Jumat, November 20, 2009

Sepotong Sesuatu ... (potongan ke 2)


Interogasi semu
Selasa, 5 Juni 2007. 15.20 WIB. Lokasi; Kantor Poltabes

Lega rasanya sisa metabolisme tubuhnya keluar terbuang. Selesai dari toilet dan tak lupa pesan terakhir petugas piket untuk menyiram urinenya yang berbau pesing telah dilaksanakan dengan baik, niatnya kembali pada ruang semula tergoda ketika Raya melewati satu ruang kerja, papan kayu mempertegas jika ruang didalamnya adalah ruang kerja Kanitreskrim, ia jadi teringat film seri favorit masa kecilnya dulu yang hanya ditayangkan satu-satunya stasiun televisi milik pemerintah, TVRI, film HUNTER dimana detektif Hunter dan partnernya Dede Mc call keluar masuk dari pintu ruangan bertuliskan `homicide`, Raya tertawa geli dalam benaknya sudah menebak pasti dibalik ruangan yang satu ini tidak akan ditemukan roti dengan lubang ditengah yang sangat digemari Polisi Amerika, yang ada pasti bakpia patuk, itu juga karena sentra pembuatan kue ini tidak jauh dari kantor Polisi ini, dari pertigaan TKP tadi menuju utara lalu berbelok kekiri maka akan terlihat berjejer toko-toko penjual hasil industri rumahan khas kota jogja ini.

Ajun Komisaris Polisi Erlangga, lulusan muda Akademi Kepolisian itu memanggil Raya yang melintasi ruang kerjanya, terkejut Raya melihat dihadapannya tampak duduk tenang dengan sebatang rokok putih terselip diantara jari telunjuk dan jari tengahnya, kopi hitam terletak disamping kayu berukirkan `Erlangga Satria Negara`, rambutnya sedikit gondrong, jelas berbeda dengan petugas piket tadi dengan model rambut satu dua tiga, -satu senti bagian samping, dua senti bagian belakang dan tiga senti bagian depan rambut- umumnya model rambut standar anggota Polisi dan TNI. Kesan yang dia terima tidak meyakinkan Raya bahwa yang duduk dihadapannya adalah seorang perwira muda Kepala Unit Reserse dan Kriminal.

“Saudara bernama Niras Raya?”
“Ya, benar pak, tapi cukup Raya saja,” mencoba senyum ramah tapi rasa takutnya belum dapat dia kuasai.
“Saya yakin anda sudah tahu nama saya karena anda pasti bisa membaca tentunya. Terimakasih tadi saudara telah membantu anggota kami dalam bertugas.”
Cara dia berjalan kalem saja dengan balutan kaos oblong dan jeans belel sobek pada bagian lutut, di kursinya juga tergolek jaket kulit, jelas bukan Pakaian Dinas Harian lazimnya seragam yang dikenakan seluruh anggota Kepolisian Republik Indonesia.
“Ahh, tidak masalah pak, saya sebagai Warga Negara Indonesia merasa wajib membantu aparat penegak hokum,” rasa gugupnya tak dapat disembunyikan akibat pancaran aura dari perwira muda itu
“Tolong panggil saja, Erlang, toh umur kita tidak beda jauh, usia saya dua puluh tujuh tahun bulan depan nanti, kalau saudara Raya,” `polisi preman` ini mencoba berkomunikasi ringan untuk memecahkan kekakuan yang ada.
“Saya, dua puluh tiga tahun sekitar dua minggu yang lalu,” bertambah lagi kekagumannya yang berteriak takjub, karir yang gemilang usia semuda itu sudah menjabat Kepala Unit dengan slogan `Sidik Siaga, Negara Raharja` yang sangat rumit tugasnya, bagaimana tidak? aman atau kacaunya sebuah Negara berada pada pundak intelijen yang pertama kali paling bertanggungjawab. Mata Raya berkeliaran memperhatikan seisi ruangan, pandangannya tertuju pada sebuah foto pada bingkai kayu hitam, foto seorang Taruna berambut cepak berjabat tangan dengan seorang Jenderal tertinggi Kepolisian Republik Indonesia.

“Itu saya dan disebelahnya anda pasti sudah tahu, foto itu diambil sewaktu wisuda Taruna angkatan saya,” di bawahnya tertulis dengan tinta emas `Wisudawan Taruna Akademi Kepolisian Terbaik Angkatan 2001` tak heran karirnya cemerlang.
“Apakah anda tidak merasakan hal yang ganjil dari kasus kematian korban itu, pak?” pertanyaan bernada serius dilontarkan Raya, padahal tidak sepantasnya dia membicarakan masalah kasus dari rekontruksi tapi rasa ingin tahu sudah tak terbendung lagi. Raya sadar sepenuhnya sejak dulu rasa ingin tahunya itu dapat membahayakan dirinya. Sewaktu kecil dulu nyawanya hampir terancam punah akibat rasa penasarannya trehadap kekuatan racun tikus.
“Ganjil? ada yang ganjil dari kasus tadi? Maksud kamu ganjil seperti apa?” tampaknya perwira muda ini tertarik dengan pernyataan Raya dan menghendaki percakapan panjang dengan menyodorkan sebungkus rokok yang telah sobek bagian tengahnya, sebentar saja kepulan asap putih dari dua batang rokok plat kuning.

“Pertama, dilihat dari perbandingan postur tubuh antara korban dengan tersangka bukankah dengan ukurannya saja sudah meragukan bahwa tersangka mampu merobohkan korban bahkan sampai mampu membunuh?” efek asap rokok mulai mencairkan rasa penasaran Raya.
“Loh, korban roboh bukan hanya karena pukulan tangan kosong semata tapi juga ditemukan luka bekas tusukan pisau belati” tangannya sambil memegang gelas mug dan dua bungkus kopi instant lalu memberikan air panas dari dispenser kemudian disuguhkan kepada Raya, jelas yang disuguhkan tersenyum manis.

“Begini Pak eh Mas… eh … Pak! Jika Bapak berpapasan dengan orang yang lebih rendah dari anda terlebih berada sekitar dua puluh lima senti lebih tinggi karena berjalan diatas trotoar sementara tersangka menyerang dari jalan yang lebih rendah posisinya, apa yang terjadi? Bukankah itu sulit dilakukan? Terlebih korban terpukul dibagian wajah sebelah kanan, terkecuali tersangka memiliki kecenderungan kidal, sepengamatan saya ketika nonton pertandingan tinju, tangan kiri akan lebih cenderung memukul bagian wajah lawan sebelah kanan dan untuk meruntuhkan lawan sebesar korban pastilah diperlukan bagian tangan paling dominan digunakan, begitu juga terlihat dalam memar di wajah korban pastilah diakibatkan benturan keras benda tumpul, jika tersangka dominan menggunakan tangan kanan maka tangan itu akan digunakannya,” tidak ada rasa ragu sama sekali dalam diri Raya mengutarakan analisisnya.

”Lantas bagaimana jika korban sedang menggengam belati?” Erlang memperagakan dengan menggunakan sendok yang diambilnya dari mug.
”Ahh, itu juga pak! Apa tidak terkesan ganjil dari belati itu pak?” entah menguji kemampuan analisis lawan bicaranya atau memang gaya bicara Raya yang lugas
“Maksud kamu belati seperti buatan T. Kardin itu?” ahha! Perangkap Raya berhasil mengungkap sisi analisis Erlang, nakal sekali anak muda ini.

“Betul Pak!, bukankah itu biasa digunakan bagi teman-teman yang menyukai petualangan alam atau juga teman-teman Bapak dari kesatuan lain itu sementara tersangka hanya seorang penarik becak” senyum puas Raya seolah menandakan dirinya berada pada lingkaran orang-orang yang menggunakan belati hasil karya T. Kardin ini. Erlang paham maksud Raya karena Ayahnya berasal dari Korps Baret Merah yang menggunakan belati dari Empu yang sama.
Tak terasa sudah satu batang rokok mereka habiskan, bahasa tubuh Erlang menandakan bagi Raya untuk menikmati sebatang lagi plat kuning dari bungkusnya, tawaran menarik tidak pernah dia sia-siakan langsung disusul kopi yang telah terasa hangat-hangat kuku, begitu juga diskusi menjadi hangat.

“Kamu bilang tadi ada banyak kejanggalan, dalam sepengamatanmu bagian mana lagi yang masih menjadi misteri?” kini Erlang tidak ragu memberikan ujian analisis TKP kepada Raya.
“Begini Mas, ehm maaf ku panggil Mas gak masalahkan? Biar akrab!” yang dipanggil Mas cuma senyum tipis, sudah semakin terasa atmosfer keakraban dalam ruang kerja berukuran 5 kali 5 ini.
“Saya yakin berkas memar pada wajah korban terjadi sudah cukup lama ketika korban menerima benturan benda tumpul itu,”
“Maksud kamu! Bagimana kamu bisa yakin akan hal itu? Apa dasarnya jika memar pada korban tidak terjadi pada saat pembunuhan?” Erlang semakin tertarik dengan lawan bicaranya.
“Anu Mas, korban ditemukan oleh anggota anda tidak begitu lama tergelatak pada TKP, benar?”
“Ya, benar. Lantas!”
“Jika korban langsung diketemukan berarti anggota telah langsung melakukan identifikasi dan mengambil beberapa gambar dari korban dan keadaan sekitar TKP, bukan begitu?” bara api semangat terlihat dari kesan mata yang berbinar sementara kedua tangan Raya tidak diam, sebagai salah satu ciri ketika dia berkomunikasi cukup serius, bahasa tubuhnya memperkuat penjelasannya.

Erlang terpaksa membuka sedikit jendela ruang kerjanya yang tembus pada kebun kecil dengan kolam kecil dan beberapa ikan koi berenang tenang di siang yang terik ini, ditambah lagi diskusi yang semakin hangat.
“Sesuatu prosedur pelaksaan identifikasi TKP, anggota saya pasti melakukan itu?”
“Maaf Mas, metode yang dilakukan oleh anggota anda dalam melakukan Crime Scene Processing?Apakah dengan Metode Spyral, Metode Zone, Metode Strip atau Metode Roda?” rasa keingintahuannya begitu terfasilitasi siang ini.
“Hahaha…saya rasa kamu lebih tahu mengenai hal ini! Terlebih kamu sudah melihat bagaimana karakter dari Crime Scene tadi” Erlang tidak meragukan lagi dengan kemampuan Raya, pengetahuan setingkat ini tidak akan didapatkan oleh mahasiswa hukum maupun mahasiswa kedokteran yang sekedar hadir diperkuliahan terlebih terkantuk-kantuk di kelas saat dosen menerangkan materi. Kini Raya yang geragapan, dia merasa telah jauh berbicara dan tidak sadar dengan lawan bicaranya.

“Hehehe…” Raya melakukan aksi kamuflase dengan tertawa seperti orang idiot sambil garuk-garuk kepala, tapi itu sudah terlambat, dia baru menyadari bahwa sepanjang pembicaraan tadi dia sedang dalam sejenis proses interogasi oleh perwira muda ini, parahnya Raya terbius suasana akrab.
“Oke kembali lagi pada dugaanmu terhadap berkas memar pada korban,” tangannya menyalakan pemantik, membakar rokok ketiga.
“Menurut saya, ehm…hehhehe… bisa jadi salah loh Mas!”
”Gak masalah ayo teruskan,”
‘Hehehe… jadi malu nih, anu Mas, jika korban langsung diambil foto mengenai posisi korban dan berkas-berkas luka, sementara tersangka tadi mengakui telah melakukan pemukulan langsung di TKP, bukankah berkas memar atau lebam itu tidak akan berwarna hijau kekuning-kuningan? Lagipula bukankah TKP tidak jauh dari Mapoltabes ini, berarti anggota anda juga akan segera mengetahui jika ada perkelahian itu?” Raya jadi meragu.

”Mengenai keadaan Mapoltabes yang minim anggota, memang saat itu kecuali petugas piket, hampir semua anggota saya dikerahkan pada sekitar daerah Keraton karena ada kunjungan RI 1 kedalam Keraton, tapi mengenai berkas memar, saya salut dengan pengamatan kamu! Padahal tadi kamu cuma dikasih liat sekilas saja foto-foto identifikasi korban, bagaimana kamu bisa tahu warna dari memar itu?”
Erlang menyodorkan beberapa lembar foto-foto korban, perhatian Raya lebih tertarik pada foto close up wajah korban, disamping wajah korban ada sebatang korek api, pasti ini dijadikan sebagai skala ukuran dari memar di wajah dengan perbandingan panjang batang korek api.
“Nah, ini Mas maksud saya tadi!” jari telunjuk Raya mengarah pada bagian memar pada wajah.
“Bukankah kontusi atau memar yang baru terjadi dipermukaan kulit diakibatkan kerusakan jaringan tanpa diskontunitas akan berwarna merah kebiruan?sementara di foto ini saya perhatikan luka memar sudah berwarna kuning kehijauan! Artinya luka ini bisa saja terjadi empat atau lima hari sebelum terjadinya kasus ini.” tepuktangan keras memecah lima detik kesunyian setelah penjelasan Raya.

Raya baru tersadar atas apa yang dia lakukan dan segera meminta maaf atas kesan menggurui sementara lawan bicaranya hanya menepuk-nepuk bahunya sebagai tanda salut. Raya harus pamit saat itu juga, sudah cukup lama dirinya berada diruangan itu.
“Oke kalau begitu, bagaimana jika kita lanjutkan diskusi kita lain waktu, besok malam kita ngopi joss di langkringan Lek Man? Kalau kamu tidak sibuk, pastinya tau dong Lek Man!”

1 komentar:

apa yang ada dikepalamu? apa yang menyumbat tenggorokanmu? apa yg membekukan jari-jarimu?... LONTARKAN!!