Kamis, Juni 26, 2008

LINGKARAN AKU CINTA KAU


LINGKARAN AKU CINTA KAU
Sawung Jabo

Kini kami berkumpul, esok kami berpencar
Berbicara tentang kehidupan
Berbicara tentang kebudayaan
Berbicara tentang ombak lautan
Berbicara tentang bintang di langit

Kami berbicara tentang Tuhan
Berbicara tentang kesejatian
Tentang apa saja

Malam boleh berlalu
Gelap boleh menghadang
Disini kami tetap berdiri
Disini kami tetap berpikir
Disini kami tetap berjaga
Disini kami tetap waspada
Disini kami tetap membuka mata
Disini kami tetap selalu mencari kesejatian diri

Alang-alang bergerak
Mata kami berputar
Seperti elang kami melayang
Seperti air kami mengalir
Seperti mentari kami berputar
Seperti gunung kami merenung

Dilingkaran kami berpandangan
Dilingkaran kami mengucapkan
Aku cinta padamu
Aku cinta padamu
Aku cinta padamu
Aku cinta padamu

Ada satu catatan menarik berkaitan dengan lirik lagu ini, waktu itu (17 Juni 2008) sepulang interview kerja di kawasan industri Pulogadung, aku naik bus menuju pulang dari terminal Pulogadung (aku berharap tidak akan lagi naik bus dari terminal keparat itu! Lamanya gak umum, No publis, kalo kata Dibyo).
Sengaja aku tidak naik bus dari dalam terminal (sudah terbayang betapa lamanya) cukup jauh dari pintu keluar terminal tapi tetap saja ngetem pada lokasi pertama (15 menit oke lah) bus jalan dengan lambatnya (mungkin kalah cepat dengan nenek-nenek usia 80 tahun yang berjalan kaki dibantu dengan tongkat lagi disamping bus!)
Berhenti di lokasi ngetem ke2 (another 15 minutes! still I`m sober) sopir menunggu kode dari kernetnya bahwa di belakang sudah terlihat bus searah tujuan yang sama
Nah di lokasi pemberhentian ke3 ini ada hal menarik, 2 orang pengamen kata-kata (aku bingung mengkategorikan usaha mereka, nyanyi jelas gak masuk kategori, baca puisi pun.Entahlah) mereka be2 membacakan lirik Lingkaran Aku Cinta Padamu karya Sawung Jabo, bergantian dengan sistem satu baris lirik dibacakan oleh pengamen kata-kata pertama (PKK 1) kemudian baris kedua dibacakan oleh pengamen kata-kata ke2 (PKK 2), lebih mudahnya seperti ini;

PKK 1; kini kami bErrkumpul, Ezok kami bErpEncarr (dengan logat Me**n kental)
PKK 2; bErrbicarra tEntang kEhidupan (juga dengan logat Me**n kental)
PKK 1; bErrbicarra tEntang kEbudayaan (masih dengan logat Me**n)
PKK 2; bErrbicarra tEntang ombak lautan (konsisten dengan logatnya)

Salut, di Jakarta masih ada orang yang punya mental untuk ngamen puisi, eh ngamen kata-kata ding (setidaknya ini menurut istilahku aja, soalnya di jogja aja banyak seniman berlomba melagukan puisi atau menghidupkan puisi menjadi musik (musikalisasi puisi meskipun banyak pro kontra atas istilah ini), kok mereka me-lafal-kan lirik lagu kedalam ucapan tidak serupa deklamasi maupun baca puisi pada umumnya, meskipun setiap orang berhak untuk mengekspresikan dengan cara mereka sendiri) ini yang bikin aku salut terhadap mereka!
Mereka terus bergantian me-lafal-kan baris demi baris, sampai pada pertengahan lirik mereka gubah seenak udel mereka sendiri (kadar salutku mulai berkurang mulai dari sini). Di akhir aksi perform, mereka mengucapkan terimakasih terhadap bapak supir dan kondektur, mengharap keiklasan penumpang dan menghimbau agar penumpang menjaga barang bawaan (biasalah Standard Operation Prosedure dan kode etik pengamen jalanan karena kalo gak begitu mereka bisa kena pelanggaran kode etik dan mendapat teguran Dewan Kehormatan Pengamen Jalanan…boong ding! Gitu aja dianggap becanda)

Mereka mengeluarkan plastik bekas bungkus supermie untuk menagih keiklasan penumpang tapi dari kursi penumpang paling depan mereka sudah mulai kurang ajar (disini rasa salutku hilang sama sekali). Perempuan muda berjilbab didepan tidak memberikan sedekahnya tapi
PKK 1 mulai menyindir sampai memaki-maki perempuan ini seperti ini;
PKK 1; “jadi gak kazih nih! (tetap menyodorkan plastik meski perempuan ini memberi tanda maaf) Cuma gopEk aja gak bakal bikin bangkrrut mbak (plastik dekat banget dg mukanya), aih dasar kon#*l kau, kEpala zaja kau kazih zilbab, tapi kElakuan zama zEpErrti anz#*g, pElit zEkali kau! (dan sumpah serapah lainnya yang gak bisa kutulis semua)
mereka terus meminta kepada penumpang lainnya.
Hal ini berhasil sebagai teror dan intimidasi terhadap penumpang lainnya.Datang kekursiku aku cuma bisa merapatkan kedua telapak tanganku, intimidasi mulai dia lakukan dengan mendekatkan terus plastik itu, aku tetap senyum, eh kok terus-terusan orang ini, akhirnya aku senyum sambil liat matanya (lalu aku bacakan mantra `anda akan merasa mengantuk, berat sekali…berat...berat…anda akan merasa nyaman pada titik itu..gak perlu dilawan..santai…rileks…rileks….. HAHH! Apa yang kalian harapkan? memangnya aku hypno-terapis po! Jelas PKK 1 gak tertidurlah tapi terus berjalan ke penumpang lain)

Di bagian kursi belakang setelah penumpang terakhir, mereka be2 mengutuk dengan lantang pada semua penumpang yang tidak memberi uang tapi sama sekali tidak berterimaksih pada mereka yang terpaksa memberikan uang kepada mereka. Aku pun balas merapal kutuk dengan lantang juga (tapi dalam hati). Belum sampai selesai kutukan mereka be2, tiba-tiba datang orang berbadan tegap, kulit hitam, tulang pada wajah tegas dan tulang pada dahi lebih menonjol sehingga mata terkesan menjorok kedalam (mungkin preman, meskipun aku bukan penganut teori Lambroso (tokoh Kriminologi dari Italia) yang mengambil kesimpulan bahwa orang dengan ciri-ciri ini adalah Natural Born Criminal, jelas aja lah wong dia melakukan penelitian di penjara yg hampir 90% isinya orang negro lantas sample lainnya gimana Bros?)
Kembali kepada kutukanku yang mulai terjawab, ke2 Orang Bertubuh tegap (OBT) itu menarik ke2 PKK tadi keatas bus lagi dibagian belakang)
Samar ku dengar (gak samar ding, lah wong ternyata mereka be2 memiliki logat yang sama) tapi ada yg beda Bung!

OBT 1; tadi kau bilang apa zama pEnumpang hah?!, kalian pikirr ini dimana? Ini Zakarta! Banyak orrang dizini bukan cuma orrang Me**n zaja! Ada orrang zawa, zunda, zulawEzi, bahkan papua, bErrani-bEraninya kau macam-macam dizini! Kau pikirr cuma orrang Me**n yang hebat dizini hah!
PKK 2; bukan aku Bang dia ini tadi Bang (menunjuk PKK 1, suaranya berubah lembut banget)
OBT 2; AHH! ZUDAH DIAM KAU! (pasti gak lembut dong suaranya,jelas)
Semua penumpang awalnya tidak ada yang berani menengok kebelakang tapi begitu ada sinyal ke2 OBT ini melindungi penumpang satu persatu memberanikan diri menengok kebelakang
(ingat EYD yang tepat `menengok` berarti `melihat kebelakang`, tidak seperti contoh kalimat ini; “Zini kau, coba kau tEngok Zupir buz yang didEpan itu, cEpat!”… tengok kok kedepan?!). Kembali lagi ke OBT
OBT 1; apalagi kau bErani-bEraninya mEmbEntak pErEmpuan, Bah!! bEraninya cuma zama pErEmpuan, kupotong kau punya kon#*l nanti
(mungkin dalam hati ke2 PKK bilang; ‘kami berani juga kok dengan laki-laki Bang, buktinya tadi..”, pasti mereka gak berani dong bilang itu, secara..)
akhirnya ke2 PKK ditarik turun bus, entah apa yang terjadi berikutnya, mungkin muncul di harian POS KOTA! (sekedar info POS KOTA terkenal didaerah Jakarta dsk, kalo di jogja se-tipe dengan Koran Merapi, yang isinya; 80% Kriminal, 10% tentang pembunuhan, sisanya yang 10% space utk IKLAN!)
setelah sekitar 30 menit bus berjalan, perempuan muda tadi bicara dengan orang sebelahnya bahwa doanya terkabul (bagi dia mungkin doa, yang lain pasti kutukan), hal ini terdengar dengan penumpang dibelakangnya “saya juga tadi sumpahin mudah-mudahan orang tadi kena batunya, ehh beneran!” dan suara senada pun mulai keluar dari sekitar 50an penumpang lainnya (ahh ternyata kutukanku didukung dengan kutukan 50 penumpang lainnya, jelas kalahlah 2 lawan 50an).

Aku jadi ingat dengan perbedaan sudut pandang antara ilmu eksak dengan ilmu sosial jaman SMA dulu,
jika dalam sudut pandang ilmu eksak; 1 orang penakut ditambah dengan 49 orang penakut maka sama dengan 50 orang penakut.
Beda halnya dari sudut pandang ilmu gak eksak; 1 orang penakut ditambah dengan 49 orang penakut maka sama dengan 50 ORANG PEMBERANI.
Dalam kasus ini; kutukan 49 orang penakut ditambah dengan kutukan 1 orang pemberani (tapi dalam hati beraninya) sama dengan KUTUKAN YANG MANJUR!!!
Benar adanya dalil “doa orang teraniaya pasti makbul”
Bus kembali berjalan dengan sangat lambatnya, waktu tempuh Jakarta sampai rumahku biasanya 3 jam itupun sudah kena macet, tapi lain dengan hari itu, 6,5 jam tanpa macet!!
MUNGKIN ADA ORANG YANG LEBIH TERANIAYA LAGI DARI 50 ORANG PENUMPANG INI DAN MENGUTUK BALIK KUTUKAN TADI, RUPANYA KUTUKAN 2 ORANG JAUH LEBIH MAKBUL, BISA JADI DERAJAT TERANIAYANYA CUKUP BERAT…mari hentikan perbuatan mengutuk lebih baik menganiaya diri sendiri agar doa kita makbul. Ngamien…….
(tulisan diatas tidak ada niatan mengandung unsur SARA terutama terhadap satu etnis tertentu, sekedar berbagi pengalaman saja bahwa di Jakarta lebih aman naik bus way tapi kalo terpaksa naik bus biasa sediakan uang receh jika gak punya sediakan doa JANGAN KUTUKAN)

1 komentar:

apa yang ada dikepalamu? apa yang menyumbat tenggorokanmu? apa yg membekukan jari-jarimu?... LONTARKAN!!