

aku tahu komentar khas mu Ting!
jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa
Memang sih rakyat gak langsung pergi tapi mendengarkan sebentar ketika `MEREKA` berpidato tentang upaya `MEREKA` untuk mensejahterakan rakyat dengan cara menaikan harga BBM, terus pergi setelah itu karena bagi rakyat pidatonya gak masuk akal, ini menyebabkan `MEREKA` putus asa tapi sayangnya rakyat kemudian gak hati-hati.
kalau rakyat sembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar
Memang sih rakyat sekarang gak sembunyi-sembunyi dan berbisik lagi ketika membicarakan masalahnya ini melainkan rakyat berteriak lantang dimuka umum dan tersiar di semua televisi karena rakyat membakar foto `MEREKA` tapi kemudian menyebabkan `MEREKA` menjadi waspada dan parahnya lagi `MEREKA` gak bersedia belajar mendengar melainkan praktikum memukul.
Coba perhatiin lagi di bait berikutnya;
(foto dari; farm1.statistic.flickr)
apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan menggangu keamanan
maka hanya ada satu kata: LAWAN!
Kemarin nonton berita di televisi, ada seseorang yang dituduh subversif dan mengganggu keamanan Republik oleh intelijen (bagian dari `MEREKA`) hanya karena usulnya ditolak tanpa pertimbangan terlebih dulu, kritiknya dilarang tanpa alasan bahkan gak cuma kritik tapi juga suara dibungkam dan dia ditahan pun tanpa alasan penangkapan yang jelas. Jika kondisinya seperti ini, Wiji kayaknya jangan cuma kasih satu pilihan, tapi dua atau lebih; bukan cuma satu kata `LAWAN!` tapi juga `LARI!` atau `SEMBUNYI!` atau `MENYERAH!` atau `CUMA NGELUH AJA DEH!` atau yang lainnya.
Nah loh (lagi)! Jangan-jangan Wiji beneran paranormal karena Wiji bisa melihat dan menerka keadaan 2008 saat dia meramalkan pada 1986 bahwa situasi ini akan terjadi lagi…. Apapun yang terjadi tapi aku masih percaya jika 1986 Republik kita Indonesia maka 2008 pun Republik kita masih Indonesia, Bung!. Sayangnya aku (pemuda Republik ini) cuma bisa ngeluh sambil minum teh! Apa karena masih ada banyak pemuda Republik ini yang minum teh yang bukan terbuat dari BBM dan dimasak pake arang ya???
Ahh, bingung aku! Bukan karena Republik ini, tapi `MEREKA`. Supaya gak bingung lagi, Mungkin kawan punya istilah selain `MEREKA`? Atau kita ngeteh lagi aja, ngapain bingung?... bingang-bingung… bingung-bingang!
Jangan-jangan kebingunganku ini dianggap subversif?! Atau jangan-jangan (lagi), ngeteh juga dianggap mengganggu keamanan?! Lantas apa pilihan kita?
(sekedar tulisan dari salah satu Pemuda Republik yang gak memilih bersuara, membantah, turun kejalan atau berkumpul dan berorganisasi memikirkan BBM apalagi mikirin Republik ini. Pemuda Republik ini cuma menikmati teh dan jadah bakar tapi begitu pulang kampung ternyata dapur Ibu tidak ngebul bukan karena pake kompor gas tapi…..)
...... itu sebabnya sekarang disini aku lebih memilih air putih......
IDE, ASU!
Tuhan,
Coba lihat aku disini
Pada pojok tersiksa oleh ide
Otak tertumpuki citra hari depan
Tapi apa jadinya ketika esok kuhadapi?
Tanpa pendukung, ide ini menjadi tumor
Membengkak, tapi menggerogoti
Serupa kanker dalam benak
Terlampau beratkah `Prakarsa`ku
Begitu `Kecil`kah aku, hingga
Tak mampu menggerakan ide?
Tersiksa pada dini hari bisu
Ya, sekarang ini Tuhan
Sama seperti kemarin, lusa dan lalu
Sama saja seperti ini
(Kajor, Medio April pada Dini hari)
IKUTI AKU DI UJUNG
Bahkan ada
Kau tiadakan
Manusiawi…. Ego!
Tapi persahabatan ini
Tidak datang dari hati, adalah
Proses pencermatan karakter ku pilih
Semakin terpendam ketakutan itu
Dengan sendirinya
Kau pilih rindu, pembunuhmu
Coba saja kau hilang
Pasti hilangmu, pencari keberadaanku
Tidak dapat wujud,
Melainkan bayang!
Lebih nyata…. Semakin kau takut
Lebih takut…. Maka
Sayap rindu mencekikmu
Seperti asap kutakuti hilangnya
Kepudaran kucari
Tapi itu tak seberapa
Coba bayangkan
Jika
Takut itu ….. hilang…
Dapat kau berani?
Ingin kau mati?
Sementara
Bulu rindu dalam sayap hitammu
Tak beri kau udara
Manusia hidup untuk
Mati
Bukan untuk kehilangan udara
Ya, aku berbicara
Jika kau menolak
Biar, bisulah kata ini
Jika kau sepakat
Pejamkan mata
…….. temukan hitam dalam terang……
(Bugisan, August, 10, 2003 at 21.55)
(newsimg.bbc.co.uk foto korban perang Irak bernama Ali Ismail Abbas)
(foto diambil dari warphoto.5u.com)
DOA BOCAH DARI SERAMBI
Dewi, di mata ini tak ada lagi warna
Yang ada hanya kelam, apa ini isebut warna?
Dewi, dimana letak warna itu?
Ya, seperti dulu itu Dewi, ketika semua ceria
Dewi kenapa engkau diam saja waktu itu?
Sewaktu Rahwana bersenjata canggih terjun disini
Mengapa mereka merusak sawah kami?
Menculik Bapak dan Poma menangis tiada henti
Dewi, apa Dewi telah lupa warna kedamaian?
Sama seperti kami ini, yang kami tahu hanya ledakan
Apa Dewi tidak lagi bersayap ketentraman?
Sehingga setiap saat kami harus siaga mengungsi
Dewi, bahkan kami lupa bagaimana caranya menangis
Yang kami kenal hanya berlari dan menutup telinga
Dewi, serambi kami tolong bersihkan
Karena disini kami bermain, tidak untuk berlari
Dewi, doa kami hanya satu semoga engkau tidak dipersunting Rahwana….
(Bugisan, 18 Maret 2003)
Poma dalam bahasa Aceh berarti Ibu
(foto diambil dari children.foreignpolicyblogs.com)
KUPEGANG BATU, KUTUNGGU KAU
Dibatas antara mimpi dan nyata
Aku tunggu kau, kupegang batu ini
Biar lengan ini kecil, walau batu kapur
Bocah ini siap tantang kau Rahwana!
Dibatas tipis hidup dan kematian
Aku tetap jaga Poma, tetap kupegang batu ini
Sekali kau sentuh jiwa rapuh Poma, kulempar batu
Kutunggu kau malaikat kematian!!!
Dibatas wilayah GAM dan Republik
Kupegang dua batu, batu kemarahan kali ini
Sekali kau lintasi pijakan kaki kurus ini
Kulempar kemarahan, kuhancurkan dengan lemahku
Tanah kami bukan Darussalam, BOHONG!
Disini tidak ada lagi tempat untuk selamat
Dewi telah bohong, Dewi diperkosa Rahwana
Dewi tidak lagi suci, Dewi bohong…………..
(Jauh dari Aceh cuma dari Bugisan, 16 April 2003)
ASAL SAJA KAU TAHU
Malam belum lagi tua
Aku sudah keparat
Terhina oleh kenyataan
Terdampar pada sisi jalan, Malioboro
Jika benar ini kehidupan
Kenapa napas jalan tak terhembus
Jika benar ini kematian
Kenapa raga ini bergetar
Sebut saja ini maya
Ilusi kematian atas kenyataan
Sebut saja ini realiti
Getir, lagi, tak berasa
Asal saja KAU tau!
Cukup, selesaikan mainan ini!
(Malioboro, 2 Okt 2003)
SEKALI TEMPO
Sekali tempo
Sempat kulihat kau tertunduk
Sepatu lusuhmu tersaingi wajah dan rambut
Sangkakala memang belum terdengar, tapi
Sepi telah merambati jiwa kalut itu
Sekali tempo
Seraut wajahmu memerah, padam!
Siang tak lagi berperan, sebabnya
Sore, kutemui kau mengerang
Sekali tempo
Sempat kulihat kau tertunduk
Seraut wajahmu memerah, padam!
Sore, kutemui kau mengerang
Sepi telah merambati jiwa kalut itu
Sepatumu lusuh, Sekali tempo
(Kajor, 6 Okt 2003 pada 01.08)
SAAT SUARA MENJADI HANTU
Bosan aku dengan suara
Suara yang ada di kepala
Suara yang ada di telinga
Suara yang tak pernah bersuara sepi
Suara hanya dapat memaksa berputar
Suara yang tak pernah memberi petunjuk
Hanya memaksa untuk berputar… muak
Bosan aku dengan suara….
Dari yang ada dalam kepala hingga keluar telinga
Hingga menuju tenggorokan sampai muntah
Sebab apa suara berputar? Untuk siapa?
Sekali lagi aku tetap bosan dengan suara
Kenapa saat ini sepi justru berteriak
Tidak kawan, bukan saatnya teriak
Ku ingin kau tetap sunyi, sekali ini saja
Kawani aku dengan ritme lambatmu
Bius aku dengan detik yang melenakan
Dekati aku dengan sunyi dan dingin di hati
Ya, di hati tetap disini
Biar di kepala tetap bising,
Biar telinga ramai
(Jogja, 27 April 2003)
Sajak Rambut
Rambutku gondrong benakku adalah hutan
keinginan terkurung didalamnya
di kegelapan aku berteriak: kebebasan!
sepanjang malam semakin ribut
jiwa siapa tak akan letih
menjelang pagi baru tertidur
hari hampir siang, matahari menegurku
hutanku kembali minta dilayani
inikah dirimu, di depan kaca aku bertanya
kening yang terlipat, mata yang nyalang
rambut yang gondrong dan debar jantungmu
menangkap bau warna putih: uban!
rambut yang panjang mendekati tanah
waktu memberat di tiap helai
berapa lagi bukit-bukit letih dan daki
sbelum sampai di sebuah pantai
melabuhkan lelah sementara
menyongsong badai kembali
(Wiji Thukul, 11 Juni 1983, sorogenen, surakarta)