Senin, November 30, 2009
Melompat dari satu Dunia kawan ke Dunia kawan lainnya
1.
ada bulan di kakiku
sedang kurindu
kau
dalam-dalam
2.
“Anak-anak kita sekarang sangat tidak kreatif. Apa-apa maunya beli. Mainan mobil-mobilan harus yang harganya mahal dan pakai remote control. Kenapa mereka tidak seperti kita dulu, yang bisa mengolah kulit jeruk, buah jarak, sabut kelapa, pelepah pisang, pelepah kelapa atau gelontongan kayu menjadi sebuah mobil-mobilan cantik?"
3.
semua terlihat cantik
bahkan akan sangat cantik
saat pikiran kita pun cantik
tak terkecuali kamu
4.
aku menarik imaji ksatria tangguh namun berhati rapuh, dalam benak aku tersenyum sambil terus berpikir, siapakah yang sebenarnya pecundang.
5.
mungkin butuh kitab suci
membenahi yang lelah dalam sepi
atau bakar saja dupa
di depan pertigaan pasar bunga
6.
Hanya mengenang pada aroma manis, lalu asam, tawar, tanpa pahit. Merasuki alur napas tanpa reda. Dalam pagi, dalam petang, bahkan dalam hari anomali yang tak juga terjemahkan
7.
berpenggal silam,
aku mengantar lima kilo beras jatah kepegawaian Bapak
untuk ditukar lembar rupiah, menyambung hidup sehari-hari
lantas, begitu kami mulai kenaikan kelas,
aku berdiri di loket antrean, mengantar Ibu menggadai kalungnya
8.
Seburuk apapun ayahmu, dia tetap ayahmu. Darah dia, mengalir di darahmu. karena dia, kamu ada di dunia ini. tidakkah kamu sadar akan hal itu? tanyaku saat itu.
9.
“Sehari tak minum kopi, rasanya seperti siang tanpa matahari. Tak lengkap sebagai hari!” begitu selorohnya suatu kali.
10.
setitik titik menjadi bara
sebara bara memerah mata
mata-mataair jatuh mengikis wajah
11.
Karena adamu selalu dalam hadirku
Beserta hangatnya kasih sayangmu
Tiada kuasaku memohon lebih darimu
Kini aku mengerti sudah akan cintamu
12.
Tahukah anda kalau orang yang kelihatan begitu tegar hatinya, adalah orang yang sangat lemah dan butuh pertolongan?
Tahukah anda kalau orang yang menghabiskan waktunya untuk melindungi orang lain adalah justru orang yang sangat butuh seseorang untuk melindunginya?
Tahukah anda kalau tiga hal yang paling sulit untuk diungkapkan adalah : Aku cinta kamu, maaf dan tolong aku
13
Pak sopir, berhenti sebentar, mas, angkotnya udah berhenti…Gih turun dulu sana kalo mau nyelesein ngerokok…entar ongkosnya sampe sini saya aja yang bayarin
14.
Dimana lagi atau kemana lagi saya dapat belajar atau mencari pengetahuan tentang Ilmu Moralitas atau pengetahuan tentang mental dan etika……? ini adalah sebuah pertanyaan yang mengusik pikiran beberapa waktu ini.
15.
Bening pagi samudra damai
pertempuran hapus mendenda
dendang kasmaran menyelinap ke hulu
usai malam tak berkesudahaan
16.
Alif Laam Miim... menderu ditelingaku
Tak diam hatiku mencari makna
Allah telah sisipkan teka-teki Hijaiyah
Tak ada keraguan bagi petunjukNya
17.
Kulihat butir-butir peluh di dahimu.
Sejenak kupejamkan mataku, kutarik nafasku dan aku berusaha keras mengingat bau khas keringatmu
18.
Dari embun
Aku ditelan laut bulat-bulat.
19.
Kaca jendela bercat merah,serupa darah pekat,terpantul oleh lampu kristal
kaca itu menyilaukan ruangan... efeknya begitu mengerikan.
darah merah dan horor darah...kesakitan tak terperi.
20.
menanti pecahnya janji
oleh retak mulut
yang bergumam, katakata
makna menyepuh kata
kemudian, hati yang mengulang
setiap saat, setiap saat
(jika semua sudah menjawab maka akan saya keluarkan kunci jawabannya)
gutlak! :)
********
ini jawaban kawan-kawan yg kuambil dari note facebook:
KUNCI JAWABAN
1. ada bulan di kakiku
sedang kurindu
kau
dalam-dalam (Herlina Tiens)
2. “Anak-anak kita sekarang sangat tidak kreatif. Apa-apa maunya beli. Mainan mobil-mobilan harus yang harganya mahal dan pakai remote control. Kenapa mereka tidak seperti kita dulu, yang bisa mengolah kulit jeruk, buah jarak, sabut kelapa, pelepah pisang, pelepah kelapa atau gelontongan kayu menjadi sebuah mobil-mobilan cantik?" (Nanoq DK)
3. semua terlihat cantik
bahkan akan sangat cantik
saat pikiran kita pun cantik
tak terkecuali kamu (Kika S)
4. aku menarik imaji ksatria tangguh namun berhati rapuh, dalam benak aku tersenyum sambil terus berpikir, siapakah yang sebenarnya pecundang. (Zee Noor)
5. mungkin butuh kitab suci
membenahi yang lelah dalam sepi
atau bakar saja dupa
di depan pertigaan pasar bunga (Maria I)
6. Hanya mengenang pada aroma manis, lalu asam, tawar, tanpa pahit. Merasuki alur napas tanpa reda. Dalam pagi, dalam petang, bahkan dalam hari anomali yang tak juga terjemahkan (Lisa F)
7. berpenggal silam,
aku mengantar lima kilo beras jatah kepegawaian Bapak
untuk ditukar lembar rupiah, menyambung hidup sehari-hari
lantas, begitu kami mulai kenaikan kelas,
aku berdiri di loket antrean, mengantar Ibu menggadai kalungnya (Surya Hr)
8. Seburuk apapun ayahmu, dia tetap ayahmu. Darah dia, mengalir di darahmu. karena dia, kamu ada di dunia ini. tidakkah kamu sadar akan hal itu? tanyaku saat itu. (Reti H)
9. “Sehari tak minum kopi, rasanya seperti siang tanpa matahari. Tak lengkap sebagai hari!” begitu selorohnya suatu kali. (Daniel M)
10. setitik titik menjadi bara
sebara bara memerah mata
mata-mataair jatuh mengikis wajah (Sunker)
11. Karena adamu selalu dalam hadirku
Beserta hangatnya kasih sayangmu
Tiada kuasaku memohon lebih darimu
Kini aku mengerti sudah akan cintamu (Stanis)
12. Tahukah anda kalau orang yang kelihatan begitu tegar hatinya, adalah orang yang sangat lemah dan butuh pertolongan?
Tahukah anda kalau orang yang menghabiskan waktunya untuk melindungi orang lain adalah justru orang yang sangat butuh seseorang untuk melindunginya?
Tahukah anda kalau tiga hal yang paling sulit untuk diungkapkan adalah : Aku cinta kamu, maaf dan tolong aku (Djohan K)
13 Pak sopir, berhenti sebentar, mas, angkotnya udah berhenti…Gih turun dulu sana kalo mau nyelesein ngerokok…entar ongkosnya sampe sini saya aja yang bayarin (Yessy M)
14. Dimana lagi atau kemana lagi saya dapat belajar atau mencari pengetahuan tentang Ilmu Moralitas atau pengetahuan tentang mental dan etika……? ini adalah sebuah pertanyaan yang mengusik pikiran beberapa waktu ini. (Toto)
15. Bening pagi samudra damai
pertempuran hapus mendenda
dendang kasmaran menyelinap ke hulu
usai malam tak berkesudahaan (Ersis)
16. Alif Laam Miim... menderu ditelingaku
Tak diam hatiku mencari makna
Allah telah sisipkan teka-teki Hijaiyah
Tak ada keraguan bagi petunjukNya (Koelit)
17. Kulihat butir-butir peluh di dahimu.
Sejenak kupejamkan mataku, kutarik nafasku dan aku berusaha keras mengingat bau khas keringatmu. (Henny)
18. Dari embun
Aku dtelan laut bulat-bulat. (Kaoru)
19. Kaca jendela bercat merah,serupa darah pekat,terpantul oleh lampu kristal
kaca itu menyilaukan ruangan... efeknya begitu mengerikan.
darah merah dan horor darah...kesakitan tak terperi. (Leliana Lesamana)
20. menanti pecahnya janji
oleh retak mulut
yang bergumam, katakata
makna menyepuh kata
kemudian, hati yang mengulang
setiap saat, setiap saat (Goenoeng Moelyo)
terimakasih atas kata-kata indahnya dan jawabannya :D
Kamis, November 26, 2009
Rindu Gelanggang
Selasa, November 24, 2009
Jalan Lantang

“Bajin#@*%**n!!! Ayo sopo meneh sing wani? Ayo maju, ass#*! Nek wani ojo seko mburi, karo `cah cilik meneh, juanc*k!” gelegar teriakan lantang dan menggema di sepanjang Jalan Pajeksan dini hari itu seolah tidak dapat berhenti menggetarkan nyali siapa saja yang kebetulan berada di sekitar daerah Pajeksan. Aroma sisa lapen -alkohol racikan khas Jogja, yang seharusnya menguap namun tertahan oleh udara dingin bahkan berubah menjadi embun di sepanjang trotoar dan aspal. Pajeksan dini hari itu tidak lagi seramai malam tadi.
Usaha Kang Jasbo, dedengkot wilayah Pajeksan yang memiliki wajah mirip dengan Sawung Jabo menjadi sia-sia, tak mampu menahan emosi Lantang yang telah melampaui batas kemarahannya. Wirog dan kecoro saja takut untuk muncul dari celah selokan-selokan bawah tanah, parang sepanjang 140 sentimeter berkilau dengan tambahan motif karat yang tercipta dari darah kental mengering, sudah banyak korban yang harus menyerah pada ayun dan kelebat pedangnya yang terbuat dari besi tempa suspensi mobil truk yang terjungkal masuk jurang saat membawa sayuran di daerah Gunung Kidul. Entah sudah berapa korban, baik mati karena luka sayat panjang hingga terkena organ vital atau mungkin korban kemudian mati akibat infeksi yang disebabkan karat pada bilah besi panjang ini. Belum termasuk anjing-anjing kampung, darahnya juga turut memberikan corak karat disitu, sementara dagingnya ludes menjadi santapan alternatif ditemani alkohol, masuk kedalam perut, mencipta desir darah semakin panas.
Erangan panjang, diburu napas pendek dan berat mengantarkan Percil masuk kedalam dunia bawah sadar, Percil pingsan bersandar pada pagar besi. Seolah tak masuk akal bagi tubuh sekecil itu memiliki pasokan darah yang lumayan banyak namun sia-sia tumpah membasahi aspal, satu lagi cairan turut memberi kesan hitam aspal keras karena hidup memang keras. Sejauh
Dua menit tiga puluh detik waktu yang dibutuhkan Lantang menempuh jarak Pajeksan hingga Rumah Sakit PKU, dalam batin Lantang bukan lagi Vodka 40% dengan campuran Kratingdaeng yang membuatnya mampu berlari secepat itu, melainkan darah panas Percil yang menjadi cambuk bagi seluruh sel dalam tubuhnya agar cepat melakukan kontraksi motorik bagi otot betis dan pahanya, hasilnya Lantang mampu berlari cepat sekali demi menyelamatkan bocah kecil dalam dekapannya itu.
Masuk kedalam halaman parkir, Sapto, juru parkir rumah sakit itu secara spontan membanting motor yang sedang dia susun rapi berjajar setelah melihat Lantang yang berlumuran darah. Menahan pintu masuk terbuat dari kaca agar kawannya ini dapat masuk. Tidak lagi dihiraukan Satpam penjaga rumah sakit, terlebih muka sinis petugas administrasi yang dalam bahasa diamnya saja sudah berteriak berapa banyak uang yang anda bawa sekarang. Tangan kanannya menghempas Satpam bertubuh kekar dan berkumis lebat, sementara lengan kirinya seolah tidak ingin melepas tubuh cilik yang bersandar pada bahunya, tak akan dilepas kecuali dokter UGD sudah siap untuk menangani tubuh Percil yang kritis.
Menyusul masuk Satpam yang kemudian diketahui namanya Kuat Warsito, tertera jelas bordiran huruf yang merangkai namanya pada seragam putih itu. ”Hooii Mas daftar dulu kalau ma..” Pukulan mantap lengan kanan Lantang bersarang pada rahang Kuat Warsito yang tak lagi kuat menahan serangan cepat itu, tersungkur setelah menabrak salah satu kursi roda di ruang UGD dan semaput. Melihat kekacauan, petugas paramedik dan dokter jaga cepat mendekat, itupun setelah teriakan Lantang menggema, memangil siapa saja yang dapat dipercaya untuk segera menangani Percil. Sebelah ranjang yang terpisah kain hijau, mengerang seorang perempuan kira-kira berusia 25 tahun sementara sosok suaminya terlihat lebih gugup, mukanya pucat, rambutnya semrawut mengesani umur jauh lebih tua, gemetar tidak dapat melakukan apapun selain menggenggam erat telapak tangan istrinya, sudah saatnya melahirkan dini hari ini tapi belum juga ada dokter yang menangani.
Tenang melangkah tubuh tegap, muda, putih, berkacamata, terlihat lebih putih lagi dengan jas yang dikenakannya. Dokter Bandi Tampubolon, semoga tak salah dalam batin Lantang membaca nama dokter peranakan sumatera utara itu, semoga bukan BANDIT berbaju putih orang yang berdiri dihadapannya ini. Lantang menarik lengan dokter muda itu, masih saja dengan ringannya dokter muda ini berulangkali mengucapkan tenang... sabar...tenang saja, ingin rasanya kepalan tangan Lantang turut mampir di salah satu bagian tubuh dokter muda, tapi tidak, seolah darah Percil yang cepat mengering itu mencegah dan berkata, `percayakan raga ini padanya, sampai disini dulu perjuanganmu kawanku, abangku yang perkasa..`
Sprei berwarna hijau pada ranjang tempat tubuh lemah Percil sulit dikenali lagi warnanya, darahnya bukanlah warna yang sedang disapukan pada kanvas hijau oleh seorang pelukis, masih juga mengalir darahnya. Setidaknya ada empat luka mengangga pada punggung tubuh si bocah akibat menjadi korban tusukan bayonet milik preman tengik yang memaksa Percil menjual ganja milik mereka, penolakan Percil memposisikan dirinya menjadi korban. Tajam pandangan mata Lantang mengikuti setiap gerakan dokter muda, seolah menjadi dokter senior yang tengah mengawasi dokter baru dalam menangani operasi kecil sebagai prasarat kelayakannya menangani pasien.
Lantang masih berdiri di samping tubuh bocah kritis walau berkali-kali perawat mengusulkan untuk duduk di bangku tunggu, cukup dengan isyarat tatapan mata yang menyempit tajam, perawat itu kembali surut beberapa langkah kebelakang. Datang lagi satu perawat, lelaki kali ini juga berniat memperingati Lantang, namun gertakan Lantang cukup menyibakkan ujung kaosnya hingga nampak sebilah rencong berwarna hitam, souvenir yang dia dapatkan tertancap di perut pemiliknya ketika duel dua tahun lalu. Tak perlu diucapkan secara verbal, gerakan Lantang tadi sudah memberi peringatan, jangan sampai rencong ini kembali membuat bisu jiwa yang bersarang pada tubuh hanya karena banyak omong, perawat itu perlahan bergeser mundur, seolah ada tugas lain yang harus dikerjakan.
Entah berapa lama Lantang berdiri di samping Percil, rasa lelah mulai menyerang tubuhnya, berjalan gontai menuju sebuah pojokan, terduduk lunglai, suara terakhirnya tetap saja keras, “Jangan kau tutup tirai itu! Aku akan tetap mengawasi kalian, awas jangan macam-macam!!” terasa napas pendeknya panas memburu, sebentar pandangannya goyah, citra yang terlihat terpecah menjadi dua berbayang. Digelengkan kepalanya dan memaksa matanya agar tetap terbuka, berkali-kali, hawa panas tubuhnya semakin surut menghantarkan rasa kantuk maha dahsyat. Alam pikirannya cepat memutar memori tepat pada setting kejadian tiga tahun lalu, ketika pertama kali Lantang menemukan Percil dini hari pukul 2.30.
...bersambung ke Jalan Lantang 1 <<---- silakan klik


Jalan Lantang 1
Dini itu sekitar pukul 2.30
Jelas dini hari itu hanya sepi dan dingin yang ada tapi tidak bagi Lantang, entah berapa persen alkohol tercampur dengan darahnya hingga membuat dirinya terpaksa melepas jaket berbahan denim bertabur aksesoris sobekan disana-sini. Gang sempit panjang penginapan-penginapan kelas melati itu serasa tak berujung, semestinya hanya tujuh menit untuk mencapai Jalan Tegal Panggung pada sebuah kontrakan milik seorang kawan lama sewaktu SMA dulu. Kali ini Lantang betul-betul memerlukan sebuah peristirahatan yang layak, bukan trotoar, setidaknya untuk dini hari ini saja. Sekelebat, antara sadar atau bahkan pengaruh alkohol lebih dominan menghantarnya pada ketidakjelasan pandangan dan sedikit kesadaran, mobil kijang hitam itu berhenti di pertemuan gang kecil sebelah Optik Akur - Jalan Mataram.
Derit ban mobil terkesan dipaksa untuk melaju cepat mencipta suara melengking, suara itu membuatnya kembali fokus untuk terus berjalan walau tak lepas telapak tangannya pada tembok gang menjadi penuntun jalan, bergeser senti-demi-senti. ”Astaga!” hampir saja Lantang menginjak sesosok tubuh kecil, mengejang tak bersuara, matanya terbelalak dan ada buih di sela-sela bibir bocah cilik itu. Untuk dapat memastikan apa yang dihadapannya, cepat tangannya merogoh saku jaket dekil itu, dibantu sedikit nyala api mancis seribu rupiah barulah dia yakin dihadapannya seonggok daging hidup sama spesies dengan dirinya; homo sapiens, MANUSIA!!
Dada bocah cilik itu diraba-raba sementara kepalanya entah berapa kali menengok kanan-kiri, tak ada homo sapiens lagi selain mereka berdua. Jaket dekilnya menutupi tubuh bocah cilik, rupanya masih ada sedikit tingkat kesadaran meski pengaruh alkohol lebih dominan dalam dirinya, akal sehatnya bergerak, diselipkan mancis itu diantara geligi bocah yang gemertak itu.
Tepat dipertemuan Jalan Mas Suharto, Lantang memaki pada jalan Tegal Panggung yang sedikit menanjak. Rumah tua berpagar besi tujuannya pasti selalu ada kehidupan pada dini hari begini rupa. Langsung saja Lantang masuk dan membaringkan bocah itu, tinggal sipemilik rumah bengong tetap pada meja komputer, di layar monitor terlihat desain sebuah rumah tugas akhir kuliahnya. ”Wooyyy!!”
”Wooyyy!! Jangan diam saja, ayo cepat! Piye iki?? Aku ra paham iki!!” lawan bicaranya masih juga terdiam persis seperti program Autocad pada komputernya itu yang menunggu tombol mouse tertekan. Klik! Untuk menjalankan program kesadaran kawannya, Lantang melempar bantal mendarat tepat pada mukanya, gugup Indra memperbaiki letak kacamatanya.
”Siapa ini, Tang? Kenapa bocah ini? Kamu apain dia, kok bisa kejang-kejang gitu?” terlihat sekali air muka panik itu. ”Bukan waktunya aku jawab pertanyaan bodohmu, kau pikir kau ini reserse yang baru tangkap residivis apa!” Belum sempat mereka berbuat sesuatu disela adu panik mereka, tubuh bocah cilik yang semula mengejang itu surut melemah, tenang. Mancis seribu perak terjatuh dengan sendirinya dari sela mulut, tercetak bekas geligi meninggalkan kesan penderitaan disitu.
***
Rencong hitam itu terlepas dari genggaman tangan Lantang, denting besi campuran kuningan pada lantai membuatnya tersadar, sepuluh menit Lantang tertidur akibat rasa lelah pertarungannya. Punggungnya bersandar pada kursi, dihadapannya terlihat dokter dan beberapa perawat menjahit luka punggung bocah dekil, mungkin dua belas, bisa jadi lima belas jahitan untuk menutup luka mengangga itu maka bertambah lagi hiasan tubuh Percil.
Sisa tenaga Lantang dipacu agar keluar oleh rasa ingin tahu melihat keadaan Percil, semula dia ragu untuk berdiri, dipaksakan, pandangannya kembali terpecah, kini berbayang tiga. Goyah seperti anak baru belajar berjalan, ada sesuatu yang janggal pada perut sebelah kirinya terasa panas dan perih luar biasa. Telapak tangannya terangkat sejajar wajahnya, baru dia sadari ada luka sobek di bagian kiri perutnya, yakin warna merah pada telapak tangannya bukan milik Percil, tetapi darah segar yang keluar dari pembuluh darahnya akibat luka itu. Lantang jatuh pingsan.
...bersambung ke Jalan Lantang 2


togel?? payah bener pikirannya gak jauh2 dari cliwik..kekekek
kenapa?? menurutku kuat saja pon, jika memang jwabanmu no yg itu.
utk no 20.. hhhmm tau deh :)
aku baru membaca nomor satu langsung tau...lhah ini bukannya salah satu tulisanku?
trus komen tadi...nah lalu membaca nomor dua, tiga dan seterusnya....ldan tertawa....ya...yg nomor satu itu tulisan saya :)
cuma lupa dimana dan kapan
kebetulan belaka dirimu ada dinomor pijet... ehh no urut ke satu :D
@GM: siapa sih.. nOWraks BgeUD ...xixixixixixi :D
... See More
@MV: pengetik? kekekekk
@mbk Lel: yakin neh mbak? :)
@mbah EWA: jgn cuma komen..jawab juga dong.. hehehehe takut salah ya? :D
@bang Nanoq: rasanya rasa coklat hasil olahan kebun kakao mu bang :D
yg belum kukutip tunggu saja hasil hunting ke 2 ku
:D
kalo dibaca bener2 sptnya ada runutan peristiwa dari 1-20, mantap drong! :)
@Sunk: karena mnjawabnya dg cuek.. akupun akan memberi nilai dg cueknya!..
itu sebabnya aku salut dg kalian2 yg kukutip..mengalir....
:D
*melirik ke buku tamu blog*