh, aku hanya mahluk yang jelas tak diterima dalam kontruksi kesepakatan-kesepakatan manusia yang mengaku beradab, aku pula yang mungkin tak kan diterima oleh bumi mana kala dipendam tubuh hina ini, dimuntahkannya aku kembali pada permukaan, bisa jadi, bisa saja! Dan Kau… ahh, mungkin Kau pun ragu `kan menempatkanku pada barisan mana ketika semua ciptaanMu berkumpul di hampar padangMu.


Diam-diam kugumamkan lantunan lagu tadi pada pojokan gedung bank berwarna biru yang mendominasi ini, sekedar pengusir rasa dingin tanpa sebatang pun rokok yang menjadi penghanggat tubuh ini, setidaknya bibir ini. Drupadi, lihatlah dirimu yang terkapar pada pojokan jalan, ooo… diri yang sering kali menjadi primadona jalanan yang kadang membuat iri para penggoda jalanan berwujud asli karena setiap para tergoda jalanan lebih memilih tubuh silicon ini. Maaf rekan kerja, sudah berulang kali ku sarankan agar kita menggunakan strategi, optimalkan segala kemampuan yang kita punya, mulut ini tak hanya berkemampuan menyedot, menjilat, menggigit gemas atau mengeluarkan erangan belaka. Mereka para tergoda tak lebih dari seorang bocah yang terjatuh gulali kapasnya lalu berlarian menangis pada ketiak bundanya, merengek minta dibelikan kembali, tak lebih dari itu! Mereka butuh tempat memuntahkan segala penat, stress, kemuakan, kemurkaan tamparan hidup, biarkan mereka menetek pada dada berkarat ini, biarkan mereka mengigau sedang kita hanya memanfaatkan derasnya kata-kata yang keluar dari mulut bergincu tanpa perlu mempertebal kembali selepas kita bekerja.


Ooo, Drupadi, primadona tanpa pemuja di malam gigilkan sendi-sendi tubuh haus belai, tak ubahnya kau serupa pengkotbah pada mimbar kosong sementara umat telah berhaluan pada tuhan baru, uang! Satu lagi kesepakatan manusia yang memperbudak manusia itu sendiri, mereka memuja lembaran itu sekaligus dihela oleh pecutan nilai tukar yang sulit kali untuk sebanding atas jerih payah. Ooo, Drupadi, warna senjamu yang segar kian meredup mana kala mentari siap tampilkan berkas sinar serupa panah Srikandi yang melesat berpinak ribuan anak panah siap menghujam askar Kurawa tak bertameng.


Tak lagi kupedulikan deru motor terparkir di depan gedung yang sama tempat ku berteduh. Pengendaraan itu berlarian kecil menaiki anak tangga kemudian masuk pada kotak kaca, hanya berjarak setengah meter saja lemari berisi uang itu dari titik dimana aku mendekap lutut-lutut menggigilku, apa dayaku yang tidak memiliki kartu ajaib yang mampu mengeluarkan uang dari lemari itu. Kudengar mesin itu mengeluarkan gemuruh onderdilnya yang berputar lalu suara peringatan “bippp…biippp..biipp” memekakkan telinga yang sedari tadi tak mendengar denting koin rupiah yang tersodorkan untuk diri ini.


“Supardi! Kamu Supardi, bukan?!!” Ahh, nama itu sudah lama ku lenyapkan bersama Kartu Tanda Penduduk yang kubakar di depan gedung yang katanya milik rakyat itu bersama ratusan kawan senasib yang tak lagi dipedulikan akan kehadiran diri kami ini sementara mata mereka menatap nanar ke arah kami sekaligus melirik buas mana kala nafsu mereka bergelora, sementara kami berjalan pada bumi yang sama justru mereka meludah jijik pada kami tapi ujung mata mereka menikmati gerik resam tubuh ini sedetik setelah itu, sementara kami berbahasa yang sama namun mereka kerap sajikan cela-maki-cerca-umpatan-fitnah saat mereka melupa mulut usil mereka kerap bersiul genit.
Nama itu sudah tidak ada! Sudah bukan lagi namaku! Aku, Drupadi yang telah meruntuhkan setiap rangka konstruksi sosial lewat bisikan setiap sosok perkasa ratusan Ksatria Pendawa masa kini yang melingkar nyaman dalam candu peluk dan bius gincuku. Namaku Drupadi!! Supardi telah ku kubur hidup-hidup beserta sifat kepengecutan lahiriahnya! Lebih baik mati jika aku takut hidup, maka kubunuh Supardi demi memberi nyawa Drupadi. 


Kuhardik mata si penyebut kata itu, yaa, hanya kata bagiku kini. Ku tentang tubuhnya, postur badannya tak jauh berbeda dengan milikku. Pemuda itu melepas helm dan syal penutup wajahnya, terpaan sinar merkuri dan nyala biru mesin lemari uang memperjelas wajahnya. Kaki-kakiku melumpuh seketika, kini aku bersimpuh pada kedua lutut yang kuharapkan mampu menopang tubuh gigil oleh lapar dan dingin menusuk. Menggelepar aku oleh tikaman masa lalu dan detik kini yang datang menombak ulu kenyataan.


“Believe me it hurt my friend. Really hurt to know that you still alive but… buttttt….” Lehernya tercekik tatapan mataku, kata-katanya tersumbat oleh wujud diri ini. Demi tembok Berlin aku berlindung pada hembus asap rokok sebagai perisai malu, menunduk dalam oleh gelayut tetes air mata yang semakin menegaskan keabadian hukum gravitasi. Aspal hitam menggenangkan air mata ini, kearah situ pula wajah ini tenggelam gelagapan meronta-ronta menggapai apa pun tuk dijadikan pegangan kesadaran.


“Believe me, you don`t want to know my life line…” Kau berharap aku mempercayai ketidak percayaanmu maka aku pun berharap kau paham bahwa kau seharusnya tidak ingin mengetahui ini semua, kawan. 

(bersambung lagi karena nunggu balasan kawan Zee Noor)

Sabtu, April 30, 2011

Bumi-Pribadi-Angkasa; segitigaku mengalirlah!



...
Tujuh untuk bumiku
Tujuh untuk pribadiku
Tujuh untuk angkasaku
Tujuh . . . . . . . .

Pada inti bumi ku pinta secuil energi
Pada lembar angkasa, di titik itu sejumput ku raih
Pribadiku kan mengolah misteri kemurnian itu
Pintu ini kubuka; dubur-ubun

maka membesarlah segitigaku
serupa piramid
sampai berupa gunung
mengalir energi murni

bersemayam pada cawan kundhalini
terdentang pada sendi-sendi lonceng
tertitik pada simpul-simpul syaraf
terolah dalam ketukan nafas

tujuh untuk bumiku.......
tujuh untuk pribadiku.......
tujuh untuk angkasaku.......
tujuh.......

untuk dialirkan kembali.......

February 24, 2010

Senin, Februari 28, 2011

Blues Bus Malam


Kinasih tertegun memandangi bulir-bulir air di kaca bus malam yang menghantarkan dirinya kembali menuju kampung halaman, subuh berkabut selepas gerimis ini mempertebal rasa haru birunya. Menenggelamkan diri dalam tudung sweaternya dan lagu Bondan Prakoso featuring Fade 2 Black, “Hell yeahh! What a perfect soundtrack of my life!!” kepalanya memanggut-manggut menikmati beat lagu, jika saja dia diijinkan untuk bernyanyi maka dia akan melepaskan sebongkah hati beku akibat terjangan badai salju asmara di Kota Jogja. Dia hanya ingin pulang, sejenak menghindar dari beban kuliah,menjauh dari cewek kampus super norak yang berhasil merebut gebetannya, belum lagi bapak kost yang selalu menyapa genit semua anak kost tapi itu hanya terjadi jika istrinya tengah bekerja dan kesumpekan Jogja yang tak lagi seramah yang digambarkan Abangnya.

Saat kau berharap keramahan cinta tak pernah kau dapat.. ya sudahlah.. yeahhh! dengarku bernyanyi... laa laa laa laa hey yaaa yaa deeduu dedaddidu didammm.”* 

Kinasih larut dalam lagu, seolah Abangnya yang melantunkan baris lagu itu, berada di sisinya mengisi bangku kosong sepanjang perjalanan ini, mengosok-gosok kepalanya sekedar merusak tatanan rambut berponinya, biasanya Kinasih hanya membalas cubitan. Ahhh betapa kangennya Kinasih pada sosok usil Abangnya itu. 

Peluklah diriku..terbanglah bersamaku..melayang jauhhhh”* 
Kinasih semakin melayang jauh menuju alam mimpi di tepi subuh, memeluk back pack-nya penganti lengan kekar Abangnya. 

Apapun yang terjadi ku kan slalu ada untukmu.. janganlah kau bersedih, coz everything is gonna be okeee”*

Niat Kinasih pulang hanya untuk menghabiskan waktu bersama Abang kandungnya tercinta, nangkring di belakang jok motor besar memeluk erat tubuh Abangnya yang memacu batas kemampuan mesin sebagaimana permintaan adik satu-satunya yang manja hanya di hadapannya saja tapi berani mandiri jika sendiri. Mereka sering avonturir kemana saja mereka suka, Gunung Pinang, Gunung Karang, menikmati hempasan buih air dari deburan air terjun Curug Goong dan Curug Putri atau sekedar gitaran-bernyanyi di tepi bukit Cilowong sambil menikmati kopi dan duren, semua momen mereka hiasi dengan bernyanyi.

(Joan Baez and Bob Dylan)

Dia selalu ingat ucapan Abangnya ketika mereka berhenti dari perjalanan avonturir mereka, membuka bekal nasi, menyantapnya di tepi sawah. Kinasih langsung menyodorkan gitar akustik meminta lagu Iwan Fals, Kupu-kupu Hitam Putih dan Damai Kami Sepanjang Hari, 
“...Indah pagi ini, nada sumbang enyahlah kau, biarkan kami...”** 
Siapa yang tak setuju dengan pagi indah ini, mereka tengah disajikan salah satu lukisan terindah dari Sang Maha Maestro, sapuan kuas kehidupan membentuk lukisan persawahan menguning, gemawan seputih kapas-melayang berarak, cericit pipit bersembunyi di batang padi melengkung sementara bebegig hanya tersenyum membiarkan pipit-pipit itu mematuki bulir kuning. 

Selepas melantunkan lagu itu, Kinasih serasa turut menikmati sensasi seruput kopi hitam kental dari termos stainless stell itu dan kepulan asap putih keluar dari bibir Abangnya sementara angin memainkan rambut gondrong itu lewat sepoinya, tapi dua hal itu yang tidak dia sepakati untuk dituruti.  

“Every moments has their own soundtrack music, my lovely sister, so we can remember those moments we had share together or you could call those memories back by singing the soundtrack of your life, oke, setuju, Pitak?!” Kinasih kena jitak Abangnya.

“Hoooyy, Pitak! Lu, mau pulang atau mau nginep di bus ini?!” rupanya jitakan di kepalanya betul-betul nyata, bukan bunga tidur. Abangnya sudah berdiri di hadapannya sementara Kinasih masih terbengong-bengong mengumpulkan seluruh kesadarannya, sudah hampir setengah jam dirinya tertidur di pool bus malam itu, handphone-nya ngedrop akibat sepanjang perjalanan memutar musik.


*Courtessy of Bondan Prakoso featuring Fade 2 Black
**Courtessy of Iwan Fals


-fresh from the oven, tepi sawah sekitar Ciomas, not edited yet!-
KK 26.02.2011

Titising Hening

“Jatuhan sah untuk sudut biru!!!” menggema seantero gedung Gelanggang Remaja dari pengeras suara milik pengawas pertandingan, disambut teriakan riuh para supporter menambah semangat bagi Arya untuk kembali mencari point. Penuh suka cita tercermin lewat senyum kemenangan, Arya menyambut tanda yang diberikan wasit pertandingan; tangan kiri menunjukkan jempol yang mengarah kebawah kehadapan lawannya dan tangan kanan memberikan petunjuk bahwa Arya yang telah berhasil menjatuhkan lawannya. Jurus bantingan karung dia keluarkan setelah lawannya melakukan tendangan sabit yang keras namun berhasil diantisipasi oleh Arya lewat cengkraman kuatnya ketika kelebatan tendangan mengarah rusuknya dengan sigap dia tangkap menggunakan lengan kiri lalu kemudian disusul lengan kanannya mengincar bagian pinggul lawannya, kaki kanan turut menyapu kaki penumpu tubuh lawannya kemudian dia angkat sambil sedikit memutar tubuh lawannya yang terpelanting dan bummm!!

Seperti seonggok karung berisi beras, lawannya jatuh berdebum kesakitan. Arya masih mengingat betul instruksi dari pelatihnya mengenai prinsip bantingan, yaitu; tangkap-angkat-sapu-hempas. Empat point sudah dia kantongi dalam satu tindakan, tepuk tangan suporter dari sekolahnya belum juga berhenti semakin memberikan gairah semangat bagi dirinya. Pandangan mata melirik kearah pelatihnya di sudut gelanggang matras, tanda jempol diacungkan kearahnya.

Suara peluit menghentikan pertandingan babak pertama. Kedua pesilat kembali ke sudut masing-masing, merah dan biru. Kedua pelatihnya memberikan arahan singkat yang harus dia lakukan pada babak kedua. Tiga, empat strategi sekiranya disarankan oleh pelatihnya tetapi Arya tidak sepenuhnya mendengarkan arahan-arah itu. Matanya masih liar menyapu sekeliling gedung Gelanggang Remaja ini, masih belum juga tertemui yang ditunggu ketika berharap matanya bertumbu pada sebuah sosok. Pacu adrenalin, denyut ringan pada tulang kering, buku-buku jemari dan lengan akibat beradu fisik serta yang terakhir harap-harap cemas penantian bercampur aduk dalam dirinya. Kepalanya merasakan sensasi segar guyuran air yang mengembalikan konsentrasinya untuk kembali bertempur. Suara peluit kembali bergema, Arya telah berubah menjadi sesosok yang jauh berbeda dari kesehariannya, aura fighter meledak menyelimuti sekujur tubuh.

Ditentangnya pandangan mata pesilat di hadapannya, rasa sakit dan malu akibat bantingan tadi seolah berubah menjadi dendam pembalasan, Arya harus waspada kali ini, wasit memberikan aba-aba bagi kedua pesilat untuk saling menyerang. Tenang saja, Arya melakukan kembangan dari batas lingkaran gelanggang bergerak mendekati lawannya, senyum dingin khasnya kembali ditusukan kearah lawan, senyum yang diakui oleh lawan dipertandingan sebelumnya sebagai senyum menakutkan, menggetarkan nyali siapapun bagi yang sedang berhadapan di tengah gelanggang, menciptakan ciut dan membekukan segala kemampuan hasil gemblengan latihan berbulan-bulan, setidaknya itu yang diakui oleh Sapto, lawan tanding sebelumnya yang dia kalahkan lewat Techinal Knock Out, setelah menerima bantingan dari Arya.

Kuda-kudanya ringan namun mantap, tangannya selalu saja sengaja dibiarkan tidak memberikan perlindungan bagi tubuhnya yang menjadi sasaran serang penghasil point bagi lawan tanding, sebuah undangan yang menantang. Lawannya menggertak menggebrak matras dengan telapak kaki, Arya tetap tenang dengan kuda-kudanya. Serangan pertama berupa pukulan jab lurus mengarah dadanya dengan mudah dia elakkan sambil cepat melancarkan counter sabit kearah rusuk lawan. Buukk!!! Body protector seolah meledak akibat dobrakan kaki kanannya. Juri segera menghitung dua point bagi Arya. Lawannya kembali melakukan reaksi dengan tendangan depannya namun sia-sia, bukan jarak serang, dengan cepat Arya merebahkan tubuhnya menempel matras, tubuhnya berotasi, kakinya menjulur mengarah pada tumpuan tubuh lawannya, rupanya sang lawan tak kalah tangkas, tubuhnya melanting ringan lalu langsung melancarkan tendangan rendah kearah tubuh Arya yang masih merebah di matras, beruntung lengan kanannya sigap membuat proteksi tangkisan, jurus circle memang mengincar kaki tumpuan tapi rumus bakunya adalah tangan kanan harus siap mengantisipasi serangan lawan. Bakkkk!! Tangan kanannya beradu dengan ayunan kaki, pelatih Arya mengaum mengajukan protes. Pelanggaran cukup serius bagi pesilat yang menyerang lawan tandingnya yang sedang berada di posisi melancarkan tendangan circle rebahan. Wasit memperingatkan pesilat lalu telunjuknya melayang keatas, pertanda potongan satu point bagi pesilat.

Arya kembali menyeringai dingin, tangannya belum merasakan rasa sakit memang, endomorphin dalam tubuhnya berfungsi sebagai pain killer saat ini, mungkin nanti malam menjelang tidur atau pagi hari barulah terasa. Pelatihnya memberikan arahan-arahan dari sudut sana, perhatian Arya terpecah ketika dia melihat-lihat sekelliling gedung, wasit memberikan aba-aba bagi kedua pesilat agar saling mendekat menuju titik pusat gelanggang. Arya masih belum juga menemukan yang dia cari. Wasit memanggil Arya dengan isyarat tepukan tangan untuk mendekat, rupanya Arya masih larut dalam pencariannya sehingga tidak fokus dalam pertandingan. Teguran wasit hanya ditanggapi dengan sedikit tundukan kepala dengan kedua telapak tangan yang bersatu sebagai isyarat maaf.

Satu tendangan depan menusuk ulu hatinya, Arya tak sempat mengelak, tubuhnya limbung terdorong beberapa jarak kemudian disusul sebuah tendangan belakang memutar yang tak dapat diantisipasi, Arya terjerembab jatuh. Gelora teriakan suporter lawan sebagai penanda Arya kehilangan banyak point, kali ini Arya disodorkan isyarat jempol menukik kebawah dihadapannya dari Wasit, Arya mengerang bukan sakit fisik, hatinya serasa terbakar oleh kekeh puas lawannya yang berhasil menyarangkan dua tendangan telak bahkan berhasil meruntuhkan kuda-kudanya. Kedua pelatihnya dengan geram memberikan arahan pada Arya yang juga tidak mau menengok kearah mereka.

Mau tidak mau akibat serangan tadi sempat membuat dirinya down, emosinya tidak terkontrol, matanya nanar membidik korban, Arya melesak melancarkan serangan, pukulannya hanya memukul angin dan tendangan sabit hampa, sedetik kemudian.. buuuumm!!! Tubuhnya kembali berdebam menghujam matras, kali ini balasan bantingannya jauh lebih keras, kepalanya terasa berat, pandangan mengabur, seolah lampu-lampu penerangan dan exhaus fan pada atap gelanggang berjumlah tiga kali lipat dari jumlah seharusnya, badannya melemas. “Petarung yang emosional adalah pecundang sesungguhnya! Camkan itu!” petuah pelatihnya bergaung keras, memudar bersamaan dengan kesadarannya.

Kilatan potongan kenangan tiba-tiba meruak.

Arya melihat dirinya meringkuk di sebuah sel Kantor Polres depan sekolahnya hanya karena dia tak tahan diejek oleh kawan sekolahnya ketika dia terkalahkan dalam acara balapan liar trek lurus di kompleks stadiun Kota S. Balapan itupun dipicu oleh hal sepele, memperebutkan hati seorang perempuan, tapi baginya hal tersebut bukan hal sepele sama sekali, tragisnya kekalahannya justru akibat perayaan kemenangan yang prematur, belum lagi sampai pada garis finish, Arya sudah melakukan selebrasi dengan membalikkan badan hanya untuk menunjukkan jari tengahnya kearah pesaingnya yang tertinggal beberapa meter di belakang tapi sial dia tidak memperhatikan seekor kucing yang sering kali melintas dari timbunan sampah, akibatnya motor yang tengah melaju kencang itu menabrak bak truk sampah kuning. Tiga hari masuk rumah sakit, hari keempat kembali sekolah, hari yang sama masuk sel Polres karena memukul kawannya yang mengejek kekalahannya.

Ayahnya sudah muak berurusan dengan Kepolisian hanya untuk mengeluarkan Arya yang terlampau sering membuat onar, minggu kemarin soal balapan liar, minggu sebelumnya bikin masalah akibat teler di depan sekolah, tiga hari sebelumnya merusak motor guru matematika yang terkenal killer, belum lama setelah itu tawuran dengan sekolah teknik musuh bebuyutannya. Ayahnya sempat mengira ini adalah buah karma kelakuan masa mudanya yang hampir persis sebagaimana dia pernah lakukan bersama Si Roy, partner in crime, kawan gejolak masa mudanya yang telah melegenda seantero Kota S.

Kenakalan dan sifat palyboynya kali ini terkena batunya, hobby usilnya kembali muncul saat melintas di hadapannya seorang gadis bertubuh ramping, padat berisi dengan mengenakan topi sport yang menyembulkan rambut hitam sebahu dari lubang bagian belakang topi itu. Teguran usilnya tak berbuah respon dari gadis itu, semakin penasaran Arya memacu perlahan motor matic modifikasinya untuk mengejar gadis manis yang tengah jogging sore itu di kawasan stadiun tempatnya nongkrong. Manuver mengangkat ban depan motornya dia tunjukkan untuk menarik perhatian, masih juga belum berhasil, gadis itu masih asyik berlari santai sambil mendengarkan musik lewat ear phone. Kali ini Arya melintas perlahan di samping sang gadis sambil tiduran diatas sadel, sang gadis justru mempercepat langkahnya. Tak habis akal, atraksinya jauh lebih nekat, dia mengangkat ban depan sambil memutari sang gadis yang mau tidak mau berhenti, Arya tersenyum santai sambil melempar hormat gaya militer melihat sasarannya akhirnya mengakui keberadaannya tapi begitu ban itu menyentuh aspal, sang gadis dengan cueknya kembali jogging.

Tambah naik pitamlah Arya, dia memacu motor melewati beberapa puluh meter lalu kemudian berputar berlawan arah menuju sang gadis, Arya menambah kecepatan, sang gadis di hadapannya menghentikan langkah, Arya semakin mendekat tanpa mengurangi kecepatan lalu tiba-tiba menekan rem mendadak menciptakan manuver motornya berdiri menungging dengan ban depan sebagai tumpuan. Gadis ini tidak gentar, sebelum motor itu menyentuh kulitnya tiba-tiba kakinya menendang keras sehingga Arya kehilangan keseimbangan dan terjatuh, sesungguhnya Arya pun sudah memperkirakan motornya akan berhenti tepat beberapa senti di depan sang gadis.

Kawan-kawan genknya mendekat, membantu Arya, seseorang diantara mereka ada yang emosi dan meminta ijin Arya untuk menabrak dari belakang tapi Arya melarang karena dia sudah terlanjur jatuh hati oleh seorang gadis yang baru saja membuatnya jatuh dari motornya. Arya berteriak kearah sang gadis, yang dituju menengok sedetik, Arya melemparkan tanda ciuman, sang gadis melenggos cuek tapi Arya cukup puas terlebih dia mengenali badge kecil di celana training gadis itu, lambang sebuah perguruan pencak silat yang kebetulan menjadi salah satu kegiatan ekstra kurikuler di sekolahnya.

Perjuangannya melacak keberadaan sang gadis berbuah hasil, lewat adik tingkatnya di sekolah didapatkan info bahwa perguruan pencak silat tersebut berada di beberapa sekolah. Sudah beberapa sekolah yang dia lacak, pertama sekolahnya tentu saja, tapi tidak ditemui gadis itu, lalu MAN 2 Kota S, hasilnya nihil! SMA BT juga tidak ada! SMK Negeri 1 juga tak terlihat batang hidung imutnya, sampai pada gerbang sekolah yang paling dia benci, SMK Negeri 2 alias STM! Arya sempat menimbang-nimbang apakah harus masuk sarang macan ini atau pergi tanpa hasil? Desakan rasa rindunya mengalahkan kekhawatirannya, dia memasuki sarang macan itu sendiri saja tanpa kawan-kawannya.

Baru saja dia memarkirkan motornya tiba-tiba segerombolan anak mendekatinya, tanpa ada permisi dan aba-aba, mereka telah menggeroyok Arya. Dua, tiga orang terjengkang jatuh akibat pukulannya, dua orang lainnya menyergap dari belakang lalu mengunci tangannya, anak yang semula terjatuh kini dengan leluasa menyarangkan bogem mentahnya di bagian ulu hati Arya, kemudian mukanya terhempas ke kiri akibat tinju dari arah kanan, disusul tendang kearah perut dan yang terakhir balok kayu mendarat di kepalanya. Arya tersungkur bersimbah darah namun hal itu tidak menghentikan mereka untuk menendangi tubuh Arya. Gadis idaman Arya muncul menghentikan gerombolan itu, mereka menolak bahkan salah satu dari mereka mendorong gadis itu. Sang Gadis kembali maju tapi sayang pipi halusnya terkena tamparan! Anak yang menampar tadi harus menerima ganjaran yang setimpal, pukulan telak mendarat di dadanya, menghentikan sejenak detak jantungnya dan terbatuk-batuk. Satpam sekolah datang, gerombolan liar itupun lari tunggang langgang

Gadis manis itu yang merebut hatinya, gadis itu pula yang mengajarkan arti mengelola emosi lewat gerakan silat dan olah napas. Gadis ini yang membuatnya jatuh cinta pada tiga hal; pencak silat, kesabaran dan gadis itu sendiri tentunya.

“Satu...duuaaa....tigaaa... empatttt....” citra sang Wasit perlahan menjernih, gerakan tangan menghitung itu belum dia sadari. “Tujuh... delapan” Wasit menghentikan hitungan sejenak memberikan kesempatan bagi Arya untuk bangkit. Ucapan wasit tidak sepenuhnya dia pahami. “Aryaaa.. ayo bangkitttt!! Ayooo Aryaaa!! Kamu harus bangkit! Kamu harus kembali mengejar point. Bangun Aryaaaa!!!” suara itu.. teriakan ituu.. yaaa.. ini yang Arya tunggu sedari tadi. Seolah hempasan ombak semangat berdebur di dalam dadanya, darahnya mendesir, jantungnya berdetak penuh gelora. Arya kembali berdiri tegap dalam kuda-kudanya. Menghirup napas dalam-dalam, menyimpannya dalam perut dan membiarkan kundalini mengolahnya menjadi energi. Aku siap! Mungkin itu yang dia ucapkan dalam bahasa diam lewat kuda-kuda kukuhnya di hadapan wasit.

KK. 25-26.02.2011

-dari salah satu sisi Stadiun Kota S-