Minggu, Juni 15, 2008

Tumbuh Benih

Apa Yang Berharga Dari Puisiku

Apa yang berharga dari puisiku
Kalau adikku tak berangkat sekolah
karena belum bayar SPP
Apa yang berharga dari puisiku
Kalau becak bapakku tiba-tiba rusak
Jika nasi harus dibeli dengan uang
jika kami harus makan
dan jika yang dimakan tidak ada?
Apa yang berharga dari puisiku
kalau bapakku bertengkar dengan ibu
ibu menyalahkan bapak
padahal becak-becak terdesak oleh bis kota
kalau bis kota lebih murah siapa yang salah?
Apa yang berharga dari puisiku
kalau ibu dijiret utang
kalau tetangga dijiret utang?
Apa yang berharga dari puisiku
kalau kami terdesak mendirikan rumah
di tanah-tanah pinggir selokan
sementara harga tanah semakin mahal
kami tak mampu membeli
salah siapa kalau kami tak mampu beli tanah?
Apa yang berharga dari puisiku
kalau orang sakit mati di rumah
karena rumah sakit yang mahal?
Apa yang berharga dari puisiku
yang kutulis makan waktu berbulan-bulan
apa yang bisa kuberikan dalam kemiskinan
yang menjiret kami?
apa yang telah kuberikan
kalau penonton baca puisi memberi keplokan
apa yang telah kuberikan
apa yang telah kuberikan?

(Wiji Thukul, Semarang 6 Maret 1986

dalam "Aku Ingin Jadi Peluru, Kumpulan Puisi Wiji Thukul)




Sajak Rambut


Rambutku gondrong benakku adalah hutan

keinginan terkurung didalamnya

di kegelapan aku berteriak: kebebasan!

sepanjang malam semakin ribut

jiwa siapa tak akan letih

menjelang pagi baru tertidur

hari hampir siang, matahari menegurku

hutanku kembali minta dilayani

inikah dirimu, di depan kaca aku bertanya

kening yang terlipat, mata yang nyalang

rambut yang gondrong dan debar jantungmu

menangkap bau warna putih: uban!

rambut yang panjang mendekati tanah

waktu memberat di tiap helai

berapa lagi bukit-bukit letih dan daki

sbelum sampai di sebuah pantai

melabuhkan lelah sementara

menyongsong badai kembali

(Wiji Thukul, 11 Juni 1983, sorogenen, surakarta)









3 komentar:

apa yang ada dikepalamu? apa yang menyumbat tenggorokanmu? apa yg membekukan jari-jarimu?... LONTARKAN!!