Minggu, November 11, 2018
Sabtu, Januari 18, 2014
FEAR NO EVIL

Yea, though I walk through the valley of the shadow of death
I will fear no evil; For You are with me.
Hans menggegam erat rosario pemberian bunda, dikecupnya penuh khidmat lalu kembali bersembunyi di balik kemeja, dekat pada jantung yang berdegup tak teratur. Angin menampar wajah ragu itu, seolah berupa menyadarkan diri dari rencana mentah dan niat rapuhnya.
I will fear no evil; For You are with me…
I will fear no evil; For You are with me…
I will fear no evil; For You are with me…
Kaki gemetar itu menjadi semakin kukuh, hantaman angin kini tak menggoyahkan kuda-kuda keteguhan hati. Kedua lengannya merentang, melebar, menyerahkan tubuh pada hukum gravitasi, pasrah menemui gembala hidupnya.
-Koelit Ketjil-
*menikmati semilir angin dari puncak menara Base Transceiver Station*
TERKUNCI
(picture edited n taken from: http://commons.wikimedia.org)
“Tunggu dulu! Boleh Aku bertanya sebentar saja, apa alasan Mas ini menodong Aku?” dada ini semakin kencang degupnya, bukan karena takut, sebentar lagi aku pasti mengetahuinya.
“Heyyy, apa urusanmu pake tanya-tanya segala! Kakehan cangkem, kowe!!!”
belati itu sudah pasti tajam, dari kilaunya dan ujungnya meruncing,
semakin didekatkan menuju tubuhku, semakin kencang degup ini. Sekali
lagi bukan karena takut.
“Aku perlu tau, Mas!” tanganku
melebar, sekedar menunjukkan bahwa aku tidak berniat untuk melindungi
tas kecil incaran penodong ini.
“Lantas kowe arep opo? Hahh!! Mau kupake minum kek! Maen judi kek! Kuarepku tho!!!” tangannya menjulur ke arah tali tasku, sementara belati itu kuyakini siap terayun kapan saja.
Andrenalinku
meletup, getar tubuh yang selalu kurasakan setiap kali menghadapi
situasi yang mengancam keselamatan, sekali lagi bukan karena ketakutan.
Segera
kutangkap tangan kiri yang mendekat itu, kucengkram kuat dengan kedua
tanganku telapak tangannya, jemari gemeretak kupaksa menghadap ke atas,
kuhentakan seketika ke arah bawah, masih kucengkram. Dapat kuterka otot
pada pangkal lengannya kejang, sendi-sendi mulai dari pergelangan
tangan, sikut dan pangkal lengan berderak. Masih dalam hitungan detik,
aku hanya membutuhkan sedikit gerak saja, setengah langkah maju
menyamping ke arah punggung si penodong, tangan kanan yang masih tidak
melepaskan cengkraman kuarahkan menuju pinggangnya sementara tangan
kiriku sigap menelusup pada sudut sikut, merangsek ke atas menembus
belikat lalu mencengkram sama kuat pada bahu kiri.
Aku
sudah memprediksi lintasan tangan kanan berbelati si penodong, aman
posisiku berada di balik punggungnya, ditambahkan lagi bentuk siksaan
ketika tangan kiri terpitingnya itu semakin membentuk sudut yang aneh,
terlipat merapat di balik punggung, semakin dia mencoba melawan, tinggal
kunaikkan saja tangan kirinya ini. Tak perlu banyak tenaga kukeluarkan
hanya memanfaatkan gerakan lawan, cukup kuhentakan maju kaki kananku
tubuhnya sudah limbung, pasrah oleh hukum gravitasi. Kujejak dengan
lutut kanan yang menekuk menekan kuat pada tangan kanannya, belati tajam
itu melenting sedari tubuhnya berdebam pada aspal basah gang gelap ini.
Wajah penodong itu setengah tenggelam pada genangan air.
“Kau
pikir aku akan begitu saja merelakan uangku untuk kau gunakan menenggak
minuman keras, lantas kau mabuk dan birahi semakin tak terkendali
sampai akhirnya kau culik cewek-cewek yang melintas sendirian, hahhh!!!”
rasa jengkel memuncak ketika teringat si penodong dengan tengiknya
menjawab pertanyaanku dengan bentakan.
“Kalau saja tadi
kau bilang untuk kasih makan anakmu, sudah pasti kuberikan. Sekalipun
kau menipuku! Sekalipun kau menipuku!!!” tubuh terkunci itu semakin
kubenamkan pada aspal, pada genangan air hujan sisa sore tadi.
-Koelit Ketjil-
*Pukul
tiga kosong-kosong Ibu Kota Jawa Tengah semakin sepi. Satu lagi bentuk
pengalihan perhatian dan kepenatan, meletup di dini hari ini bertepatan
dengan dilaksanakannya Operasi Badai Gurun Pasir, Perang Teluk mulai
berkecamuk, 23 tahun yang lalu*
Senin, Januari 13, 2014
BUKU PEMBUNUH
Sob, pernahkah kau berpikir seperti ini?
Apa
jadinya jika buku-buku yang Ayah baca justru pemicu ancaman kematian
putra kesayangannya? Deretan buku yang tersusun rapi di rak buku itu,
yaa! Hadiah kecil yang selalu disambut dengan lonjakan kecil dan
teriakan histeris diterima Ryan setiap kali Ayah pulang daridinas luar
kota. Maklum Kabupaten tempat Ryan tumbuh dan berkembang bukanlah kota
yang pesat dalam perkembangan ekonomi, toko buku yang ada hanya menjual
buku-buku paket sekolah, perlengkapan sekolah dan seragam.
Apakah
ini semua salah Ayah yang selalu membacakan cerita dalam setiap malam
penghantar tidur Kami di kamar berukuran secukupnya ini Kami harus
berbagi ruang gerak dan alam imaginasi? Ryan selalu memilih sisi
terdekat Ayah, kemenangan bagi si bungsu, tak apa, justru beradadi sisi
terdekat tembok membuat khayalku semakin liar. Semua yang Ayah ceritakan
begitu jelas muncul dalam bayang imajiku, persis seperti tengah
menonton layartancap. Tanganku tak kuasa tertahan untuk terus bergerak,
walhasil goresanku memenuhi tembok buram pemisah ruang tidur dengan
ruang tengah yang berfungsi sebagai ruang tamu, ruang makan, ruang
belajar bahkan terkadang Bunda menyiangi sayuran pun itu ruang yang
sama.
Tepatnya dua lembar kayu tripleks, bukan
tembok, bukan. Awalnya Aku hanya menggambarkan kecil saja, itu pun pada
bagian terbawah dari penyekat ruangan ini bahkan Aku harus menutup
dengan buntalan kain yang berisi pakaian-pakaian Kami, lemari kayu Kami
terlalu kecil untuk menampung pakaian Kami. Ayah lebih memilih membuat
rak buku yang cukup. Hingga pada suatu pagi ketika Ayah membangunkan
Kami untuk sekolah, tentunya Ayah tidak akan pernah marah menemukan Aku
mencoret penyekat ruangan itu karena memang sudah buram jadi tidak sah
jika Aku dianggap membuat kotor dinding kayu lapis itu.
Ayah
paham semua yang kucoretkan di dinding buram itu adalah semua karakter
dan tempat dari semua yang Ayah ceritakan setiap malam. Aku baru
mengetahui hal itu ketika suatu sore Ayah pulang membawa satu kotak
pensil berwarna, Aku tak pernah meminta itu karena sadar betul, bagi
Kami pensil berwarna adalah barang mahal, tapi tidak untuk buku, Ayah
rela menyisihkan beberapa rupiah untuk membeli buku. Bahkan sebatang
pensil pun Kami harus berbagi, Ryan mendapatkan bagian belakang
berpenghapus karet merah di ujungnya, walhasil Aku harus bekeras agar
tidak salah menulis,dari sinilah mungkin ketelitian dan perhatianku
terhadap segala hal detail mulai terasah.
“Gambarmu
itu tidak ceria kalau hanya satu warna, Nak…” senyum Ayah sama persis
ketika Aku berhasil menyabet rangking dua setiap kali pembagian raport.
Sementara Ayah paham betul dengan kondisi Ryan, lagi pula baru dua tahun
ini Ryan masuk sekolah, Aku kelas empat.
Ahh,
Ryan! Yaa, Ryan… Kenapa Aku jadi demikian narsis menceritakan perihal
masa kecilku? sejak awal Aku harusnya menceritakan Ryan kepadamu, Sob.
Hmmm, Aku rasa dengan keyakinan serampanganku ini, ehhmm… Ryan adalah
dirimu, Sob. Yaa!
Duhai, kekuatan memori, dari mana seharusnya Aku memulai?
Buku,
yaa, buku. Buku-buku itulah pengancam kematian Ryan! Jika saja Aku
diberi celah untuk menuntut para pengarang buku-buku itu sudah pasti
akan Aku lakukan, tapi jika hal itu kulakukan maka Ayah Kami pun dapat
terlibat dalam persekongkolan percobaan pembunuhan berencana terhadap
Ryan. Tak perlu kau mendebat tuduhanku, cukuplah kau mengernyitkan dahi
dan menaikan satu alis tebalmu itu, Sob, gaya khasmu setiap kali tak
mampu mendebat setiap kicauanku yang hanya sepatah dua patah kata, bukan
begitu, Sob?
Aku tahu kau pasti tengah
tersenyum membaca baris tadi, beruntung Aku tidak di sampingmu,
beruntung pinggangku tidak menjadi sasaran penganiayaan cubitan gemasmu.
Ahh.. naaahh..nahhh! Kau tersenyum lagi, Sob! Ohh, tidak! Aku salah,
dirimu pasti terkikik sambil sesekali melihat kondisi sekitar, khawatir
disangka orang gila, senyum-senyum dan tertawa sendiri. ahh, kali ini
Aku bersyukur jarak menjadi jurang pemisah. Amansudah pinggang ini dari
lebam-lebam jejas penganiayaanmu, bisa saja kujadikan bukti visum untuk
menjeratmu.
Perihal Ryan, tidak pernah
kuceritakan selama ini, bergaul dengan dirimu sama persis layaknya Aku
menghabiskan waktu bersama Ryan. Mulai dari berebut buku yang sama,
membacanya dengan posisi berbaring, tangan kiri menopang dagu, kedua
kaki mulai dari lutut hingga ujung jemari ditegakkan, digoyang-goyang
bahkan jika usil Kami mulai merasuki, kaki kananku beradu dengan kaki
kiri Ryan. Sama persis bukan! Hanya saja pembedanya, Ryan kencing
berdiri dimana pun dia inginkan, sementara dirimu tentu saja tidak akan
melakukan hal itu. Hey, tak usah kau senyum-senyum sendiri, nanti
perawat lihat loh!
Pembeda Kami yang paling
mencolok adalah; Ryan begitu lincah dalam setiap gerakan ketika
menunjukkan ekspresi hatinya, sementara Aku terkesan pendiam, lewat
goresan tangan kutuangkan ekspresi hati ini. Ryan dengan spontan
menirukan setiap suara, gerak bahkan kerap membuat segala pernak-pernik
terkait segala cerita Ayah. Bisa kaubayangkan ketika Ayah mendongengkan
legenda Tangkuban Perahu, tiba-tiba Ryan meloncat dari posisi tidurnya
lantas menendang ember plastik berisi pakaian kotor Kami. Seolah
terasuki roh Sangkuriang menendang perahu yang berubah menjadi gunung,
Kami tertawa terbahak-bahak tapi kemudian seketika itu juga Kami terdiam
seribu bahasa mana kala Ryan mencari Dayang Sumbi untuk diperiksakan
adakah pitak di kepalanya. Dayang Sumbi Kami telah lebih dahulu pulang
menuju kahayangan.
Saat itulah kelihaian Ayah diuji, mengarang dongeng dadakan untuk menghibur Kami.
Kami
yang selalu disajikan dongeng-dongeng nusantara sudah sedemikian
hebatnya tergambar dalam benak kecil Kami. Sudah hampir penuh dinding
kayu lapis itu menjadi kanvas ekspresi jiwaku, sudah bertumpuk segala
mainan bambu, pelepah daun pisang berwujud kuda, pedang, senapan,
mahkota dari rangkaian daun jamblang hasil kreativitas Ryan.
Pada
suatu malam Ayah menceritakan dongeng yang berbeda, bukan dari tanah
leluhur Kami. Kisah tentang seorang Pangeran Kecil dari planet yang
tidak kuketahui namanya saat itu, Pangeran Kecil yang tersesat di padang
pasir yang membuat sibuk seorang pilot karena terus merengek meminta
untuk digambarkan domba. Sementara Ryan tengah terbang dengan tangan
kecilnya yang merentang, berkeliling di kamar sempit ini, mengikatkan
sarung pada lehernya dan mengambil pedang pelepah pisang, persis seperti
sosok Pangeran Kecil bersyal itu. Aku sibuk dengan coretan di dinding.
Esok
hari barulah Aku diajak berbicara serius dengan Ayah, semuanya perihal
coretan-coretanku di dinding,jika selama ini sebisaku Aku berusaha
menggambar gunung, kuda, laut, burung sesuai dengan apa yang telah
kulihat di dunia nyata. Pagi itu Ayah membuka buku Pangeran Kecil, baru
kuketahui di dalam buku itu terdapat beberapa gambar, tiba pada sebuah
gambar, Aku terkejut.
Bagaimana mungkin Aku
yang malam itu mendengarkan Ayah mendongeng, pada saat bersamaan Aku
hanya menggambarkan sebuah kotak dengan tiga lubang. Begitu sama persis
dengan gambar Sang Pangeran Kecil yang merengek-rengek meminta
digambarkan seekor domba! Entah mengapa perasaan yang sama juga
kurasakan ketika Sang Pangeran Kecil protes setiap kali digambarkan
domba dalam wujud yang dirimu lihat, begitu juga Aku lihat dalam dunia
nyata, berbulu keriting, berkaki empat dan tanduk kecil. Domba itu
terlalu kuruslah, terlampau gemuk, seperti domba sakitlah, rengekan anak
kecil.
Aku
lebih memilih sebuah kotak dengan tiga lubang disitu, agar Aku bisa
melihat sang domba beristirahat, cukup ruang untuk berlarian, tumpukan
rumput segar tersedia pada pojokan, persis seperti keinginan Sang Little
Prince, Sob!
Aih, sudah jam berapa ini? Sana, minum dulu Glivecmu itu, Sob! Pasti kusambung lagi nanti, Sob.
KOELIT KETJIL
-Semarang, Tiga belas hari telah berlalu dari awal tahun ini. Esok Sang Rasul merayakan ulang tahunnya yang ke 1443-
Jumat, Januari 03, 2014
TREASURED YOUR FREEDOM
“Stop complaining, said the farmer
Who told you a calf to be
Why don`t you have wings to fly with,
like a swallow so proud and free”
Tamparan
lirik ‘Donna-donna’ lagu favorit bagi Soe Hok Gie ini, terasa seolah
didendang langsung oleh Gie, tepat di gendang telingaku. Pesannya begitu
dahsyat membuat kesadaranku terkapar sejenak namun tertatih
kubangkitkan kembali. Kugenggam erat sodoran tangan imaginer Gie,
menarikku yang terpuruk dalam duka-dendam kebodohan diri. Sosok
mungilnya dalam terpa cahaya bulan, meneduhkan amarah yang membakar
habis kesabaranku, dia tak banyak berbicara, bahkan tak sekecap kata pun
terlontar dari mulutnya.
Tangannya menunjuk ke berbagai
penjuru arah mata angin, pada titik pertama diarahkan telunjuknya ke
arah baliho super besar dengan gambar perempuan berwajah ayu senyum
palsu. Titik berikutnya, telunjuk itu berhenti pada sebuah kampus yang
bising dengan lalu lalang kendaraan, tak ubahnya terminal. Kali ini
telunjuknya beredar pada segelintir mahasiswa, mereka membakar ban di
tengah jalan, berteriak-teriak tak jelas, membikin macet di siang terik
tak bersahabat. Sebuah mobil mewah tak luput dari telunjuk Gie,
pengendara berpenampilan perlente itu kukenali; rekan kerja.
“Aku masih belum paham, Gie! Katakan!” sosok mungil itu memudar, menjadi partikel halus terhempas asap hitam knalpot bus kota.
“Gie,
betapa sebuah kesialan bagiku berjalan pada bekas tapak kakimu,
mencontoh gerakanmu untuk kembali ke kampus. Berharap menjadi pencerah
bagi generasi penerus bangsa yang kian membangsat ini!”
Kukutuki diri ini, selepas halusinasi bodoh itu tiba-tiba menerjang lewat provokasi soundtrack
lagu dari film tentangmu itu.Gie, buku catatan demonstrasimu kumasukan
dalam ranselku. Di hadapanku segelintir mahasiswa tengah meraung-raung
kerasukan hantu-terasi, demons-terasi.
Semula membaca catatanmu menjadi titik damaiku, mana kala puncak rasa
muak atas realita ini tak mampu kudaki. Seluruh gunung yang pernah kau
jelajahi telah kusentuh puncaknya tapi gunung peradaban manusia ini,
terlampau terjal Gie! Kampus, tempatku mengabdi begitu angkuh berdiri,
sebelah kaki gunung ini, di arah timur berbatasan dengan Ibu Kota
Negara, sementara di ujung kulon, kakinya tenggelam dalam dasar Selat
Sunda, berharap bersentuhan dengan Krakatau.
“Pak, kok, melamun, sih?!”
seorang mahasiswa membuyarkan sekaligus menyelamatkanku dari larutan
imaginasi dan realitas, bersatu dalam satu wadah kehidupan tapi tak
bercampur sempurna, seperti minyak dan air dalam gelas.
“Ohh…yaa…ehhh…tidak!” Aku masih membuka folder daftar nama yang kukenal dalam otakku, siapa nama anak muda ini?!
“Maaf,
Pak. Saya, mau bertanya tentang nilai mata kuliah semester ini.
Nilainya sudah keluar, Pak?” mahasiswa berpenampilan gaul ini masih
belum kukenali dengan baik.
“Memangnya, kamu ambil mata
kuliah apa dengan saya?” sejauh daya ingatku yang lemah ini, masih bisa
kuhafal betul seluruh nama mahasiswa yang berproses belajar bersamaku.
Lagipula,
aku hanya diberi dua mata kuliah saja, sama seperti semester-semester
sebelumnya. Para senior mendominasi berbagai kelas yang ditawarkan di
setiap semester, menjadi Pembina sekaligus pengeksploitasi para junior,
lengkap dengan embel-embel; pengabdian. Sialnya, di hadapan para
komandan, kadet-kadet ini selalu bersikap sempurna, hormat, seraya tegas
mengatakan; ‘Yess, Sir! As a soldier, we must always ready to say, Yess, Sir!’
“Kenapa
kamu harus bertanya tentang nilaimu?” sebuah pertanyaan kulontarkan
setelah dia bersikukuh mengambil Mata Kuliah Sebab Musabab Kejahatan
yang kuampu.
“Ya, itu `kan hak saya untuk mengetahui nilai saya, Pak!” tutur bahasa yang coba dibuat intelek itu membuatku hampir mual.
“Selama
kamu rajin masuk kuliah, tak perlu hadir di setiap tatap muka, lalu
mengerjakan tugas dan berdiskusi di kelas atau bahkan mendebat saya
dengan teori yang relevan, seharusnya tak perlu lagi kamu pertanyakan
nilai itu.“ Aku hafal betul wajah-wajah yang kunikmati setiap detik
proses belajar bersama satu semester ini tapi tidak untuk pemuda ini.
Formasi kursi pun kubuat lingkaran besar, demikian caraku menatap wajah
masa depan dan menggali dalamnya pikiran para mahasiswaku.
“Saya selalu masuk, kok!
Tugas juga saya kerjakan tapi memang kalau di kelas, saya gak banyak
bicara, saya tipe orang pendiam, Pak!” Ahh, ujung kalimat
pengidentifikasian diri itu sangat bertolak belakang dengan mulutnya
yang begitu ringan membuat pembelaan.
Baiklah, kubuka tas ranselku, kukeluarkan daftar hadir selama satu semester.
“Siapa namu tadi?” Dia menyebutkan dengan tegas namanya, terutama gelar kebangsawanan yang diberi penekanan saat penyebutan.
Mudah
saja kutemukan nama dengan dua huruf di muka namanya itu. Kuperhatikan
goresan tangan penanda kehadirannya, mataku juga mengincar beberapa nama
tepat di atas namanya, tipe goresan dan warna pena itu selalu sama.
“Ya,
disini kamu hadir di setiap tatap muka, bagus! Ehhm, Oke! Saya sudah
tahu nama kamu, apa kamu tahu nama saya?” tatap mataku menjadi teroris
bagi mangsa teror yang kutebarkan di depanku ini.
“Ehh…Anu……
Ahh, Bapak ini bercanda saja! Masak, saya gak tau nama bapak!”
tangannya gemetar menggerayangi saku celana jeans gombrongnya, mencari
pertolongan lewat Blackberry seharga jutaan rupiahnya yang semula sempat dia genggam.
“Gak
perlu kamu sms kawanmu, sekedar menanyakan nama saya. Kamu selalu hadir
di setiap tatap muka, bukan?” Aku menunggu, dia mengeluarkan jawaban
terka, aku mengangguk setuju-mengiyakan, tapi tunggu dulu.
Kusodorkan selembar kertas kosong.
“Kamu, mau nilai apa? Tulis di kertas ini lalu kemudian tandatangani.” Senyumku kusuntikan sebagai placebo pengobatan depresi dalam dirinya, kukendorkan intensitas terorku.
“Wuaahh,
terimakasih banyak, Pak! Serius nih, saya boleh tulis apa yang saya
mau?! Asyyiikk, Bapak memang dosen favorit deh! Sama seperti dosen-dosen
yang lain, bisa menentukan nilai sesuai keinginan mahasiswa. Ini baru ‘dosen gue banget’, dah!
Besok, saya cari Bapak lagi, sekedar untuk memberikan ucapan
terimakasih, Pak!” tipe pendiam macam apakah kau ini? Sedang bibirmu
mampu mengucapkan deretan kalimat dengan lancarnya, hanya sepersekian
detik!
Ahhh, rupanya bukan sekedar isapan jempol belaka, rumor
tentang nilai yang diobral itu, bukan lagi menjadi ‘rahasia umu’
melainkan menjadi ‘pengetahuan umum’. Kupendam gelora yang
menyundul-nyundul dada ringkih ini.
“Aku tengah berpuasa…Aku tengah berpuasa, ini hari!” berulang-ulang kuingatkan diri ini.
Senyum pemuda gaul ini terlihat begitu puas dan lega sekali. Kusalutkan keberaniannya menulis huruf ‘A’ pada lembar putih itu.
“Baik, urusan sudah selesai! Saya, acc permintaanmu ini.” Kugoreskan beberapa kalimat pada lembar yang sama.
“Sekarang,
kamu bawa kertas ini ke Dosen Pembina Mata Kuliah Sebab Musabab
Kejahatan, untuk dimintakan persetujuan dari beliau, lalu kamu ke bagian
akademik agar nilaimu dimasukkan pada KHS kamu semester ini.
Terimakasih telah berproses belajar bersama saya selama semester ini.
Sukses!" kujabat erat tangannya, semula hendak dia cium punggung
tanganku sebagai bentuk hormat layaknya mahasiswa lain terhadap para
dosen. Aku menolak kebiasaan itu, cukup jabat tangan saja karena kita
setara.
Ekspresi wajahnya begitu sumringah, sebongkah
surga telah didapatkan dengan mengibuli dosennya. Itu beberapa detik
sebelum dia melihat kembali kertas itu. Mari kuberitahu apa yang
tertulis pada lembar putih, simulasi ruang persidangan kejujuran atas
mentalitas mahasiswa karbitan itu. Baris pertama tertulis huruf ‘A’
kapital dengan ukuran font besar, bold pula. Di
bawahnya tertulis nama mahasiswa itu, lengkap dengan dua huruf di awal
nama, tanda penegas garis keturunannya, juga tertera goresan
tandatangannya.
Masih penasaran? Kali ini, tulisan
tanganku sendiri, masih pada lembar yang sama, sebagai tanda persetujuan
keinginannnya. Tegas kububuhkan tanda tanganku lengkap dengan namaku,
tanpa gelar akademik. Di bagian terbawah kertas itu, kutambahkan ‘Nb:
baca baik-baik nama saya, jadi, bukan yang nama yang asal kamu sebut
tadi. Berikut ini, saya beri contoh tanda tangan kamu yang biasa
diwakilkan oleh kawan kamu di lembar absensi. Saya sarankan agar kamu
mengulang di semester depan!’ aku tak mau peduli lagi dengan ekspresi wajah mahasiswa palsu yang bahkan tak tahu nama dosennya sendiri.
Yaaa,
Gie! Aku tidak akan mengeluh kali ini, telah kukepakan sayap kecilku,
menjadi serupa burung walet yang terbang bebas, tak lagi menjadi sapi
ternak kampus ini. Sekalipun aku tahu, nilai itu akan tetap berwujud ‘A’
pada lembar Kartu Hasil Studi mahasiswa itu dan mahasiswa lainnya yang
telah mabuk dibuai candu, suguhan oknum marketing edukasi.
Maafkan, ketidakberdayaan hamba, Sultanku, namamu telah dicoreng oleh anak-keturunan yang lahir dari rahimmu sendiri.
Duhai,
Sultan kami yang termasyur dalam lembar sejarah peradaban bertahta
tinta emas. Gelar agungmu tercipta dari air kemurnian yang kau suling
mensucikan tanah leluhur, jangan khawatir, masih ada percikan mata air
tak terkontaminasi polusi racun kapitalisme, disini masih ada
askar-askar setiamu, walau segelintir!
Indonesia masih ada harapan, Gie! Segelintir generasi muda ini adalah The happy selected few, sebagaimana telah kau ramalkan.
Aku
melepas seluruh kancing kemeja kerjaku, sosok wajah Che dengan sorot
mata elangnya meledakan semangat pemberontakan. Bergabung bersama
segelintir mahasiswa, merdeka kuteriakan;
“GANYANG!…. GANYANG!!..... MAKELAR NILAI!!!!..... BONGKAR!!!... BONGKAR!!!..... PARA PLAGIATOR!!!!”
-Koelit Ketjil-
Dimulai
dari perbatasan antara Ramadhan ke sembilan belas menuju Ramadhan ke
dua puluh, sekiranya seribu empat ratus tiga puluh dua tahun paska
Rasulullah hijrah
24 Agustus 2011 pukul 16:57
24 Agustus 2011 pukul 16:57
Langganan:
Postingan (Atom)



















































